
"Nona Ella." Reza bergegas masuk ke dalam kamar Ella tanpa mengetuk pintu karena mendengar suara seperti kaca pecah.
"Non Ella." Paman Haki dan beberapa orang juga berlari masuk ke dalam kamar Ella.
Tidak dengan Hana, meskipun kamarnya bersebelahan dengan kamar Ella, Hana seperti mati suri. Mungkin karena rasa lelah yang membuat Hana tidur pulas.
Ella menghadap ke cermin yang pecah dengan raut muka penuh amarah. Semua orang yang berada di dalam kamar merasa merinding melihat raut wajah Ella.
"Keluar." Ella berkata dengan penekanan tanpa membalikkan badan.
Semuanya keluar dari kamar Ella, kecuali Reza. Dia malah mendekat ke arah Ella.
"Nona Ella." Reza mendekat ke arah Ella.
Sejujurnya, Reza juga bingung harus melakukan apa. Dia sama sekali belum pernah berhadapan dengan yang namanya kaum hawa.
"Apa yang ada di benak Vano. Selama ini, aku bahkan tidak pernah marah padanya. Aku benar-benar mencintainya. Dia menghancurkan semuanya." air mata Ella yang sempat tertahan di pelupuk, sekarang meluncur jatuh ke pipi mulusnya.
Pundak Ella bergetar, Ella menangis. Reza mendekat ke arah Ella. Dia memberanikan diri mengelus bahu Ella.
"Apa tubuh yang sudah ku berikan padanya masih kurang. Apa waktu yang selalu dia inginkan saat bersama ku tidak ada artinya." Ella menangis lagi dan lagi.
"Non Ella." Reza membawa Ella dalam pelukannya. Mencoba menenangkan Ella.
"Jangan panggil Non jika berdua. Panggil saja Ella. Jika kamu benar-benar ingin berteman." Ella melepas pelukan Reza.
"Sebaiknya kamu tidur. Hana saja sudah tidur dari tadi." Reza tersenyum dan keluar dari kamar Ella.
Ella mengangguk dan berbaring di tempat tidur.
"Tidur yang nyenyak. Nggak usah berfikir yang aneh-aneh. Masih banyak yang sayang sama kamu." Reza lantas pergi dari kamar Ella.
"Laper. Semalam kan gue belum makan. Iisshh, gara-gara Vano." Ella langsung keluar dari kamar setelah pagi hari.
"Wanginya. Rasanya pasti enak." Ella berjalan menuju dapur.
"Kalian." Ella melihat Reza dan Hana sudah berada di dapur.
"Haus." ucap Ella manja dan duduk di kursi.
"Ini." Reza menyodorkan segelas air putih pada Ella.
"Elo bisa masak?" Reza mengangguk menjawab pertanyaan Ella.
"Jangan lupa Ell, gue juga bantu." Hana meletakkan nasi goreng di kardus-kardus tempat makan untuk di bagikan ke yang lain.
"Elo belum mandi."
"Belom Han, gue laper. Makanya langsung ke sini."
"Sumpah Ell, elo jorok banget. Elo juga nggak cuci muka."
"Nggak. Nggak kepikiran. Perut gue laper." Ella mengambil kardus yang sudah di isi nasi goreng dan memakannya dengan lahap.
"Ellaa...!" teriak Hana melihat tingkah absurd atasannya tersebut.
Ella tidak mempedulikan teriakan dari Hana. Dia terus melanjutkan makan. Reza tersenyum melihat kedua perempuan di depannya sedang berdebat.
"Kenyang. Gue mandi dulu." Ella meminum segelas air putih dan masuk kembali ke dalam kamar untuk mandi.
"..." Hana terbengong sambil geleng-geleng kepala melihat Ella yang melenggang pergi.
"Gemes banget kamu Ell." batin Reza tersenyum samar.
Setelah semua siap, mereka akan kembali lagi ke kota.
"Ini, siapa yang ambil." Ella melihat mobilnya sudah berada di depan rumah yang semalam dia tempati.
"Bos Reza." ucap seseorang.
__ADS_1
"Oo iya, dari semalam kenapa gue nggak nyadar sih. Reza ngapain di sini. Dan mereka, panggil Reza bos. Siapa mereka. Siapa Reza. Apa semuanya ada hubungannya dengan Vano. Apa yang mereka lakukan." batin Ella.
"Ell." panggil Hana menyadarkan Ella pada pemikirannya sendiri.
"Ayo naik." ajak Hana.
"Non Ella, Paman akan mengikuti di belakang mobil Non Ella bersama yang lain."
"Pa, bagaimana. Papa sudah bisa menghubungi Haki." Nyonya Ane merasa khawatir. Sejak semalam, beliau menunggu informasi tentang keadaan putrinya.
"Tenang ma. Papa percaya sama mereka." Tuan Haris melanjutkan sarapannya.
Tuan Haris sangat tahu cara kerja Paman Haki. Jika dia tidak mengirim seseorang pada Tuan Haris, bisa di pastikan tugas yang di berikan pada dirinya berjalan dengan lancar.
"Papa. Ella pa, Ella. Apa papa nggak mengkhawatirkan dia." Nyonya Ane meninggalkan meja makan dengan air mata di pipinya.
