
"Hai." sapa Ella pada perempuan yang sekarang duduk di kursi dengan keadaan terikat.
Perempuan tersebut berontak dengan menggoyang-goyangkan badannya. "Brengsek. Lepas kalau berani. ******." serunya dengan nada marah.
Denis dan Viki berdiri tidak jauh dari Ella. Mereka tidak ingin ikut campur. Cukup memperhatikan. "Lihat. Benarkan gue bilang. Dia sama Vano itu serasi. Sama-sama iblis." ucap Viki lirih.
"Ella akan jadi iblis jika ada yang mengusiknya. Tapi dia akan menjadi malaikat jika berhadapan dengan orang baik. Gue pun juga sama." ujar Denis.
"Iiiiihhhh serem." ucap Viki.
"Ckkk. Kayak elo nggak iblis saja. Lupa berapa kali senjata api elo membuat orang nggak bernafas. Alias is dead."
"Sorry, waktu itu gue khilaf." bela Viki sembari menunjukkan deretan giginya yang putih.
Ella memandang pada anak buahnya. Memberikan sebuah isyarat. Seketika layar di depan perempuan tersebut menyala.
"Brengsek. Lepasin kakak gue!" teriaknya berkali-kali dengan nafas tersengal menahan amarah.
Yapsss... Di layar tersebut terputar video di mana Vera berada di RSJ. Video tersebut juga merekam dengan jelas Vera yang merasa ketakutan.
Bahkan bisa di bilang saat ini mungkin Vera juga sudah sedikit mengalami gangguan jiwa. Karena setiap hari merasakan ketakutan, karena harus berinteraksi dengan penghuni RSJ yang lain. Yang notabennya adalah orang dalam gangguan jiwa (ODGJ)
Ella mencengkeram erat rahang perempuan di depannya. Iya, dia adalah adik dari sang model yang di masukkan Ella ke dalam RSJ. Vera.
"Gue masih berbaik hati. Tidak melenyapkan nyawa kakak kamu. Kamu tahukan. Seharusnya, nyawa di bayar dengan nyawa. Tapi saya memaafkan kelakuan kakak kamu." Ella melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar.
Pandangan matanya tajam menatap ke arah Ella. Seakan dirinya ingin menguliti Ella hidup-hidup. "Tapi sampai sekarang elo masih hidup." ucapnya dingin.
"Itu karena gue pintar. Nggak kayak kakak elo. Bodoh." Ella menunjuk ke arah samping kepala perempuan tersebut. Dan sedikit menekannya.
Dengan bersedekap Ella memandang ke arahnya. "Tunggu, elo mau ikut kakak elo. Atau, elo punya permintaan lain." ucap Ella dengan santai.
"Membuang-buang waktu." Ella berjalan ke arah kedua sahabatnya.
"Gimana Den?" tanya Ella.
"Beres." jawab Denis.
Dengan sekejap, berita Denis dan Ella hilang dari pemberitaan. Dengan menggunakan kekuasaan keluarga Denis dan juga Ella, bukan hal yang sulit melakukan tindakan tersebut.
"Maaf Nona, bagaiman dengan dia?" tanya anak buah Ella.
Ella memandang ke arah adik Vera. Ada perasan iba saat menatapnya. "Gue nggak tega. Dia masih terlalu kecil. Gimana?" tanya Ella meminta saran pada Denis dan Viki.
"Terserah elo. Memang masih kecil. Masih SMA. Tapi tindakannya,,,, sudahlah. Terserah." ucap Denis.
"Gue sih, cuma mau ngingetin. Hati-hati. Perasaan gue, itu anak bakat jadi penjahat. Lihat pandangan matanya." ujar Viki.
__ADS_1
"Kalian ini. Mau kita apain ni bocah." ucap Ella merasa kesal dengan jawaban kedua sahabatnya.
Keduanya lantas mengedikkan kedua bahu mereka.
"Lepaskan saja." ucap Ella pada anak buahnya.
"Iya, lepaskan saja." ucap Ella lagi, saat anak buahnya masih terdiam dan menatap Ella. Karena tidak percaya dengan kalimat yang baru saja dia dengar. Lepaskan.
Perempuan tersebut tersungkur di bawah dengan memegang lengannya yang masih terasa sakit karena terikat lama. Pandangan matanya menatap Ella dingin.
Ella berjalan mendekat ke arahnya. "Ingat, kesempatan tak akan datang dua kali. Jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama, yang telah kakakmu lakukan." ujar Ella seperti bisa membaca tatapan mata dari perempuan di depannya.
Ella masih mengingat bagaiman pertama kali Vera menyuruh orang untuk mencelakainya. Dan Ella masih diam saja. Tapi ternyata, sikap diam Ella malah membuat Vera melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Dan saat itu juga Ella bertindak.
Ella baru saja membalikkan badan. Tapi perempuan tersebut menyerang Ella dari belakang. Sontak membuat semuanya menjadi waspada seketika. Dan berlari ke arah Ella.
Tapi tidak dengan Denis dan Viki. Mereka masih tenang di tempatnya. Karena mereka yakin, Ella pasti sudah memikirkan matang-matang. Karena berani melepaskan anak tikus tersebut. Tepat di depannya.
"Sungguh kasihan. Baru saja mulut Ella diam. Eee,,, malah minta di hajar." ujar Viki melihat tindakan nekat dari adik Vera.
