DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 55


__ADS_3

"Ganti bajumu. Nanti kamu sakit." Ella menuntun Egi ke dalam kamarnya.


"Ini kamarnya bukan sih." batin Ella.


Ella tidak tahu mana kamar Egi. Dirinya hanya asal menebak. Karena ini kali pertama Ella berkunjung ke apartemen milik Egi.


Keadaan kamarnya tidak kalah kacau dengan keadaan ruang tamu dan ruang tengah apartemen.


Egi hanya diam dan masuk ke dalam kamar mandi. "Keadaan macam apa ini." gumam Ella.


"Kenapa gue harus berada dalam situasi seperti ini. Jadi bingung harus ngapain." Ella melihat isi kamar Egi.


Almari. Yap, Ella mencari tempat Egi meletakkan pakaian. "Gue lancang apa nggak ya." Ella dengan ragu-ragu membuka almari Egi.


Masih terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Yang menandakan Egi masih membersihkan badannya di dalam.


"Semoga dia nggak marah." Ella meletakkan pakaian ganti untuk Egi beserta **********.


Jangan bilang Ella sudah terbiasa. Bukan terbiasa, tapi pernah melakukan. Ella pernah menyiapkan pakaian ganti untuk Vano saat dirinya berada di apartemen Vano.


"Dari pada gue diam. Malah terlihat nggak enak juga." ucap Ella sembari memunguti barang-barang yang berserakan di lantai.


"Gue taruh elo di sini. Kalau salah, minta izin pindah saja sama yang punya apartemen." Ella berbicara sendiri sambil menaruh barang sesuka Ella.


Karena Ella sendiri juga tidak tahu harus di taruh di mana barang-barang tersebut.


"Ini pasti mahal. Kasihan banget sih kamu. Pecah." Ella mengelus barang tersebut.


Egi tersenyum di ambang pintu melihat tingkah Ella yang lucu karena sedari tadi berbicara sendiri dengan barang-barang yang ia punguti di lantai.


Ella membalikkan badan. "Eh,, sudah selesai." Ella tampak salah tingkah melihat Egi yang hanya memakai handuk yang melilit di pinggang.


Ella memang sering melihat tubuh kekar milik Vano. Dan itu sudah biasa menurut Ella. Tapi entah kenapa, melihat tubuh Egi membuat dirinya salah tingkah. Mungkin karena Ella tidak pernah melihat tubuh lelaki lain secara langsung selain milik Vano.


"Maaf, saya lancang." Ella menaruh barang yang di pegangannya di atas meja.


"Tidak apa-apa." ucap Egi.


Ella menengok ke kanan dan kiri. Seperti bingung apalagi yang harus dia lakukan. Arau lebih tepatnya, kalimat apa yang akan dia ucapkan.


"Itu. Maaf. Pakaian ganti buat kamu. Maaf, tadi anu,,, saya lancang." ucap Ella merasa gugup dan tidak enak pada Egi.


Egi melihat pakaian yang telah Ella siapkan di tepi ranjang. "Sepertinya kamu sudah terbiasa." Egi masih menatap pakaian yang di siapkan Ella dengan tatapan datar.


"Terbiasa." batin Ella mengikuti arah pandangan mata Egi.


"Saya keluar dulu." ucap Ella meninggalkan kamar Egi.


Diluar ruangan Ella mendaratkan pantatnya di kursi empuk. "Terbiasa." gumam Ella kembali mengingat perkataan Egi.


Ella tersenyum kecut. "Salah elo juga, ngapain sok perhatian sama Egi. Kalian nggak sedekat itu. Elo itu jadi perempuan bego banget sih Ell." Ella menggigit bibirnya.


"Elo kenapa sih kalau bertindak nggak mikir-mikir dulu. Padahal gue tadi ragu-ragu. Tapi kenapa gue lakuin. Ccckk." Ella merasa geram dengan dirinya sendiri.


"Lebih baik gue pergi saja. Jangan jadi perempuan nggak tahu diri Ell." batin Ella mengutuk dirinya sendiri.


Serba salah. Itulah yang sekarang Ella rasakan. Salah bertindak. Salah berucap.


Keadaan seperti apa yang sekarang sedang Ella alami. Padahal Ella sama sekali tidak tahu jika penyebab Egi seperti ini karena dirinya dan Vano.


Beberapa kali Ella menoleh ke arah kamar Egi. Tapi sepertinya Egi masih tidak juga membuka pintunya.

__ADS_1


Sementara di dalam kamar, Egi tampak menyesal karena telah mengeluarkan perkataan yang seharusnya tidak dia keluarkan dari dalam mulutnya.


"Bodoh. Kenapa mulut ini mengeluarkan perkataan seperti itu." gumam Egi.


"Ella." Egi segera merapikan pakaiannya dan bergegas keluar dari kamar.


Ternyata benar dugaan Egi. Hampir saja terlambat. Ella sudah melangkahkan kaki. Hendak meninggalkan apartemen. "Ell, mau ke mana?" tanya Egi.


Ella membalikkan badan. "Pulang." jawab Ella singkat.


Beberapa detik mereka saling pandang dalam diam. Hingga suara Egi membuyarkan keduanya. "Tetaplah di sini. Sebentar saja." pinta Egi.


Dengan ragu Ella melangkahkan kakinya mendekat ke arah Egi. "Terimakasih." ucap Egi.


