
Vano bersama dengan Reza masuk ke dalam ruangan kerja Vano. Keduanya baru saja bertemu dengan klien. Membahas kerja sama yang akan mereka kerjakan bersama.
"Tuan, saya ingin menyampaikan sesuatu." ucap Reza, setelah Vano duduk di kursi single miliknya.
"Katakan." ucap Vano.
"Tuan Ditya sudah meninggalkan negara ini." jelas Reza.
"Saya sudah tahu. Mana mungkin dia akan terus mengejar Ella, seperti parasit. Apalagi sekarang dia tahu, jika telah tumbuh benihku di dalam rahim Ella." ucap Vano tersenyum penuh kemenangan.
Sebenarnya, Vano sengaja menyuruh Reza untuk menggunakan Hana sebagai perantara mereka. Mengatakan pada bawahan Ditya jika Ella tidak bisa mengambil pekerjaan yang mereka tawarkan, lantaran Ella tengah berbadan dua.
Tapi Vano bermain dengan cerdik menggunakan otaknya dari pada tenaganya. Karena dia tahu, siapa sosok Ditya.
Bukannya Vano takut dengan Ditya. Hanya saja Vano berpikir akan percuma bertarung dengan fisik melawan Ditya. Pasti hasilnya akan imbang.
Sehingga dirinya memilih mengunakan cara yang lembut. Seakan dirinya tidak terlibat sama sekali. Padahal semua sudah terencana dengan baik di dalam otak Vano.
Padahal, sejak awal Vano mengetahui jika perusahaan yang hendak menggunakan sang istri sebagai modelnya adalah perusahaan milik Ditya. Perusahaan yang baru saja di bangun oleh Ditya.
Tapi Vano tidak segera bergerak. Dia menyuruh bawahannya untuk selalu mengikuti perkembangannya. Karena dirinya tidak ingin salah langkah.
Apalagi sekarang Ella sudah menjadi miliknya. Sepenuhnya. Jadi dia tidak memiliki kekhawatiran yang berlebih. Apalagi, Ella tipikal perempuan yang menjunjung kesetiaan.
Saat Ella ingin mengambil pekerjaan tersebut, Vano berniat melarang Ella.Tapi rencananya berganti, setelah sang istri dinyatakan tengah berbadan dua.
Vano menggunakan kondisi Ella sebagai alasan, dan melarang Ella untuk bekerja selama beberapa bulan ke depan. Untuk menjaga keselamatan Ella dan calon bayi mereka Dan Ella mengikuti semua keinginannya. Tanpa mencurigai sang suami.
Tapi dirinya juga menginginkan jika berita tentang kehamilan Ella terdengar sampai di telinga Ditya. Dan semuanya berjalan dengan lancar. Sesuai keinginan Vano. Ditya mengetahui jika Ella tengah hamil anak Vano.
Bahkan, kemarin Vano juga mendapat kabar dai Rio. Jika Ditya menemui Ella di tengah perjalanan. Tapi Vano masih tenang, dan bersikap santai.
Karena dirinya seakan tahu apa yang terjadi. Biarlah itu menjadi pertemuan terakhir Ditya dan Ella. Begitulah pemikiran Vano.
"Maaf Tuan, apa semua ini tidak berbahaya untuk keselamatan Nyonya Ella?" tanya Reza dengan hati-hati.
Lantaran baik Ella maupun Vano, bahkan kedua keluarga besar mereka mempunyai musuh lumayan banyak. Reza hanya khawatir jika kondisi Ella akan digunakan musuh untuk melukai keluarga Tuannya.
Terutama keselamatan Ella. Bisa jadi musuh menargetkan untuk melenyapkan Ella, sekaligus janin yang masih berada dalam rahim Ella.
Bukankah akan sangat menyenangkan, jika mereka bisa melenyapkan calon pewaris kerajaan bisnis milik keluarga Reyandli dan juga Subagyo.
"Tenang saja. Ditya pasti sudah menyuruh orangnya untuk diam dan menutup mulut mereka. Meskipun aku sangat tidak menyukainya. Tapi aku akui, dan aku berani jamin. Dia tidak akan melakukan hal yang keji dan kejam. Tanpa alasan. Apalagi membunuh janin yang masih dalam kandungan ibunya." jelas Vano dengan santai.
Ting... Terdengar suara pesan masuk ke dalam ponsel milik Vano. Dengan santai, Vano membuka pesan tersebut. Yang ternyata dikirim oleh Rio.
