
Eghhhh..... terdengar suara lenguhan dan gerakan kecil untuk merenggangkan otot dari Ella. Dengan pelan, Ella mulai membuka matanya pelan. Mengumpulkan kesadarannya setelah bagun dari tidurnya.
Senyumnya merekah saat melihat Vano sudah dalam keadaan rapi duduk di pinggir ranjang tempat tidurnya.
Memandang penuh cinta pada dirinya.
Vano mencium tangan Ella. "Bangun sayang, sudah siang. Sejak tadi ponselmu berdering." Ella memindahkan kepalanya di atas paha Vano.
"Aku tidak berani mengangkat, mama yang menelponmu." Vano membelai lembut pipi Ella.
Ella tertawa lirih mendengar perkataan Vano. Karena Ella memang tidak meminta izin jika dirinya tidak pulang malam tadi. "Pasti sekarang mama sedang mengerucutkan bibirnya."
"Kamu, ternyata nakal juga." Vano mengambil ponsel Ella dan menyerahkan pada pemiliknya.
"Hubungi mama sekarang. Takutnya beliau akan melapor pada polisi, karena putri tercintanya hilang, padahal sebentar lagi akan menikah." kelakar Vano.
"Pasti mama meneror Hana." ucap Ella mulai menghubungi sang mama.
Vano mengalihkan pandangan saat mendengar Ella menyebut nama Hana. Entah kenapa ada perasaan takut pada dirinya. Takut jika Hana menceritakan semuanya pada Hana.
"Halo ma." ucap Ella setelah panggilan teleponnya terhubung dengan sang mama.
Ella menjauhkan ponselnya dari telinga dan menyipitkan kedua matanya saat Nyonya Ane mengeluarkan suara petirnya.
"Iya ma, maaf. Ella semalam menginap di apartemen. Ella sangat capek. Ella ketiduran. Maaf, lupa memberitahu mama."
Ella memutar matanya jengah saat sang mama mulai mengeluarkan khutbah istemewa padanya.
"Baik mama. Ella mau mandi dulu." Ella segera menutup teleponnya sebelum sang mama mengeluarkan perkataannya yang panjang kali lebar. Yang pastinya akan membuat telinga Ella melebar seketika.
"Kamu kenapa berbohong." tanya Vano.
"Berbohong di bagian mana?" Ella malah balik bertanya pada Vano. Ella duduk bersila di hadapan Vano.
"Aku tidak berbohong sayang. Bukankah aku bilang pada mama jika tidur di apartemen. Inikan apartemen. Hanya saja aku tidak menyebutkan jika di apartemen milikmu. Lagi pula mama juga tidak bertanya. Jadi, calon istrimu bukan pembohong." Ella menjawil hidung Vano.
"Pintar sekali calon istri Tuan Vano" Vano menggigit gemas pundak Ella. Membuat Ella terjingkat karena kaget.
"Van,, kamu itu. Memang kamu vampir." oceh Ella.
"Vampir tampan."
"Nggak lucu." Ella turun dari tempat tidurnya dan segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ponsel Vano berdering. "Reza." batin Vano. Segera Vano mengangkat panggilan telepon dari Reza.
"Temui aku di markas nanti siang." Vano menutup panggilan telepon dari Reza.
Pagi tadi, setelah membersihkan badan Vano memberi pesan pada Reza jika ada pekerjaan penting untuknya. Dan menyuruhnya untuk segera kembali ke kota. Meskipun pekerjaan Reza di luar kota belum selesai.
"Vano." Ella yang sudah terlihat segar mencari keberadaan Vano.
__ADS_1
"Di sini sayang." teriak Vano.
Ella mencari suara Vano. Ternyata Vano berada di meja makan. Menyiapkan sarapan untuk mereka. "Silahkan duduk." Vano mempersilahkan Ella dengan menggeser kursinya ke belakang.
"Sebentar lagi kita akan melakukannya setiap hari." Vano memeluk Ella dari belakang dan mencium pucuk kepalanya.
"Kelihatannya sangat enak."
"Pasti. Inikan aku pesan di restoran langganan kita." ucap Vano lirih di samping telinga Ella.
"Benarkah."
"Selamat makan."
"Ehhh,, Van." Ella terkejut ketika Vano melayani dirinya. Mengambilkan makanan di piringnya.
"Tidak apa-apa sayang. Aku ingin memanjakan calon istriku." ucapnya dengan tangan masih mengisi piring Ella dengan berbagai makanan.
"Stop Van." seru Ella melihat banyaknya makanan yang terdapat di atas piringnya.
"Biar kamu lebih berisi." ujar Vano tidak mengindahkan perkataan Ella.
"Vano!! Aku tidak kurus. Aku seksi. Mana ada model yang memiliki badan besar. Bisa-bisa aku tidak laku."
"Tidak masalah jika kamu tidak laku. Lagi pula uangku tidak akan habis hanya untuk menyenangkan perempuan yang aku cinta." ucap Vano.
"Jika kamu tidak bekerja pun aku tidak masalah. Biar aku yang bekerja mencari uang. Dan kamu, yang akan menghabiskannya. Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena menggunakan seluruh uangku." imbuh Vano.
