
Tampak Rio berbincang dengan orang tersebut sembari sesekali menengok ke arah Ella. Kerena Ella sudah membuka jendela kaca mobil miliknya. Memperlihatkan kepalanya.
Pandangan Ella tertuju pada mobil di depannya. Nampak ada seseorang di dalam mobil itu. Dan Ella melihatnya.
Rio berjalan mendekat ke arah Ella. Bersamaan dengan pintu mobil di depannya terbuka. "Ditya." gumam Ella.
"Nyonya,,," belum selesai Rio berbicara, Ella mengangguk dan membuka pintu mobil.
"Hay." sapa Ditya berdiri di samping mobil Ella. Tampak gagah dengan balutan jas di badannya. Dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Membuat kaum jawa akan bertekuk lutut di depannya. Tapi tidak dengan Ella. Dia sama sekali tidak terpengaruh.
Tak ketinggalan. Doris, sang asisten berdiri tepat di belakang Ditya.
"Aku memang tampan." ucap Ditya dengan percaya diri, karena Ella memandangnya dengan intens dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Kalah jauh dari Vano." cibir Ella. Membuat senyum di bibir Ditya seketika menguap, hilang terbawa angin yang berhembus di sekitar mereka.
"Cepat katakan." ucap Ella santai. Ditya terkekeh melihat Ella yang dengan tenang menghadapi dirinya. Tampak wajah dinginnya, membuat Ditya semakin menyukai perempuan di depannya.
Pandangan mata Ella menatap ke arah lain. "Kamu urus dia." ucap Ella pada Rio.
"Tidak perlu, biar orangku yang membereskannya." ucap Ditya. Yang ternyata tahu apa yang di maksud oleh Ella.
"Jangan sampai ada yang terlewatkan." ucap Ditya datar. Berbicara pada Doris tapi pandangan mata mengarah kepada Ella.
Tidak jauh dari mereka ada seseorang yang berpakaian tertutup. Membawa kamera. Sudah bisa ditebak, apa yang ingin dia lakukan.
Pasti akan memotret Ella dan Ditya. Menyebarkannya di dunia maya, dan di tambah sedikit percikan api. Pasti akan langsung mendidih dan booming.
"Aku tidak pernah mempercayai orang asing." ucap Ella. "Rio. Bersihkan, jangan sampai ada jejak" imbuh Ella. Ditya hanya tersenyum mendengarnya.
"Aku akan baik-baik saja. Jangan membuang-buang waktu." tegas Ella. Karena sepertinya Rio enggan meninggalkan Ella sendirian.
Apalagi di dekat Ella ada Ditya. Dan Rio, sangat tahu siapa dia. Orang yang tidak mudah untuk di tangani.
"Segera Nyonya." Rio melangkahkan kakinya meninggalkan Ella, pergi melakukan perintah istri dari atasannya tersebut.
"Temani dia, aku takut terjadi sesuatu padanya." ucap Ditya dengan tenang, menyindir secara halus. Seakan mengatakan jika orangnya lebih handal dari bawahan Vano. Ella memandang tajam ke arah Ditya.
Doris hanya mengangguk pelan dan segera menyusul Rio. Meninggalkan Tuannya dengan perempuan yang di inginkannya.
"Selamat." ucap Ditya. Ella tersenyum sinis.bSepertinya Ella tahu untuk apa Ditya mengucapkan kata selamat kepada dirinya.
Ella tidak terkejut jika Ditya mengetahui jika dirinya tengah berbadan dua. Mengetahui semua itu bukan hal sulit untuk Ditya.
"Sudah?" tanya Ella ambigu. Karena di saat bersamaan, Rio telah kembali di sampingnya.
"Belum." ucap Ditya.
"Sudah Nyonya." ucap Rio bersamaan dengan Ditya.
Ditya dan Rio saling menatap tajam. "Bisa singkirkan dia." tegas Ditya, merasa jika Rio seperti hama.
"Tinggalkan kami." pinta Ella. Segera Rio berjalan menjauh dari mereka. Tatapan matanya tetap terfokus pada Ditya. Membuat Ditya tersenyum remeh.
"Asisten suamimu. Apa Vano tidak takut, mempercayakan istrinya yang cantik pada asistennya." gumam Ditya terdengar jelas di telinga Ella.
