
Ella sedang berada di sebuah restoran. Dirinya sengaja datang ke restoran tersebut karena Jo juga berada di sana.
"Sekarang profesi gue berubah. Bukan lagi Ella sang model. Melainkan Ella si penguntit." gumamnya dengan menyedot minuman di depannya.
"Jika saja bukan karena Viki. Pasti sekarang elo sudah tidak ada di dunia ini. Viki,, Viki. Kenapa mesti elo sih. Ckkk. Gampang banget di kibulin." batin Ella sembari pandangan matanya mencari mangsa yang sedang dia tunggu.
Padahal Ella sendiri juga pernah di bohongi oleh Vano. Bahkan di duakan, di tigakan. Tapi dia tetap cinta dengan Vano. Dan memberikan kesempatan pada Vano untuk berubah.
"Gue harus menyelesaikan dengan cepat. Terlalu ribet hanya untuk seorang penjahat kelas teri." gumam Ella merasa kesal.
Pandangan mata Ella terhenti pada sebuah meja. Di mana ada beberapa remaja yang sedang makan di selingi obrolan dan tawa.
Dari meja tersebut, seorang remaja juga tidak sengaja melihat ke arah Ella. Keduanya saling pandang tanpa senyum.
Segera Ella memutuskan kontak mata dengannya. Dan berpura-pura masa bodo. "Keponakan Vano." gumam Ella.
Benar, remaja tersebut adalah Marcell. Saudara dari sang kekasih. Vano. Di mana semalam mereka bertemu dalam acara makan malam.
Seolah mereka tidak saling kenal. Mereka juga tidak bertegur sapa. Sebenarnya juga memang mereka tidak saling kenal. Mereka hanya pernah bertemu di tempat yang sama.
"Ella." panggil seorang lelaki membuat Ella menolehkan kepala ke arah sumber suara.
"Elo,,,," ucap Ella saat tahu siapa yang memanggil dirinya.
"Ngapain di sini." Jo mendaratkan pantatnya di kursi depan Ella tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Nungguin elo lah." batin Ella.
"Makan." jawab Ella singkat.
"Sendiri."
"Tadinya sih janjian sama Vano. Tapi ternyata Vano nggak bisa datang. Ada kerjaan penting katanya." ucap Ella berbohong.
"Kasian banget. Cantik-cantik makan sendiri." gombal Jo.
"Siapa bilang sendiri."
"Lohhh."
"Kan ada elo." ucap Ella membuat Jo tertawa.
Perbincangan keduanya tak luput dari Marcell. Karena meja mereka tidak terlalu jauh, Marcell dapat mendengar semua pembicaraan keduanya.
Selesai makan, Ella di antar oleh Jo. "Maaf, gara-gara gue nggak bawa mobil, elo jadi repot." ujar Ella.
Padahal Ella memang sengaja tidak membawa mobil. Melainkan di antar oleh Hana. Supaya Jo dapat mengantar dirinya ke apartemen. Dan di sanalah, Ella akan melakukan rencananya.
"Tidak masalah Ell." tangan Jo dengan pelan sengaja menggenggam telapak tangan Ella yang duduk di sampingnya.
Sementara tangan Ella yang satunya masih memegang jus yang di kemas. Yang dia beli di pinggir jalan, setelah keluar dari restoran.
__ADS_1
"Brengsek, ternyata dia lebih berani dari pada yang gue duga." ingin rasanya Ella memelintir lengan Jo. Tapi di tahannya. "Sabar Ell,, sabar." batin Ella menenangkan dirinya sendiri.
Ella tersenyum miring. Otaknya berpikir sesuatu yang dapat melancarkan rencananya. "Jo." ucap Ella lembut. Telapak tangan Ella sekarang juga berada di atas telapak tangan Jo. Membuat Jo merasa besar kepala.
"Ternyata sangat mudah merayu kamu. Sebentar lagi pasti kamu akan dengan senang hati datang dan merangkak sendiri di atas ranjang ku, cantik." batin Jo.
"Elo sama Viki baik-baik saja kan?" tanya Ella sembari memandang ke arah Jo.
"Sumpah,,, ingin rasanya gue congkel mata elo." batin Ella tersenyum palsu.
"Ada apa Ell?" tanya Jo.
Ella melepaskan tangan keduanya. "Sebenarnya,,, aaawww. Maaf." Ella sengaja menumpahkan minumannya ke paha Jo. Yang juga membuat celana yang tepat di junior Jo menjadi basah.
Ella segera mengambil tisu di depannya. Yang sudah tersedia di mobil Jo. "Maaf." tangan Ella mengelap celana Jo yang basah.
Jo mencekal lengan Ella. "Tidak apa-apa Ell." ucap Jo menyuruh Ella menghentikannya.
"Tidak bisa. Aku yang bersalah." Ella melepaskan cekalan tangan Jo. Mata Ella melirik ke arah Jo dan tersenyum samar.
Jo menahan nafas dan beberapa kali memejamkan mata saat tangan Ella mengenai juniornya. Ingin rasanya Jo meminta lebih pada Ella.
Ella tidak menyia-nyiakan kesempatan. Segera ia tarik kaos yang dia pakai agak kebawah. Memperlihatkan dua gunung kembarnya dengan sangat jelas.
Jo kembali mencekal tangan Ella. "Ell, sudah. Gue nggak apa-apa." ucap Jo sambil menoleh ke arah Ella.
