
Malam hari, rumah baru Vano dan Ella kedatangan tamu terhormat. Tak lain adalah kedua orang tua Ella. Nyonya Ane dan Tuan Haris.
Keempatnya berbincang ringan di ruang tengah. "Ell,,, kapan kalian akan memberi kami cucu?" tanya sang mama dengan tidak sabar.
Belum juga Ella membuat mulut untuk menjawab pertanyaan sang mama, Vano terlebih dahulu menjawabnya.
"Doakan ma. Maka kabar bahagia akan sampai ke telinga mama." ucap Vano tersenyum, mencium singkat kening sang istri.
"Pasti. Tanpa kamu minta pun, kami pasti akan selalu mendoakan kalian berdua." ujar Nyonya Ane.
"Maaf ya ma, mama sama papa yang malah datang ke sini." Ella merasa tidak enak. Bukannya dirinya dan Vano yang mendatangi kediaman orang tuanya. Setelah mereka kembali dari luar negeri, malah mama dan papanya yang datang ke rumah baru mereka.
"Tidak masalah. Mama sama papa juga pengen lihat rumah baru kalian. Penasaran."
"Bagus nggak ma?" tanya Ella dengan antusias meminta nilai untuk rumah barunya.
Nyonya Ane mengangkat kedua jempol tangannya ke atas. Membuat semuanya tertawa.
"Vano yang pilihin ma." ucap Vano sombong.
"Iya, iya. Kamu yang pilihin." canda Ella.
"Eh,,,tunggu." kata Nyonya Ane seketika menghentikan tawa mereka.
"Apa besan sudah tahu. Mama kamu?" tanya Nyonya Ane memastikan.
"Belum ma." jawab Vano merasa bingung. Sementara Ella dan Tuan Haris sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Nyonya Ane.
"Aku suka." ucap Nyonya Ane dengan centil. Vano mengerutkan dahi melihat sikap mertuanya.
"Sudah, biarkan saja." bisik Ella.
Nyonya Ane langsung berdiri dari duduknya. "Pa." seru Nyonya Ane memanggil suaminya, tangannya menyerahkan ponsel pada Tuan Haris.
Tuan Haris menarik dan menghembuskan nafas. Tangannya mengambil ponsel di tangan sang istri.
"Yang bagus loh." ucapnya dengan gestur tubuh mulai berpose, layaknya model sekelas sang putri. Membuat Ella terkekeh lucu.
"Ada-ada saja mama ini." ucap Ella tidak digubris oleh sang mama.
Vano tersenyum melihat bagaimana mertuanya ternyata gemar selfie. "Kamu mau tahu, untuk apa hasil fotonya nanti?" tanya Ella lirih di samping telinga suaminya.
Vano mengalihkan pandangannya pada Ella. Seakan meminta Ella melanjutkan kalimatnya. Supaya dirinya tidak akan merasa penasaran.
"Di pamerkan pada mama. Mama Risma."
"Iyakah?" tanya Vano dengan wajah terkejut. Dijawab anggukan oleh sang istri.
"Astaga." Vanopun ikut terkekeh. Melihat mertua dan mamanya bersikap lucu, menurutnya.
__ADS_1
Nyonya Ane kembali mendaratkan pantatnya ke kursi yang dia duduki lagi. Kedua orang tua Ella merasa senang dengan perubahan sikap Vano.
Kini,.mereka tidak perlu merasa khawatir, ataupun takut jika Vano akan menyakiti putri kesayangan mereka.
Terlihat jelas banyak sekali perubahan sifat dan sikap Vano pada Ella. "Semoga kamu selalu bahagia sayang. Semoga kamu dijadikan ratu oleh suamimu. Seperti mama, yang dijadikan ratu oleh papa." batin Nyonya Ane.
Sungguh orang tua mana yang akan ikhlas dan diam saja jika melihat anaknya tidak mendapatkan apa yang semestinya dia dapatkan. Kebahagiaan.
"Mama sama papa nggak tidur sini?" tanya Ella.
"Tidak sayang, lagian rumah kami tidak terlalu jauh." ucap sang mama.
"Papa, hati-hati." ucap Ella berhambur memeluk sang papa.
"Putri papa, sekarang sudah menjadi Nyonya." kekeh sang papa. Membuat Ella melepas pelukannya. Menatap sinis tapi terlihat lucu ke arah Vano.
"Aku maunya di panggil Nona." ucap Ella pelan.
"Mana ada pa, suaminya dipanggil Tuan. Istrinya di panggil Nona." adu Vano.
"Sudah, lagian kamu juga aneh Ell. Benar kata Vano. Memang kamu mau ada perempuan lain yang akan di panggil Nyonya Vano." goda sang mama.
"Mama...!" seru Ella dengan mata melotot. "Ada-ada saja Nyonya Vano ini." Tuan Haris mengacak rambut sang putri.
"Tenang saja. Nyonya Vano hanya satu. Tidak ada yang lain." Vano merapikan rambut Ella yang baru saja di acak-acak oleh Tuan Haris.
Kedua orang tua Ella pun meninggalkan rumah mereka. Kini, pengantin baru itu sudah berada di dalam kamar. Ingin memejamkan mata.
"Ponsel. Sebentar, aku mau kebawah. Mungkin ketinggalan di ruang tengah." izin Vano.
"Aku tidur dulu ya. Ngantuk." ucap Ella. Tapi tidak di jawab oleh Vano.
Vano melewati anak tangga untuk turun ke bawah. Lena yang berada di dapur untuk mengambil minum, melihat Vano berjalan sendiri. Tanpa Ella.
