DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 30


__ADS_3

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Ella yang sedang berbaring di tempat tidurnya. "Ell, sayang. Ini papa. Apa kamu sudah tidur?" tanya Tuan Haris di balik pintu.


Ella bangun dari ranjangnya dan bergegas membuka pintu kamar. "Ada apa pa?" tanya Ella dengan menyembulkan kepalanya di balik pintu.


"Boleh papa masuk?" Ella membuka pintu dan membiarkan Tuan Haris masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa?" tanya Ella saat Tuan Haris menatap dengan intens pada dirinya.


Sepertinya Ella bisa menebak tujuan Tuan Haris datang ke kamarnya. "Pa, paman Haki pasti sudah melaporkan pada Papa. Ayolah, apa lagi yang ingin papa dengar?"


Tuan Haris mendekat dan memegang kedua bahu putrinya. "Biar papa yang mengurus semuanya. Kamu hanya diam dan melanjutkan kehidupan kamu dengan tenang."


Ella memegang kedua lengan papanya. "Ella akan melanjutkan kehidupan Ella, Pa. Itu pasti. Tapi biarkan Ella menyelesaikan masalah Ella sendiri. Pa, biarkan Ella belajar. Biarkan kepala Ella bisa memandang tegak ke depan tanpa nama besar papa."


"Walaupun itu mustahil." ucap Ella lirih.


Karena Ella sadar, selamanya nama besar orang tuanya akan terus berada di belakangnya. Dan itu pasti.


"Pa, please. Ya." Ella menatap Tuan Haris dengan tatapan memohon.


"Ella ingin papa dan mama berada di samping Ella selamanya. Tapi siapa yang tahu umur manusia Pa. Papa paham kan maksud Ella."


Tuan Haris membawa tubuh Ella ke dalam pelukannya. "Putri kecil papa ternyata sudah dewasa." tangan Tuan Haris membelai rambut Ella dengan penuh kasih sayang.


Ella mengeratkan pelukannya pada Tuan Haris. "Ella sayang papa mama. Ella janji akan menjadi putri kebanggaan kalian."


Tuan Haris melepaskan pelukannya dan menepuk pelan kedua pundak Ella. "Selesaikan masalah kamu dengan baik. Kamu tahukan sayang, jika kamu tidak mampu. Ada papa di sini." Tuan Haris menepuk dadanya sendiri.


"Mellanie Putri Subagyo. Pasti mampu." Ella mengedipkan sebelah matanya.


"Ya sudah, papa keluar dulu. Kasihan mama kamu. Pasti merindukan papa."


"Lebay. Baru juga 1 menit." ejek Ella.


Tuan Haris mencubit hidung Ella dan keluar dari kamar putrinya.


"Papa tenang saja. Mulai sekarang, Ella akan menjadi lebih kuat. Dan tidak akan di perlakukan seenaknya oleh orang lain. Termasuk Vano." batin Ella sembari menutup pintu kamarnya.


"Hana." Ella kembali teringat asisten sekaligus sahabatnya tersebut.


Segera Ella mengambil ponsel dan menelpon Hana. Ia ingin minta maaf karena kejadian tadi siang.


"Hana sedang telepon siapa." Ponsel Hana tidak bisa di hubungi. Karena Hana sedang sibuk berada di panggilan telepon lain.


Sementara di rumah Hana. Dia juga sedang menelpon Ella. Tapi ponsel Ella juga sedang sibuk. Karena berada di panggilan lain.


Mereka berdua saling menelpon satu sama lain. Sehingga keduanya berada di panggilan lain.


"Gue kirim pesan saja." gumam Ella.

__ADS_1


Saat jari jemari Ella mulai bergerak lincah di layar ponselnya, panggilan masuk dari Hana tertera di layar ponsel. Dengan segera Ella mengusap layar ponsel untuk menerima panggilan telepon dari Hana.


HANA calling...


Halo Han.


^^^Maaf.^^^


Elo nggak salah.


Gue yang salah. Maaf.


^^^Gue juga salah.^^^


^^^Maaf.^^^


Iya. Sama-sama.


@@@@@


Perasaan Ella terasa lega setelah meminta maaf pada Hana.


Tring.. sebuah pesan bergambar masuk ke dalam ponsel Ella.


Senyum yang mengembang di bibir Ella pudar begitu saja saat melihat foto yang berada di layar ponselnya.


"Vano." Ella mengeratkan rahangnya dengan mata merah dan menggenggam erat ponsel miliknya.


"Kenapa tidak menghubungi ku." dengan santai Vera mendudukkan pantatnya di pangkuan Vano dengan tangan melingkar di leher Vano.


