
"Vano ingin mendapatkan hati Ella kembali. Tapi Vano tidak tahu bagaimana caranya ma." keluh Vano pada sang mama.
Nyonya Risma menatap putranya tersebut dengan tatapan tidak percaya. Kemana putranya dengan kesombongan dan kepercayaan diri yang sangat amat tinggi, yang selama ini mendarah daging pada diri Vano.
"Ma." seru Vano. Dirinya merasa kesal, karena Nyonya Risma malah terdiam dengan menatapnya.
"Ha,,,ha,,,ha,,,ha,,,"
Tawa Nyonya Risma pecah. Beliau sudah tidak kuat menahan suara tawa dari dalam mulutnya.
Merasa kesal dengan tingkah sang mama, Vano beranjak dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan ruangan mamanya.
Nyonya Risma yang melihat putranya ngambek segera menghentikannya. "Eh eh eh. Mau kemana? Putra mama kayak anak kecil saja. Pake acara merajuk." Nyonya Risma kembali membawa putranya duduk.
"Apa ma." Vano geram melihat mamanya malah menatapnya. Vano memalingkan wajah. Merasa kesal pada perempuan yang telah melahirkannya, karena beliau malah tertawa mendengar perkataannya.
Nyonya Risma menggenggam tangan putranya. "Cerita sama mama." ucapnya dengan lembut.
Vano berdiri, berjalan ke meja kerja mamanya. Melihat dua foto bingkai yang di pajang oleh sang mama di atas meja kerja. Satu foto Nyonya Risma bersama suami tercinta. Dan yang satu foto Vano bersama Ella.
Vano mengangkat pigura yang berisi fotonya dan Ella. "Vano pikir, selama ini Vano sudah membahagiakan Ella. Vano memberikan uang setiap bulan padanya. Ternyata dia sama sekali tidak memakainya."
Vano menaruh kembali pigura di tangannya. Berbalik menghadap sang mama. "Vano memang bermain dengan banyak wanita di luar. Tapi Vano tidak pernah menggunakan perasaan Vano saat bersama mereka. Kenapa Ella mesti marah. Dan mempermasalahkan hal tersebut." sungut Vano.
Vano menjeda perkataannya. "Ella selalu menuruti setiap perkataan Vano. Dia tidak pernah membantah Vano. Sekarang, sejak dia mengenal Egi, dia menjadi pembangkang." ucapnya dengan nada menahan amarah.
Nyonya Risma menghela nafas kasar. Dia sendiri juga heran dengan pemikiran Vano. "Van, mama akan mengajukan beberapa pertanyaan sama kamu. Oke."
"Kamu setiap bulan memberi uang pada Ella?" tanya Nyonya Risma.
"Sudah pasti ma."
"Ella Putri Subagyo. Dia seorang model profesional. Pasti kamu tahu berapa uang yang di terima dari pekerjaannya. Dan lagi,,, dirinya putri tunggal dari Tuan Haris. Tidak mungkin jika Tuan Haris tidak memberinya uang setiap bulan. Kamu mengerti maksud mama."
Vano menyenderkan pantatnya ke meja kerja Nyonya Risma. "Dia sama sekali tidak, tidak membutuhkan sumbangan uang dari kamu." imbuhnya.
"Sumbangan. Vano tidak menyumbang." dengus Vano.
"Mama paham maksud kamu. Tapi Ella tidak memerlukan uang."
"Setiap perempuan yang mendekati Vano pasti karena uang ma." kilah Vano.
"Tidak untuk Ella. Dia bukan wanita murahan, yang mendekati lelaki karena uang." kesal Nyonya Risma.
"Kamu tahu, apa yang Ella butuhkan? Perhatian kamu. Kasih sayang kamu. Bukan uang." imbuhnya.
"Sekarang mama mau tanya. Seandainya, seandainya kamu melihat Ella berdua dengan seseorang lelaki..."
__ADS_1
Belum sempat Nyonya Risma menyelesaikan pertanyaan, Vano mengatakan kalimat yang sangat menjengkelkan untuk sang mama. "Akan aku bunuh. Siapapun itu." tegasnya.
"Astaga, kamu kira nyawa orang itu semut." seru Nyonya Risma.
Sang mama tidak tahu saja, jika putra yang sangat di sayangnya sudah membuat banyak orang kehilangan nyawanya.
"Jika seperti itu cara kamu, mama pastikan Ella akan semakin menjauh dari kamu." geram Nyonya Risma.
"Dan kami tahu kenapa, Ella selalu menuruti setiap perkataan mu?"
"Karena Ella mencintai Vano." jawabnya sombong dan tersenyum angkuh.
"Betul." ujar sang mama.
"Dan kamu tahu kenapa, sekarang Ella menjauhi kamu. Bahkan meminta putus dari kamu?"
"Karena pengaruh dari Egi." jawab Vano dengan pasti.
"Dan mungkin, karena sahabatnya." imbuhnya lirih.
"Ella bukan perempuan yang tidak punya pendirian. Dia bukan perempuan yang dengan mudah terpengaruh omongan orang." kata Nyonya Risma.
Nyonya Risma mencoba setenang mungkin menghadapi putranya. Beliau tahu betul watak dari putranya tersebut. "Van, apa kamu benar-benar mencintai Ella. Bukan cuma memanfaatkan sesuatu yang ada pada dirinya?"
