
Seperti hari kemarin, Ella bangun pagi dan segera mempersiapkan segala keperluan Vano. Tapi kali ini ada yang membuat mood Ella sedikit berantakan.
Lena sudah duduk manis di meja makan. Duduk di kursi dimana yang seharusnya Ella tempati. Saat masih di anak tangga, Ella sudah mengatur nafas. "Lena, sepertinya gue memang terlalu baik hati." batin Ella.
Vano duduk di kursi yang seharusnya dia tempati. "Len, berdirilah. Duduklah di tempat yang seharusnya kau tempati." tegur Vano tidak suka dengan sikap Lena yang menurutnya di luar batas.
Bukannya berdiri dari duduknya, Lena malah menyahuti perkataan Vano. "Van, kursi masih banyak. Lagi pula sama sajakan." kekeh Lena.
"Sudah sayang, benar kata Lena. Kursi masih banyak. Aku bisa duduk di manapun." timpal Ella.
Ella mengerlingkan sebelah matanya pada sang suami. Membuat Vano hanya bisa diam. Dan segera duduk untuk sarapan.
Meladeni Lena hanya akan buang-buang waktu dan tenaga. Apalagi pagi ini Vano akan ada tamu. Dirinya tidak boleh terlambat datang ke perusahaan.
Bukannya Vano takut kehilangan proyek yang akan di tanganinya, melainkan Vano harus menghormati tamu yang datang ke perusahaannya. Jika mereka berniat baik, tentunya.
Bibik yang berdiri tak jauh dari mereka memandang dengan tatapan tidak suka. Mata bibik dan Ella bertatapan. Ella hanya mengangguk kecil. Dan bibik tersenyum.
Bibik segera ke belakang. "Kamu tahukan, apa yang harus kamu lakukan?" ingatnya pada seorang pembantu di sana.
"Tenang bik, serahkan pada saya." ucapnya menepuk dadanya dengan pelan.
Dengan pasti dia berjalan mendekati meja makan. "Maaf Nyonya, ini teh hangat yang Nyonya minta." ucapnya.
"Taruh saja." pinta Ella.
Pembantu tersebut berjalan di belakang Vano, melewati Vano. Dan....
"Aaaa....!!!!" teriak Lena saat teko berisi teh hangat mengguyur tubuhnya. Untung hangat, coba kalau panas. Pasti sudah jadi daging rebus badan Lena.
"Maaf Nona Lena. Kaki saya tersandung. Saya benar-benar tidak sengaja." ucapnya seakan semuanya bukan salah dirinya. Tersandung, memang ada batu besar di dalam rumah Ella.
Ella tersenyum samar dan melanjutkan makan. Seakan tidak terjadi apapun. Begitu juga Vano. Dirinya malas berurusan dengan perempuan seperti Lena.
Lebih baik Vano berurusan dengan para penjahat yang menjadi musuhnya di luar. Sekali pukul, atau sekali tembak selesai. Lah ini, Vano takut jika Lena mengeluarkan perkataan yang akan membahayakan kesehatan Oma Yeti.
__ADS_1
"Basah." gerutu Lena berdiri dari tempat duduknya. Melihat ke arah dirinya yang sebentar lagi pasti akan jadi kerubutan semut. Karena Lena terlalu manis.
"Kamu." tunjuk Lena tepat di wajah pembantu tersebut.
"Maaf Nona." ucapnya sambil menundukkan kepala. "Lengket-lengket deh tu tubuh." batinnya senang. Karena dirinya menaruh banyak gula pada teh di dalam teko tersebut.
"Ell,,, kamu lihat. Aku mau kamu memecat pembantu sialan ini." teriak Lena tidak terima. Sudah seperti boss saja. Main suruh-suruh.
Seketika pembantu tersebut mengangkat wajahnya. Ada perasan takut jika sampai dirinya di pecat.
Ella meletakkan sendok di piring. Mengambil tisu dan mengelap bibirnya. Memandang dengan senyum ke arah Lena. "Baiklah, jika itu keinginanmu." ucap Ella.
Seketika Lena tersenyum, memandang pembantu tersebut sinis. Penuh kemenangan. Mendengar perkataan sang istri, mulut Vano berhenti mengunyah makanan. Sementara pembantu tersebut terkejut dengan perkataan majikannya.
Dari tempat lain, para pembantu Ella menyaksikan sambil melakukan pekerjaan mereka. Ada rasa khawatir jika teman mereka akan diberhentikan kerja karena perkataan Lena.
"Dia akan saya pecat. Dan kamu." Ella mengangkat jari telunjuknya. "Akan menggantikan dia jadi pembantu di sini. Bagaimana? Setuju?" tawar Ella dengan tersenyum miring.