Pandangan mata Vano masih tertuju pada gelas berisi wine yang dia pegang dengan menggoyangkannya secara pelan. Dentuman musik yang memecahkan telinga dengan lenggokan dan jingkrakan manusia menjadi satu di hadapan Vano.


Setelah pulang dari rumah Ella, Vano pulang ke apartemennya. Karena merasa suntuk dengan pikirannya yang kacau, dia pergi ke tempat biasanya dia pergi.


Bar dimana semua pengusaha muda dan para sosialita menjadi pengunjung tetap. Karena siapapun yang masuk harus menggunakan kartu ajaib. Jika tidak punya, jangan harap bisa menginjakkan kaki di tempat ini.


Seseorang memotret Vano dan Vera saat mereka berdua dalam posisi seintim itu. Bahkan dia tidak lupa mengirimkan karya jepretannya pada Ella.


"Show time." di teguknya hingga tandas wine yang berada di depannya.


Setelah pekerjaannya selesai dia bangun dari duduknya dan meninggalkan tempat tersebut dengan senyum miring di bibirnya.


"Minggir." Vano menyingkirkan Vera dari pangkuannya.


Vera yang tidak mempunyai malu tetap bergelayut di leher Vano. "Honey, aku bisa memanjakanmu. Tinggal kamu sebutkan, bagian mana yang ingin aku manjakan." bisik Vera dengan lidah menjilat kuping Vano.


Sekelebat bayangan Ella kembali terlintas di benak Vano. Tubuh Ella yang hanya terlilit handuk seperti menari-nari di pikiran Vano.


"****." sudah lama Vano tidak bermain dengan Ella di atas ranjang. Dan Vano menginginkannya saat ini. Vano memang sering berganti wanita sebagai penghangat ranjangnya.

__ADS_1


Tapi dia tidak pernah memasukkan pusakanya kedalam gowa wanita lain, selain Ella.


Melihat Vano yang gamang, Vera tersenyum dan menarik tangan Vano. "Come on baby."


Vano berdiri dan mengikuti kemana Vera membawanya.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke rumahku seperti sebelumnya. Tapi aku tahu, kamu sudah tidak bisa menahannya." Vera membawa Vano ke dalam kamar yang tersedia di bar tersebut.


Seseorang melihat Vano masuk ke kamar tersebut, tapi sayangnya dia tidak melihat siapa wanita yang bersama dengan Vano.


"Tuan Muda keluarga Reyandli. Bersama siapa dia. Apa mungkin dengan Ella." gumamnya.


Lelaki tersebut memilih pergi dan tidak mencampuri urusan orang lain. Meskipun dia adalah sahabat dekat Ella sewaktu SMA. Dia baru saja datang ke Indonesia untuk melakukan perjalanan bisnis.


Dan saat ini, dia sedang berkumpul dengan para koleganya untuk merayakan kerja sama mereka.


Di dalam kamar, Vano kembali di manjakan dan di servis secara sempurna oleh Vera. Seperti malam-malam sebelumnya.


"Saatnya aku bermain Vano. Selama ini aku yang menjadi bonekamu. Sekarang biarkan aku yang menggantikan peranmu." gumam Ella.


Ella sadar Vano seperti bayangan untuk dirinya. Tidak bisa di genggam dan tidak bisa di lepaskan. Tapi akan terus mengikuti kemanapun dia pergi.


"Jika memang kamu ingin menjadi bayanganku. Akan aku kabulkan. Akan aku biarkan bayangan itu terus mengikuti ku. Sampai kamu sendiri yang akan memohon untuk lepas."


Melatih diri dan mental lebih kuat, adalah tujuan Ella sekarang. Vano, Ella paham betul seberapa kuat kekasihnya tersebut. Melawan, itu artinya Ella harus mempersiapkan segalanya.


Dia tidak ingin dirinya semakin terluka jika tidak mempersiapkan diri. Apalagi untuk menghadapi kegilaan yang akan Vano timbulkan. Dia juga harus memikirkan kedua orang tuanya.


"Benar kata Hana. Saat nya Vano yang bertekuk karena cintaku. Bukan lagi aku yang menjadi penghangat ranjanganya."


Ella mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Hana.


Di tempat lain, Hana melongo. Dia tidak percaya dengan apa yang di bacanya.


"Ella. Serius. Dia akan melakukan itu. Lalu Vano."


*****


Pesan apa yang di kirimkan Ella pada Hana.


Kenapa Hana sampai syok saat membacanya.


😳😳


Author penasaran nichhhh....


Kasih tahu author dong...


Pleaseeeee.....

__ADS_1


Ellaaaaaaaa taklukkan Vano.


Cayooooo......😎💪


__ADS_2