Seketika Vano menatap serius ke arah mamanya. Vano tahu betul apa maksud dari pertanyaan yang di lontarkan mamanya.
"Pikirkan dengan baik-baik. Jika kamu hanya memanfaatkannya, mama orang pertama yang akan menentang dan menghalangi hubungan kalian. Ella perempuan baik. Mama sudah mengenalnya dari kecil."
"Vano juga tidak tahu. Semenjak Ella menjauh dari Vano, ada sesuatu yang aneh pada hidup Vano. Pikiran Vano terus mengarah pada Ella. Ada rasa hampa saat Ella mencoba mengacuhkan Vano." jelas Vano.
Tergambar jelas di raut wajah Vano saat mengatakan hal tersebut, ada rasa sedih dan juga kehilangan.
Nyonya Risma menyimpulkan jika anaknya memang mencintai Ella. Tapi dia tidak tahu cara mengungkapkannya. Dan juga anaknya tersebut terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Dekati Ella. Raih hatinya. Dapatkan kembali hati Ella. Ingat, jangan melakukan hal yang aneh-aneh." saran Nyonya Risma. Beliau teringat saat Vano baru saja berkata akan membunuh siapapun.
"Beri Ella perhatian. Buat dia senyaman mungkin sama kamu."
Vano memandang mamanya dengan tatapan aneh. Dia mungkin saja bingung dengan saran Nyonya Risma tentang memberi perhatian pada Ella dan membuat Ella nyaman dengan dirinya.
"Bagaimana caranya." batin Vano. Untuk seseorang seperti Vano, hal seperti itu pasti akan sulit di lakukan.
"Beri dia bunga. Ajak jalan-jalan, tapi sama kamu. Belikan dia perhiasan. Ajak makan bersama. Yang terpenting kamu harus benar-benar berubah."
"Apa gue bisa." gumam Vano.
Nyonya Risma mendengar kalimat yang Vano ucapkan pada dirinya sendiri. "Bisa. Asal kamu serius dan sungguh-sungguh. Dan ingat, jangan cepat emosi. Harus sabar. Apalagi dari dulu kamu tidak pernah memberikan perhatian pada Ella."
__ADS_1
"Jangan sampai kamu keduluan sama yang lain. Gerak cepat. Ingat. Sat set sat set." ucap Nyonya Risma sembari menggerakkan tangannya ke kanan kiri.
*
*
"Kerja bagus. Ini imbalannya." ucap seseorang melemparkan sebuah amplop coklat tebal pada orang di depannya.
Diambilnya amplop tersebut dan sedikit di buka. "Terimakasih." ucapnya sedikit menundukkan badan.
Dia pergi dari sebuah ruangan, saat seseorang yang memberinya uang dalam jumlah banyak mengibaskan tangannya. "Muaacchh." di ciumnya amplop tersebut, dan di masukkan ke dalam tas.
Sementara, orang yang berada di dalama ruangan memanggil orang suruhannya. "Sebarkan ini. Dan jangan lupa buat judul yang sangat menggemaskan. Perselingkuhan model kelas atas. Atau apalah. Yang terpenting buat seheboh mungkin." ujarnya memberikan amplop coklat yang berisi foto Ella dan Denis.
"Baik."
"Imbalan akan gue berikan jika kerjaan elo berjalan baik. Dan pastinya memuaskan buat gue."
"Baik." ucapnya dengan tangan mengambil amplop coklat berisi foto dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Setelah ini, gue yakin. Vano akan meninggalkan kamu. Dan karir kamu akan hancur. Pasti kamu akan lebih terpuruk. Lebih terpuruk dari seseorang yang sudah kamu buat hancur hidupnya. Ella, ini masih permulaan." ucapnya dengan menyeringai.
Dirinya berharap, dengan beredarnya foto Ella dan Denis, Ella akan di tinggalkan Vano. Terlebih, jika Vano tidak terima jika Ella sudah menduakan nya. Pasti Vano tidak terima, dan tidak akan membiarkan Ella hidup dengan baik.
Astaga,,, memang penjahat amatir. Dirinya benar-benar tidak tahu. Bukan Ella yang berada dalam bahaya. Melainkan dirinya. 🤫🤫
*
*
Pagi hari, ponsel Ella tidak berhenti berbunyi. Entah itu panggilan telepon dari seseorang, ataupun pesan yang dikirim seseorang untuknya. Dengan malas, tangan Ella meraba ponsel di sampingnya berbaring.
Dengan masih dalam keadaan tengkurap, Ella megambil ponsel dan melihat keadaan ponsel yang sedari tadi mengganggu kenyamanan tidurnya.
Belum sempat Ella membuka mata untuk melihat layar ponselnya, Hana sudah terlebih dulu masuk kedalam kamar Ella dan menghampirinya dengan wajah khawatir.
"Elll,,,, bangun. Cepat. Kamu harus lihat sesuatu." Hana menggoyang tubuh Ella.
"Hannnn..." seru Ella merasa terganggu dengan kedatangan Hana.
"Makanya bangun." ucap Hana tak kalah ngegas.
*****
Tunggu..... Vano 🤔🤔🤔
Bisa nggak seorang seperti Vano melakukan hal seperti yang di sarankan Nyonya Risma.
__ADS_1
Atau malah, dia melakukan sesuatu yang menurutnya lebih mudah.
Author benar-benar nggak bisa nebak. Apa yang ada di dalam pikiran lelaki tampan satu ini. 😌😌