
"Vik...!" teriak Denis memanggil Viki yang pergi begitu saja, tanpa pamit dari apartemen Ella.
Denis hendak mengejar Viki, tapi dihentikan oleh suara Ella. "Biarkan Viki sendiri dulu." ucap Ella membuat Denis mengurungkan niatnya.
"Pa, sekarang dia milik papa." ujar Ella. Membuat kedua bawahan Tuan Haris segera mengangguk dan kembali menahan Jo.
"Bawa ke markas." ucap Tuan Haris pada kedua bawahannya.
Entah apa yang dilakukan oleh kedua bawahan Tuan Haris, hingga Jo keluar dari dalam kamar dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Papa pulang dulu. Van, jaga Tuan Putri dengan baik." ucap Tuan Haris mencium kening sang anak. "Kalian hati-hati."
"Baik om." ucap Denis
"Hati-hati pa." ucap Ella, Vano dan Hana.
"Iya Tuan." ujar Reza.
Mereka menjawab perkataan dari Tuan Haris secara bersamaan.
Dan Viki, di sinilah dirinya sekarang berada. Meratapi nasibnya di pinggir sebuah danau. Tempat di mana dirinya dan dua sahabatnya selalu ke sini saat mereka bertiga bolos sekolah.
Apalagi tempat ini terbilang sepi. Menjadi tempat yang cocok untuknya menyendiri. Viki merenung sendiri. Ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya. Tapi pikirannya masih waras.
"Kenapa aku di lahir kan. Hidup ku kacau. Kenapa aku tidak bisa hidup normal seperti yang lainnya. Kenapa." ucapnya lirih, mengingat jika dirinya penyuka sesama.
Seketika ingatannya kembali mengingat satu tahun terakhir. Di mana selalu ada Jo yang menghiasi hidupnya. Tapi ternyata semuanya palsu. Dirinya hanya dijadikan informan dari keluarga Ella dan juga Vano.
Viki menjambak rambutnya kasar, mengingat betapa bodoh dirinya. Begitu mudah terperangkap tipuan Jo. Hanya karena kata cinta.
Sesungguhnya Viki ingin sekali sembuh. Tapi dia enggan untuk berkonsultasi dengan dokter. Takut jika bertambah lagi orang yang tahu bahwa dirinya penyuka sesama. Takut akan di cibir banyak orang.
Ketakutan Viki, dengan berbagai alasan selalu terlintas di benaknya. Pernah dirinya menonton video perempuan yang sedang menari atau bergoyang erotis tanpa benang sehelaipun.
Nyatanya, dirinya sama sekali tidak bisa memunculkan nafsu birahinya. Dia merasa biasa saja saat melihatnya.
Dan saat dia melihat lelaki macho yang bergaya seksi dengan perut kotak-kotak, juniornya langsung menegang. Ada hasrat menggebu ingin menyentuh, bahkan memilikinya.
Viki memegang kepalanya. "Tidak bisa, hidup gue akan hancur jika terus seperti ini. Tapi bagaimana caranya." gumam Viki.
Viki berdiri. Manik matanya menatap ke depan lurus dan jauh. Hanya hamparan air danau yang dapat dia lihat.
"Siapapun, siapapun. Tolong aku. Aku terlalu capek. Aku ingin hidup normal. Siapapun yang mendengar, tolong aku.....??!!!" teriak Viki hingga air matanya secara tak sadar luruh.
Tubuh Viki merosot. Berjongkok dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya. Terlihat pundaknya bergerak turun naik. Menandakan dirinya sedang menangis.
"Ommm,,, om menangis. Apanya yang tengelam. Apakah kekasih om." oceh seorang gadis di belakang Viki dengan mata sedang mencari sesuatu di danau. Jikalau ada yang mengapung, itulah yang terlintas dalam pikirannya.
"Tidak ada apa-apa. Kenapa tadi teriak minta tolong. Orang aneh." ucapnya. Dia mengira jika ada yang membutuhkan pertolongan. Atau lebih tepatnya, ada yang tenggelam.
Viki mengusap air matanya. Mendongakkan kepala menatap gadis di sampingnya. "Iiihh,, om kenapa menangis?" tanyanya dengan nada menggemaskan. Viki melihat gadis itu berpakaian lusuh. Dengan sebuah karung berada di pundaknya.
__ADS_1
"Dari mana dia datang." batin Viki masih menatapnya.
Pemulung. Dia adalah seorang pemulung. Terdengar di telinganya ada orang berteriak minta tolong saat dirinya sedang mengambil sampah plastik di tepi danau. Segera dia berlari dan menemukan sumber suara.
"Om, tidak apa-apakan?"
"Om." gumam Viki merasa aneh, kenapa dia di panggil om oleh gadis di depannya.
"Om." dia melambaikan tangan di depan Viki. Karena Viki hanya diam dan menatapnya.
"Jangan-jangan, dia kerasukan hantu danau." ucapnya ngaco.
"Apa-apaan kamu bocah!!" teriak Viki saat d
gadis di depannya meniup ubun-ubunnya.
"Om, sadar om. Pasti om sedang kerasukan hantu danau." ucapnya dengan wajah polos.
"Kau ini...!" geram Viki.
"Pergi sana. Kau itu hantunya. Bikin mood gue tambah jelek saja." usir Viki pada gadis berpakaian lusuh di depannya.
"Yakin, om menyuruh saya pergi?" tanyanya kembali.
