
"Kalian jaga dia, jangan sampai lepas. Aku tidak ingin kehilangan dia." perintah Ella pada keempat bawahannya.
"Baik." ucap mereka serempak.
Dengan mudah Ella dapat mengambil Jo dari dalam rumah mewah tersebut. Menurut bawahannya, Jo sedang menikmati makan malam dengan santai, saat dirinya dan seorang rekannya ingin melumpuhkan dia.
Tidak ada perlawanan sama sekali dari Jo. Hanya terlihat dia seperti terkejut, sebelum di setrum dengan alat kecil yang di gunakan bawahan Ella untuk membuatnya tertidur.
Padahal di luar sedang ada keributan. Tapi sepertinya Jo tidak terpengaruh. "Dasar, manusia sampah. Entah apa yang elo punya. Sehingga papa menuruti semua keinginan elo." batin Ella melihat Jo tang sedang tidak sadarkan diri.
"Tapi setelah ini, rasa nikmat hidup di dunia akan elo terima." gumam Ella tersenyum jahat.
"Tugas kalian hanya menjaga Jo. Untuk yang lain, biar menjadi urusanku." ucap Ella.
"Baik."
Ella pergi meninggalkan rumah di tengah hutan tersebut. "Cari tahu tentang Jo. Semuanya." ucap Ella di ujung ponselnya. Menyuruh seseorang untuk menggali informasi mengenai Jo.
Ella menaiki mobil miliknya, yang memang sengaja di tinggalkan di tempat tersebut sebelumnya. Mobil Ella melaju pelan memasuki pekarangan rumah.
"Apa Tuan sudah pulang?" tanya Ella pada satpam di rumah.
"Sudah Nyonya." ucapnya.
Ella masuk ke dalam kamar, di sambut tatapan tajam dari Vano yang tengah duduk dengan menyilangkan kakinya.
Tampak Ella hanya acuh dengan tatapan dari sang suami. Melepas jaket, memasukkan ke dalam tempat pakaian kotor.
Melihat respon dari Vano, Ella yakin jika sang suami tahu apa yang di lakukan oleh Ella.
Kembali berjalan ke ranjang besar miliknya. Duduk di tepi, dengan tangan melepas sepatu yang berada di kakinya.
Vano tampak menggenggam erat tangannya, hingga kukunya berubah warna. Melihat Ella hanya diam tanpa berkata atau menjelaskan sesuatu pada dirinya.
"Apa tidak ada yang ingin kamu sampaikan?" seru Vano, menghentikan gerakan tangan Ella.
Ella membuang nafas kasar, melanjutkan untuk melepas sepatunya. "Apa yang ingin kamu dengar?" Ella berjalan ke sudut kamar. Meletakkan sepatunya di sana.
"Jangan menguji kesabaranku Ell.." geram Vano yang sudah berdiri di belakang Ella.
Ella dengan tenang membalikkan badan. Menarik hidung mancungnya dengan pelan, memejamkan mata sebentar.
"Aku ingin membersihkan badan." Ella mendorong tubuh Vano di depannya.
Dengan erat Vano mencengkeram lengan Ella. Membuat langkah Ella terhenti. Ella memejamkan mata sebentar, menahan rasa sakit karenanya.
Dengan kasar, Vano menarik tubuh Ella. Mencengkeram dagu Ella dengan kuat menggunakan tangannya yang bebas.
"Aku tidak suka mempunyai istri pembangkang." dengan kasar, Vano melepaskan cengkeramannya. Dan mendorong Ella hingga tubuh sang model menabrak meja di belakangnya.
Ella terlihat tenang, menahan rasa sakit tersebut. Dengan perasan kacau, Vano meninggalkan kamar mereka. Entah, apa sebenarnya yang di permasalahkan oleh Vano.
__ADS_1
Brakkkk.... Vano menutup dengan keras pintu kamar. Ella masuk ke dalam kamar mandi, melihat dengan jelas warna merah pada lengan dan rahang miliknya.
Tangan Ella terulur memegang tubuhnya bagian belakang. Tepatnya di atas pantat. Terasa sedikit perih bercampur ngilu.
Ella melepaskan semua kain yang melekat pada tubuhnya. Memasukkan sabun cair ke dalamnya. Berjongkok di depan bak mandi, dengan pelan jari lentiknya menggoyang-goyang air di dalamnya.
Menghela nafas panjang berkali-kali, masuk ke dalam bak mandi yang sudah penuh dengan air. Menenggelamkan seluruh badannya, menyisakan kepala yang bersandar.
Pertengkaran yang Ella sendiri tidak tahu penyebabnya. Padahal Ella akan menjelaskan semuanya pada Vano setelah membersihkan badan.
Merasa pikirannya lebih tenang dengan aroma terapi yang dihirupnya di dalam kamar mandi, Ella memutuskan untuk menyudahi berendamnya. Membilas badannya di bawah guyuran air shower.
Ella mengambil salep di laci. Mengoleskannya di lengan dan rahang. Tak lupa jarinya meraba bagian belakang tubuhnya yang terasa sakit, dioleskan juga salep di sana.
Entah apa yang ada di dalam benak Ella. Dirinya hanya diam. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Bahkan air mata juga tidak ada.
Hanya diam sendiri di dalam kamar yang sekarang lampunya telah dia matikan. Menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tuan, ini ponsel anda." seorang pembantu memberikan ponsel pada Tuan Haris.
"Syukurlah. Di mana kamu menemukannya?" tanya Nyonya Ane antusias.
"Di dalam ruang kerja Tuan Haris. Di rak buku." jelasnya dengan sopan.
