
Motor Ella berhenti saat di depannya ada mobil yang juga tengah menghentikan lajunya. Seorang lelaki keluar dari dalam mobil dengan menatap tajam ke arah Ella.
Beberapa orang juga keluar dari dalam mobil di belakangnya. Mengikuti atasan mereka. Vano. Lelaki yang satu bulan terakhir menjadi suami dari Ella.
Ella masih berada di atas motor sportnya. Dengan helm masih berada di kepala. "Seksi." batin Rio. Yang tidak mengetahui siapa dibalik helm tersebut. Dia hanya melihat bentuk tubuh dari sang pengemudi.
"Huhh... So hot." ucap Rio lirih, menggelengkan kepala. Membayangkan sesuatu yang indah di benaknya.
"Apa sudah puas acara kaburnya?" tanya Vano dingin.
Ella membuka helmnya. Menampilkan wajah cantiknya. "Nyonya." gumam salah satu bawahan Vano. Terdengar di telinga Rio.
"Nyonya." batin Rio, spontan mata langsung melebar.
"Jangan bilang dia Ella. Model seksi istri Tuan. ****... kenapa lebih cantik aslinya, dari pada di majalah." batin Rio.
"Jaketku kotor." ucap Ella saat mata Vano menatapnya dengan tatapan intens. Sepertinya Ella tahu kenapa Vano menatapnya. Vano melepas jas yang dia kenakan.
"Turun." perintah Vano. Ella turun dari motornya. Vano mendekat ke arah Ella.
"Lepas dulu ranselnya." ucap Vano, membantu Ella melepas ransel yang berada di punggungnya. Menyerahkan pada bawahannya. Dan di taruh di dalam bagasi. Kemudian memakaikan jasnya pada tubuh sang istri.
"Motorku." cicit Ella saat lengannya di tarik Vano menuju ke mobil.
"Ada mereka." ucap Vano, menyuruh Ella masuk ke dalam mobil.
"Kalian selidiki hutannya." ucap Vano sebelum masuk ke dalam mobil.
Vano masuk ke dalam mobil. Duduk di sebelah Ella. Dengan Rio berada di balik kemudi.
Sebagian bawahan Vano masih berada di hutan tersebut. Melaksanakan perintah dari atasan mereka. Menyusuri hutan. Mencari sesuatu yang bisa mereka laporkan pada atasan mereka.
Suasana hening saat keduanya berada di dalam mobil menuju ke kediaman mereka. Ella sibuk memainkan ponselnya.
Dirinya membalas beberapa pesan dari orang terdekatnya. Mengabarkan jika dirinya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.
Dengan sarung tangan masih membungkus rapi telapak tangannya. Hingga Vano pun merasa heran. Dan melihat ke arah telapak tangan sang istri. Tapi dia enggan untuk bertanya.
Sesekali, Rio mencuri pandang ke arah Ella lewat kaca spion di depannya. "Fokuslah menyetir, jika tidak ingin kehilangan kedua matamu." ucap Vano dingin, membuat Rio menelan ludah kasar.
Dirinya seperti maling yang tertangkap basah karena kedapatan mencuri. "Mampus gue." batin Rio.
"Di mana Reza?" tanya Ella dengan tatapan mata masih fokus ke layar ponsel.
Ella menengok ke arah Vano, karena suaminya hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan Ella. Vano malah menatap ke depan dengan ekspresi datar. Seperti acuh akan kehadiran Ella di sampingnya.
"Jangan menguji batas kesabaran ku Ell.." geram Vano, mengetahui jika sang istri hendak menelpon asistennya. Reza.
"Baru saja bertemu, kenapa malah menanyakan lelaki lain." batin Vano.
"Masa gue nanya elo. Elonya ada di sini." batin Ella.
"Berhenti." teriak Ella.
Entah kenapa sekarang Ella cepat tersulut emosi. Padahal sewaktu masih berpacaran dengan Vano, Ella lah yang selalu mengalah dan bersabar atas semua sikap yang Vano berikan pada Ella.
Setttzz.... Rio menghentikan mobilnya dengan cepat. Ella menatap tajam ke arah Vano. Keluar dari dalam mobil.
Brakkk.... menutup kasar pintu mobil. Ella menarik nafas dan mengeluarkan perlahan. Mencoba untuk meredam emosinya.
"Dia bisa. Kenapa gue tidak." ucap Ella dalam hati saat teringat dengan Ditya yang dengan mudah menguasai emosinya sendiri.