Segera Lena melepaskan kaos kebesaran yang di pakainya. Menyisakan tengtop super ketat yang melekat di tubuhnya. Memperlihatkan lekuk tubuhnya. Tapi sayang, masih jauh dari Ella.
"Iisshhh...." Lena mengambil gunting dan menggunting celana yang dipakainya menjadi sangat pendek. Tak lupa dia menggerai rambut panjangnya yang berwarna sedikit kemerah-merahan.
Tanpa Lena sadari, seorang pembantu melihat kelakuannya. "Apa yang sedang dilakukannya." gumam bibik dari balik tembok.
Segera Lena menghampiri Vano. Dengan di ikuti bibik dari belakang dengan mengendap-endap. Sungguh, bibik sangat penasaran. Sampai-sampai Lena membuka kaos yang di pakainya dan menggunting celananya bagian bawah. Pada malam hari. Di dapur.
"Van." panggil Lena dengan nada lembut. Membuat Vano menengok ke belakang. "Ella sudah tidur?" tanya Lena dengan tangan memainkan ujung rambutnya. Menggoda Vano.
Vano menyatukan alisnya melihat kelakuan asisten abal-abal Omanya. Tersenyum sinis.
"Van..." Lena menghentikan langkah Vano. Mencekal lengan kekar milik Vano.
"Jika kamu tidak puas dengan Ella, datanglah ke kamarku. Aku tidak menguncinya." ucapnya dengan sensual. Berusaha menggoda Vano.
__ADS_1
Lena berpikir, lelaki mana yang tidak akan tergoda jika melihat perempuan berpakaian seperti dirinya berdiri di depannya.
Vano melepaskan tangan Lena. "Tubuhmu terlalu kerempeng. Lihat dadamu. Seperti milik anak kecil. Astaga. Kamu tahu, bagaimana aku akan tertarik dengan perempuan seperti kamu. Istriku saja sangat seksi." cibir Vano meninggalkan Lena.
"Satu lagi. Sebaiknya kamu kunci pintu kamarmu. Disini juga ada pekerja lelaki. Aku takut mereka yang akan masuk. Karena aku, tidak akan pernah masuk ke kamarmu."
"Memang kamu mau memiliki suami seorang sopir. Sama seperti papamu. Yang sekarang sudah meninggal." ucap Vano tanpa membalikkan tubuh.
Lena mengepalkan tangannya. "Vano, berani sekali dia mempermalukan aku." gumam Lena.
Padahal sudah sering Vano menolaknya. Tapi namanya juga muka badak. Pasti Lena akan terus melakukannya. Karena urat malunya, mungkin sudah tidak ada di dalam tubuhnya.
Di balik tembok, bibik tersenyum jahat. Segera dia balik ke dapur. "Tamu tak berguna." ucap Bibik.
"Maaf ya Nona Lena." tangannya mengambil kaos milik Lena. Menjadikannya serbet. Di usap-usapnya kaos tersebut di atas meja.
Dan pastinya bibik mengotori mejanya dahulu. Dengan sengaja. Lantas membersihkannya menggunakan kaos milik Lena. Dengan semangat.
Ella, pembantu di rumahmu sama seperti dirimu. Pintar. Pasti Lena akan mempunyai darah tinggi jika lama tinggal di rumah Ella dan Vano.
"Apa yang kamu lakukan!" seru Lena melihat kaosnya di gunakan sebagai lap meja.
"Nona Lena. Ini Non, mejanya kotor. Saya membersihkannya." ucap bibik dengan sopan.
Lena mengambil dengan kasar kaos yang berada di tangan bibik. Matanya melotot melihat kaos mahalnya sudah berubah warna. "Kamu tahu...!!" geram Lena.
"Tidak tahu Nona." jawab Bibik sebelum Lena menyelesaikan kalimatnya.
"Diam." bentak Lena. "Atau kamu saya pecat." ucapnya sombong.
"Memang kamu siapa?" batin Bibik.
"Jangan Nona. Saya salah apa?" tanya bibik seolah dirinya merasa takut dan tidak tahu apa-apa.
"Kaos ini. Kamu tahu, harganya berapa?" tanya Lena mengangkat tangan yang memegang kaos miliknya.
"Ooo,,,, pasti mahal Nona. Tadi itu ada di sini. Pasti itu milik Nyonya Ella. Karena di kampung saya, warga menggunakan baju yang sudah tidak di pakai untuk lap atau keset." jelas Bibik tanpa beban dan menahan senyum.
"Makan tu kaos." dengan kesal bercampur marah, Lena melempar kaos ke badan bibik. Meninggalkan dapur dengan perasaan dongkol.
Bibik mengambil kaos Lena. "Aku emoh kok ngei kaos iki. Ngilani. Kaose wong wedok nakal." bibik memasukkan kaos dan potongan celana Lena ke dalam tempat sampah.
"Ngko aku ketularan nakal."
Di belahan bumi lain. Wajah Nyonya Risma mendadak berubah. Membuat sang suami merasa resah. Karena Tuan Danto merasa tidak pernah berbuat salah.
"Ma, ada apa? Papa tidak tahu kalau mama hanya diam saja." bujuk Tuan Danto.
Nyonya Risma menyerahkan ponselnya. Di mana ada foto Nyonya Ane sedang berpose. Dan di bawahnya ada sepenggal kalimat untuk melengkapi foto tersebut.
__ADS_1
BERKUNJUNG KE RUMAH PUTRI TERCINTA. MAKASIH VANO. MAMA SAYANG KALIAN.
Tuan Danto mengembalikan ponselnya pada sang istri. Sekarang dirinya tahu, kenapa istrinya yang baru saja terlihat bahagia, seketika berubah murung.