"Terimakasih. Kamu boleh kembali." ucap Nyonya Ane.
"Tunggu." ujar Tuan Haris menghentikan langkah pembantu tersebut.
"Apa kamu yang melayani kami saat makan malam tadi?" tanya Tuan Haris, membuat sang istri merasa bingung dengan pertanyaan suaminya.
Tapi Nyonya Ane hanya diam, beliau menangkap raut wajah Tuan Haris yang berbeda. Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran dari Tuan Haris.
"Bukan Tuan, saya tadi pergi ke apotik. Membelikan obat untuk Nyonya." ucapnya.
"Iya pa." ujar Nyonya Ane. Pembantu tersebut meninggalkan Tuan Haris dan Nyonya Ane saat Nyonya Ane memberi isyarat dengan gerakan tangannya.
Rahang Tuan Haris mengeras dengan pandangan mengarah ke layar ponsel.
TUAN, JO DI CULIK.
Pesan singkat dari bawahannya yang mampu membuat darahnya mendidih.
"Pa..!!" seru Nyonya Ane, segera berdiri dan mengejar suaminya ke dalam kamar.
"Pa, mau kemana?" tanya Nyonya Ane saat sang suami memakai jaketnya.
"Papa ada urusan." ucap Tuan Haris. Mencium singkat pipi sang istri dan berlalu meninggalkan Nyonya Ane.
"Tuhan, lindungi suamiku." gumam Nyonya Ane, melihat suaminya dengan tergesa meninggalkan rumah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan Vano,,,
Sekarang dirinya berada di bar. Dengan botol wisky dan gelas terisi penuh wisky di depannya. Matanya memandang lurus ke depan.
Di mana perempuan dan lelaki berbaur menjadi satu. Menggerakkan badan mereka mengikuti dentuman musik yang memecah telinga.
"Tuan Vano, lama tidak melihat anda." seorang perempuan dengan pakaian terbuka menghampiri Vano. Duduk di sampingnya.
Awalnya dia ragu saat ingin mendekati Vano yang sedang duduk seorang diri. Lantaran Vano sudah mempunyai istri. Ella.
Siapa yang tidak mengenal istri dari seorang Vano. Cantik dan seksi. Pasti untuk kebutuhan ranjang, Vano sudah terpuaskan.
Namun dirinya menangkap raut wajah Vano yang terlihat sedang bermasalah. Hingga dengan mengandalkan keberuntungan, dirinya berani mendekati Vano.
"Menjadi selingkuhannya. Tidak buruk." batin perempuan tersebut. Yang terpenting dirinya akan mendapatkan kepuasan lahir dan batin dari seorang Vano. Itulah yang ada dalam benaknya.
Mengambilkan segelas wisky yang sudah berada di depan Vano, memberikannya pada Vano. Tangan Vano mengambil gelas tersebut. Meneguknya dengan sekali teguk.
"Kelihatannya perasaan anda sedang buruk." tebaknya, dengan sedikit menggeser badannya untuk lebih menempel pada Vano.
Tangan perempuan tersebut bermain di paha Vano. "Izinkan aku untuk mengobatinya." ucapnya lirih di samping telinga Vano. Menempelkan dadanya yang besar di lengan kekar milik pengusaha tampan tersebut.
Melihat Vano terdiam dan memejamkan mata, perempuan tersebut lantas memberanikan diri untuk duduk di pangkuan Vano. Bermaksud mencium bibir Vano yang sedari tadi menggodanya.
"Aaa..." seru perempuan tersebut. Lehernya sudah berada di genggaman tangan Vano.
Namun sayang, suaranya tidak mampu di dengar orang lain. Karena keramaian yang ada di dalam bar tersebut.
Perempuan tersebut berusaha melepaskan tangan Vano di lehernya, dengan tetap berada di pangkuan Vano. Kekuatannya semakin lama semakin melemah.
Bahkan matanya mulai sayu dan wajahnya pucat karena tidak bisa bernapas. Vano mendorong tubuh perempuan tersebut ke samping. Terlihat nafasnya tersengal. Badannya terkulai lemas di atas sofa.
Dengan kesal Vano meninggalkan bar tersebut. Melajukan mobilnya ke apartemen miliknya.
Pagi hari, Ella bangun karena terganggu dengan suara ketukan pintu. Dengan malas, Ella membukanya. Namun hanya menyembulkan kepalanya saja.
"Jangan ganggu saya." ucap Ella, menutup kembali pintu kamarnya. Menguncinya dari dalam.
Mata Ella memandang tempat tidurnya. Di mana Vano seharusnya berada di sana. Ella tersenyum kecut. Semalam Vano tidak pulang.
Ella mengambil ponsel miliknya. "Apa yang kamu harapkan." Ella meletakkan kembali ponselnya. Awalnya Ella berharap Vano memberi pesan padanya jika dirinya tidak pulang.
Ella kembali merebahkan badannya di atas ranjang. Bahkan dia tidak membuka gorden di dalam kamarnya. Membiarkan gorden tersebut menghalangi cahaya sinar matahari untuk menghangatkan kamarnya.
Membungkus kembali badannya dengan selimut tebal. Ella enggan untuk keluar dari dalam kamar. Bahkan untuk makan sekalipun.
Di apartemen, ponsel Vano tidak berhenti berdering. Membuat Vano ingin sekali menghancurkan benda kecil tersebut.
"Ada apa!!" serunya saat dirinya sudah mengangkat panggilan telepon dari asistennya. Reza.
__ADS_1
Vano mematikan panggilan telepon dari Reza. Membaca berita yang menjadi topik utama pagi ini.
"****..."