Rio tidak berani berbicara langsung. Dirinya memutuskan untuk memberitahu Vano lewat pesan tertulis. Jika Ella meninggalkan rumah menggunakan mobil sport, tanpa dirinya.
Rio juga mengatakan, jika sekarang dirinya terluka. Karena serangan dari Ella. Saat dirinya ingin menghentikan sang istri. "Rio..!!!!" geram Vano dengan suara tertahan menahan rasa kesal.
"Menjaga satu wanita saja tidak becus." ucapnya dengan nada sedikit tinggi.
"Apa anda lupa, siapa wanita itu. Istri anda. Dan bagaimana keahliannya. Saya saja mungkin akan kalah jika berhadapan langsung dengan Nyonya." batin Reza memuji kehebatan istri dari Tuannya.
"Cari lokasi keberadaan Ella sekarang. Dia menggunakan mobil sport miliknya. Warna silver." pinta Vano pada Reza.
Segera Reza menuju ke kursi sofa yang panjang dan empuk. Membuka laptop, yang memang sudah tersedia di meja tersebut. Mencari keberadaan istri dari Tuannya.
"Rio. Kamu pembuat masalah." batin Reza dongkol, teringat dulu. Saat Rio membuat masalah, pasti dirinya yang akan menyelesaikannya.
Sementara Vano mencoba menghubungi ponsel milik sang istri. Tersambung, tapi tidak di jawab oleh pemiliknya. "Kamu di mana sayang." batin Vano. Masih mencoba menghubungi ponsel Ella terus menerus.
Entah kenapa, perasaan Vano tiba-tiba merasa tidak enak. Seperti ada sesuatu hal besar yang akan menimpa dirinya, bahkan juga Ella.
__ADS_1
Vano menaruh ponselnya. Mengendurkan dadi yang melingkar di lehernya. "Bagaimana?" tanya Vano pada Reza, tidak sabar.
"Nyonya berada di cafe. Sekarang beliau duduk bersama Hana. Dalam satu meja." jelas Reza.
Karena setelah mengetahui keberadaan Ella, Reza langsung membobol CCTV di tempat tersebut. Karena dia sangat hapal, bagaimana cara kerja dari Tuannya. Vano.
Vano sedikit bernafas lega, mendengar penjelasan Reza. Tapi entah kenapa, Vano merasa ada yang masih mengganjal di pikirannya.
"Tapi, ada yang aneh." ucap Reza lirih. Memperbesar gambar dimana Ella dan Hana duduk di satu meja.
Reza menatap ke arah Vano. Tampak Vano menatap tajam ke arah Reza. Segera Reza menjelaskan apa yang dilihatnya. Sebelum mendapatkan kemarahan dari Vano, karena rasa penasaran Vano.
"Nyonya memakai kacamata hitam. Dan juga, gestur tubuhnya terlihat sangat dingin dan kaku. Lalu Hana, Hana, raut wajahnya seperti tertekan. Seperti sedang menangis." ucap Reza, menebak sekiranya apa yang terjadi di cafe tersebut.
Vano mengernyitkan dahinya, mendengar perkataan dari asistennya. "Ella, terlihat dingin. Hana, tertekan." gumam Vano. Padahal biasanya, keduanya akan sangat welcome saat bertemu.
Seketika tubuh Vano menegang sempurna. "Tidak mungkin, jika Ella mengetahui kejadian malam itu." batin Vano menebak.
"Tuan." panggil Reza, saat Vano termenung. Menerawang jauh ke depan. Bahkan Vano mengabaikan panggilan dari Reza.
Vano melihat ke arah laptopnya yang terbuka. Alisnya menyatu, melihat ada satu email. Dan pemilik alamat tersebut adalah milik Ella.
Segera tangan Vano membuka sebuah video yang dikirim oleh sang istri melalui emailnya. Sekitar satu jam yang lalu.
Rahang Vano seketika mengeras, dengan tubuh membeku. Nafasnya memburu. Matanya memandang dengan tatapan tidak percaya. Dengan apa yang dilihatnya di layar laptop miliknya.
"Ba-bagaimana Ella bisa mengetahuinya. Dia." gumam Vano, tangannya mengepal sempurna. Dirinya benar-benar kecolongan. Vano benar-benar meremehkan insting dari istrinya.
