DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 76


__ADS_3

Sembari berjalan, Ella memberitahu Hana jika dirinya tidak bisa bergabung bersama mereka untuk makan.


Setelah itu, dia menelpon anak buahnya untuk mengantarkan motor miliknya ke gedung pemotretan. Karena saat berangkat, dirinya di antar oleh Vano.


Entah kenapa Ella tidak suka naik angkutan umum seperti taksi ataupun sejenisnya. Tapi dirinya akan naik angkutan umum saat kondisi terdesak.


Dia lebih suka menyetir sendiri, atau membawa kendaraan sendiri. Padahal sang papa juga sudah menyiapkan sopir untuk dirinya.


"Itukan Ella, kenapa dia masih ada di sini?" gumam Dami melihat Ella masih berada di parkiran.


Saat ini, Dami juga berniat meninggalkan gedung. Tapi tidak dengan Ibra, dirinya masih memiliki urusan di tempat ini.


Tidak lama, seorang lelaki menghampiri Ella dengan menggunakan motor sport. Lelaki tersebut tampak menyerahkan motor pada Ella dan meninggalkan Ella dengan menaiki mobil yang sudah berada di seberang jalan.


Dengan gaya seksi, Ella menaiki motor dan melajukannya meninggalkan parkiran. Semua itu tak lepas dari pengamatan Dami. "Ternyata bisa naik motor juga." gumam Dami tersenyum remeh.


Ella menghentikan motornya di depan taman bunga milik Egi. Sesuai perkataan Egi, bahwa sekarang dirinya sedang menunggu Ella di tempat ini.


"Silahkan Nona, Tuan Egi menunggu di dalam." ucap seseorang yang berdiri di samping Ella.


"Apa ada sesuatu?" tanya Ella langsung setelah bertemu dengan Egi.


Ella berpikir jika Egi mengajaknya bertemu, mungkin ada masalah dengan hasil pemotretan dirinya menggantikan Vera.


"Duduk dulu Ell." Egi menarik kursi di depannya dan menyuruh Ella mendaratkan pantatnya di kursi.


Ada beberapa orang yang datang dan menyiapkan makanan di atas meja mereka. Ella hanya memandang dan tersenyum.


"Lebih baik kita makan dulu." ajak Egi.


Mereka berdua makan di tengah-tengah hamparan bunga matahari. Ella melihat sekeliling. Perasaannya mendadak sangat tidak nyaman.


Ella tersenyum canggung pada Egi. Sebagai seorang perempuan dewasa, dirinya bisa menebak kenapa Egi mengajaknya makan berdua. Dengan suasana romantis, meskipun hari masih terang.


"Maaf Eg, aku sudah kenyang." Ella hanya mengambil gelas berisi air dan meminumnya.


Egi menghentikan tangannya yang sedang menyendok makanan ke dalam mulutnya, dan meletakkannya di atas piring.


Egi menarik nafas. Mencoba menenangkan degupan jantungnya. "Ell, apa kamu masih berhubungan dengan Vano?" tanyanya.


"Kenapa?"


"Mungkin kamu sudah tahu jika aku menyukaimu."


Ella terdiam dan mencoba mendengarkan perkataan Egi.


"Apa kamu mau memberi kesempatan padaku Ell?" kata Egi penuh harap.


Bingung. Itulah yang dirasakan Ella saat ini. Di sisi lain, Vano juga masih getol untuk mengejarnya. Meskipun Ella pernah bilang bahwa hubungan mereka sudah berakhir. Tapi tidak di pungkiri, dirinya masih memiliki rasa terhadap Vano.


"Eg, maaf." ucap Ella lirih.


"Bukankah hubungan kalian juga sudah berakhir."


"Tapi Vano masih menginginkan ku. Dan sekarang dirinya sedang memperbaiki diri." ucap Ella dengan sungkan, tidak berani menatap wajah Egi.


Egi tersenyum hambar. "Sudah ku duga." batin Egi.

__ADS_1


Egi berani mengambil keputusan untuk berterus terang pada Ella. Dirinya tidak ingin kecewa terlalu dalam. Meskipun saat ini dirinya memang kecewa.


Tapi setidaknya, dirinya tidak akan berlarut-larut, berharap terus menerus mendapat cinta dari Ella.


"Apa kamu akan memberi kesempatan padanya?"


Melihat Ella terdiam sembari menatap ke bawah, Egi sudah bisa menebak jawaban dari Ella. Terlihat sangat jelas suasana canggung di antara keduanya.


"Mungkin seperti ini akan lebih baik. Dari pada Egi terus berharap pada diriku. Sementara, aku sendiri juga belum bisa sepenuhnya melepaskan Vano." batin Ella.


"Tapi kita masih bisa bertemankan kan Ell?"


"Pasti." jawab Ella.


"Maaf ya Eg, maaf." ucap Ella.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, ataupun meminta maaf. Kita tidak salah Ell. Hati tidak bisa memilih." ucap Egi dengan bijak.


"Sahabat." Egi mengulurkan tangannya. Dengan senyum di bibir, Ella menyambut uluran tangan dari Egi.


"Semoga kamu mendapatkan perempuan yang lebih baik." ucap Ella.


"Semoga." kata Egi.


"Mungkin sekarang kamu bisa menolak ku. Tapi kita tidak tahu siapa jodoh kita." batin Egi masih berharap.


