
Jenazah Vano di berangkatkan ke makam. Di iringi dengan puluhan mobil di belakanganya. Sampai di makam, Nyonya Risma meminta untuk melihat wajah terakhir dari putra tunggalnya.
"Semoga kamu tenang di sana sayang." ucap Nyonya Risma saat tubuh Vano di masukkan ke dalam liang lahat.
Nyonya Risma membalikkan badan. Memeluk tubuh suaminya dan menangis terisak. Tuan Danto memeluk erat tubuh sang istri.
Beliau sama sekali tidak percaya dan tidak menyangka, jika putranya akan mendahuluinya, kembali kepada sang pencipta.
Dengan banyaknya pelayat, Reza dan yang lain semakin berwaspada. Apalagi kebanyakan mereka adalah para berbisnis. Entah saingan ataupun rekan kerja.
Seolah semuanya memakai topeng yang sama. Topeng yang memperlihatkan raut sedih di wajah mereka. Tak ada yang tahu apa yang mereka rasakan sebenarnya.
Memang ikut bersedih atas kepergian Vano untuk selamanya. Atau hanya sebuah sandiwara belaka. Dan sepertinya, dunia bisnis akan mengalami perubahan besar di kemudian hari.
Baru saja jenazah Vano di kebumikan. Sudah banyak beredar berita tentang perusahaan raksasa milik mendiang. Siapa kemungkinan yang akan mengambil alih perusahaan tersebut.
Mengingat Vano dan Ella baru menikah. Dan keduanya belum memiliki keturunan. Apalagi sekarang tidak di ketahui keberadaan dari Ella.
Selain itu, berita meninggalnya pengusaha muda dan sukses tersebut banyak menimbulkan pertanyaan. Karena semua terjadi begitu tiba-tiba.
Mereka hanya mendengar jika Vano mengalami kecelakaan tunggal bersama sang istri saat mereka mengendarai mobil. Dan yang menjadi pertanyaan, tidak ada satu foto atau gambar tentang kecelakaan tersebut.
Tak kalah menghebohkan, yakni keberadaan Ella saat jenazah Vano di kebumikan. Ketidakhadiran sang istri membuat semua orang bertanya dan menerka-nerka tentang kejadian sebenarnya.
Dan mereka menduga, jika keadaan sang model saat ini sedang kritis. Sehingga tidak menghadiri pemakaman dari suaminya, Vano.
Apalagi juga tidak terlihat Nyonya Ane, sebagai mertua dari Vano. Semua seakan membuat berita menjadi simpang siur.
Ditambah tidak ada keterangan apapun dari pihak keluarga yang terkait. Seakan semua tertutup dengan rapat. Tidak ada celah sedikitpun untuk media mengetahuinya.
Saat awak media bertanya pada pihak kepolisian, mereka membenarkan jika Vano mengalami kecelakaan tunggal bersama sang istri. Hanya itu yang di dapat awak media. Tidak ada yang lain.
"Sebaiknya mama istirahat dulu." pinta Tuan Danto, setelah mereka kembali dari pemakaman sang putra.
"Mama mau ketemu Ella pa." pinta Nyonya Risma lirih.
"Ma.." ucap Tuan Danto, melarang sang istri. Karena memang keadaan Nyonya Risma masih belum membaik.
"Sebaiknya kamu temani istrimu dulu Danto. Biar semuanya saya dan yang lain yang akan menyelesaikannya." saran Tuan Haris.
"Maaf Tuan, keadaan Nyonya Ella sudah membaik." ucap Reza.
"Syukurlah." ucap mereka.
"Pa.. Mama ingin ketemu Ella." rengek Nyonya Risma.
"Maaf Nyonya, tapi beliau belum sadar. Dokter hanya berkata jika Nyonya Ella sudah melewati masa kritis." jelas Reza.
"Kenapa kamu tinggalkan mereka." ucap Tuan Danto, padahal keadaan Ella sekarang sangat rawan. Jika musuh sampai mengetahuinya.
"Nyonya Ane dan Nyonya Ella bersama dengan Viki." jelas Reza.
"Apa dia dapat di andalkan?" tanya Tuan Danto, merasa sedikit sangsi.
"Pasti." jawab Reza.