"Tapi sulit." geram Ella menghentakkan kaki ke tanah... Vano masih di dalam mobil, memandangi istrinya yang berada di luar mobil.
Mengernyitkan dahi, merasa heran dengan tingkah sang istri. Tapi entah mengapa bibir Vano tersenyum melihat tingkah Ella, yang menurutnya lucu.
"Gue butuh pelampiasan. No Ella, no. Bukan seperti itu. Elo nggak bisa seperti itu terus saat elo sedang emosi." ucap Ella lirih pada dirinya sendiri. Menyugar rambutnya kasar. Hingga tali rambut yang dia kenakan terlepas.
Memperlihatkan rambut panjang yang indah tergerai. Dengan warna kemerah-merahan. Sebisa mungkin Rio menahan rasa inginnya, melihat ke arah Ella.
"Fokus ke depan. Fokus." batin Rio, tidak ingin mendapat masalah di hari pertama kembali ke negara ini.
Di dalam mobil, ekor mata Rio melihat ke arah kaca spion. Melihat Vano malah terdiam, tetap duduk dan mengamati Ella dari dalam.
Ella memejamkan matanya. Entah kenapa Ella malah mengingat Ditya. Mengingat saat Ditya mencoba menguasai emosinya.
Ella melakukan seperti yang Ditya lakukan. Memejamkan mata beberapa saat. Meski agak lama, tidak seperti Ditya yang hanya sebentar memejamkan mata. Tapi setidaknya, Ella sudah mencoba.
"Tunggu." Ella membuka kedua matanya. "Nggak mungkinkan Ditya cuma memejamkan mata. Pasti ada sesuatu saat dia memejamkan mata." ucap Ella mencoba mencari sesuatu saat Ditya memejamkan mata untuk menguasai emosinya.
Ella kembali masuk ke dalam mobil. Duduk di samping Vano. "Kenapa gue malah mikirin caranya Ditya melakukan semuanya." batin Ella.
"Jalan." pinta Vano. Rio pun melajukan kembali mobilnya.
Ekor mata Vano melirik ke arah Ella yang diam dengan tatapan mata memandang lurus ke depan. Seperti sedang memandang ke arah yang jauh. Dan memikirkan sesuatu.
__ADS_1
Ella memegang rahangnya. Menggerakkan jari telunjuknya di pipi. Sekarang Ella benar-benar merasa penasaran dengan cara Ditya meredam emosinya.
"Ehh." ucap Ella tersenyum. Membuat Vano menyatukan alisnya. Melihat perubahan emosi Ella yang cepat berubah.
"Sekarang emosi gue slow. Nggak kepingin marah." batin Ella.
"Apa....mungkin caranya seperti itu." batin Ella, mendapat jawaban dari masalahnya.
"Bisa saja. Lain kali akan aku coba lagi." batin Ella.
Keduanya tak saling bertegur saat berada di dalam mobil. Hanya sesekali Vano mencuri pandang ke arah Ella.
Dan Ella, malah sibuk memandang sisi jalan selama mereka melewati hutan. Mata Ella memandang pohon cemara yang berjejer rapi di tepi jalan. Seperti sedang berbaris.
"Tolong, kurangi kecepatan." ucap Ella dengan nada lembut.
"Baik." ucap Rio.
Ella membuka kaca jendela. Menaruh tangannya tepat di atas kaca yang terlebih dahulu dia turunkan. Memandang keluar dengan tersenyum.
Vano, masih diam. Tidak berkata sepatah katapun. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Padahal Ella sudah berada di dekatnya.
Ella tersenyum saat wajahnya terkena air gerimis dari luar. Dengan segera, Ella melepaskan sarung tangan yang sedari tadi melekat di telapak tangannya.
Mata Vano melebar sempurna melihat punggung jari-jari sang istri. Dimana punggung jari Ella penuh luka. Dan semua terlihat sangat jelas.
Saat Vano ingin mengambil tangan Ella, sang istri terlebih dahulu mengeluarkan tangannya. Merasakan air gerimis membasahi tangannya.
Membiarkan hembusan angin membawa air untuk mengenai wajahnya. Ella memejamkan mata. "Terasa nyaman dan aman." batinnya dengan mata masih terpejam.
"Ehh.." ucap Ella terkejut saat tubuhnya ditarik ke belakang. Vano menutup kembali kaca jendela mobil.
