DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 188


__ADS_3

Viki berjalan mondar mandir seperti setrika di ruang tengah apartemennya, dengan menempelkan ponsel di telinga kirinya. Terlihat jelas raut wajah khawatirnya.


"Ell,, angkat." gumam Viki dengan rasa khawatirnya.


"Abang Viki kenapa?" tanya Nara. Gadis cantik yang beberapa waktu lalu di tolong Viki bersama dengan kedua adiknya, melihat Viki yang sepertinya sedang berada dalam masalah.


Dan sekarang Nara beserta kedua adiknya menempati apartemen Viki untuk sementara. Karena salah satu adik dari Nara sedang sakit.


"Tidak ada." jawab Viki dengan ketus. Memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Nanti akan ada orang yang mengantar makanan untuk kalian. Kamu tinggal menerima. Semua sudah abang bayar." ucap Viki.


Meninggalkan Nara dan kedua adiknya. Tampak Nara menatap tubuh Viki yang keluar dari apartemen dengan tatapan yang rumit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bagaimana?" tanya Vano pada Reza.


"Saya sudah mendapatkannya Tuan. Dia salah satu pengunjung bar malam tadi." jelas Reza.


"Maaf Tuan, disini anda akan menjadi serba salah." jelas Reza menatap Vano dengan tatapan yang penuh arti.


"Katakan. Aku tidak bisa menebak apa yang ada dalam otakmu itu." hardik Vano.


"Jika Tuan ingin mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya, Tuan malah akan bermasalah." ucap Reza.


"Salah sendiri, kenapa mesti pergi ke bar." batin Reza, tidak berani berkata secara langsung.


Vano paham maksud perkataan Reza. Vano harus mempunyai bukti untuk menyangkal atau mengklarifikasi semua berita yang sudah beredar luas.


Padahal Reza sudah menekan berita tersebut. Namun karena beritanya sudah menjalar kemana-mana, Reza seakan kewalahan. Dan Vano menyuruh Reza untuk membiarkannya saja.


Satu-satunya bukti jika Vano tidak bermain dengan perempuan tersebut adalah rekaman CCTV di bar tersebut. Tapi, jika Vano memutar video yang terekam di beberapa sudut bar tersebut. Maka akan terlihat jelas apa yang sebenarnya terjadi.


Jika Vano mencekik perempuan tersebut. Dan hampir merenggut nyawa ****** itu. Dan semua masalah akan semakin runyam.


"Aku tidak berniat mengklarifikasinya." ucap Vano datar.


"Hapus video CCTV nya. Tapi sebelumnya, kirimkan terlebih dulu padaku." pinta Vano.


"Baik."


"Bagaimana dengan Ella?" tanya Vano, lantaran dirinya meminta Reza untuk mengawasi gerakan Ella.


Sampai detik ini, Vano sama sekali belum menghubungi Ella. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Menurutnya, mengatakan semua kebenaran pada Ella pasti akan percuma.


Sang istri pasti tidak akan percaya begitu saja. Tanpa Vano memberikan bukti akan kebenaran dalam ucapannya.

__ADS_1


"Maaf Tuan, anak buah saya kehilangan jejak Nyonya." ucap Reza menundukkan kepala.


Vano menatap Reza dengan tatapan mata menyalang. "Kenapa semakin lama kalian semakin bodoh." desis Vano dengan nada rendah tapi terdengar menakutkan.


"Tidak berguna." seru Vano.


"Hubungi Rio. Suruh dia kembali. Katakan untuk menemuiku. Aku yang memintanya." jelas Vano.


Glekk,, Reza seolah kesulitan menelan ludahnya.


"Rio." batin Reza.


"Apa kau tuli." seru Vano, melihat Reza masih berdiri di depannya.


"Baik Tuan." segera Reza meninggalkan apartemen Vano.


"Kenapa harus memanggil bedebah itu. Aisshhh. Ini semua karena elo nggak becus Za." ucap Reza pada dirinya sendiri.


"Jika bukan karena Tuan yang meminta, gue nggak bakal sudi menghubungi bajingan seperti elo." ujar Reza mencari nomor kontak Rio.


Rio, salah satu orang kepercayaan Vano selain Reza. Dan sekarang dirinya sedang berada di luar negeri. Mengurusi perusahaan Vano yang berada di negara tersebut.


Reza dan Rio tidak bisa akur jika bersama. Mereka selalu mempunyai cara kerja yang berbeda. Dan sudah di pastikan, kali ini Vano akan menyuruh keduanya untuk bekerja sama.


Lantaran akhir-akhir ini Reza selalu membuat Vano kecewa dengan hasil kerja yang diperintahkannya.


Sama halnya dengan anak buah Reza. Begitupun dengan orang suruhan Tuan Haris. Mereka kehilangan jejak Ella.


"Maaf Tuan, kami kehilangan jejak Nona Ella. Kami menemukan sepeda motor yang digunakan Nona terparkir di salah satu halaman panti asuhan." jelasnya.


"Tapi setelah kami pastikan, pihak panti mengatakan jika motor tersebut di bawa oleh seorang lelaki. Bahkan kami sudah masuk ke panti. Untuk memastikan. Tapi Nona Ella tidak berada di dalam." imbuhnya.