"Ajak istrimu pulang untuk istirahat. Temani dia." suruh Tuan Haris.
"Tuan, ada yang ingin saya sampaikan." ucap Reza, saat Nyonya Risma sudah berada di dalam mobil. Sementara Tuan Danto masih di luar.
"Oma Yeti dalam keadaan kritis." ucap Reza lirih, dengan ekor mata melirik ke arah Nyonya Risma yang nampak menyandarkan diri di kursi mobil.
Tuan Danto menepuk pelan pundak Reza. "Kabarkan terus perkembangannya padaku." ucap Tuan Danto lirih. Reza hanya mengangguk pelan.
"Kita ke markas milik Ella." perintah Tuan Haris setelah rombongan mobil Tuan Danto meninggalkan pemakaman.
"Baik Tuan." ucap Reza.
Sekitar satu jam, Tuan Haris bersama yang lain sudah terkumpul di markas milik Ella. "Ada yang ingin kalian katakan." suara bariton Tuan Haris menggelegar di ruangan.
"Tuan, kami sudah menyelidik siapa yang menembak Tuan Vano. Dan menyebabkan kecelakaan terjadi." ucap Rio.
"Lakukan apa yang seharusnya kalian lakukan." ucap Tuan Haris.
"Sudah Tuan. Tinggal menunggu beberapa menit lagi." ucap Rio dengan percaya diri, meninggalkan markas untuk melihat hasil kerja anak buahnya.
Tidak lama setelah Tuan Haris memberi perintah pada Rio, dunia bisnis kembali di gemparkan oleh bangkrutnya salah satu perusahaan besar di kota ini.
Bukan hanya itu, skandal anak dari pemilik perusahaan tiba-tiba mencuat di publik. Membuat semuanya kacau. Sudah jatuh, tertimpa tangga.
"Denis, om minta kamu menghandle berita di media sosial. Jangan sampai ada sesuatu yang buruk. Kamu bisa melakukannya?" tanya Tuan Haris.
__ADS_1
"Tenang saja om. Saya akan melakukannya. Permisi." ucap Denis, segera meninggalkan markas.
Segera Denis menekan berita tentang kecelakaan dan kematian dari Vano. Dan pastinya berita tentang keadaan Ella.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Tuan Haris.
"Soal pihak polisi. Mereka tidak akan menemukan bukti apapun di TKP. Kecuali mobil Nyonya Ella, yang sudah rusak." ucap Reza.
"Ada lagi?" tanya Tuan Haris, seolah beliau menginginkan kabar lain dari Reza.
"Tidak ada Tuan." ucap Reza berbohong. "Maaf Tuan, saya sudah berjanji pada Nyonya Ane." batin Reza..
"Kamu boleh pergi." ujar Tuan Haris.
"Terimakasih." ucap Reza, bergegas meninggalkan tempat tersebut. Meski ada rasa bersalah karena telah menutupi keadaan yang sebenarnya, tapi Reza tidak punya pilihan lain.
"Biarlah Nyonya Ane sendiri yang mengatakan pada beliau." gumam Reza.
"Tuan." panggil paman Haki, saat Reza meninggalkan mereka.
"Kalian semua, tunggu di luar." suruh Paman Haki pada anak buahnya.
"Selidiki. Ada sesuatu yang di sembunyikan Reza dari kita." ucap Tuan Haris, dengan tatapan lurus menatap pintu.
"Sebenarnya, saya sudah menyelidikinya." ucap Paman Haki.
Tuan Haris beralih memandang paman Haki. "Sejak kecelakaan terjadi, Reza menyuruh anak buahnya menyelidiki sesuatu. Tapi saya belum tahu pasti." imbuh Paman Haki.
"Reza menyuruh anak buahnya menyelidiki tentang perusahaan JN yang bekerja sama dengan perusahaan Tuan Vano, tapi penyelidikan dilakukan secara diam-diam." ucap Paman Haki.
"Lalu." tanya Tuan Haris, saat tatapan paman Haki berubah menjadi ragu, saat akan membuka kembali mulutnya.
"Kami tidak menemukan apapun. Semua bersih." ucap Paman Haki, menundukkan kepala.
