
Lena. Dia tampak seperti orang linglung. Tanpa berkata apapun, dia masuk ke dalam rumahnya sendiri. Di mana di dalamnya ada seorang perempuan paruh baya. Yakni ibu dari Lena.
"Bagaimana semua bisa terjadi?" tanya Oma Yeti saat sang sopir menceritakan keadaan Lena.
Saat Oma Yeti mencoba menghubungi Lena, tapi panggilannya tidak diangkat oleh pemilik ponsel. Membuat Oma Yeti khawatir, dan menyuruh sopir untuk menjemput Lena dirumahnya.
Bukannya datang bersama Lena, sang sopir malah datang sendirian dan menyampaikan hal yang membuat Oma Yeti terkejut. Begitu juga Nyonya Risma.
"Ceritakan secara lengkap!!" hardik Oma Yeti. Sementara Nyonya Risma hanya acuh. Dia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Lena.
"Saya datang kesana. Nona Lena mengurung diri di dalam kamar. Duduk di sudut ruangan dengan memeluk kedua kakinya sendiri."
"Tampak pandangan matanya menerawang jauh dan kosong. Terlihat seperti seseorang yang sedang stres."
"Ibunya juga selalu mengajaknya berbicara dan bertanya. Tapi Nona Lena tidak menyahut sepatah katapun." jelas sang sopir.
"Bisa saja itu karma." celetuk Nyonya Risma, langsung mendapatkan pandangan mata tajam dari Oma Yeti.
"Antar aku ke sana." pinta Oma Yeti.
"Tidak!!" seru Nyonya Risma. "Ma, mama sedang tidak sehat. Mama mau kembali lagi ke rumah sakit." sarkas Nyonya Risma.
Nyonya Risma merasa kesal pada sang mama, yang mengabaikan kesehatannya demi Lena. Padahal Lena bukan cucu ataupun saudara mereka. Ataupun orang yang mempunyai hubungan dekat dengan keluarganya.
Oma Yeti menghiraukan perkataan dari putrinya. Berjalan keluar rumah tanpa peduli pada sang anak yang memandangnya dengan rasa kesal.
"Baiklah." ucap Nyonya Risma menghentikan langkah Oma Yeti.
"Pergilah dan rawat Lena. Jika terjadi sesuatu pada mama, mintalah tolong pada Lena untuk merawat mama." seru Nyonya Risma dengan nada kesal.
"Lebih baik Risma pergi ke rumah Vano. Menemani manantuku yang sedang mengandung penerus dari Vano. Putraku." imbuh Nyonya Risma membalikkan badan meninggalkan Oma Yeti.
Oma Yeti meneruskan langkahnya, untuk pergi ke rumah Lena.
"Pelet apa yang digunakan Lena pada mama. Bisa-bisanya mengabaikan kesehatan sendiri hanya karena Lena." omel Nyonya Risma.
"Nyonya mau kemana?" tanya mbok yang melihat majikannya mengomel sembari berjalan dengan menenteng tas.
"Mau ke butik sebentar. Setelah itu ke rumah Vano." jawab Nyonya Risma.
"Nyonya." ucap ibu dari Lena. Dirinya tidak mengira jika kedatangan mantan majikan dari almarhum suaminya.
"Lena berada di dalam Nyonya. Silahkan." ajak ibu Lena ke dalam kamar.
__ADS_1
"Lena." gumam Oma Yeti melihat keadaan Lena.
"Sejak kapan?" tanya Oma Yeti.
"Baru hari ini Nyonya. Tadi dia bilang akan pergi ke rumah Nyonya, tapi beberapa jam kemudian dia pulang lagi. Dengan keadaan seperti ini." jelas ibu Lena.
"Sendiri?"
"Saya kurang tahu Nyonya. Karena sewaktu Lena pulang saya sedang berada di dapur. Membuat jajan pesanan orang." jelas ibu Lena.
Oma Yeti yang berada di ambang pintu kamar Lena, menengok ke arah dapur. Pandangan mata Oma mengarah ke tumpukan kardus yang banyak. Fan juga masih ada beberapa keu di atas meja.
"Kamu masih bekerja membuat pesanan kue?" tanya Oma Yeti.
"Masih Nyonya. Hanya ini pekerjaan yang saya bisa lakukan untuk menyambung hidup." jelas ibu Lena.
"Apakah Lena tidak memberi kamu uang?" tanya Oma Yeti.
"Tidak pernah Nyonya. Tapi saya sudah sangat bersyukur, karena Lena sudah bisa mencari uang untuk dirinya sendiri." ucap ibu Lena dengan bangga.
Karena sebelum bekerja dengan Oma Yeti, Lena selalu meminta uang pada ibunya. Karena dia tidak bekerja.
Oma Yeti terkejut. Karena setiap bulan, selain beliau memberi uang pada Lena. Dia menitipkan uang sendiri untuk diberikan pada ibunya.
"Kenapa Nyonya?" tanya ibu Lena.