Tanpa berkata apapun pada Reza, Vano menyambar kunci mobilnya di atas meja. Berlari keluar ruangan. "Tuan." seru Reza merasa heran. Tapi Reza tidak segera mengejar Vano.
Pandangan Reza malah menatap penuh penasaran pada laptop yang masih menyala di meja milik atasannya tersebut.
Vano berlari dengan terburu-buru. Setelah melihat ke arah layar laptop. "Apa yang terjadi, kenapa Tuan langsung berlari meninggalkan ruangan." gumam Reza.
Sebenarnya Reza tidak ingin terlihat lancang dengan melihat laptop Tuannya. Karena itu adalah ranah pribadi. Tapi semua Reza tepis.
Reza segera membalikkan laptop milik Vano. Dan Reza beruntung, karena laptop milik Tuannya masih menyala.
Mata Reza membulat, bahkan mulutnya menganga. Seakan tenggorokannya sangat sulit untuk menelan air liurnya. "Mustahil." ucap Reza.
Segera Reza mengecek keaslian dari video tersebut. Dan asli. Bahkan, Ella sendiri yang mengirimkannya ke laptop Vano. "Elll...." gumam Reza, melihat ke arah tanggal dan waktu kejadian.
Reza duduk dengan lemas di kursi single yang biasanya di gunakan oleh Vano. Nafasnya seakan sulit untuk masuk dan keluar dari hidung.
Reza kembali melihat dan mengulang video tersebut. "Bukankah ini setelah Tuan mengadakan pertemuan dengan rekan bisnisnya di salah satu klub malam." gumam Reza.
"Ternyata mereka ingin menjebak Tuan." rahang Reza mengeras sempurna.
"Kalian akan tahu akibat dari kepandaian kalian. Karena bukan hanya Tuan Vano yang merasakan dampaknya sekarang. Tapi Ella." gerak Reza.
Reza memejamkan mata, membayangkan betapa terpukulnya Ella. "Semoga kamu baik-baik saja." ucap Reza lirih.
Reza mematikan laptop Vano. Jangan sampai video tersebut jatuh ke tangan orang, yang malah akan menjadikan video tersebut sebagai senjata untuk menjatuhkan Tuannya.
"Ella." gumam Reza. Segera dirinya mengikuti Vano. Karena dapat dipastikan Tuannya tersebut akan menemui sang istri di cafe. Dimana Ella dan Hana bertemu.
"Semoga semuanya baik-baik saja." gumam Reza. Meskipun dirinya tidak yakin, jika Ella akan berbesar hati menerima semuanya. Meskipun Vano dan Hana melakukannya karena sebuah kesalahan.
Sekertaris Vano yang berada di depan ruangan Vano melihat dengan penasaran. "Tadi Tuan Vano. Sekarang Reza. Ada apa sih." ucapnya.
Melihat keduanya keluar dari ruangan Vano dengan ekspresi tidak biasa. Dan tergesa-gesa. Seperti ada sesuatu yang sedang terjadi. Dan itu sangat genting.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Reza menghubungi anak buahnya. Menyuruhnya untuk menyusul dirinya ke tempat yang sudah dia beritahukan. Hanya untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ella sebenarnya sangat paham. Di sini, tidak ada yang bersalah. Baik Vano maupun Hana, keduanya tidak sengaja melakukannya. Bahkan keduanya tidak pernah menginginkan kejadian tersebut terjadi.
Tapi Ella hanya merasa kecewa. Kenapa mereka tidak mengatakan yang sejujurnya pada dirinya. Mungkin, jika Ella di beritahu sejak dulu. Dirinya tidak akan merasakan sakit hati seperti sekarang ini.
Ella merasakan seperti di tusuk dan disayat oleh sebilah pisau yang sangat tajam. Tapi sayangnya, luka tersebut tak terlihat. Sangat sakit. Tapi tak berdarah.
"Maaf, bukan keinginanku menyembunyikan semua ini dari kamu." ucap Hana, menundukkan kepalanya. Dirinya seakan tidak kuasa untuk menatap ke arah sahabatnya. Ella.
"Aku,,,," ucap Hana, tidak dapat meneruskan perkataannya.
Dan Ella juga sangat tahu, kenapa Hana maupun Vano tidak mengatakan semuanya pada dirinya. Dan malah menyembunyikan semua faktanya. Menghapus seluruh bukti.
Karena mereka hanya ingin menjaga perasan Ella. Tapi lihatlah. Yang namanya bangkai, pasti akan tercium. Entah kapan waktunya. Yang sekarang sudah meledak bagai bom waktu.
