
Ella yang tengah beristirahat mendengar suara berisik dari luar. Segera di sambarnya jaket yang tergeletak di meja. Tidak lupa dia mengambil pistol yang ia letakkan di samping bantal tempatnya tidur.
"Ada apa?" tanya Ella.
"Non." panggil seseorang yang berjalan dari luar.
"Kami di tugaskan paman Haki untuk memperketat keamanan markas." ucapnya.
Ella berjalan menuju ruang pantau CCTV. Seseorang berdiri dari duduknya. Dan di gantikan oleh Ella. Mata elang Ella mengawasi setiap layar di monitor yang berada di depannya.
"Suruh semuanya masuk. Dan bersiap dari dalam. Akan ada tamu yang datang. Segera." perintah Ella.
Begitu mendapat perintah dari Ella, seorang lelaki segera berlari keluar dan memberitahu rekan-rekannya yang masih berjaga di luar markas.
Apalagi matahari mulai mengurangi sinarnya. Karena sekarang sudah jam 5 sore.
"Bawa beberapa untuk berjaga di atas."
"Baik Non." ucapnya seraya berlari keluar ruangan.
"Pastikan semua sisi terjaga dengan aman. Jangan sampai ada celah sedikitpun."
"Baik Non."
Di dinding markas ada lubang-lubang kecil tempat menaruh pucuk senapan untuk menyerang dari dalam.
"Bawa Dian ke tempat yang lebih aman. Gunakan jalan rahasia. Jangan sampai lepas. Suntikkan saja obat tidur." ucap Ella.
Ella memperbesar sebuah monitor. "Mereka mulai mendekat." gumam Ella.
Ella berpikir tidak mungkin jika dirinya dan yang lain akan tetap bertahan di dalam. Bisa-bisa mereka akan kalah. Apalagi jika mereka berniat menghancurkan bangunan tersebut. "Siapa sebenarnya bos kalian. Apa tujuan kalian." gumam Ella sambil mencermati setiap layar monitor.
"Apa yang mereka tunggu. Kenapa tidak segera menyerang." gumam Ella.
"Vano." seketika Ella mengingat kekasihnya tersebut.
Ella mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Vano. Dirinya takut jika tiba-tiba Vano menyambangi markasnya. Berarti besar kemungkinan mereka akan menyerang bersamaan dengan datangnya Vano.
"Hubungi terus Vano. Sampai dia mengangkat teleponnya." Ella memberikan ponselnya pada bawahannya.
"Mereka memulai." Ella mendengar ada suara tembakan.
"Nona, Tuan Haris menghubungi anda." ucapnya sambil menyerahkan kembali ponsel Ella.
"Halo pa."
"Kamu tenang saja. Papa dan anak buah papa menuju ke sana." ucap papa di ujung ponsel.
"Berhati-hatilah pa, mereka sudah mengepung markas." ujar Ella.
"Pasti. Kamu juga harus berhati-hati." ucap Tuan Haris.
Begitu Ella selesai berbicara dengan sang papa di ponsel. Ella beranjak dari duduknya. "Kenapa Vano sulit sekali di hubungi. Gue cuma takut jika tiba-tiba Vano datang tanpa tahu keadaan di sini." batin Ella.
"Kamu pantau terus. Beritahu jika ada yang mencurigakan." ucap Ella berniat meninggalkan ruang CCTV.
"Nona, mereka tiba-tiba menghentikan serangan."
"Aneh, ada apa?" Ella kembali melihat CCTV
__ADS_1
Mata Ella melotot sempurna. "Mereka punya senjata hebat." ujar Ella.
"Kalian lihat, sebelum benda itu di operasikan. Lumpuhkan orang yang memegangnya terlebih dahulu." ucap Ella.
Sebuah senapan berukuran besar. Jika sampai senapan tersebut di tembakkan beberapa kali, pasti markas mereka akan runtuh.
Ella segera berlari ke atas. "Aa.." Ella sedikit kaget saat dirinya merasakan adanya getaran.
Dilihatnya beberapa bawahan Ella yang berada di dekat tembok depan terjatuh karena efek dari tembakan tersebut. Segera mereka berdiri dan mengambil posisi semula.
"Mereka mulai menembakkan." Ella bergegas melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
"Minggir." seseorang minggir dari sebuah senapan. Dan kini senapan itu berada dalam genggaman tangan Ella.
"Aaaa..." teriak salah satu penembak di sebelah Ella, membuyarkan konsentrasi Ella. Ternyata satu butir peluru bersarang di tubuhnya.
"Segera amankan." perintah Ella.
"Baik." ucapnya sambil membopong temannya yang terkena tembakan, menuruni tangga.
"Caassss." Ella tersenyum saat bidikannya tepat mengenai sasaran.
Ternyata mereka tidak hanya mempunyai satu senapan berukuran besar. "Sial." gumam Ella saat dirinya mengetahui ada serangan dari depan.
Sebisa mungkin Ella menghentikan dengan menembaki mereka dari atas bersama anak buahnya.
"Brengsek." Ella memegang pundaknya yang terkena timah panas.
"Non." seru mereka.
"Kalian fokus. Hiraukan saya." ucap Ella.
"Baik."
"Baik." jawab semuanya serempak dengan membawa senjata.
