DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 84


__ADS_3

"Kenapa kalian tega membohongi ku!!!?" teriak Viki saat Ella dan Denis sudah berada di apartemennya.


"Kecilkan suaramu. Kamu kira kami berdua tuli." sarkas Denis.


"Kalian lihat. Sekarang Jo berada di rumah sakit." seru Viki.


"Kenapa kalian tidak memberitahuku, jika Jo mengalami kecelakaan. Kenapa kalian diam saja." ucap Viki. Meski nada bicaranya mulai stabil, tapi bisa dilihat jika Viki masih marah.


"Jika kami beritahu, apa yang akan kamu lakukan. Menyusul ke sana?" tanya Ella.


"Pasti." jawab Viki.


"Berarti kamu juga siap, jika semua orang tahu mengenai hubungan terlarang kalian?"


"Hubungan kita tidak terlarang Ell." geram Viki.


"Jika di negara kita, hubungan seperti itu masih sangat di tentang Vik. Dan kamu sendiri pasti tahu hal itu." ucap Ella.


"Kita hanya khawatir jika kamu bertindak di luar kendali. Kamu pikir, bagaimana kedua orang tua kamu. Nama baik mereka bisa hancur Vik. Kenapa kamu jadi egois sih." ketus Denis.


"Vik, kita hanya menjaga supaya kamu dan Jo aman." jelas Ella.


"Aku akan meninggalkan negara ini. Dan pindah ke luar negeri. Di mana mereka bisa menerima hubungan kami." ucap Viki dengan mata memandang lurus ke depan.


Denis menatap pada Ella sembari menggelengkan kepala. "Bagaimana dengan om dan tante. Kamu sama seperti aku dan Denis. Anak tunggal. Kamu lihat, Denis saja sampai rela pulang ke negara kita. Padahal, di Paris dia sudah sangat terkenal." ucap Ella.


"Apa kamu yakin bisa bahagia setelah pergi. Apa kamu sama sekali tidak merasa kasihan pada om dan tante. Setelah kamu pergi ke negara lain, pasti berita tentang kamu dan Jo juga pasti terdengar sampai sini. Ini jaman modern Vik, semua bisa tersebar dalam hitungan detik." jelas Ella panjang lebar.


"Bagaimana mereka akan di pandang di masyarakat Vik. Pasti mereka akan kaget. Apalagi, tante punya riwayat jantung. Pasti langsung lah." imbuh Ella.


"Elll." seru Viki.


"Serius. Aku nggak bercanda. Apa mereka bisa menerima berita seperti ini. Pikir Vik." geram Ella.


"Lebih baik sekarang kamu ke kamar. Istirahat sana. Kita disini." ucap Ella.


"Aku mau jenguk Jo." ucap Viki lirih.


"Kamu bisa tanya lewat ponsel." geram Denis.


Viki menatap Ella dengan tatapan sedih. "Iya, nanti. Sekarang aku masih capek. Mau istirahat." kata Ella.


Mendengar Ella setuju untuk menjenguk Jo, Viki pun masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Denis pamit untuk pulang ke rumahnya sendiri.


Dan Ella masuk ke salah satu kamar yang biasanya dia pakai untuk istirahat jika berada di apartemen Viki.


"Viki. Masalah gue sekarang bertambah. Lebih baik gue tidur sebentar. Setelah itu baru ke rumah sakit. Apalagi gue belum ke panti. Belum lagi masalah Vera." tanpa berganti pakaian, Ella langsung merebahkan badannya. Tidak lama untuk Ella tertidur pulas. Mungkin karena dirinya benar-benar capek.


"Ell, bangun." Viki menggoyang-goyang badan Ella.

__ADS_1


"Apasih Vikkk, gue baru tidur?!" seru Ella merasa kesal karena gangguan dari Viki.


"Elo udah tidur satu jam Ell." Vano memegang lengan Ella dan menggoyang-goyangkannya.


"Iya, iya."Ella menepis dengan kasar tangan Viki dan segera membuka mata. Tidak lupa, dengan bibir yang cemberut dan wajah kesalnya dia menatap ke arah Viki.


"Airnya sudah aku siapkan." ucap Viki tanpa rasa bersalah.


Dengan langkah malas, Ella masuk ke dalam kamar mandi. "Siapin baju gue?!" teriak Ella dari dalam.


"Siap Tuan Putri." sahut Viki.


"Kenapa elo mesti begini sih Vik. Semua jadi kacau. Apalagi gue nggak mungkin ninggalin elo. Astaga. Andai saja ada obatnya. Pasti akan gue beli berapapun harganya." gumam Ella dengan merendam badannya di dalam bak kamar mandi.


"Ingin sekali gue konsultasi ke dokter. Tapi gue takut, mereka nggak bisa jaga mulut." imbuh Ella.


Bukan Ella tidak percaya pada dokter yang akan tetap menjaga informasi rahasia pada pasiennya. Tapi Ella sadar, jika Viki adalah pengusaha. Meski namanya tidak sebesar Vano, tapi jangan salah. Di luar sana juga banyak yang menjadi musuhnya.


Dan Ella hanya khawatir. Jika penyakit Viki tersebut malah akan membuat Viki hancur. Bukan hanya Viki, tapi kedua orang tua Viki yang notabennya seorang pejabat dan juga pengusaha di kota mereka.


