
Ella menghubungi Vano, memberitahu pada suaminya jika saat ini dirinya masih berada di markas. Menyelesaikan masalah yang terjadi.
Beruntung Vano mau mengerti. Bahkan Vano menambah jumlah anak buahnya untuk berjaga di markas milik Ella. Dirinya khawatir jika musuh mengetahui kondisi markas. Sementara Ella masih berada di sana.
"Bangunkan mereka." pinta Ella untuk membangunkan keempat pengkhianat tersebut.
Byuuurrrrrr,,,,,, keempatnya lantas bangun dengan terkejut. Ella membiarkan mereka untuk sadar sepenuhnya. Sebelum membuat mereka pingsan lagi, mungkin.
"Apa kabar kalian?" tanya Ella dengan ramah, tersenyum pada keempatnya.
"Non,,, Non,, Nona Ella." keempatnya melihat Ella seperti melihat malaikat pencabut nyawa. Dan memang seharusnya mereka merasa takut melihat keberadaan Ella di depan mereka. Pengkhianat.
"Apa kalian tidak ingin menyapaku?" tanya Ella, seolah dirinya tidak sedang marah pada mereka.
"Maaf kan saya Nona." salah satu dari mereka merangkak dan berlutut di depan Ella.
"Tenang saja, aku sudah memaafkan kalian." ucap Ella dengan enteng. Membuat keempat pengkhianat tersebut saling pandang.
"Semudah itu. Tidak mungkin."
Seseorang dengan pakaian tertutup, bahkan wajah tertutup dengan masker masuk dan mendekat ke arah Ella. Dia menyerahkan beberapa lembar kertas pada bossnya tersebut.
Ella membaca lembar demi lembar. Setelah selesai, dia tersenyum menakutkan. Mengibas-ngibaskan kertas tersebut di depan wajahnya. Membuatnya seperti kipas.
"Aku punya kabar baik untuk kalian." ucap Ella, seakan dirinya sedang memberi hadiah pada pengkhianat tersebut.
"Bagikan." Ella menyerahkan pada anak buahnya yang berdiri di sampingnya.
Keempatnya mendapatkan satu lembar kertas. Bertuliskan nama anggota keluarga masing-masing. Dan juga catatan kesehatan.
"Ini." ucap seorang pengkhianat, memegang kertas tersebut dengan tangan bergetar.
Pandangan mereka teralih pada Ella yang sedang memperhatikan mereka satu persatu dengan raut wajah datar.
"Tenang saja, aku tidak akan mengambil nyawa kalian sekarang." kata Ella. Sepertinya Ella memnag tidak akan menyiksa mereka dengan menggunakan tangannya. Entah, apa yang akan dilakukan oleh Ella.
"Apa maksudnya ini." seru salah satu dari mereka, berdiri dengan salah satu kaki di balut perban. Melemparkan kertas tersebut pada Ella.
"Biarkan." kata Ella saat bawahan yang berada di sampingnya ingin memberi bogem pada dia.
"Mungkin ada yang bisa menjelaskan pada mereka. Arti selembar kertas tersebut. Aku sedang malas berbicara." ujar Ella santai. Bukankah sikap Ella sangat menyebalkan.
"Kalian ingin tahu. Cihhh,, Apakah uang yang kalian terima dari mereka menjadikan kalian bodoh." cela Doni. Salah satu anak buah Ella.
__ADS_1
"Bukankah di situ tertulis dengan jelas. Jika anggota keluarga kalian, juga sama seperti teman kalian. Di dalam tubuhnya terdapat racun." ujar Doni.
"Tidak mungkin. Kamu pasti berbohong." teriaknya.
"Nona,,, selamat anak dan istriku. Aku mohon."
"Bagaimana ini bisa terjadi. Mereka berkata akan melindungi kita. Bagaimana ini bisa terjadi." ucapnya tidak percaya.
"Nona,,, tolong kami. Kami akan melakukan apapun yang Nona minta." ucapnya memohon. Mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Tenang saja. Pasti aku akan menolong kalian." ucap Ella, berkata seolah-olah dia akan menjadi malaikat bersayap dan menolong mereka.
"Terimakasih Nona. Kami berjanji, tidak akan melakukan kesalahan yang sama." ucap salah satu dari mereka dengan senang.
Karena memang wajah Ella sama sekali tidak menampakkan wajah marah atau murka pada mereka.
"Bawa mereka. Tempatkan di ruangan terpisah yang sudah tersedia. Perlakukan mereka dengan baik." ucap Ella.
Dengan patuh mereka melangkahkan kaki mengikuti rekannya. Dan Ella tersenyum sembari mengikuti langkah mereka dari belakang.
Masing-masing di masukkan dalam jeruji besi. Terdapat satu tempat tidur, dan layar yang sedang menyala, tertempel di dinding.
"Nona.." seru mereka dari dalam, sepertinya mereka bingung.