"Tapi saya yakin, ada sesuatu yang di tutupi oleh Reza." ucap Paman Haki dengan pasti, kembali menatap majikannya tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ell,,, sayang." ucap Nyonya Ane, saat beliau melihat pergerakan dari kelopak mata Ella. Sontak Viki dan Hana langsung mendekat ke arah ranjang Ella.
"Panggil dokter." ucap Nyonya Ane.
Viki segera menekan tombol yang tertempel di diding dekat ranjang Ella. Beberapa detik kemudian, tiga dokter dan dua perawat masuk ke dalam ruangan.
Nyonya Ane dan Hana menyisih dari ranjang Ella. Memberikan tempat pada dokter untuk memeriksa keadaan sang putri, supaya mereka lebih leluasa.
Terlihat raut tegang, khawatir, dan takut pada mereka bertiga. Dan pastinya, mereka menginginkan Ella segera kembali membuka kedua matanya.
"Nyonya Ella." sapa sanga dokter tersenyum, saat Ella membuka kedua matanya dengan sempurna. Ella hanya melirik sekilas, dan malah menatap ke langit-langit kamar.
Ella seolah sedang kembali mengumpulkan kesadaran dan ingatannya. "Bagaimana?" tanya Nyonya Ane dengan khawatir, bertanya keadaan sang putri pada sang dokter.
"Semuanya baik-baik saja Nyonya. Mungkin Nyonya Ella hanya merasa bingung, karena bangun di tempat ini." jelas sang dokter.
"Nyonya Ella hanya membutuhkan waktu untuk istirahat sementara ini." imbuh sang dokter.
Dua perawat melepas beberapa kabel yang tertempel di badan Ella, yang terhubung dengan alat medis.
Sementara dua dokter lainnya mengecek keadaan Ella, saat satu dokter menjelaskan keadaan Ella pada Nyonya Ane.
"Kalau begitu, kami permisi. Jika ada sesuatu, panggil kami kembali." ucap salah satu dokter. Nyonya Ane hanya tersenyum menimpali perkataan sang dokter, sembari mengangguk pelan.
"Ella,,, sayang." ucap Nyonya Ane, mendekat ke arah putrinya. Ella hanya tersenyum samar melihat mamanya. Mungkin badan Ella masih terasa lemah.
Mata Ella bertatap dengan pandangan Hana. Nampak Ella tidak menampilkan ekspresi apapun saat memandang ke arah Hana.
Berbeda dengan Hana, dengan matanya yang sembab dan menyipit karena menangis. Hana melihat dengan tatapan sedih ke arah Ella. Bahkan masih ada setitik air mata yang jatuh ke pipinya.
"Kamu istirahat saja dulu. Jangan terlalu memaksa." ucap Nyonya Ane.
"Vano..." tanya Ella lirih.
Degggg,,,,,
Badan mereka seakan menjadi patung, dengan nafas tercekat di tenggorokan. Bahkan Hana langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Melihat Hana seperti itu, segera Viki membawa Hana keluar dari ruangan.
"Iya, kamu istirahat saja dulu." ucap Nyonya Ane dengan segera mengalihkan perhatian Ella, saat sang putri menanyakan sang suami.
"Ma." ucap Ella lirih.
__ADS_1
"Tidurlah sayang, pulihkan tenagamu dulu. Kita akan berbicara nanti." ucap Nyonya Ane tersenyum, membujuk Ella. Meski senyum tersebut adalah senyum palsu. Senyum penutup luka yang saat ini ada di hati Nyonya Ane.
Ella memejamkan matanya perlahan. Dengan Nyonya Ane duduk di kursi sebelah ranjang milik Ella. Memandang iba pada sang putri tersayang.
"Lapangkanlah hati putriku Tuhan." batin Nyonya Ane.
"Sayang, ikhlaskan. Mama harap kamu akan ikhlas menerima semua kehendak-Nya." batin Nyonya Ane.
Viki benar-benar tidak ingin Ella melihat Hana menangis. Apalagi jika sampai Hana keceplosan, bisa-bisa keadaan Ella akan memburuk kembali.
"Apa yang kamu lakukan!!" bentak Viki setelah dia dan Hana di luar ruangan Ella.
Viki menyugar kasar rambutnya. Menatap ke arah Hana dengan tatapan jengkel. "Maaf." ucap Hana lirih.