"Om, om, om. Kami pikir saya om kamu. Saya anak tunggal. Tidak punya kakak. Berhenti panggil saya om." ucap Viki kesal. Karena sedari tadi gadis itu memanggilnya dengan sebutan om.
"Lalu saya harus panggil apa?" tanyanya dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Baiklah. Jika begitu saya permisi dulu pak." ucapnya sontak membuat Viki langsung membulatkan matanya tidak percaya karena gadis itu malah memanggilnya dengan sebutan bapak pada dirinya.
"Kamu..." geram Viki.
"Oh iya pak. Sebaiknya bapak hati-hati. Di sini sepi." ucapnya sambil menengok ke kanan dan kiri, memastikan bahwa dia berkata benar.
Ingin sekali Viki membuka mulutnya. Memaki gadis yang ada di depannya. Tapi gadis itu terlebih dulu mengeluarkan suara lagi.
"Dan lagi, hari sudah mulai petang." ucapnya kembali. Karena memang sekarang sudah sore. Bahkan sudah mendekati senja.
Gadis itu bergerak maju ke arah Viki. Membuat Viki sedikit memundurkan badannya. Viki merasa gadis itu sangat aneh. "Jika sudah gelap, biasanya hantu danau akan muncul. Bapak sebaiknya segera pergi." ucapnya lirih dengan tangan sebelah kanan di angkat keatas, dengan ekor mata memandang ke arah danau.
"Permisi pak." pamitnya dengan sedikit menundukkan kepala dan berlalu meninggalkan Viki.
Viki menatap badan gadis itu, semakin lama semakin menjauh. Hingga dia berbelok ke arah lain. Membuat Viki tak lagi bisa melihatnya.
Segera Viki mengambil ponselnya. Menyalakan kamera. Melihat wajahnya dari kamera ponsel. "Padahal gue ganteng. Bocah tengik." umpatnya teringat saat gadis tadi memanggilnya om. Dan beralih memanggilnya bapak.
Viki meraba-raba wajahnya. "Memang gue bapak-bapak apa. Gue saja belum menikah." ujarnya kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Menikah." gumam Viki teringat kembali akan keadaan dirinya. "Memang perempuan mana yang mau menikah dengan lelaki seperti diriku." Viki kembali duduk di batu yang sempat dia duduki.
"Lelaki yang tidak bisa memuaskan pasangan di atas ranjang." keluhnya.
__ADS_1
Kembali Viki menatap lurus ke arah danau. "Eh..." Viki teringat perkataan gadis barusan.
"Serius apa tidak sih." ucap Viki dengan pandangan ke sekitarnya.
JIKA SUDAH GELAP, BIASANYA HANTU DANAU AKAN MUNCUL.
"Masa iya, di sini ada hantu. Yang benar saja." ucap Viki dengan pandangan terarah ke danau.
"Pasti bocah tengil itu menakut-nakutiku." batin Viki.
Entah mengapa pikiran Viki jadi tak karuan. Ada perasaan takut pada dirinya. "Bocah sialan. Awas saja kalau bertemu lagi." Viki segera meninggalkan tempat itu. Gara-gara gadis tersebut, buku kuduk Viki terasa meremang.
Di apartemen Ella, raut wajah Vano tampak di tekuk. Ingin rasanya Vano menendang Denis dan Hana keluar dari apartemen. Maksud hati ingin bermesraan dengan sang pujaan hati, tapi mereka berdua nampak betah berbincang dengan kekasihnya.
Sementara Reza, dia sudah meninggalkan apartemen Ella setelah Tuan Haris dan bawahannya pergi. Dirinya mengerti jika Tuannya pasti ingin berduaan dengan sang model. Benar-benar asisten pengertian.
"Sayang, sebaiknya kita pamit. Sepertinya ada bom waktu yang sudah bersiap meledak kapan saja." sindir Denis.
"Cih,,, terlambat." ucap Vano. Karena mereka akan pamit setelah dua jam lebih berbincang dengan Ella.
"Ell, aku pamit." Hana dan Ella saling cium pipi.
"Anterin sampai rumah." suruh Ella.
"Pasti." Denis merangkul pundak Hana dan meninggalkan apartemen Ella.
"Akhirnya." ujar Vano lega.
Ella duduk bersender di dada bidang Vano. "Ada apa hem..." ucapnya dengan tangan bermain di dagu Vano.
"Ada kamu di hati aku." gombal Vano.
"Apa sih." ucap Ella membenamkan wajahnya di dada Vano.
"Ell,, aku minta maaf. Jika selama ini aku selalu membuatmu sakit hati. Membuatmu merasa tak di sayangi."
"Jangan pernah tinggalkan aku ya sayang." pinta Vano.
"Tergantung." ucap Ella. Membuat Vano meregangkan tubuh Ella.
"Maksud kamu?" tanya Vano saat mata mereka berdua bertatapan.
"Jika ada perempuan lagi di antara kita. Aku akan mundur tanpa berpikir panjang." ujar Ella.
"Tidak akan pernah sayang." ucap Vano kembali mengeratkan pelukannya.
"Kita akan segera menikah Ell. Besok aku akan meminta izin pada kedua orang tuamu."
"Sungguh." ucap Ella terdengar senang.
"Iya. Secepatnya kita akan menjadi suami istri yang sah."
__ADS_1
Malam ini akan menjadi malam panas lagi untuk mereka berdua.