Ditya menangkap jika Rio memiliki rasa tertarik pada Ella. Meskipun masih dalam batas wajar. Karena mungkin Rio tahu di mana tempatnya.
"Omong kosong. Cepat katakan. Aku tidak punya banyak waktu." seru Ella. Padahal Ella juga mengetahui jika Rio beberapa kali mencuri pandang kepada dirinya, dengan tatapan berbeda.
Tapi Ella acuh. Selama Rio tidak melewati batas, Ella tidak akan bertindak. Lagi pula Ella yakin, jika Rio tidak akan berani macam-macam padanya.
Karena dia sudah bekerja dengan Vano cukup lama. Sehingga dia tahu betul, bagaimana sifat dari majikannya tersebut.
"Ckk,,, kenapa kamu selalu tidak sabaran." ucap Ditya. Padahal yang Ditya inginkan, dirinya bisa berlama-lama dengan Ella pada pertemuan terakhir mereka ini.
"Aku hanya,,, emmm" ucap Ditya tertahan. Sementara Ella, menunggu perkataan Ditya dengan tidak sabar.
"Katakan. Jangan seperti gadis remaja." ucap Ella mengolok.
__ADS_1
"Aku ingin pamit." imbuh Ditya terdengar aneh di telinga Ella. Pamit. Kenapa harus mengatakannya pada Ella. Lagipula, apapun yang akan di lakukan oleh Ditya, Ella tidak pernah mau tahu.
Membuat kedua mata Ella menyipit. "Kita tidak sedekat itu Tuan." ujar Ella tersenyum kecut.
"Tunggu." Ditya menghentikan Ella yang hendak masuk ke dalam mobil. Mencekal lengan Ella. Jarak kedua sangatlah dangat dekat.
Segera Ella melepaskan cekalan tangan Ditya. Dari arah lain, Rio segera bergegas menghampiri Ella. "Elll,,," seru Ditya saat Ella menutup mulutnya.
Ella mengangkat tangannya, mengisyaratkan Ditya supaya tidak mendekat. Membuat tubuh Ditya seketika membeku di tempat.
"Nyonya!!" seru Rio. Begitu juga dengan Rio, Ella mengangkat tangannya. Meminta Rio menjaga jarak darinya.
Ella memuntahkan isi makanan di dalam perutnya. Entah dorongan apa yang membuat asisten Ditya, Doris seketika mendekat ke arah Ella dan menyerahkan air mineral kemasan pada Ella.
Dan anehnya, Ella membiarkan Doris mendekati dirinya. "Terimakasih." ucap Ella selesai meminum air yang telah di berikan oleh Doris.
Badan Ella terasa lemas, dia menyenderkan badannya di samping mobil. Segera Doris mengambil tisu di dalam mobilnya. "Ini Nyonya." ucap Doris memberikan tisu pada Ella.
Sementara Ditya dan Rio, hanya menatap tajam ke arah Doris. Segera Doris memundurkan badannya. Memposisikan dirinya di belakang Ditya.
"Saya hanya merasa kasihan melihat Nyonya Ella muntah." ucap Doris dengan kepala sedikit menunduk.
Ella memejamkan mata sesaat, sebelum membukanya kembali. "Kamu." Ella menunjuk ke arah Rio. "Kenapa memakai parfum itu. Bukankah kemarin sudah aku berikan kamu parfum. Kenapa tidak kamu pakai." bentak Ella kesal.
Padahal, sebelum mencium parfum milik Ditya, Ella Tidak bermasalah dengan parfum yang dipakai Rio. Karena memang, Rio sengaja tidak memakai parfum hari ini.
"Parfum." batin Ditya, dirinya mulai mengerti kenapa Ella bertingkah seperti itu. Dan hal itu wajar terjadi pada perempuan hamil. Karena biasanya, indera penciuman mereka akan lebih sensitif.
"Maaf Nyonya, parfum yang anda berikan. Emmm,,,, anu Nyonya. Emmm...." Rio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu tidak mau memakainya?" tanya Ella dengan mata menyalang.
Jujur saja, Rio tidak seperti majikannya. Vano. Yang telah memakai parfum yang dibelikan oleh Ella. Rio berbeda dengan Vano.