"Kalian tidak akan kehilangan nyawa. Tinggal makan dan tidur. Semua akan di sajikan oleh chef handal di markas kita. Bukankah seperti layanan di hotel." ucap Ella berdiri di luar jeruji besi yang mengurung mereka.
"Ampun,, aku hampir lupa. Apakah kalian lihat, ada layar yang tertempel di dinding." ujar Ella. Membuat keempatnya melihat ke dinding. Dimana disana ada benda yang di sebutkan oleh Ella.
"Kalian pasti kenalkan, tempat apa itu?" tanya Ella.
"Seperti salah satu ruangan di rumahku." kata seorang yang berada di dalam jeruji besi.
prok,,.prok,, prok,,
"Tepat sekali." ucap Ella seraya bertepuk tangan.
"Matamu sungguh jeli." puji Ella.
"Kalian akan melihat anggota keluarga kalian dari layar tersebut. Baik bukan aku. Seharusnya, kalian berterimakasih denganku. Dengan begitu, kalian akan melihat anggota keluarga kalian setiap hari." jelas Ella.
Ella memang sengaja tidak menyiksa para pengkhianat tersebut. Tapi Ella akan membiarkan mereka menyaksikan anggota keluarganya mati karena racun di dalam tubuh mereka.
Ella juga tidak akan membantu keluarga mereka. Bahkan Ella juga tidak mengambil uang yang di berikan pihak musuh pada mereka. Sehingga mereka berkhianat.
__ADS_1
Karena Ella tahu. Sebanyak apapun uang yang mereka miliki, tidak akan bisa menyembuhkan anggota keluarga mereka. Karena setiap hari mereka akan terus mengkonsumsi racun tersebut. Dan pastinya, bukan pihak Ella yang memberikannya. Tapi pihak musuh.
Dan Ella sengaja memasang kamera pengintai. Bukan hanya supaya para pengkhianat tersebut melihat keluarganya meregang nyawa satu-persatu. Melainkan juga karena Ella ingin menyelidiki tentang siapa yang memberi racun tersebut.
Kenapa Ella tidak bertanya pada keempat bawahannya yang berkhianat. Karena Ella tahu, pasti mereka tidak akan tahu. Dan itu hanya akan membuang tenang dan waktu saja jika mereka di interogasi.
"Pastikan mereka tidak kabur dan tetap hidup." perintah Ella pada bawahannya yang bertugas menjaga mereka.
"Baik Nona."
"Ellaaaaa.... biadab kau. Aku yang berbuat salah. Jangan hukum mereka. Hukum saja aku." serunya meminta Ella tidak menyentuh anggota keluarganya.
"Aku. Menghukum mereka." Ella tertawa mendengar perkataannya.
"Hey, bahkan aku tidak pernah menyentuk keluargamu. Bagaimana aku mau menghukum mereka." sindir Ella.
"Itu karena ulah kalian. Kalian yang membawa keluarga kalian sendiri ke dalam rumah musuh. Kenapa malah menyalahkanku. Aneh." cibir Ella.
"Bukankah kamu bilang mau menolong keluargaku."
"Aku berubah pikiran. Kenapa aku mesti mengurusi keluarga kalian, para pengkhianat. Lagi pula pekerjaan ku masih banyak."
"Aku berjanji, tidak akan melaporkan kegiatan kita pada siapapun. Asal kamu mau menolong keluargaku." ucapnya, mencoba membuat tawaran pada Ella.
Ella maju. "Akkkkhhh." serunya dari dalam jeruji besi saat tangan Ella mencekiknya dari luar.
"Kamu pikir, kamu siapa. Berani membuat kesepakatan denganku. Bahkan kamu saja tidak tahu. Sampai kapan kamu akan bernafas." Ella melepaskan tangannya dari lehernya.
"Bagaimana?" tanya Ella saat seseorang masuk dan mendekat pada Ella.
"Sesuai perintah anda. Kami berhasil menemukan jenis racun tersebut." jelasnya.
"Baiklah." Ella mengangguk.
"Berikan pada mereka berempat setiap hari. Aku sangat penasaran dengan racun jenis baru tersebut." ucap Ella lirih.
Astaga. Ternyata Ella membiarkan mereka hidup bukan hanya untuk supaya mereka melihat keluarga mereka yang akan meninggal satu-persatu.
Ella juga menjadikan keempat pengkhianat tersebut sebagai kelinci percobaan. Bravo.
"Berikan apapun informasi yang kamu temukan setiap hari padaku. Dan lagi, suruh orangmu menyelidiki rumah paman Haki. Bawahanku tadi menyampaikan jika dia melihat waran merah, tapi bukan darah." jelas Ella.
Orang di samping Ella hanya mengangguk tanpa mengeluarkan perkataan. Ella meninggalkan ruang bawah tanah. Sementara terdengar keempat pengkhianat berteriak. Meminta tolong, bahkan ada yang mengumpat. Dan semua di tujukan pada Ella.
__ADS_1