
"Kakak."
Seorang anak kecil mendekat kepada Ella yang sedang duduk di kursi taman kecil dekat restoran milik Tuan Danto. Taman yang pernah Ella datangi dengan melompati pagar taman karena saat itu Ella mendatangi saat malam hari.
"Apa cantik?" Ella membelai rambut lurus anak kecil di depannya.
"Mama mana?" tanyanya dengan wajah polos memandang ke arah Ella.
"Mama." gumam Ella sembari melihat ke sekitar tempat duduknya. Barangkali ada seseorang yang sedang mencari anaknya.
"Kamu ke sini sama siapa sayang?" tanya Ella dengan lembut.
Bukannya menjawab pertanyaan Ella, anak kecil tersebut malah menangis. Ella membawanya ke atas pangkuannya. "Cup, cup, cup." Ella mencoba membuatnya menghentikan tangisannya.
"Sayang." seorang perempuan paruh baya mendekat ke arah Ella.
"Oma." dengan segera, ia turun dari pangkuan Ella dan berlari ke arah beliau.
"Maafkan cucu saya." ucapnya pada Ella.
"Tidak apa-apa bu." Ella tersenyum dan berdiri di depan wanita tersebut.
"Ayo. Bilang apa sama kakaknya." kata wanita yang di panggil Oma tersebut pada anak kecil tersebut.
"Makasih kakak."
"Iya sayang." ujar Ella.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya nak." ucapnya pada Ella.
"Iya bu, silahkan." ujar Ella.
Seorang laki-laki berdiri tak jauh dari Ella mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Kemudian dia segera pergi dari tempatnya berdiri setelah kembali masukkan ponsel dalam saku celananya.
Sepeninggal mereka, Ella kembali duduk dan menenangkan pikirannya.
"Apa gue sudah kelewat batas ya. Kenapa gue tadi sampai ngebentak Hana." gumam Ella merasa menyesal.
Selama ini, Ella dan Hana sudah seperti saudara. Mereka saling berbagi cerita setiap ada masalah.
Sementara di dalam sebuah mobil, Hana menyatukan kedua telapak tangannya yang sudah basah karena keringat. Antara takut dan gugup.
Egi duduk di sebelah Hana dengan pandangan mata memandang lurus ke depan. "Katakan."
"Maaf Ell, bukannya mulut gue ember. Tapi gue nggak punya pilihan." batin Hana.
"Ella sangat mencintai Vano. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana sebenarnya hati Vano." Hana terdiam sesaat sembari melirik ke arah Egi.
Hana hendak melanjutkan perkataannya, tetapi dering ponsel Egi menghentikan mulut Hana yang ingin melanjutkan perkataannya.
Egi mendekatkan ponsel ke telinganya tanpa berbicara sepatah katapun. Ia hanya mendengarkan perkataan seseorang dari ujung ponselnya. Kemudian dia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Sekarang kamu boleh keluar." kata Egi.
__ADS_1
Hana memandang Egi dengan tatapan tidak percaya dan merasa bingung.
"Maksudnya gue." batin Hana.
"Silahkan keluar dari mobil saya. Dan untuk Nona Ella. Kamu tidak perlu mencarinya." ucap Egi kembali sambil menatap ke arah Hana yang masih menatap dirinya dengan tatapan bingung.
Egi menghembuskan nafas panjang dan mengulang kembali perkataannya melihat Hana masih terdiam.
"Bawahan saya sudah menemukan Nona Ella. Kamu tidak perlu khawatir. Dia dalam keadaan baik-baik saja."
Hana mengembangkan senyum di bibirnya mendengar perkataan dari Egi.
"Keluar dari mobil saya. Untuk Ella, biar menjadi urusan saya." ucap Egi dengan menatap tajam ke arah Hana.
Egi merasa kesabarannya mulai menipis. Sejak tadi dia sudah menyuruh Hana untuk meninggalkan mobilnya. Tapi Hana seakan tidak mau beranjak dari duduknya. Hana malah terus memandang ke arah Egi.
"Nona Hana." ujar Egi dengan penekanan dan menatap tajam ke arah Hana.
"Baik, terimakasih." Hana segera keluar meninggalkan mobil Egi.
Tanpa menunggu terlalu lama, Egi langsung menjalankan mobilnya menuju ke tempat Ella berada.
Hana pun juga berjalan menuju ke tempat mobilnya terparkir.
"Kenapa gue nggak tanya di mana Ella. Hana, bodoh banget sih kamu." Hana mendumal sendiri sambil masuk ke dalam mobil.
"Egi juga, tadi sampai nyeret gue masuk ke dalam mobilnya. Suruh menceritakan tentang Ella dan Vano. Gue baru cerita sedikit, sudah ngusir gue." Hana bersiap menjalankan mobilnya untuk meninggalkan butik Nyonya Tiwi.