"Sekarang kami sedang berada di depan panti asuhan. Mengawasi panti tersebut." ucapnya.


Tapi Tuan Haris menyuruh bawahannya untuk meninggalkan panti asuhan tersebut. Tuan Haris yakin jika Ella sudah tidak berada di sana.


Tuan Haris tersenyum membayangkan kembali kenakalan Ella saat masih berseragam SMA. Saat Nyonya Ane harus menghadap ke wali murid kelas. Dimana istrinya tersebut mengomel sepanjang hari.


Karena Ella menonjok seorang temannya. Sampai anak tersebut mengalami mimisan yang hebat. Dan alasannya sangat tidak masuk akal. Hanya karena Ella tidak suka teman lelakinya tersebut memandangnya.


Tuan Haris mengurungnya di dalam kamar. Tapi Ella malah dengan mudah melarikan diri. Padahal pintu terkunci dari luar.


Dan di bawah balkon kamar Ella, Tuan Haris menaruh beberapa bawahannya untuk menjaga supaya Ella tidak kabur.


Tapi tetap saja, putrinya lebih cerdik dari pada bawahannya. Entah bagaimana caranya Ella kabur. Dan malah pergi bermain dengan kedua sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Denis dan Viki.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Dengan kecepatan tinggi, Ella mengendarai motornya di jalan raya yang sepi. Dipinggir kanan kiri jalan hanya ada tanaman pohon cemara. Ella mengendarai motor sudah seperti seorang pembalap profesional.


Ella berhenti saat ponselnya bergetar. Ella mengambil ponsel dalam sakunya. Melihat apa bawahannya bekerja dengan baik sesuai perintahnya.


Ella memutar video yang dikirimkan bawahannya. Ella tersenyum melihat rekaman video tersebut. Kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Dan kembali melajukan motornya ke tempat tujuan semula.


Ella menyadari jika dirinya di buntuti dan diawasi sedari dari rumah. Karena itu dia menyuruh bawahannya untuk mengecoh orang suruhan Vano dan juga papanya. Dan berhasil.


Di sinilah sekarang Ella berada. Ella menghentikan motornya. Membuka helm yang menutupi kepala. Matanya menatap ke depan. Dimana hanya ada hutan lebat di depannya.


Ella turun dari motornya. Menjatuhkan tas yang sedari tadi berada di punggungnya. Membuka tas tersebut. Mengambil senapan dari dalamnya. Dimana senapan laras panjang tersebut sudah berisikan timah panas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Begitu tiba di negara ini, Ditya langsung tersenyum senang. Perjalanan selama berjam-jam tidak membuat tubuhnya terasa lelah. Bahkan badannya teras segar dengan berita tersebut.


Bagaimana tidak. Dirinya melihat berita yang mengejutkan. Seolah keputusannya untuk mengembangkan bisnis di negara ini adalah keputusan yang tepat.


"Kelihatannya alampun merestuiku."ucapnya tersenyum miring. Membaca artikel mengenai Vano dan Ella.


"Tuan, Tuan Egi terus menanyakan anda." ucap Doris. Asisten Ditya.


"Biarkan saja." ucap Ditya acuh.


"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan." ucap Doris terlihat serius.


"Saya sudah menyelidikinya sebelumnya. Dan saya yakin ini adalah suatu kebenaran." ucap Doris.


"Jangan berbelit-belit." tegas Ditya pada Doris, asistennya.


"Tuan Egi pernah memiliki perasaan pada Nona Ella." ucap Doris mampu membuat Ditya beku seketika, dan senyum di bibirnya langsung memudar.


Ditya masih memandang ke arah Doris. "Saat itu Nona Ella dan Tuan Vano belum resmi menikah. Tapi mereka sudah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih." lanjut Doris.


Ditya memejamkan mata. Menghirup udara dengan banyak. Seperti sedang mengisi pasokan oksigen ke dalam paru-parunya.


"Dan saya rasa, tujuan Tuan Egi meninggalkan negara ini karena Nona Ella memutuskan untuk menikah dengan Tuan Vano. Karena pernikahan keduanya berselang beberapa minggu setelah kepergian Tuan Egi." jelas Doris panjang lebar.


Ditya membuka matanya. Melemparkan pisau buah di depannya.


Seeetttt..... pisau tepat melesat di samping Doris. Dengan sempurna mengenai target, papan panah yang tergantung di pintu.


Tubuh Doris menegang sempurna. Sedikit saja Doris bergerak, sudah di pastikan pisau tersebut akan menancap tepat di wajahnya. Dan itu dapat dipastikan, terkena mata Doris.


Sebisa mungkin Doris kembali menenangkan degup jantungnya. Menjadi asisten sekaligus tangan kanan Ditya haruslah siap dengan segala konsekuensinya. Karena Ditya seseorang yang tidak bisa di tebak.


"Egi." geram Ditya. Tangannya meremas kuat buah apel di hadapannya. Hingga ada tetesan air di tangannya.

__ADS_1


"Pantas saja dia selalu melarangku mendekati Ella. Ternyata." cibir Ditya. Memakan apel yang berada di tangannya.


"Pengecut." ejek Ditya pada Egi yang lebih memilih merelakan Ella pada Vano.


__ADS_2