
"Biarkan saja Ella istirahat Ma. Nanti saja di beritahu. Lagi pula Vano juga pasti sudah ngasih tahu." Nyonya Ane mengangguk mendengar perkataan Tuan Haris.
"Papa nggak ngantor?"
"Ini mau ganti baju dulu. Baru deh berangkat."
Nyonya Ane melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Beliau melihat Tuan Haris dan melengos ke arah lain.
"Papa pemilik perusahaannya Ma, terserah Papa mau berangkat jam berapa. Mau kerja apa nggak. Kan Papa sudah punya karyawan. Papa gaji mereka mahal Ma. Buat apa coba." ucap Tuan Haris dengan gaya sombong.
"Iihhh sombongnya." Nyonya Ane mencubit pelan lengan suaminya.
"Semoga Ella bisa merasakan hal yang sama seperti kalian." Dari atas, Ella melihat interaksi kedua orang tuanya yang terlihat bahagia meski sudah berumur.
LOVE calling...
"Vano." gumam Ella melihat layar ponselnya menyala.
Diletakkan saja ponselnya di atas meja. Ella masih malas berbicara dengan Vano.
"Bagaimana kabar tante Risma." batin Ella.
"Gue tanya ke siapa. Vano, ehhh malas banget dengar suaranya. Reza, pasti sekarang lagi dengan Vano. Om Darto. Aaa,,, Sudahlah lebih baik gue tidur. Masa bodo dengan mereka semua." Ella mengambil guling dan memejamkan matanya.
"Ella, beraninya dia mengacuhkan ku." Vano tampak kesal karena beberapa panggilan telepon darinya selalu di abaikan oleh Ella.
"Masuk" ucap Vano mendengar suara ketukan di pintu ruangannya.
"Tuan, semuanya sudah beres." lapor Reza.
"Hem." Vano bahkan masih tetap memandang layar ponselnya.
"Maaf Tuan. Di depan meja sekretaris...."
"Sekretaris baru." Vano memotong perkataan Reza.
"Kalau begitu, saya permisi Tuan." Reza sedikit menundukkan kepalanya dan keluar dari ruangan Vano.
"Tunggu. Apa ada yang ingin kamu sampaikan." Vano berdiri dan duduk di meja kerjanya bagian depan.
"Tugas kemarin sudah selesai. Meskipun ada kendala, tapi semuanya masih dapat di kendalikan."
"Selain itu." Vano menatap pada Reza.
"Mak-maksud Tuan." Vano berdiri dan memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Apa perlu saya bertanya lagi." Vano semakin mendekat ke tempat Reza.
"Saya menemukan Nona Ella dan Hana berada di sana." Vano masih menatap tajam ke arah Reza.
"Mereka sempat terlibat dalam kekacauan. Tapi semua bisa kami atasi. Saya mengantarkan Hana dan Nona Ella pulang ke rumah masing-masing." Reza menundukkan kepalanya.
"Jangan pernah menyembunyikan apapun dari saya. Tanpa kamu berbicara, saya pasti akan tahu. Jangan mencoba bermain-main dengan saya." Vano berdiri tepat di depan Reza dengan raut wajah dingin.
"Maaf Tuan. Maafkan saya." Reza membungkukkan setengah badannya.
"Keluar." Reza berjalan meninggalkan ruangan Vano.
"Dari mana Tuan Vano bisa tahu. Secepat itu." batin Reza.
"Bodoh kamu Reza. Meskipun kamu menyuruh mereka bungkam. Mereka tidak akan bungkam. Bahkan mereka rela mati untuk Tuannya." kata Reza dalam hati.
__ADS_1
Lena berdiri dan sedikit menundukkan kepalanya saat Reza keluar dari ruangan Vano.
"Aku bukan bos di sini." Reza kembali ke ruangannya.
"Lebih enak jadi asisten Oma dari pada di sini. Semuanya tampak menyeramkan. Lagian kenapa sih Oma nyuruh aku kerja disini." gumam Lena merasa jengkel.
Lena, anak dari orang yang sudah menyelamatkan nyawa Oma Yeti. Untuk menolong Oma Yeti, ayah Lena bahkan sampai kehilangan nyawanya. Oleh karena itu, Oma sangat menyayangi Lena, yang kini hidup berdua dengan ibunya.
"Masuk." Vano mendengar ketukan pintu dari luar ruangan.
"Tuan, ini ada berkas yang harus anda tanda tangani." Lena menyodorkan beberapa berkas pada Vano dengan jantung berdebar.
"Sumpah, rasanya seperti menunggu nilai kelulusan sekolah." batin Lena.
Ponsel Vano berdering. Ternyata Oma Yeti menghubungi dirinya.
''Baik Oma."
"Nanti pulang langsung ke rumah sakit. Tunggu aku di parkiran." Vano memberikan berkas yang sudah di tanda tangani pada Lena kembali.
"Baik Tuan. Saya permisi dulu."
"Ah,, hu,, Sumpah. Tangan gue sampai keringetan." Lena duduk di kursinya dengan lemas sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
"Kenapa sih oma pake nyuruh saya pulang bareng Tuan Vano. Nggak tahu apa, rasanya semobil sama Tuan Vano."
"Ella sayang, bangun. Di bawah sudah ada Hana. Katanya kamu ada janjian sama seseorang." Nyonya Ane membangunkan putrinya yang sedang terlelap.
"Iya ma, suruh Hana tunggu sebentar. Ella bersih-bersih dulu." Ella bangun dan berjalan dengan malas menuju kamar mandi.