"Elll...!!!" seru Hana, saat Ella dengan tiba-tiba berdiri dan meninggalkan cafe tersebut. Tanpa mengatakan apapun pada Hana.
Sungguh, Ella berusaha keras menahan air mata dan amarahnya saat berbicara dengan Hana. Ella melajukan mobilnya meninggalkan cafe.
Ella memukul stir berkali-kali, meluapkan emosinya. "Hana, aku tahu. Jika kamu dan Vano tidak bersalah. Tapi hatiku tetap terasa sakit. Seperti ada sebuah belati yang menusuk jantungku." ucap Ella, dengan air mata mengalir di pipi.
"Aku tahu, kamu juga pasti merasakan hal sama denganku. Malah lebih sakit. Tapi maaf, aku bukan malaikat. Yang mempunyai hati yang sabar seluas lautan." ucap Ella.
Seperti orang kesetanan, Ella melajukan mobilnya. Apalagi mobil yang dia gunakan adalah mobil sport, dengan kecepatan di atas rata-rata.
Dari belakang, Ella melihat ada mobil yang mengikutinya. "Brengsek. Gue sedang nggak mood untuk bertarung." ucapnya dengan nada tinggi.
Ella dapat melihat, jika mobil yang mengikutinya bukan bawahannya ataupun bawahan Vano. "Kalian semakin membuatku muak." seru Ella.
Mobil Ella semakin melaju kencang. Sementara dua mobil di belakang Ella juga menambahkan kecepatannya. Seolah tidak ingin kehilangan mangsanya.
Sementara di cafe, Hana yang hendak mengikuti Ella menghentikan mobilnya. "Vano." gumam Hana. Melihat mobil Vano berhenti di area parkiran cafe.
"Van." seru Hana, keluar dari mobilnya.
"Aaa..!!" seru Hana, saat Vano tiba-tiba menghampirinya, mencekik leher Hana.
"Kenapa Ella sampai tahu. Apa yang sudah kamu lakukan. Katakan." tampak raut wajah Vano tampak gelap dan menyeramkan.
Hana memegang pergelangan tangan Vano. Menarik tangan Vano, supaya melepaskan cekikannya di lehernya. Nafas Hana seakan habis, karena cekikan dari Vano.
"Ha,,, ha,,, ha,,, uhuk,, uhuk,," tubuh Hana merosot ke bawah begitu Vano melepaskan cekikannya di leher Hana.
Hana memegang lehernya yang sakit. Dengan nafas tersengal. Matanya terpejam. "Ak-aku ti-tidak." Hana mencoba mengatur nafasnya. "Aku,,, ti-tidak mengatakan apa-apapun." imbuh Hana kembali mengatur nafasnya.
"Dimana Ella?!!" tanya Vano dengan nada menakutkan. Karena Vano tidak melihat mobil Ella di sekitarnya.
"Ella, baru saja pergi." ucap Hana, seraya berdiri.
"Ke sana." tunjuk Hana ke sebuah arah.
Tanpa berkata apapun, Egi kembali masuk ke dalam mobil. Bergegas mencari sang istri. Hana memandang Vano dengan tatapan sedih.
"Semoga Ella baik-baik saja. Semoga hubungan kita juga baik-baik saja." gumam Hana. Menyenderkan badannya di samping mobil. Meski apa yang dikatakannya, tidak akan terwujud dengan mudah.
Sementara Ella masih melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seolah sedang mengikuti ajang balap mobil dengan rival dua buah mobil di belakangnya.
Perasaan Ella bercampur aduk. Sehingga Ella tidak bis menyetir dengan fokus seperti biasa. Di benaknya masih menari-nari video Vano dan Hana.
Tiba-tiba dada Ella terasa sesak. Matanya memburam karena air matanya sudah memenuhi kantong matanya. Tangan Ella beberapa kali menghilangkan air matanya. Membuat penglihatan Ella terganggu.
Ciiiiiitttttt........ Brakkkk........
__ADS_1
Mobil Ella menghantam pembatas jalan yang berada di tepi jalan. Ella membanting stir ke arah lain. Tapi sayangnya, di sampingnya ada salah satu mobil yang sempat mengejarnya.
Membuat mobil Ella dan mobil yang membuntuti Ella bertabrakan dengan sangat keras. Hingga kedua mobil tersebut berguling beberapa kali.