"Di luar hujannya semakin deras. Nanti kamu malah sakit." ucap Vano lembut.
Ella diam saat tangan Vano merangkul pundaknya. Dengan sebelah tangannya mengusap wajah sang istri yang basah karena terkena air.
"Matikan AC nya." ucap Vano saat melihat pundak Ella bergidik. Bahkan tangan Ella juga mulai dingin.
Vano membawa tangan Ella dan meniup-niupnya. Tanpa mengusapnya. Karena dirinya tahu jika telapak tangan sang istri terluka.
"Bagaimana bisa terluka seperti ini?" tanya Vano dengan tetap meniup-niup telapak tangan Ella.
"Pasti sakit." imbuhnya. Ella hanya memandang sang suami tanpa ekspresi di wajahnya.
"Kenapa?" tanya Vano.
Membawa Ella dalam pelukannya. Kepala Vano di letakkan di atas kepala Ella. Benar saja, tidak lama Ella sudah bernafas teratur dan masuk ke dalam mimpi.
Vano menepuk-nepuk pelan pundak Ella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditya juga segera pergi setelah Ella melajukan sepeda motornya untuk meninggalkan hutan.
Sementara di hutan, seperti yang di perintahkan atasannya. Bawahan Vano menyusuri hutan untuk menemukan sesuatu. Tapi sayangnya, mereka tidak menemukan apa-apa kecuali bekas pembakaran Ella. Tidak ada yang lain.
Mereka memutuskan untuk meninggalkan hutan. Dan memberitahu Vano lewat pesan tertulis.
BERSIH. Hanya satu kata yang di kirimkan pada Vano.
Dengan senyum merekah, Ditya masuk ke dalam kediamannya. "Malam ini siapkan makan malam. Aku akan turun setelah waktunya makan malam." ucap Ditya pada salah satu pembantu di rumahnya.
"Baik Tuan." ucapnya dengan tetap menundukkan kepala.
"Ada apa dengan Tuan?" batinnya, melihat Ditya dengan senyum mengembang di bibir. Menaiki tangga untuk menuju ke dalam kamarnya.
Dari balik tembok, seorang perempuan meremas kain lap yang sedang di pegangnya. "Ditya." geramnya lirih.
Di belahan dunia lain, seseorang sedang sibuk mengurus sang mama. Karena hari ini, Oma Yeti akan pulang. Kondisi beliau sudah stabil. Dan dokter memperbolehkan beliau untuk pulang.
"Untuk sementara Mama akan tinggal di rumahku dulu." ucap Nyonya Risma merapikan rambut sang mama.
"Dengan begitu Risma akan mudah merawat mama." imbuh Nyonya Risma.
"Ada Lena dan pembantu di rumah." tolak Oma Yeti.
"Tidak ada penolakan. Risma tidak percaya dengan mereka." bantah Nyonya Risma.
"Mereka bisa di andalkan. Apalagi Lena." kekeh Oma Yeti.
"Jika begitu, kenapa mama sampai sakit?" tanya Nyonya Risma. Sungguh, beliau sangat tidak suka saat sang mama menyebut dan memuji Lena.
"Ingat ma, mama jangan terlalu baik dengan Lena. Dia orang luar. Tidak ada ikatan darah dengan kita." tegas Nyonya Rahma.
"Bisa saja tanpa ikatan darah kita akan saling menyayangi." cicit Oma Yeti.
__ADS_1
"Memang itu bisa terjadi. Tapi sangat jarang." Nyonya Risma bersikap lunak, dirinya tidak ingin tinggal di rumah sakit terlalu lama.
"Mama harus mengingat tujuan mama mengangkat Lena menjadi asisten mama. Meskipun dia tidak mempunyai kemampuan apapun." ucap Nyonya Risma.
Oma Yeti hanya diam, beliau tidak bisa berkata apapun. Karena memang sang anak mengatakan kebenaran.
"Jika mama merasa bersalah. Dan ingin bertanggung jawab atas kematian ayah Lena, seharusnya mama membuat Lena menjadi perempuan yang berguna." ucap Nyonya Risma.
"Bukan menjadi parasit." imbuh Nyonya Risma.
Setelah di usir dari rumah Vano, Lena tinggal di rumahnya sendiri. Setiap hari hanya bertengkar dengan ibunya.
Lantaran Lena hanya makan dan tidur. Hidup seperti tuan putri. Sementara ibunya terus bekerja. Dasar anak laknat.
