
Ella melihat jalan yang mereka lalui. "Van,, inikan bukan jalan menuju hotel. Kita mau ke mana?" tanya Ella.
"Sayang..." panggil Ella saat Vano malah tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya.
"Kita cari baju." ucap Vano lembut dengan tangan memegang telapak tangan milik Ella.
"Baju." gumam Ella.
"Iya." kata Vano yang mendengar perkataan Ella meski samar.
"Kita akan mencari pakaian. Nanti malam kita akan menghadiri pesta."
"Pesta." cicit Ella.
"Iya, papa menyuruh kita untuk menggantikannya. Papa tidak bisa hadir. Sementara mama menunggu Oma." jelas Vano.
"Pesta apa?"
"Kurang tahu."
"Loh, gimana sih sayang. Nanti bajunya bagaimana. Kita kan harus menyesuaikan. Apalagi aku." ujar Ella cemberut.
"Begitukah?" Ella mengangguk dengan bibir cemberut.
"Kamu hubungi asisten papa. Suruh kirimkan undangan pada kita." ucap Vano.
Ella langsung menghubungi asisten Tuan Danto. Mereka janjian untuk bertemu di depan toko pakaian yang akan Ella dan Vano datangi.
"Bagaimana?" tanya Vano setelah Ella selesai menghubungi asisten mertuanya.
"Kita akan bertemu di depan toko. Lagi pula kita harus mempunyai kartu undangan untuk bisa masuk." kata Ella menjelaskan.
Sesuai yang di rencanakan, Ella dan Vano bertemu asisten Tuan Danto di depan toko pakaian. Setelahnya, mereka masuk untuk memilih pakaian yang akan dikenakan oleh keduanya.
Ella berjalan dengan mata memandang kartu undangan. "Sayang, simpan dulu kartu undangannya. Lihatlah arah jalanmu." tegur Vano.
Ella langsung menyimpan kartu undangan ke dalam tasnya, sesuai apa yang di katakan olah suaminya. Vano tersenyum melihat Ella yang dengan patuh menuruti perkataannya.
"Pesta apa sayang?"
"Ulang tahun anak Tuan Mark."
"Ulang tahun." gumam Vano. "Apa kita akan membeli kado untuknya?" tanya Vano.
"Seharusnya. Tapi aku sendiri bingung. Kita tidak mengenal putra Tuan Mark. Lantas kita akan memberikan apa. Tidak mungkinkan, kita datang tanpa membawa apapun." cicit Ella.
"Selamat datang Tuan, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai toko pakaian tersebut.
"Sebentar ya." ucap Ella dengan sopan.
"Aku tunggu di sini." ucap Vano, di jawab anggukan oleh Ella.
"Maaf, jika boleh tahu. Siapa pemilik toko ini?" tanya Ella dengan ramah. Ella melihat beberapa pakaian yang melekat pada tubuh manekin. Dan model serta gaya dari semua pakaian itu sangat familiar untuk Ella.
"Tuan Dimond." jawabnya.
"Terimakasih." Ella mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Sementara, pegawai tadi sedikit memundurkan langkah dari Ella.
__ADS_1
"Sayang,,,, Babyyy...." panggil seseorang yang menjadi pemilik toko sekaligus desainer.
Ella tersenyum dan merentangkan kedua tangannya menyambut sosok lelaki dengan gaya lemah gemulai tersebut.
Keduanya berpelukan dan saling menempelkan pipi. Dengan gaya centilnya dia memegang kedua tangan Ella.
Dari tempat duduknya, Vano tidak pernah melepaskan pengawasannya pada sang istri. Mata yang tajam selalu memandang kemanapun Ella pergi.
Vano memicingkan matanya melihat Ella begitu akrab dan dekat dengan seorang laki-laki yang baru saja datang. Vano kembali melihat lelaki yang memegang tangan Ella dan berbicara dengan Ella.
Vano sebenarnya tidak rela Ella begitu dekat dengan lelaki tersebut. Vano hendak menghampirinya, tapi Vano juga takut-takut geli melihat lelaki cantik tersebut.
Vano memegang tengkuknya yang tiba-tiba merinding melihat lelaki tersebut.
"Sejak kapan?" tanya Ella. Karena setahu Ella, toko pakaian milik Dimond dulu tidak si sini.
"Baru beberapa minggu." jawab Dimond.
"Saya ke sini mau mencari pakaian untuk ke pesta ulang tahun." jelas Ella.
Setelah Ella dan Vano mendapatkan pakaian yang di inginkan, mereka berdua pergi ke pusat perbelanjaan. Membelikan hadiah ulang tahun untuk putra Tuan Mark.
"Lain kali jangan mencari pakaian di toko itu." ucap Vano. Dan Ella hanya diam menaruh paper bag berisi pakaian miliknya dan Vano.
Vano teringat saat lelaki kemayu tadi menyentuh badannya. Ngeri-ngeri sedap. Ella tersenyum melihat Vano tiba-tiba bergidik.
"Sayang, aku mau tidur sebentar. Badanku capek banget. Ngantuk." ucap Ella sambil membaringkan badan di atas ranjang.
"Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu." Vano mencium pipi Ella dan bergegas duduk di kursi, dengan sebuah laptop di depannya.
"Sayang, honey. Bangun. Kita harus bersiap-siap." Vano mengecup berkali-kali pipi mulus Ella.
"Tapi aku masih ngantuk." ucap Ella dengan suara serak dan mata terpejam.
"Tidurlah kalau begitu."
"Bagaimana dengan pestanya?" tanya Ella dengan mata mengerjap-ngerjap.
"Tidak masalah. Toh aku juga tidak terlalu mengenal mereka. Tuan Mark rekan bisnis papa.
"Jangan sayang. Kita ke sana." Ella segera bangun dan berlalu ke kamar mandi.
Ella merasa tidak enak dengan mertuanya jika mereka tidak menghadiri pesta tersebut. Apalagi papa Vano yang menyuruh Vano. Ella tidak ingin membuat mertuanya kecewa.
Beberapa saat kemudian, Ella keluar dengan handuk melilit di badannya. "Van, sayang,,, mandi gih." ucap Ella dengan tangan memegang handuk di kepala. Mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"****!!" umpat Vano saat kepalanya terangkat dan melihat sang istri nampak seksi dengan handuk kekecilan di badannya.
Entahlah. Handuknya yang kecil, atau memang badan Ella tidak bisa semuanya masuk ke dalam lilitan hendak.
Vano menutup laptop, menyandarkan bahu di sandaran kursi dengan tangan memijat pangkal hidung dan mata terpejam.
"Harumm..." gumam Vano mencium wangi sabun di dekatnya.
"Kamu lelah." Vano seketika membuka matanya mendengar suara Ella yang sangat dekat.
"Damn it." batin Vano melihat Ella membungkuk tepat di depannya.
__ADS_1
Nampak dua bongkahan besar di dada Ella menyembul dari dalam lilitan handuk. Seakan mengajak Vano untuk memanjatnya.
Dengan panjang handuk tepat di bawah pantat Ella. Membuat paha putih dan mulus milik Ella terpampang sempurna. Seakan mengundang Vano untuk berselancar di sana.
"Vannn..." Ella menegakkan badannya. "Ayo. Cepat mandi." pinta Ella.
Ella duduk di depan cermin. Mengeringkan rambutnya yang basah. Lagi-lagi Vano tergoda akan leher jenjang dan mulus milik sang istri.
"Kenapa kau menyiksaku. Hemmm...." Vano sedikit menundukkan badan di belakang Ella, mengecup pundak Ella berkali-kali.
"Van,, jangan menganggu." ucap Ella.
"Lantas aku harus bagaimana?" Vano jongkok di samping Ella dan mengelus paha mulus sang istri dan menjilatnya.
"Astaga, Vannn.... Aku sudah mandi!!" seru Ella menggeser duduknya.
"Cepat sana mandi."
"Aku menginginkanmu sayang." ucap Vano dengan mata mengiba.
"Ampun Vano, kita akan segera berangkat. Jangan aneh-aneh."
"Ell,,, sesak." Vano malah berdiri. "Aku tersiksa." Vano membuka resleting celananya dan memperlihatkan pusakanya di hadapan Ella yang sudah tegap menantang.
Ella memejamkan mata. Mencoba memikirkan sesuatu. "Nanti, setelah kita pulang dari pesta. Oke."
"Sekarang." rajuk Vano membuka celananya di depan Ella.
Ella melihat jam di layar ponsel miliknya yang di letakkan di meja depannya. "Kita akan terlambat sayang." ucap Ella lembut.
"Kita tidak akan ke sana." Vano dengan santai membuka kancing bajunya satu-persatu.
"Whattt!!!" seru Ella. "Jangan bercanda. Kita sudah membeli pakaian dan kado."
"Kamu juga sudah berjanji pada papa akan datang." imbuh Ella.
"Elllll....."Vano mendongakkan kepala.
"Sepulang dari pesta Vano. Please. Aku nggak enak sama papa." Ella tahu, bujukan seperti ini tidak akan mempan untuk Vano.
"Aku yang akan memimpin." kata Ella.
Vano langsung menatap Ella dan tersenyum. "Sungguh." kata Vano menyakinkan Ella. Dan dijawab anggukan oleh Ella.
"Dari awal hingga akhir." ucap Vano tersenyum lebar. Membuat Ella melotot dan melongo.
"Jawab. Setuju apa tidak. Tidak ada penawaran." ucap Vano di atas angin.
"Mandi sekarang. Cepat." ucap Ella datar.
Dengan keadaan telanjang dan pusaka masih on, Vano mendekati Ella dan menciumnya. "Memang sudah lama kamu tidak memimpin sayang. Aku menantikan nanti malam. Love you, my honey." bisik Vano.
Ella melanjutkan memakai make-up saat Vano sudah masuk ke dalam kamar mandi.
"Memimpin." Ella memang pernah berperan sebagai pemimpin saat melakukan olah raga panas dengan Vano, tapi tidak sampai akhir.
Dan kali ini, Ella harus melakukannya. Dan Ella tahu betul bagaimana gilanya sang suami jika Ella yang memimpin.
__ADS_1