"Kamu duduk dulu. Biar aku buatkan minum." ucap Egi.


Ella pun duduk kembali ke kursi. Tak lama kemudian, Egi datang membawa dua buah cangkir berisi kopi.


"Di minum. Ini kopi racikan sendiri. Kamu pasti suka." ucapnya.


"Tangan kamu?" tanya Ella melihat luka di tangan Egi.


"Tidak apa-apa."


"Di mana kotak obatnya, biar aku obati."


"Tidak perlu Ell, nanti juga sembuh. Ini cuma luka ringan."


Ella hanya diam. Dia tidak bisa memaksa Egi, jika Egi memang tidak mau. "Sudahlah, biarkan saja. Yang penting gue udah nawarin." batin Ella.


"Maaf, soal kekacauan ini." Egi memandang lurus ke depan.


"Tidak apa-apa. Enak. Harum. Tapi panas." Ella menyeruput kopinya.


"Perlu bantuan. Mungkin." ucap Ella dengan hati-hati.


"Tidak perlu. Besok akan ada orang yang membersihkannya." ucap Egi.


"Sial. Gue tadi kan belum makan. Mana minum kopi lagi. Perih perih deh perut gue." Ella sedikit menoleh ke samping dan meringis. Takut jika Egi melihatnya.


"Kenapa Ell?" Egi melihat Ella memegang perutnya.


"Nggak. Nggak kenapa napa."


"Masa jujur sih. Malu lah. Ntar saja. Gue habisin kopinya terus pulang. Terus beli makan di jalan aja." batin Ella.


"Kamu suka ya?" tanya Egi karena Ella meminum kopinya secara cepat.


Ella tersenyum nyengir, menunjukkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Suka pala elo. Gue nggak pernah minum kopi." batin Ella.


"Eg, aku pulang dulu ya. Bentar lagi gelap. Astaga." Ella memegang dadanya kaget karena suara petir.


"Kamu takut petir?" tanya Egi.


"Nggak. Cuma kaget. Datangnya tiba-tiba." jawab Ella.


Egi tersenyum mendengar jawaban Ella yang menurutnya lucu. "Masa harus pamit dulu sih El." ucap Egi.


"Iya juga sih. Kan petir." Ella masih memegang dadanya karena terkejut.


"Hujannya deras Ell. Pulang nanti saja. Kabari orang rumah. Bahaya berkendara saat hujan seperti ini." ucap Egi mencari alasan.

__ADS_1


Sebenarnya Egi bisa saja mengantar Ella pulang. Tapi Egi enggan untuk mengucapkannya. Karena dia ingin lebih lama bersama Ella.


"Iya sih. Mana tadi aku bawa motor." Ella memandang jendela.


"Kamu naik motor?"


Ella hanya mengangguk tanpa melihat ke arah Egi. Matanya masih menatap ke arah jendela dengan bibir cemberut.


Egi memandang ke arah Ella. "Kamu nggak suka ya berada di sini?" tanya Egi.


"Bukannya nggak suka. Aku laper." Ella segera menutup mulutnya.


Ella memejamkan mata dan mengalihkan pandangan. "Kenapa sih ini mulut nggak bisa di kontrol. Tapi emang gua laper." batin Ella.


Egi tersenyum melihat tingkah Ella. Menurutnya Ella sangat menggemaskan. Egi mengacak pelan rambut Ella. "Kenapa nggak bilang dari tadi. Sebentar. Aku masak dulu." Egi berdiri dan berjalan menuju dapur.


Dan,,,, beruntungnya, dapur masih aman. Karena sewaktu melampiaskan amarahnya, Egi tidak pergi ke dapur.


Ella mengikuti Egi dari belakang. "Kamu bisa masak?" tanya Ella penasaran dan merapikan rambutnya.


"Sedikit." Egi mulai memakai celemeknya.


"Kamu tunggu saja di sana." ucap Egi sembari mengarahkan pandangan mata ke ruang makan.


"Nggak. Aku di sini saja. Lihat kamu."


"Tapi jangan ganggu ya."


"Iihh,, memang aku anak kecil."


Egi tertawa mendengar jawaban Ella. Egi dengan cekatan memainkan peralatan dapur. Dan sesekali dia berjalan ke arah kulkas, membukanya, dan mengambil sesuatu dari dalam kulkas.


"Kalau butuh bantuan, bilang saja." ucap Ella.


"Tidak usah. Kamu duduk manis di situ saja." Egi memandang ke arah Ella yang sedang duduk dengan menyangga kepalanya.


"Ya sudah. Yang penting aku sudah menawarkan bantuan. Ntar dikira aku malas." oceh Ella. Pandangan Ella fokus pada Egi.


*****


Jangan bilang Ella mulai tersepona, eh terpesona sama Egi. Waduh berabe.


Elll pleaseee,,, jangan buat author pusing dong.


Katanya masih cinta sama Vano.


Kenapa bisa begini. 😓😓


Masa cuma lihat perut peck-peck sama lihat Egi bisa masak saja langsung meleleh...


Meleleh,,, emang plastik kena api, meleleh. 😊😊


*****


Jangan mencari pasangan yang baik menurutmu.


Tapi carilah pasangan yang mau memperjuangkanmu.


Karena dia yang mau memperjuangkanmu,


akan selalu berusaha menjadi yang lebih baik.

__ADS_1


Supaya bisa terus bersama dengan dirimu.


__ADS_2