Pengggg,,,,, seketika kepala Jo terasa panas melihat pemandangan di depannya. Begitu menggoda. Apalagi kini juniornya sudah berdiri tegak akibat beberapa kali senggolan dari Ella yang memang sengaja Ella ciptakan.
"Jika bukan karena Viki, gue nggak sudi melakukan ini. Sepertinya gue harus mandi bunga dengan air yang di ambil dari tujuh sumur. Bisa-bisa gue sial." batin Ella.
"Ell,,," Jo mendorong tubuh Ella ke belakang.
"Kenapa Jo?" tanya Ella berlagak polos. Padahal Ella tahu betul jika Jo sedang menahan konatnya.
******
"Sebenarnya elo mau apa sih? Lepasin gue Denn.!!!" teriak Viki.
Sekarang Viki bersama dengan Denis dan Hana. Mereka berada di apartemen Vano. Dengan keadaan tubuh Viki terikat duduk di kursi.
Ella menyuruh Denis dan Hana menyekap Viki di apartemen Vano. Sementara dirinya akan menggoda dan membawa Jo ke apartemen miliknya. Di mana apartemen milik Ella sudah siap dengan banyaknya CCTV tersembunyi yang sudah di taruh di tempat aman oleh Reza.
"Aiissshhhj,,, kenapa elo berisik banget sih Vik." Denis memasukkan jari telunjuknya ke dalam telinganya dan menggerakkan perlahan.
"Kenapa kalian memperlakukan gue kayak gini. Ella mana. Elllll,,,,,!!!" teriak Viki.
"Jika Ella tahu kegilaan kalian. Pasti dia tidak tinggal diam. Denis!!! Lepasin gue, atau gue aduin ke Ella."
"Kalian budek. Hah. Kalian bisu. Pasangan yang serasi." bentak Viki.
Tapi semua ocehan yang keluar dari mulut Viki sedikitpun tidak di anggap oleh Denis dan Hana.
__ADS_1
Mereka malah terlihat asyik ngobrol berdua dan bermesraan di kursi yang tak jauh dari Viki. Membuat Viki semakin geram akan tingkah keduanya.
"Pasti ini pengaruh dari pacar elo kan. Kenapa elo giniin gue sih Den. Dan elo." ucap Viki memandang tajam ke arah Hana. "Apa yang sudah elo perbuat. Kenapa teman gue jadi kayak gini." oceh Viki.
Denis berjalan ke arah Viki. "Pasti elo mau lepasin ikatan gue kan Den." ucap Viki dengan tersenyum.
"Hummmppp,,, hummppppp."
Denis menyumpal mulut Viki menggunakan kain. "Karena elo terlalu berisik."
Viki melotot tidak percaya jika Denis melakukan hal ini pada dirinya. Viki berontak dengan menggerak-gerakkan badannya. "Sebaiknya kamu diam Vik. Nanti badan kamu malah semakin sakit." ujar Hana yang malah mendapat pelototan dari Viki.
"Ella lama benar sih." kata Hana merasa kasihan karena harus melihat Viki diikat menjadi satu dengan kursi.
"Kamu tunggu di sini. Aku mau ambil minum sama cemilan. Sebentar lagi kita akan nonton film bagus." Denis melangkahkan kakinya ke belakang.
Hana melihat jam yang terpasang di dinding. "Vano kenapa belum juga datang. Semoga Vano tidak merusak rencana Ella." ucap Hana.
Hana hanya takut jika Vano cemburu dan merusak rencana yang sudah di persiapkan oleh sahabatnya. Ella. Apalagi mereka juga sudah melakukan penyekapan terhadap Viki.
"Vano belum datang?" tanya Hana pada Denis saat kekasihnya kembali dengan membawa minuman dan camilan di tangannya.
"Ngapain tanya Vano." sinis Denis.
"Ckkk, nggak usah cemburu. Aku cuma takut jika Vano merusak rencana Ella. Diakan orangnya cemburuan. Terus gampang emosi."
Denis mengerti kenapa Hana segitu khawatirnya. Karena Denis juga tahu bahwa Vano mengizinkan Ella menjalankan rencananya dengan setengah hati. Seperti tidak sungguh-sungguh.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Dan Vano tidak menyebabkan kekacauan." gumam Denis masih bisa di dengar Hana dan Viki.
"Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mereka melakukan seperto ini ke gue. Rencana apa yang sedang Ella lakukan. Vano cemburu. Merusak rencana Ella. Cemburu dengan siapa. Kenapa tidak ada yang jujur sama gue. Malah mengikat gue kayak gini." batin Viki kesal.
"Semoga Vano cepat datang kesini. Jika dia sudah ada di sini, gue tenang." ucap Hana yang di balas anggukan oleh Denis.
Ella juga menyuruh Reza untuk terus memantau Vano. Dirinya tidak ingin tiba-tiba Vano datang dan merusak semuanya.
Ella menyuruh Reza membawa Vano ke apartemen. Jika Vano sudah berada di dalam. Sebisa mungkin mereka akan menahannya. Entah bagaimana caranya.
*****
Ella,,, apa rencana kamu akan berhasil.
Atau,,, malah Ella yang akan masuk dalam perangkap Jo. Menjadikan Ella memuaskan hasratnya.
Dan Viki,,,,
Bagaimana jika dirinya tahu bahwa selama ini Jo sudah membohongi dan memanfaatkannya.
Apakah Viki akan marah dan memutuskan Jo.
Atau malah Viki akan memberi kesempatan kedua untuk Jo.
__ADS_1
Seperti halnya Ella, yang memberi kesempatan kedua untuk Vano.