"Kenapa dia kepo banget sama Ella. Apa mungkin, dia tertarik sama Ella." Hana teringat saat dia dan Ella bertemu dengan Egi di butik Nyonya Tiwi.
"Vano dan Egi. Menakutkan juga. Ella. Gue harus memperingatkan dia."
"Tapikan Ella masih marah sama gue. Apa gue keterlaluan ya. Hana, coba elo tadi bisa ngerem mulut elo. Elo lihat sekarang. Ella marah, Egi tahu soal Ella dan Vano. Jadi runyam." Hana memukul kemudi mobilnya.
Vano dengan santai melajukan mobilnya menuju perusahaan. Tepat di perempatan jalan. Saat lampu merah menyala, Vano bertemu dengan Egi. Masing-masing berada di dalam mobil dengan tempat berlainan arah.
Keduanya menurunkan jendela kaca mobil disampingnya dan saling melempar senyum saat lampu hijau menyala. Yang artinya, mereka mulai menjalankan mobilnya.
"Vano, Ella." gumam Egi di balik kemudinya.
Dia teringat saat Vera dengan langkah anggun dan santai memasuki mobil milik Vano. Segera Egi memacu kendaraannya ke tempat Ella berada. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk lebih dekat dengan perempuan yang berhasil mencuri perhatiannya saat malam itu.
Sampai di perusahaan, Vano menyuruh Lena untuk memberikan beberapa berkas dan laporan yang perlu dia tanda tangani dan dia baca kembali.
"Bawa berkas-berkas yang memerlukan tanda tanganku ke dalam." Vano berkata di depan meja Lena tanpa menatap ke arah Lena.
Lena hanya menatap ke arah Vano tanpa bersuara. Merasa Lena tidak menanggapi perkataannya, Vano lantas memandang ke arah meja Lena.
"Baik." Lena langsung berdiri dan mengumpulkan beberapa berkas penting untuk di bawa ke dalam ruangan Vano.
"Gimana mau ngedeketin coba. Galak banget. Lagian kenapa sih Oma punya cucu kayak gitu." batin Lena sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Vano.
"Tinggalkan. Kamu boleh keluar."
__ADS_1
Lena meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja Vano dan bergegas keluar dari ruangan atasannya tersebut.
Sementara Vano di sibukkan dengan tumpukan berkas di mejanya, Egi sudah mulai merapat mendekati Ella.
"Nona Ella." sapa Egi yang sudah berdiri di samping Ella.
Ella mengarahkan pandangan matanya ke tempat seseorang yang sedang memanggilnya. Melihat Egi berdiri di sampingnya, Ella menampilkan senyumnya.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya Egi meminta persetujuan Ella.
"Silahkan." Ella sedikit menggeser pantatnya supaya Egi bisa duduk di sampingnya.
"Sendiri?" tanya Egi. Ella hanya menganggukkan kepalanya.
"Sering ke sini?" tanya Egi lagi.
"Tidak Tuan, ini yang kedua kalinya." jawab Ella.
"Tuan. Jangan panggil saya dengan sebutan itu. Berasa tua. Saya masih seumuran dengan kekasih anda Nona. Panggil saja Egi." pinta Egi.
"Baiklah. Ella." ujar Ella.
"Jika kamu mau, aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat." tawar Egi.
Ella memandang Egi dengan tatapan yang sulit di artikan. Ella merasa sedikit canggung dengan sikap akrab yang di tunjukkan Egi pada dirinya. Bukankah mereka baru bertemu dan juga berkenalan. Tapi Egi seperti sudah mengenal Ella sudah lama.
Dan untuk Egi. Dia benar-benar tidak ingin membuang-buang kesempatan yang di dapatnya. Karena dia sadar, jika Ella masih mempunyai seorang kekasih. Dan dia, bahkan seluruh orang tahu siapa kekasih dari model tersebut.
Melihat Ella hanya menatapnya tanpa berkata, membuat Egi kembali mengeluarkan suaranya.
"Pasti suasana hati kamu sedang tidak baik. Jika kamu bersedia, aku akan menunjukkan sesuatu. Dan pastinya membuat perasaan kamu kembali membaik. Bahkan lebih baik. Aku yakin." Egi mencoba menyakinkan Ella.
"Mari." Ella berdiri dari duduknya.
Sudut bibir Egi terangkat sempurna mendengar jawaban dari Ella.
"Silahkan." Egi berdiri dan menunjukkan jalan pada Ella.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Ella saat berjalan di samping Egi.
*****
Kira-kira kemana Egi mau ngajak Ella. Bikin author penasaran saja.
Egi semangat. Deketin Ella. Biar Vano merasa haredangggg....
Author dukung Egiiiii.... 😘😘
Buat teman-teman, jangan lupa juga buat dukung author. Caranya gampang kok. Tinggalkan jejak pada setiap bab nya.
Like dan komen. Juga, masukan novel author ke novel favorit kalian. Gratis kok.
Makasih ❤️❤️
__ADS_1