"Astaga, perutku sudah kenyang. Padahal sesuap pun aku belum memasukkan makanan ke dalam mulut." ucap Ella.
"Aaa,,,, ayo buka mulutmu sayang." Vano mulai menyuapi Ella. Tapi Ella masih menutup mulutnya.
"Tidak apa-apa sayang, kemarin kamu yang suapi aku, sekarang gantian." Vano kembali mengangkat tangannya yang memegang sendok berisi makanan.
Ella akhirnya membuka mulutnya. Menerima suapan demi suapan dari Vano. "Padahal makanan ini sering aku makan. Tapi kenapa rasanya berbeda." ucap Ella.
"Karena aku yang menyuapi kamu sayang." ujar Vano dengan mata genitnya.
"Jika begitu aku ingin setiap hari kamu melakukannya untukku. Bagaimana?" tanya Ella.
"Boleh juga. Ini akan jadi pekerjaan terbaru seorang Vano." jawaban Vano membuat Ella melongo. Padahal Ella hanya bercanda.
"Tapi semua tidak gratis sayang." ucap Vano masih menyuapi Ella.
"Apppa." tanya Ella dengan mulut penuh dengan makanan.
"Buat aku senang di atas ranjang." Ella membungkam mulutnya. Takut jika makanan yang berada di mulutnya menyembur keluar. Vano terkekeh melihat tingkah Ella.
Dengan terus berbincang, dan Ella selalu membuka mulutnya setiap Vano mengarahkan sendok berisi makanan pada dirinya.
"Kamu nggak sarapan Van?" tanya Ella. Karena dia tidak melihat Vano menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Astaga Vanoo." teriak Ella menyadari makanan di atas piringnya telah bersih tak tersisa.
"Anak pintar." Vano mengusap rambut Ella seperti anak kecil.
"Bagaimana jika berat badanku bertambah." keluh Ella.
"Vano,, kamu jahat. Bagaimana jika baju pengantinnya tidak muat di badanku." rajuk Ella.
"Sayang, mana mungkin hanya makan banyak sekali berat badanmu langsung bertambah. Mustahil." gemas Vano mencubit pipi Ella.
"Vano...." rajuk Ella kembali.
Vano malah terkekeh geli melihat bibir Ella yang mengerucut. Vano memajukan wajahnya dan cup. Vano mencium singkat bibir Ella.
"Vanoooo" seru Ella. Tapi Vano malah ngacir dan pergi meninggalkan Ella.
Ella tersenyum saat Vano sudah tidak berada di dekatnya. Ella memegang dadanya. "Van, semoga sikapmu tidak akan pernah berubah sayang." batin Ella.
"Sayang, aku ada pekerjaan penting. Apa kamu tidak apa-apa aku tinggal?"
"Iya sayang. Pergilah. Lagi pula setelah ini aku ada janji dengan Hana."
"Hana." gumam Vano. Ella memandang ke arah Vano. Ella menyadari raut wajah Vano berubah. "Ada apa?" tanya Ella.
"Tidak, aku harus segera pergi. Kamu hati-hati. Aku pergi dulu. Maaf, tidak bisa mengantarkan kamu."
"Tidak masalah."
"Kenapa gue merasa Vano bertingkah sedikit aneh mendengar aku menyebut nama Hana. Aissshh. Mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin Vano banyak pikiran. Pekerjaannya masih banyak. Apalagi hari pernikahan kami sebentar lagi." ucap Ella setelah Vano meninggalkan apartemennya.
"Kemana lagi si Hana." ucap Ella kesal karena Hana tidak kunjung menjawab panggilan telepon darinya.
"Semalam Vano. Sekarang Hana. Hebat sekali kalian berdua. Membuatku kesal." Ella mematikan ponselnya dan memasukkan ke dalam tasnya.
Ella meninggalkan apartemen Vano. Di dalam taksi yang di tumpanginya, Ella kembali mencoba menghubungi Hana. Tapi tetap saja. Hana tidak menjawab panggilan telepon darinya.
"Kemana sebenarnya Hana. Awas saja jika ternyata dia sedang bermesraan dengan Denis. Awas saja." kesal Ella.
Tidak lama, ponsel Ella berbunyi. Ella membuka ponselnya. Ternyata pesan tertulis dari Hana.
MAAF ELL, GUE SEDANG TIDAK ENAK BADAN.
"Sakit apa Hana, kemarin masih baik-baik saja." batin Ella. Sebenarnya Ella ingin menjenguk Hana. Tapi karena dirinya ada pekerjaan yang harus di selesaikannya. Ella mengurungkan niatnya.
"Setelah pekerjaan selesai, gue akan melihat Hana." batin Ella merasa khawatir dengan keadaan asistennya tersebut.
*****
Hallooo kakkkk.... terimakasih sudah selalu setia mendukung othor sampai sekarang.
Jangan bosan-bosan untuk selalu memberi semangat pada othor.
__ADS_1
Jangan lupa mawar... 🌹 dan kopinya... ☕
Sampai bertemu di bab selanjutnya.... 😘😘😘