Jangan remehkan sikap waspada dari putri Tuan Haris Subagyo. Dirinya sangat peka terhadap bahaya di sekitarnya. Sedikit saja ada pergerakkan, pasti dia akan mengetahuinya.
Dengan sekali gerakan, Ella mengunci tubuh perempuan itu. Kini posisi menjadi terbalik.
Ella dengan kunciannya, berada di belakang perempuan tersebut. "Aaaaaa..." teriaknya saat pergelangan Ella menekuk pergelangannya. Membuat pisau yang berada di tangannya terlepas.
Pisau. Dari mana dia bisa mendapatkan benda tajam tersebut.
"Bukankah sudah aku ingatkan. Jangan mengulangi kesalahan yang di perbuat kakak mu." bisik Ella dengan mendorong tubuh perempuan tersebut ke depan. Membuatnya tersungkur di tanah.
"Aaaaaa..." teriaknya saat sepatu Ella menginjak telapak tangannya.
"Tuan, tolong aku." serunya, mengiba pada Denis dan Viki yang berada tak jauh di depannya. Berharap pertolongan dari mereka. Membuat Ella tersenyum mendengarnya.
Mereka lantas mendekat. "Jauhkan kakimu Ell." seru Denis.
"Teganya kau Ell. Dia masih anak-anak." imbuh Viki.
Senyum terbit di bibirnya mendengar perkataan kedua lelaki tersebut. Dirinya merasa mereka akan menolongnya.
"Aku akan menjadi wanitamu Tuan. Jika anda sudi menolongku." ucapnya dengan memelas.
Keduanya lantas berjongkok. Mensejajarkan tubuh mereka dengan adik dari Vera. Ella memutar kedua bola matanya malas melihat tingkah kedua temannya.
"Kenapa kalian berdua tidak jadi artis saja." gumam Ella.
Viki memegang dagunya. "Aku lebih tertarik dengan sopir mu." ucap Viki lirih dengan senyum dinginnya. Karena Viki tahu, bahwa sopir keluarga Vera masih muda dan juga tampan.
__ADS_1
Membuat perempuan tersebut memandang aneh ke arah Viki. Belum sempat dia menemukan arti dari perkataan Viki, Denis kembali membuatnya terkejut.
"Badanmu terlalu kurus. Lihat dada mu. Lurus. Seperti tidak punya payu**ra. Aku suka yang mon tox." Denis dengan sengaja menyentuh payu**ra perempuan di depannya.
Ella menggeleng melihat kedua sahabatnya. "Jahat sekali kalian. Pemberi harapan palsu. Lihat. Dia kecewakan." ucap Ella.
"Apalagi elo, main sentuh badan orang sembarangan." imbuh Ella.
Denis dan Viki berdiri. Denis menepuk-nepuk kedua telapak tangannya. Seperti batu saja memegang sesuatu yang kotor.
"Bawa." perintah Ella pada anak buahnya.
"Jangan sampai kecerobohan kalian terulang lagi." tambah Ella.
"Maafkan kami Nona."
"Lepas. Kalian memang iblis. Lihat saja. Setelah ini akan ada seseorang yang akan melenyapkan kalian. Kalian tunggu. Kalian akan merasakannya. Iblissss." teriaknya saat badannya di seret paksa oleh dua anak buah Ella.
Ella mendengar teriakan tersebut. Teriakan dengan keyakinan pada setiap katanya.
"Tidak usah terlalu di pikirkan. Dia cuma menggertak." ucap Viki.
"Benar Ell." timpal Denis.
Tapi Ella tidak mendengarkan perkataan kedua sahabatnya. Dia yakin dengan instingnya.
"Cari tahu. Dan selidiki. Jangan terlalu lama. Jika ada sedikit saja informasi. Lekas beritahu aku." perintah Ella pada anak buahnya.
"Apa paman Haki perlu tahu Nona?"
Ella menganggukkan kepalanya. Menyetujui jika paman Haki harus di beritahu. "Gue yakin, ada seseorang di belakangnya. Tidak mungkin dia seberani itu. Apalagi dia masih sangat kecil." ucap Ella.
"Kecil. Tapi kelakuan laknat." timpal Viki.
Ketiganya lantas meninggalkan tempat tersebut. "Setelah ini elo mau ke mana Ell?" tanya Viki di balik kemudi.
"Gue ada janji temu dengan perusahaan ATE."
"Elo jadi modelnya?" tanya Denis yang duduk di samping Viki. Sementara Ella duduk di kursi belakang.
"Betul." Ella mencondongkan badannya ke depan. Tangan kiri berada di pundak Denis, dan satunya lagi berada di pundak Viki.
"Bukannya elo pernah bilang nggak mau foto dengan lawan jenis?" tanya Denis. Karena dirinya ingat jika Ella pernah bilang padanya jika dia tidak mau melakukan pemotretan dengan lawan jenis.
"Itu dulu. Sekarang ceritanya berbeda."
"Ceritanya berbeda. Elo pikir novel." celetuk Viki.
__ADS_1
"Cieee,,, foto pengantin-pengantinan nich." goda Viki.
Kali ini Ella akan melakukan pemotretan bertema gaun pengantin, atau pernikahan. Karena itulah dirinya akan di sandingkan dengan seorang pria sebagai pelengkapnya.