"Ccckkkk." decak Viki dengan hati dongkol.
"Kalian di luar. Bagaimana keadaan Nyonya?" tanya Reza saat melihat Hana dan Viki berada di depan ruangan Ella.
"Ada di dalam. Ella sudah sadar." jawab Viki lirih. Reza menghembuskan nafas lega, saat mendengarnya.
"Dia mencari Vano." imbuh Viki dengan kepala menunduk. Dan Hana menyenderkan badannya ke tembok.
"Astaga." Reza mengusap kasar wajahnya.
"Ada tante di dalam. Beliau tidak berbicara apa-apa. Hanya menyuruh Ella untuk istirahat." jelas Viki, memandang ke arah Hana yang menangis dalam diam.
Sekarang Reza mengerti, kenapa Viki dan Hana berada di luar ruangan Ella. Pasti karena Viki takut jika Hana tidak bisa mengontrol diri.
Ponsel Reza berdering. Segera Reza mengangkat panggilan telepon, yang ternyata dari Tuan Danto.
"Iya Tuan, saya masih di depan ruangan Nyonya Ella."
……………
"Nyonya Ella sudah sadar. Beliau berada di dalam ruangan bersama Nyonya Ane.
…………
"Sebaiknya Tuan jangan membawa Nyonya Risma ke sini dulu. Karena,,," Reza menjeda perkataannya, menatap ke arah Viki. "Nyonya Ella menanyakan Tuan Vano." ucap Reza dengan tatapan sendu.
…………
"Baik Tuan. Saya akan melihat ke ruangan Oma Yeti."
Reza kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, setelah panggilan telepon dari Tuan Danto di matikan.
"Aku pergi dulu. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku." ucap Reza, di balas anggukan oleh Viki. Segera Reza pergi ke tempat di mana Oma Yeti di rawat.
Viki menghela nafas, melihat ke arah Hana. "Sebaiknya kita ke kantin." ajan Viki, tapi Hana malah menggelengkan kepalanya.
"Ckk,,, menangis juga butuh tenaga." omel Viki.
"Kalian jaga di sini. Jangan sampai ada orang asing masuk. Jika ada sesuatu, segera hubungi aku." ucap Viki pada bawahan Tuan Haris yang berjaga di depan ruang rawat Ella.
"Ayo." ucap Viki, dengan tangan menyeret tangan Hana, menuju ke kantin.
"Bagaimana pa?" tanya Nyonya Risma, setelah sang suami mematikan panggilan teleponnya.
"Reza belum sampai ke ruangan Mama." jelas Tuan Danto.
Karena Tuan Danto menceritakan semuanya pada sang istri. Tentang kedatangan mamanya, saat dirinya sedang tidak sadarkan diri.
"Semoga mama baik-baik saja." ucap Nyonya Risma lirih, memejamkan mata.
Sungguh, Nyonya Risma tidak akan sanggup. Jika kehilangan orang-orang yang di sayangnya dalam waktu bersamaan.
"Mau kemana?" tanya Tuan Danto.
Saat Nyonya Risma hendak turun dari ranjangnya. Karena saat ini, Nyonya Risma sedang duduk bersandar di headboard ranjang miliknya.
"Ke rumah sakit. Menengok Mama, sekalian melihat Ella." jelas Nyonya Risma.
"Besok saja. Sekarang, gunakan waktu untuk istirahat. Pulihkan tanganmu terlebih dahulu." pinta Tuan Danto.
"Baiklah." ucap Nyonya Risma dengan patuh. "Apa Ella sudah siuman?" tanya Nyonya Risma.
Tuan Danto menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. Beliau mengikuti Nyonya Risma duduk di atas ranjang.
"Sudah." ucap Tuan Danto. Seketika dua sudut bibir Nyonya Risma terangkat. Setidaknya ada berita baik, ditengah rasa sakit di hatinya.
"Kenapa?" tanya Nyonya Risma, melihat Tuan Danto malah menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia mencari Vano." ucap Tuan Danto lirih.
"Tuhan,,,, semoga Ella kuat. Jangan ambil lagi seseorang yang berharga dari hidup kami." ucap Nyonya Risma, kembali meneteskan air mata.