"Ma." Tuan Haris mengikuti Nyonya Ane.
"Ma, mereka baik-baik saja. Percaya sama papa." Tuan Haris memeluk istrinya. Mencoba menenangkan istrinya.
"Mama takut Pa. Mama takut jika kejadian waktu dulu terulang lagi. Bagaimana jika ada saingan bisnis papa yang ingin mencelakai Ella. Mama nggak mau putri mama kenapa-napa. Mama nggak mau." Nyonya Ane menangis di pelukan Tuan Haris.
Ponsel Nyonya Ane berdering. Panggilan telepon dari Ella tertera di layarnya. Nampak senyum sumringah terlihat di wajahnya. Segera beliau menjawab panggilan telepon tersebut.
ELLA ❤️👸 calling
Sayang, kamu baik-baik sajakan.
^^^Iya ma, Ella baik-baik saja.^^^
Syukurlah.
Mama khawatir sayang.
^^^Maaf ma, di sini nggak ada sinyal.^^^
^^^Di rumah teman Ella ma.^^^
^^^Sekarang Ella dalam perjalanan pulang.^^^
Baiklah.
Hati-hati sayang.
^^^Iya ma.^^^
Pulang ke rumah sayang.
Mama kangen.
^^^ya ma.^^^
"Bagaimana, Mama percayakan sama Papa. Ella baik-baik saja." Tuan Haris mengelus lembut rambut Nyonya Ane.
"Iya Pa. Mama lega sekarang."
"Ya sudah, papa bisa kan lanjut sarapan."
"Ya, mama juga mau sarapan lagi."
Ella satu mobil dengan Hana dan Reza. Hana dan Reza berada di depan, sementara Ella duduk di belakang. Reza selalu mencuri pandang pada Ella melalui kaca spion depan.
"Za, elo turunin gue di tikungan itu saja. Ntar gue naik taksi saja." pinta Hana.
"Nggak usah. Kita antar sampai rumah." ucap Ella.
"Kalian akan muter-muter nanti."
"Nggak apa-apa."
__ADS_1
"Pundak elo gimana Ell."
"Baik. Udah gue bilang, gue cuma keserempet dikit doang. Bukan masalah besar."
"Masalah lah Ell, elo model. Badan elo aset utama."
"Udahlah. Bentar lagi juga sembuh"
"Bekasnya putri Ella."
Bisa di samarkan dengan make up."
"Oke. Memang gue selalu kalah kalau debat sama elo." Hana memilih untuk diam. Ella tersenyum lepas melihat Hana dengan raut juteknya.
Hana melihat Ella yang sedang tertawa dari kaca spion di depannya.
"Gue seneng, elo bisa tertawa lepas Ell." Hana tersenyum samar.
"Benar-benar makhluk ciptaan Mu yang sangat cantik." batin Reza.
"Gue keluar dulu. Makasih udah nganterin gue." Han pamit pada Ella dan Reza.
"Za, jangan elo bukain pintu. Ntar nglunjak." Ella melet dengan kedua telapak tangannya berada di telinganya.
"Idihhh,,, nggak ngarep kalee...wleee." Hana membalas Ella dengan menjulurkan lidah.
"Da... Hati-hati." Hana melambaikan telapak tangan saat mobil Ella mulai berjalan lagi.
"Da....miss you." teriak Ella dengan mengeluarkan kepalanya di jendala mobil dan melambaikan telapak tangan.
"Aku datang." Ella maju ke kursi depan dengan melangkahkan kakinya.
"Hati-hati Ell" ucap Reza mulai membiasakan dirinya menyebut nama Ella.
"Pasti."
Ella mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Paman Huki.
"Paman, Paman dengan yang lain balik saja nggak apa-apa. Ella sudah dekat dengan rumah. Terimakasih paman. Bilang sama yang lain juga, terimakasih."
"Masuk dulu Za."
"Nggak usah Ell. Aku harus segera ketemu Tuan Vano." Reza menolak dengan sopan.
"Oke. Mobilnya kamu bawa saja dulu."
"Nggak perlu. Anak buah saya sudah menunggu." Ella melihat ke arah belakang. Ada sebuah mobil berwarna hitam mengikuti mereka.
"Non Ella." sapa satpam di rumah Tuan Haris. Ella dan Reza hanya tersenyum.
"Makasih Za."
"Aku balik dulu." Reza meninggalkan rumah Tuan Haris.
"Maaaaaa....!" teriak Ella membentangkan kedua tangannya.
"Kangen." Ella memeluk erat badan mamanya.
"Kamu, bikin mama khawatir saja." Nyonya Ane mencubit gemas pipi sang putri.
"Biar mama suruh mbok buat siapkan makan buat kamu."
"Nggak usah ma, Ella masih kenyang. Tadi Ella sarapan di rumah teman Ella." Ella merangkul pundak mamanya.
"Sayang, kamu sudah tahu apa belum. Mama..."
"Ma, biarkan Ella istirahat dulu. Kamu istirahat dulu. Pasti capek kan." Tuan Haris mengelus pelan rambut Ella.
"Ella ke kamar dulu. Soalnya nanti siang sudah ada janji sama seseorang." Ella mencium pipi mama dan papanya, lalu naik ke atas. Ke tempat kamarnya berada. Di lantai dua.
__ADS_1