Jika Vano akan tetap dipuja dan digilai banyak kaum hawa meskipun memakai parfum pemberian Ella. Dan yang lebih penting, tidak akan ada orang yang berani berbicara tentang Vano. Apapun itu.
Berbeda dengan Rio. Dirinya merasa tidak percaya diri saat memakai parfum pemberian Ella. Rio merasa kadar ketampanannya berkurang saat menyemprotkan parfum tersebut ke badan maupun bajunya.
Karena Ella memberikan Rio parfum dengan wangi buah-buahan. Layaknya anak kecil.
Tapi siapa sangka, semua berubah seperti ini. Karena Ditya. Rio menatap tajam ke arah Ditya sebelum mengambil parfum yang memang sengaja dia simpan di dalam mobil.
Ditya semakin penasaran. Sebenarnya, parfum macam apa yang di berikan Ella pada asisten Vano. Sehingga dia enggan untuk memakainya.
"Pakai di luar." seru Ella, membuat Rio keluar dari mobil. Memegang parfum pemberian Ella.
Mata Ditya membulat sempurna melihat parfum yang di pegang Rio. "Pantas, dia tidak mau memakainya." batin Ditya, menahan tawanya.
Lantaran parfum yang di pegang Rio adalah parfum anak-anak dengan wangi buah-buahan. Dengan stiker super hero menempel pada wadah parfum tersebut.
Ella tersenyum senang melihat Rio memakai parfum tersebut. Dan Ditya tampak terhibur dengan Ella yang menurutnya lucu.
"Tunggu." ucap Ditya memandang ke arah Doris.
Doris sepertinya paham arti pandangan dari atasannya tersebut. "Parfum kamu?" tanya Ditya dengan memicingkan sebelah matanya. Rio dan Ella melihat ke arah keduanya.
"Iya Tuan. Saya memang memakai parfum sejenis itu." ucap Doris dengan wajah tertunduk. Ditya tersenyum samar.
"Sini." Ella mengambil parfum dari tangan Rio.
Dengan sengaja menyemprotkannya di badan Ditya. Membuat Ditya terperanjat kaget. Tapi dia hanya diam. Membiarkan Ella melakukan apa yang diinginkannya.
Doris dan Rio bersikap waspada. Apalagi Ditya bukan tipe lelaki penurut. Tapi sikap waspada keduanya hilang, saat melihat Ditya malah pasrah dengan apa yang dilakukan Ella.
"Selesai." Ella menutup botol parfum tersebut.
Ella sedikit membungkukkan badannya. Mengendus wangi parfum yang di semprotkan di badan Ditya. Membuat Ditya bisa mencium dengan sempurna wangi sampo dari rambut Ella.
Ella kembali berdiri dengan benar. Tapi Ditya, masih diam terpaku. Detak jantungnya seakan bertalu-talu seperti genderang tanda perang di mulai.
"Ini." Ella menyodorkan parfum yang di pegangnya pada Ditya. Dengan masih setengah sadar, Ditya menerima parfum tersebut.
__ADS_1
"Tinggalkan tempat ini." ucap Ella pada Rio.
"Baik." Rio mengikuti Ella, segera naik ke dalam mobil. Meninggalkan Ditya dan Doris yang masih berdiri di sana.
Ella tersenyum misterius saat di dalam mobil. Dan Rio, melihatnya. "Senyum yang menakutkan." batin Rio.
"Elo nggak akan pernah bisa ngalahin gue. Ditya." ucap Ella menyeringai.
"Ngalahin." batin Rio. "Apa jangan-jangan, dia sengaja melakukannya." kata Rio dalam hati.
"Benar-benar tidak bisa di tebak." batin Rio, fokus mengemudi mobil.
Ditya tersadar, segera memandang ke arah mobil Ella yang melaju dengan cepat meninggalkannya.
Tanpa berkata apapun, Ditya masuk ke dalam mobil. Dengan tangan tetap memegang erat parfum yang di berikan oleh Ella. Tersenyum melihat botol parfum yang di pegangnya.
"Ke apartemen." pinta Ella memberitahu Rio.
"Baik." ucap Rio.
"Tunggu saja di sini. Aku akan masuk sendiri." ucap Ella. Rio membiarkan Ella masuk ke dalam apartemen seorang diri.
"Aaaahh,,,,, sudah lama gue nggak menghirup udara di sini." ucap Ella mendaratkan pantatnya di kursi ruang tamu.