Tapi Lena juga tidak berani mengadu pada Oma Yeti jika dirinya di usir dari rumah Vano. Takut jika kesehatan Oma Yeti malah akan memburuk kembali.
Dan jika keadaan Oma Yeti kembali memburuk, berarti Oma Yeti akan lebih lama di rumah sakit. Artinya dirinya akan lebih lama tinggal bersama ibunya yang menurutnya sangat cerewet.
Terpaksa Lena berbohong pada Oma Yeti jika dirinya tidak ingin tinggal di rumah Vano, lantaran dirinya tidak kerasan tinggal di sana.
Kenapa tidak tinggal di rumah Oma Yeti?
Karena Nyonya Risma sudah berpesan pada semua pekerja di rumah Oma Yeti, untuk tidak membiarkan Lena memasuki rumah Oma Yeti selama Oma berada di luar negeri untuk berobat.
"Sudah selesai Ma?" tanya Tuan Danto yang baru saja masuk.
"Papa dari mana?" tanya Nyonya Risma.
"Ada telepon dari rekan bisnis." jawab Tuan Danto.
Semuanya lantas segera bersiap untuk kembali ke negara kelahiran mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ella masih memejamkan mata. Padahal sekarang mobil sudah memasuki halaman rumahnya yang luas.
"Apa semalam kamu nggak tidur?" tanya Vano lirih sambil mencium pucuk kepala Ella.
"Maaf Tuan, biar saya yang menggendong Nyonya." tawar Rio.
"Maaf." ucap Rio, saat mata Vano memandang tajam ke arah Rio.
"Gue cuma menawarkan kebaikan hati. Ya sudah kalau nggak mau." batin Rio. Padahal dalam hati kecil Rio ingin sekali melihat wajah sang model dari dekat.
Dengan pelan, Vano menggendong tubuh Ella untuk masuk ke dalam rumah. Sebenarnya Ella sudah bangun, dan juga dirinya tahu jika Vano menggendong dirinya.
Hanya saja, Ella marasa malas untuk membuka mata. Dirinya malah mengalungkan tangannya di leher sang suami dan membenamkan kepalanya di dada Vano.
Vano hanya tersenyum melihat tingkah sang istri. Vano juga tahu jika Ella sudah bangun. Tapi Vano tidak mempermasalahkan sikap manja dari Ella.
"Setelah ini, aku akan bertanya tentang semuanya. Maaf, jika semalam aku terlalu emosi." batin Vano.
"Sediakan makan malam. Antarkan ke kamar." ucap Vano saat berpapasan dengan bibik.
"Nyonya baik-baik sajakan Tuan?" tanya Bibik khawatir, melihat sang Nyonya di gendong oleh suaminya, dengan mata terpejam.
"Syukurlah." ucap Bibik saat Vano mengangguk.
Segera bibik ke dapur dan menyiapkan makan malam. "Nyonya kenapa?" tanya rekannya.
"Kata Tuan baik-baik saja." ucap Bibik dengan tangan menyiapkan makanan untuk majikannya.
"Lebih baik kamu bantu saya. Cepat." ucap Bibik.
Sedang menyiapkan makan malam, telepon yang ada di dapur berbunyi. Telepon tersebut terhubung dengan kamar milik Vano dan Ella.
Segera seorang pembantu di rumah Vano mengangkatnya. "Baik Tuan." ucapnya, segera mengembalikan telepon ke tempatnya.
"Ada apa?" tanya rekan kerjanya.
"Nggak tahu, disuruh ke kamar sekarang."
"Ya sudah, cepat sana." ucap Bibik, membuat rekan kerjanya segera melangkahkan kakinya untuk menuju kamar utama.
"Ada apa Tuan?" tanyanya setelah masuk ke dalam kamar Vano. Jujur, ada perasan takut berhadapan dengan majikannya tersebut.
"Mbak, bersihkan kamar mandi. Saya dan suami saya akan memakai kamar sebelah." ucap Ella.
"Baik Nyonya."
"Bilang sama Bibik untuk mengantar makanan ke kamar sebelah." imbuh Ella.
"Baik Nyonya."
Vano dan Ella keluar dari kamar, sedangkan pembantu tersebut segera masuk ke dalam kamar mandi. Mata melotot dan mulut menganga melihat keadaan kamar mandi.
__ADS_1
Pecahan kaca berserakan di lantai, dengan beberapa bekas titik-titik darah menempel di pecahan kaca, tembok, serta lantai.