"Ella, Ella. Bagaimana jika kamu sudah menikah dengan Vano. Semoga Vano bisa menyayangi kamu nak. Pasti rumah akan sepi kalau kamu nanti ikut Vano." Nyonya Ane merapikan tempat tidur Ella.
"Mama." Ella mengambil pakaian yang telah di siapkan oleh mamanya dan memakainya dengan senyum mengembang di bibir.
Ella tidak ingin mamanya kecewa karena pakaian yang sudah beliau siapkan tidak di pakai. Lagi pula Ella juga menyukai pakaian yang di pilihkan oleh Nyonya Ane.
"Sayang, maaf. Tuan putri baru saja tidur." Ella berteriak dari tangga saat Hana memandang ke arah dirinya.
"Cantiknya anak mama." Nyonya Ane merentangkan kedua tangannya.
"Makasih ma." Ella memeluk badan Nyonya Ane.
"Kalian berdua hati-hati ya. Nggak usah nginep-nginep lagi di rumah teman. Mama khawatir."
Hana melirik ke arah Ella. Dia tahu jika Ella sudah membohongi mamanya.
"Iya ma."
"Han, kalau Ella ngerepotin kamu tinggal saja."
"Beres ma." ucap Hana mengangkat telapak tangannya di dekat dahi. Persisi seperti sedang melakukan hormat pada sesuatu.
Hana sudah lama memanggil Nyonya Ane dengan sebutan Mama. Begitu juga dengan Tuan Haris. Dia memanggilnya Papa.
"Kamu tuh. Aku tinggal beneran nangis." Ella mencubit pipi Hana.
"Mama." Han mengadu pada Nyonya Ane dengan raut muka di buat-buat.
"Kalian berdua itu. Sudah sana berangkat."
Ella dan Hana mencium pipi Nyonya Ane dan berangkat menuju butik Nyonya Tiwi untuk mencoba busana yang akan di kenakan Ella pada peragaan busana.
__ADS_1
"Vano nggak hubungi kamu?" tanya Hana di balik kemudi.
Hana pergi ke rumah Ella menaiki taksi. Karena mobil Hana di pakai adiknya untuk kuliah. Sebenarnya Ella akan membelikannya mobil. Tapi Hana menolak.
Ella juga menyuruh Hana memakai mobil miliknya. Tapi Hana juga jarang memakainya. Alasannya karena dia tidak begitu membutuhkannya. Padahal menurut Ella, Hana sangat membutuhkan mobil.
"Iya."
"Terus."
"Gue biarin. Nggak gue angkat. Males gue denger suaranya."
"Ntar jadi, jenguk tante Risma."
"Kita lihat saja nanti."
Hana melirik ke arah Ella, tampak raut muka Ella sangat datar. Sudah tidak seperti kemarin. Saat membicarakan Vano, pasti akan keluar air mata.
"Bagaimana. Menutut kalian apa yang kurang?" Nyonya Tiwi melihat Ella menggunakan gaun yang di desain oleh dirinya sendiri.
Beruntung, gaun yang akan di pakai oleh Ella tertutup. Jadi Ella dan Hana tidak pusing memikirkan beberapa luka di tubuh Ella.
"Gimana Han. Menutur aku sih ini Tante. Kurang gini." Ella mengambil dan melipat bagian gaun yang ia sedang pakai.
"Iya. Menurutku juga gitu sih." Hana melihat penampilan Ella dengan manggut-manggut.
Ella mencoba beberapa gaun yang akan ia kenakan. Dan Nyonya Tiwi selalu bertanya tentang kekurangan gaun tersebut. Ada yang perlu di tambah, ada pula yang sudah pas sesuai ukuran badan Ella.
"Tante seneng kerja sama kalian." ucap Nyonya Tiwi.
"Kita juga senang kok Tan."
"Kalian tunggu sebentar ya. Anak tante katanya mau datang. Mau tante kenalin sama kalian."
Nyonya Tiwi sengaja menyuruh Egi untuk menjemputnya di butik. Awalnya Egi tidak mau. Tapi dengan berbagai alasan, Egi menuruti permintaan mamanya.
"Saya ganti baju dulu Tan."
"Silahkan." Ella menuju ruang ganti untuk mengganti gaunnya dengan pakaiannya sendiri yang tadi sempat dia pakai.
"Ma." Egi langsung masuk ke ruangan Nyonya Tiwi tanpa mengetuk pintu.
"Sayang, sini dulu. Mama masih ada tamu." Egi mendekat ke arah mamanya dan melihat Hana.
"Mama. Sudah gue tebak. Ujung-ujungnya di kenalin sama perempuan." batin Egi.
"Kenalin dia anak tante yang paaaaling tampan." Nyonya Tiwi memegang pundak Egi.
"Namanya Egi." Nyonya Tiwi memperkenalkan pada Hana.
"Hana." Hana mengulurkan tangannya.
Egi menyambutnya tanpa menyebut namanya dan segera melepas tautan tangannya pada Hana. Dan langsung membuang muka.
"Maaf ya nak Hana. Anak tante memang sedikit cuek. Tapi aslinya baik kok." Nyonya Tiwi mencubit lengan Egi.
"Jam berapa mama pulang." Egi hanya mengelus lengan bekas cubitan mamanya.
"Sebentar dong sayang. Masih ada model mama di dalam. Masih ganti baju. Kamu duduk dulu." Nyonya Tiwi memegang lengan Egi dan membawanya untuk duduk di sofa.
"Tampan sih. Kelakuan sama kayak Vano. Jutek abis. Sombong kalah sama dia." batin Hana.
__ADS_1