Segera Ella pergi ke dapur. Membuka kulkas. Meski Ella sudah lama tidak tinggal di apartemen. Masih tersimpan beberapa minuman dingin di dalam lemari pendingin tersebut.
Ella berdiam diri. Terlihat sedang memikirkan sesuatu, dengan tangan memainkan air kemasan dalam botol. Dengan ekspresi datar, segera Ella menuju ke sebuah ruangan. Dimana ruangan tersebut adalah sebuah gudang. Dan didalamnya tidak ada kamera pengintai.
Ella menyibak sebuah kain berukuran sedang yang menutupi sebuah benda seperti komputer yang terlihat tidak terpakai. Bahkan komputer tersebut terlihat rusak.
Mengambil sebuah kursi berukuran sedang. Membersihkannya dari debu. Ella duduk di kursi tersebut, menyalakan komputer. Dan mulai menjalankannya.
Tringgg... terdengar suara aneh dari ruangan tersebut. Setelahnya, semua CCTV di apartemen yang Ella huni mati. Entah CCTV miliknya, ataupun milik orang lain.
Ella sengaja melakukannya, karena pasti Vano sudah menyadap CCTV di apartemen miliknya. Dan Ella, tidak ingin Vano mengetahui jika dirinya sedang mencari sesuatu.
Karena pasti Vano akan bertanya padanya. Dan Ella malas untuk menjelaskannya. Dirinya yakin jika Vano akan menegurnya. Menyuruhnya untuk tidak ikut campur masalah orang lain.
Ella memperlakukan waktu lebih dari satu jam untuk memeriksa ruangan di seluruh apartemen satu persatu.
"Tidak ada apa-apa." ucap Ella. Tidak bisa menemukan sesuatu yang janggal di dalam apartemen miliknya.
Tapi Ella yakin jika terjadi sesuatu di dalam apartemen miliknya. Dan semua menyangkut tentang Hana.
Ella kembali ke dalam gudang. Menyalakan kembali CCTV yang sempat dia matikan hingga lebih dari satu jam lamanya.
Ella mengambil rekaman CCTV di apartemennya. Dia mengambil rekaman saat terakhir dirinya mengunjungi apartemen, yaitu sebelum dia dan Vano menikah hingga sekarang.
"Sebaiknya gue lihat dari sini dulu." ucapnya memandang ke arah benda kecil di tangannya.
"Gue nggak peduli jika membutuhkan waktu lama. Setidaknya, rasa penasaran gue terobati." gumam Ella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vano baru saja menyelesaikan rapat dengan direksi perusahaan. Segera dirinya masuk ke dalam ruangan. Langsung membuka laptop.
Vano merasa resah saat tiba-tiba CCTV di apartemen Ella tidak bisa di akses olehnya. Padahal, sebelum mengikuti rapat, Vano masih bisa mengaksesnya.
"Sial." teriaknya, melepaskan emosi yang sudah berada di ubun-ubun. Setelah lebih dari setengah jam dirinya tetap tidak bisa membuka CCTV apartemen Ella untuk di tampilkan di layar laptopnya.
"Tuan." segera Reza masuk ke dalam ruangan Vano, saat sekertaris Vano menelponnya. Dan memberitahu jika atasan mereka berteriak dengan kata mengumpat.
"Lakukan." perintah Vano dengan mata menatap ke arah layar laptop.
Segera Reza mengambil laptop tersebut. Jarinya bergerak lincah di atas keyboard. Beberapa kali Reza menghembuskan nafas panjang.
"Anda saja tidak bisa. Bagaimana dengan saya." batin Reza mengeluh. Karena memang Vano lebih hebat dari pada Reza dalam semua bidang.
Jika tidak, mana mungkin Vano bisa menjadi atasan Reza. Bahkan juga di segani dan ditakuti banyak orang.
Dan Vano, segera menelpon Rio. Menanyakan keberadaan sang istri.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mengikutinya?" bentak Vano di ujung telepon. Saat Rio memberitahu jika Ella masuk sendiri ke dalam apartemen. Sementara dirinya menunggu di area parkiran.
"Bodoh." Vano mematikan ponselnya. Setelah mendengar Rio beralasan jika Ella tidak ingin jika dirinya mengikuti Ella.