"Non." seseorang mendekat ke arah Ella.
"Hancurkan semua data-data yang penting. Jangan sampai mereka mendapatkannya."
"Baik."
Ella tidak perlu menyalin semua data yang berada di komputer tersebut. Karena sebelumnya, Ella sudah menyalin data tersebut dengan mengirimkan pada e-mail nya sendiri.
Ella dan yang lain terus menembak ke arah depan. Ella menghentikan tembakannya dan memejamkan mata. Ella membuka mata dan tersenyum.
"Matikan listrik." ucap Ella.
Seketika lampu mati. Ella mengajak anak buahnya untuk mundur dan meninggalkan markas dari pintu rahasia di belakang markas.
Mereka mencopot jaket mereka. Dan membiarkan kaos pendek berwarna hitam tetap melekat pada tubuh mereka. Karena semua bawahan Ella memakai kaos dalam warna hitam.
Entah kenapa mereka semua memakai kaos warna hitam. Hanya Tuan Haris yang tahu. Dan kini, sepertinya Ella juga mengerti kenapa papanya membuat peraturan seperti itu.
"Ella. Sayang." ucap seseorang dari arah lain.
"Vano." Ella segera memeluk kekasihnya tersebut.
"Ell." Vano merasakan pundak Ella basah.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja. Sekarang yang terpenting melumpuhkan mereka."
"Tidak bisa. Pelurunya harus segera di keluarkan. Segera kita akan menemui dokter."
"Van, lihat. Keadaan di sini sedang kacau." timpal Ella.
"Kamu tenang saja. Tadi aku bertemu dengan papa. Papa akan menyerang dari depan. Paman Haki dari samping. Sebaiknya kamu beristirahat. Biar aku yang ambil alih dari sini. Bagaimana?"
"Benar Nona. Apalagi Nona terluka."
"Baiklah." ucap Ella.
"Jaga Nona kalian dengan baik.'' ucap Vano pada ketiga bawahan Ella yang mengikuti atau yang bertugas mengawal Ella.
"Kita istirahat dulu di sini." Ella memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari Vano. Dari sini Ella masih bisa mendengar suara tembakan.
"Tapi Nona..."
"Kalian jaga di sekitar. Aku akan tetap di sini."
"Baiklah."
"Percuma aku meninggalkan mereka. Pikiranku tetap berada di sini. Lagi pula luka ini tidak terlalu dalam." Ella membuka jaketnya dan sedikit menyingkap kaos di pundaknya. Melihat luka karena terkena peluru. Ternyata benar, peluru tersebut tidak terlalu masuk ke dalam.
Ella mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya. Dia berniat mengeluarkan sendiri peluru tersebut. "Jika dibiarkan terlalu lama, mungkin akan lebih fatal." gumamnya.
Diambilnya jaket, di masukkan ke dalam mulutnya. Ella mengambil nafas dalam-dalam dan mulai mengeluarkan pelurunya.
Keringat membasahi seluruh tubuh Ella. Pelurunya telah keluar dari tubuh Ella. Tapi darah terus mengalir. Ella menyenderkan tubuhnya yang lemas dan memejamkan mata.
"Non,,,, astaga." ucapnya merobek kaos yang dia kenakan. Dan menghentikan darah di pundak Ella dengan melilitkan sobekan kaosnya.
"Kenapa? Nona Ella." ucap temannya dengan berjongkok.
"Kalian tenang saja. Aku dalam keadaan baik. Apa ada yang membawa minum?" tanya Ella dalam kondisi mata masih terpejam.
"Air. Kamu jaga Non Ella. Akan kucarikan air."
Setelah beberapa menit, bawahan Ella datang dengan membawa air dengan menggunakan bambu sebagai tempat menampung air.
"Ini Non." dia menyerahkannya pada Ella.
Tanpa berpikir lagi Ella langsung meminum air tersebut. Setelah selesai meminumnya, Ella melihat airnya. Kemudian pandangannya beralih pada bawahan yang telah membawakannya air untuk di minum.
"Maaf Non, itu saya dapat dari sana." tunjunya ke arah dia mendapatkan air.
"Ada aliran air, lalu saya ambil. Tapi aliran airnya bersih Non." imbuhnya.
Ella tidak menimpali perkataannya. Di lihatnya bekas luka di pundaknya. "Non, apa tidak sebaiknya kita ke dokter. Bagaimana jika lukanya semakin parah. Atau, karena terlalu lama. Takutnya berbekas di kulit Non Ella." ucapnya.
Karena dia tahu jika profesi anak dari Tuannya adalah seorang model.
"Sekarang sudah canggih. Apa kalian tidak ingat, aku juga pernah mengalami luka tembak dan sayatan di kulit. Sekarang tidak ada bekasnya sama sekali." ucap Ella enteng.
Seseorang segera berlari ke arah di mana dia rekannya dan Ella berada. "Ada yang datang." ucapnya.
Ella kembali memakai jaket dan bersiap. Ketiga bawahan Ella yang mengikutinya juga bersembunyi. Mengintai, mengawasi, dan mengamati dengan jeli.
Apalagi hari sudah gelap. Mereka tidak bisa sembarangan menyerang. Tanpa mengetahui dahulu siapa yang datang. Kawan, atau lawan.
__ADS_1