*


*


Setelah bertemu dengan Egi, Ella pergi ke perusahaan sang papa. Entah kenapa Tuan Haris menghubunginya dan memintanya untuk datang ke perusahaan. Padahal, sebelumnya jika ingin berbicara dengan dirinya, papanya akan menunggu sampai mereka bertemu di rumah.


"Non Ella. Ada Non." jawabnya dengan ramah.


Meskipun Ella adalah anak dari pemilik perusahaan, dirinya pasti akan bertanya pada resepsionis mengenai keberadaan papanya. Padahal, Ella bisa saja langsung nylonong pergi ke ruangan beliau.


"Nona Ella, di tunggu Tuan di ruangannya. Mari." ucap seorang lelaki muda yang baru saja menghampiri Ella di depan resepsionis.


"Oke." Ella tersenyum pada resepsionis dan melangkahkan kakinya menuju ruangan sang papa.


"Pa." seru Ella setelah sampai di dalam ruangan.


Ella langsung menghambur ke dalam pelukan sang papa. "Kamu dari mana?" tanya Tuan Haris mendapati jaket yang di pakai Ella sedikit berdebu di pundak.


"Ella ke sini naik motor."


"Ckkk. Sudah papa bilang, jangan naik motor lagi. Berbahaya." telapak tangan Tuan Haris membersihkan sedikit debu di pundak Ella.


"Jangan sampai ada yang masuk." ucap Tuan Haris pada sekertaris lelakinya sambil menggerakkan jari. Menyuruhnya meninggalkan ruangan.


"Ada apa sih pa. Tumben?"


Tuan Haris menyerahkan beberapa foto pada Ella. "Inikan." Ella mengerutkan kening melihat foto tersebut.


Nampak dalam beberapa foto terdapat adik Vera bersama seorang lelaki. Mereka seperti sedang berbincang di beberapa kesempatan dan tempat berbeda.


"Papa masih menyuruh paman Haki menyelidikinya. Sebaiknya kamu berhati-hati. Papa yakin, ada orang di belakangnya. Jika bukan musuh papa, pasti musuh Vano."

__ADS_1


"Papa juga sudah menghubungi Vano. Mungkin sekarang dirinya juga sedang menyelidikinya." imbuh sanga papa.


"Kenapa harus melibatkan dia pa. Emang papa nggak sanggup. Males banget." keluh Ella.


"Papa sanggup. Tapi bukankah lebih baik kita melihatkan Vano. Siapa tahu ternyata yang berada di belakang adik Vera adalah musuhnya."


"Kamu males apa berharap." goda Tuan Haris pada putrinya.


"Idiiihhhh,,, apaan. Nggak." seru Ella.


"Papa lihat dia juga sudah mulai berubah."


Ella terdiam, bibirnya mengerucut sembari menatap sang papa. Membuat Tuan Haris tertawa.


"Oke. Makan siang." ajak sang papa.


"Pas. Lagi laper. Pake banget." Ella memegang perutnya.


"Papa telpon mama dulu. Kita makan bertiga."


"Jangan, jangan, jangan. Berdua saja pa. Please..." Ella mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Ya pa... papa..." rengek Ella dengan manja.


"Kamu itu." ucap sang papa.


"Ella ingin makan mie pa. Papa tahu sendiri, kemarin Ella sudah makan mie di rumah. Jika ketahuan mama, aduh." Ella melotot dan menggelengkan kepala.


Nyonya Ane memang sangat membatasi putrinya untuk makan mie terlalu banyak. Beliau masih trauma dengan kejadian saat Ella masih kecil. Ella harus di rawat di rumah sakit karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan cepat saji tersebut.


Bahkan, Nyonya Ane selalu mewanti-wanti Hana untuk hal tersebut. Bahkan bisa di bilang Hana malah lebih ketat dari pada Nyonya Ane.


"Pa,,, bolehkan. Ella pengen. Yaaaaa."


"Baiklah." ucap sang papa pasrah.


Ella meloncat-loncat seperti anak kecil. Membuat Tuan Haris menggelengkan kepala.


Papa dan anak berjalan beriringan meninggalkan ruangan dengan berbincang ringan. Keduanya tersenyum saat berpapasan dengan beberapa karyawan.


"Kita makan di mana sayang?" tanya sang papa.


"Terserah." Ella duduk di samping papanya di kursi belakang.


"Ke restoran terdekat saja pak." ucap Tuan Haris pada sopirnya.


Sesampainya di restoran, Ella dan Tuan Haris duduk di salah satu meja. Dengan beberapa makanan di sajikan di meja mereka.


"Pelan-pelan sayang, lihat." tangan Tuan Haris terulur membersihkan makanan yang terciprat di pipi Ella.


"Mie nya sedaaaap." ucap Ella mengangkat kedua jempol ke atas. Tuan Haris tersenyum dan melanjutkan makannya.


Dari arah lain, ada seseorang yang memperhatikan interaksi mereka dengan mata melotot. Dia sudah panas dengan apa yang di lihatnya tersebut.


*****


Ternyata, adik Vera cuma sebagai alat. Licik juga. Sebenarnya siapa sih dia. Kepo maksimal othor.

__ADS_1


Aduhhh,,,, siapa lagi yang memperhatikan Ella dan sang papa. Sampai terlihat marah banget. Semoga keduanya baik-baik saja. 🤲🤲


__ADS_2