Seketika mata Lena terbelalak. "Apa..! Kamu menyuruh aku bekerja sebagai pembantu di rumahmu. Menggantikan dia." ucapnya dengan nada tinggi dan memandang sinis ke arah pembantu tersebut.
Vano berdiri dari duduknya. "Sayang, aku harus berangkat. Akan ada tamu di perusahaan. Kamu tidak usah mengantar." bisik Vano, mencium pipi Ella.
"Hati-hati sayang." ujar Ella. Vano memandang tajam ke arah Lena dan terlalu meninggalkan ruang makan.
"Jadi, kamu mau aku jadi pembantu. Di rumah kamu!!" teriak Lena.
"Lena, Lena." Ella berdiri dari duduknya. "Memang selama ini kamu bekerja sebagai apa. Boss. Bukankah kamu juga sama seperti mereka. Hanya saja sebutanmu berbeda. Asisten. Apa bedanya dengan mereka." ejek Ella.
"Mereka masih punya harga diri. Tinggal di rumahku. Makan dirumahku. Dan mereka membersihkan rumahku. Dan,,,, aku gaji mereka. Lah kamu." Lena berjalan mendekati Lena. Pembantu tersebut sedikit menjauh dari tempatnya.
"Posisi kamu di sini sebagai apa. Tamu. Bukan. Karena aku tidak pernah menerima kamu. Aku terpaksa. Karena Oma Yeti."
"Ini rumah Vano. Bukan rumah kamu." sengit Lena, masih tidak terima.
"Oh ya,, rumah Vano. Tapi sayangnya rumah ini sudah atas nama aku. Mellanie. Bahkan, jika aku mau. Aku bisa mengusir Vano dari rumah ini. Hebat bukan." kelas Ella.
__ADS_1
Nampak raut wajah Lena menahan amarah. Pundaknya naik turun menahan emosinya. "Kamu itu perempuan tidak tahu malu. Masih punya rumah, numpang di rumah orang. Upsss... maaf." Ella menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Rumahmu kan sangat kecil. Dan kamu tidak menyukainya. Ck,, ck,, ck,, Ingin seperti saya. Maaf, kamu nggak akan bisa. Karena saya, terlahir untuk menjadi orang kaya." ejek Ella.
"Kalau kamu mau seperti saya. Saya bisa memberitahu kamu caranya." Ella berjalan mengelilingi tubuh Lena, dan berhenti di depannya.
"Jual saja tubuhmu. Pasti di luar sana banyak om-om kaya yang dengan senang hati menerima kamu. Yaa,,, meskipun badan kamu biasa saja. Tidak ada seksi-seksinya." hina Ella.
"Mau apa." Ella menangkap tangan Lena yang hendak menampar Ella. "Mau aku patahkan tangan mu yang tidak berguna ini."
"Kamu tahu." tangan Ella yang masih bebas mencengkeram dagu Lena. Juga demikian, tangan Lena yang masih bebas mencoba melepaskan cengkeraman tangan Ella.
"Aku bisa melenyapkan kamu. Dalam sekejap." Ella melepaskan cengkeramannya dan mendorong tubuh Lena ke belakang dengan kasar.
Membuat tubuh Lena terbanting di atas lantai dengan keras. "Lihat saja. Aku tidak terima. Aku akan adukan semuanya pada Oma!!" ancam Lena. Lagi dan lagi. Membuat telinga Ella jenuh mendengarnya.
Ella bersedekap, memandang tajam ke arah Lena. "Silahkan, memang itu yang aku tunggu. Bukankah kamu sudah sering berkata seperti itu. Buktikan. Buktikan jika semua omonganmu itu bukan cuma omong kosong. Ayo." tantang Ella.
"Bereskan semua." ucap Ella memandang ke arah pembantu yang membawa teko tadi.
"Maaf Nyonya, saya,,,, apa saya akan di pecat?" tanyanya dengan rasa takut.
"Tidak. Bereskan semua." Ella melangkah pergi ke kamarnya. Meninggalkan Lena yang masih duduk merasakan kesakitan di badannya karena dorongan Ella pada tubuhnya lumayan kuat.
Tidak lama, Ella kembali turun menggunakan jaket. Tanpa menjinjing tas di tangannya. "Bik,, nanti kalau ada yang masuk ke dalam kamarku, panggil satpam di depan. Suruh dia mematahkan kakinya." ucap Ella dengan ekor mata melirik Lena uang masih duduk di lantai.
"Baik Nya."
"Bik, nanti siang tidak perlu masak." ucap Ella.
"Bagaimana dengan malam Nya?" tanya Bibik.
"Emmmm,,, nanti aku hubungi." kata Ella.
Hari ini Ella akan bertemu dengan Paman Haki. Bertanya tentang hasil penyelidikan mengenai nopol kendaraan yang Ella kirom tadi malam.
__ADS_1