"Elll, Vano telepon." seru Viki dari luar. Tapi Ella sepertinya tidak mendengar perkataan Viki.


"Gue angkat saja." kata Viki tanpa persetujuan Ella.


"Halo, gue Viki. Ella sedang mandi. Ada apa?" tanya Viki pada Vano di ujung ponselnya.


"Oke, akan gue sampaikan."


Viki masuk ke dalam kamar mandi dengan ponsel Ella masih di tangan. Sepertinya Viki tidak sadar jika panggilan telepon dengan Vano masih tersambung. Alhasil, Vano dapat mendengar percakapan mereka berdua.


"Ell, astaga. Malah tidur dalam bak. Bangun Ell." ucap Viki berada di dalam kamar mandi.


"Viki, apa dia masuk ke dalam kamar mandi." batin Vano yang mendengar ucapan Viki.


"Gue nggak tidur, gue cuma merem. Ganggu saja." dengus Ella masih berada di dalam bak dengan posisi ternyaman.


"Ell,, cepat selesaikan mandimu." bujuk Viki.


Ella mendengus sebal. "Keluar sana." perintah Ella.


"No,,, nanti kamu bohong. Aku mau lihat kamu menyelesaikan mandi." kekeh Viki.


Di tempat lain Vano yang mendengarnya, mencoba menahan rasa marah yang sudah berada di ubun-ubun. "Berani sekali dia masuk ke dalam kamar mandi. Dan Ella, kenapa dia seperti acuh pada kehadiran Viki." batin Vano.


"Jadi apa nggak." ancam Ella.


"Iiihhh,, apaan. Pake ngancam. Lagian aku juga nggak akan tertarik sama kamu." celetuk Viki yang sukses membuat amarah Vano seketika padam.


Vano menajamkan indra pendengarannya. "Tidak tertarik. Mustahil, seorang lelaki tidak tertarik dengan tubuh mulus tanpa bekas luka dan seksi milik Ella. Apalagi jika Ella dalam keadaan telanjang." batin Vano.

__ADS_1


Membayangkan dua buah gunung kembar milik Ella yang tidak terlalu besar, tapi pas dan nyaman saat di pegang dan di mainkan. Dan juga gowa kesukaan Vano, yang ditumbuhi bulu-bulu halus, karena sang model selalu merawat tempat keramat tersebut.


Leher jenjang yang mulus di mana Vano sering memainkan lidahnya di sana. Kulit bersih mulus, dan pastinya terasa harum dan menyegarkan indra penciuman Vano.


Bahkan Vano sendiri sangat senang menelusuri setiap jengkal dari bagian tubuh Ella. Mencium, mengecap, bahkan menyesap. Memainkan lidahnya di manapun Vano inginkan.


Membayangkan saja, sudah membuat junior Vano menegang, apalagi Viki yang saat ini berada dalam kamar mandi bersama Ella.


"Gue tahu, tapi gue tetap risih." seru Ella kesal.


"Jadi nggak." teriak Ella.


"Iya, iya." Viki melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi.


Vano segera mematikan ponselnya sebelum Viki menyadari jika sambungan telepon keduanya masih menyala.


*****


"Maksud Tuan?" tanya Reza, dirinya masih bingung. Kenapa tiba-tiba Vano menyuruhnya untuk menyelidiki tentang kedua teman Ella. Denis dan Viki.


"Aku merasa ada yang aneh. Dan instingku selalu tepat." ucap Vano.


"Tidak mungkin jika Non Ella memiliki hubungan khusus dengan salah satu dari mereka Tuan." ujar Reza. Dirinya sangat yakin, jika Ella bukan perempuan yang suka mengobral kata cinta pada banyak lelaki.


"Bukan seperti itu. Entah kenapa sulit untuk di jelaskan. Kamu mulai cari tahu dari tempat tinggal mereka pertama kali."


"Maksud Tuan, negara yang mereka tinggali sebelum memutuskan pindah lagi ke sini."


Vano kembali mengingat-ingat waktu di tempat pemotretan. Bukankah dirinya juga merasa aneh dengan Jo. "Iya, Jo." gumamnya.


Karena perintah dari Vano, Reza langsung melakukan penyelidikan. "Ella, apa yang sedang kamu sembunyikan." batin Vano.


"Kamu juga selidiki Jo." imbuh Vano.


"Jo. Jonathan. Model yang baru saja datang dari luar negeri." tanya Reza, karena dirinya juga masing meras bingung dengan perintah atasannya tersebut.


"Baik Tuan." ucap Reza saat netra Vano dan dirinya bertabrakan.


******


Astaga Viki..... kenapa tidak bisa sabar. Membuat Ella bertambah pusing.


Jika othor punya teman seperti kamu, sudah othor buang. Soalnya othor takut,,, Nanti pacar othor kamu ambil... 💃💃💃


Vano, apa Reza dapat menyelesaikan tugas yang di berikan sana Vano. Kira-kira, pekerjaan Reza akan ada hambatan. Apa berjalan mulus. Secara, Denis, Viki, dan Jo juga bukan orang sembarangan.


Entahalah. Kita lihat saja. Sampai di mana kepiawaian Reza dalam mengungkapkan sebuah teka-teki.


(sudah seperti detektif saja 😁😁)

__ADS_1


__ADS_2