Mengulurkan tangannya. Mengelus pelan tangan Lena. "Aaaa....!!!!" teriak Lena mendorong kasar Oma Yeti. Hingga tubuh Oma Yeti terjengkak ke belakang.
"Jangan bunuh saya. Pergi!!!" teriak Lena menutupi kedua telinganya dengan telapak tangannya.
"Nyonya." ibu Lena membantu Oma Yeti berdiri.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya ibu Lena melihat Oma Yeti memegang pinggangnya.
Oma Yeti memutuskan membawa Lena ke rumah sakit untuk di periksa. Oma Yeti memanggil dokter keluarganya untuk datang ke rumah Lena.
Itupun, Lena harus di beri suntik penenang terlebih dahulu sebelum di bawa ke rumah sakit. Karena Lena sempat mengamuk dan berteriak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu suka?" tanya Vano memeluk tubuh Ella dari belakang. Saat keduanya berada di dalam ruangan yang diperuntukkan untuk Ella melukis.
Terdapat semua peralatan melukis lengkap di dalam ruangan tersebut. Bahkan ruangannya terlihat seperti toko yang menjual alat lukis.
__ADS_1
"Ini seperti toko Van." ucap Ella tersenyum dengan mata memandang seluruh ruangan.
"Aku ingin kamu tinggal ambil saat melukis." ucap Vano dengan menaruh dagunya di pundak Ella.
Ella membalikkan badan. Mengalungkan tangannya di leher sang suami. "Makasih papa." ucap Ella menirukan suara anak kecil.
"Sama-sama sayang." Vano mengecup pelan bibir ranum milk sang istri. Dengan tangan Ella melingkar di leher milik sang suami.
Ciuman yang awalnya biasa, lama-lama berubah menjadi *******. Apalagi saat Ella memberi celah pada lidah Vano untuk masuk ke dalam mulutnya.
Vano mendorong tubuh Ella ke belakang. Menutup pintu ruangan menggunakan kaki panjangnya. Tangan yang semula berada di pinggang ramping milik sang istri terulur mengunci pintu dari dalam. Tanpa melepas ciuman keduanya.
Vano terus mendorong pelan tubuh Ella kebelakang, hingga membentur tembok. Tangan Vano dengan gesit dan lincah membuka jas dan dasi yang dia pakai.
Vano menyudahi ciumannya. Tangannya melepas kaos yang Ella pakai. Menyisakan bra yang menempel di tubuh sang istri. Yang sebentar lagi pasti juga akan terlepas.
Entah bagaimana caranya, keduanya sudah dalam keadaan tanpa memakai apapun di tubuhnya.
Ruangan baru yang akan dipergunakan oleh Ella melakukan kegiatan melukisnya, menjadi tempat bercinta mereka.
Tidak seperti di dalam kamar. Kali ini Ella selalu membungkam dan menggigit bibirnya saat Vano membuatnya merasakan rasa nikmat. Hingga seluruh tubuhnya bergetar.
Tentu saja Ella tidak ingin suaranya terdengar sampai keluar. Ella hampir merosot saat dirinya mendapatkan pelepasan pertama.
Beruntung tangan Vano segera memeluk pinggang ramping milik sang istri. "Suka?" bisik Vano ambigu, dengan suara seksinya.
"Banget." jawab Ella. Vano menggigit pelan telinga Ella.b"Vannn..." ucap Ella.
"Sekarang giliranku sayang." bisik Vano. Membalikkan tubuh Ella. Dan melakukan kembali penyatuan dengan sang istri dari belakang. Dengan posisi seperti awal. Berdiri.
"Kamu sungguh seksi sayang. I like it." ucap Vano sambil menjilat tengkuk dan leher Ella bagian samping, juga telinga.
Hingga Ella mendapatkan pelepasan kedua kalinya, sementara Vano mendapatkan pertama kali. "Beruntung kamu sedang hamil. Jika tidak, pasti aku tidak akan melepaskan kamu." bisik Vano dengan tangan masih bergerilya di seluruh bagian tubuh Ella.
Vano mengeluarkan senjatanya dari dalam sarangnya. Segera Vano mengambil tisu dan membersihkan sisa percintaan mereka.
Sementara Ella, mengambil pakaian yang tercecer di ruangan tersebut dan memakainya. "Pakai dulu." Ella menyerahkan pakaian pada Vano yang selesai membersihkan bekas percintaan mereka.
"Van." ucap Ella saat Vano malah kembali memeluknya. "Cepek.." keluh Ella.
"Iya, kita ke kamar." Vano tersenyum melihat raut wajah Ella yang cemberut.
"Katanya cepek, kita ke kamar. Tidur." ucap Vano masih dengan senyum di bibir.
__ADS_1
Vano menarik pelan hidung mancung milik sang istri. "Kamu pikir mau ngapain, hemmm."
Vano menahan senyumnya, sementara tangannya masih sibuk mengancingkan kemeja yang telah di pakai Vano.