
"Nggak kerja?" Ella bertanya karena Vano mengikutinya dari belakang.
"Aku kan bosnya Ell." ucap Vano sombong sambil mengambil rantang dari tangan Ella.
Ella membiarkan Vano membawa rantangnya. Senyum tampak di bibir Ella saat melihat Vano berjalan di depannya. "Coba seperti ini sejak dulu." gumamnya melihat Vano perhatian pada dirinya.
"Apanya?" tanya seseorang di samping Ella, membuat Ella menjingkitkan kaki karena kaget.
"Jo...!?" seru Ella kesal.
Vano yang berjalan di depan Ella, berhenti dan menengok ke belakang mendengar suara Ella. Vano melihat keduanya. Hanya diam dan mengamati.
"Sabar." Vano mengatur nafas. Menahan amarah, melihat Ella begitu dekat dengan lelaki selain dirinya. Tujuan utamanya mendapatkan hati dari sang model. Dirinya tidak boleh bertindak, yang malah akan membuat Ella menjauh darinya.
"Apasih." ucap Jo seperti tak bersalah.
"Apasih,,, apasih. Kaget." Ella mencubit kasar lengan berotot milik Jo. Membuat pemilik lengan meringis sembari mengusapnya.
"Untung hari ini gue seneng. Jadi nggak gue bales." Jo mengelus lengannya yang sakit sambil tersenyum aneh. Meninggalkan Ella yang masih menatapnya heran.
"Apa di sini ada hantu?" gumam Ella.
"Apa Ell?" Vano menghampiri kembali ke tempat Ella berdiri.
"Lihat." Ella mengarahkan jarinya kepada Jo yang berjalan sembari menari kecil menggerakkan kedua tangannya.
"Aneh kan." Ella menggeleng-gelengkan kepala.
"Sebaiknya kita segera ke sana." Vano memegang tangan Ella. Membawanya ke tempat pemotretan.
Tampak beberapa kru masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pemotretan tersebut.
"Cari siapa?" tanya Vano saat Ella mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Hana."
"Gue pikir Jo." batin Vano menghela nafas lega.
Vano mengambil rantang dan membukanya. "Sambil menunggu Hana, sebaiknya kamu sarapan dulu." Vano mengambil beberapa makanan dan menaruhnya di atas piring kecil yang sudah disediakan Nyonya Ane dari rumah.
"Ell,,, buka mulutmu." Vano mengambil makanan di piring. Entah Ella sadar ataupun tidak, dia mengikuti permintaan Vano.
Pandangan mata Ella masih tertuju pada layar gawainya, sementara mulutnya selalu terbuka menerima suapan dari Vano.
Dengan telaten Vano terus menyuapi Ella. Senyum seolah enggan beranjak dari bibir Vano. Sesekali Vano mengusap pinggir bibir Ella yang masih tersisa makanan.
Semua kru pemotretan mencuri pandang melihat kemesraan yang di perlihatkan Vano. Bahkan mereka senyum-senyum sendiri melihat Vano begitu perhatiaan pada sang model.
Hingga seseorang datang membuyarkan keindahan yang sedang di nikmati Vano. "Ehemmm,,, kalau mau romantis lihat suasana dong." celetuk Jo.
Membuat Ella mengalihkan pandangan matanya ke arah suara tersebut. Seketika Ella sadar, di dalam mulutnya berisi makanan.
Ella mengunyah dengan perlahan, memandang Vano yang menyodorkan sesendok makanan pada dirinya. "Sejak kapan." batin Ella sampai tidak sadar jika Vano dari tadi terus menyuapinya.
"Makasih." dengan cepat Jo menyambar makanan di sendok yang di sodorkan Vano pada Ella.
Jo tersenyum-senyum memandangi wajah tampan Vano, yang menurutnya lebih tampan dari kekasihnya. Viki. Tapi tetap Viki yang nomor satu di hatinya.
__ADS_1
"Jika masih ada, lagi dong." Jo kembali membuka lebar-lebar mulutnya, membuat Vano mengernyitkan dahinya.
Ella mengambil piring di tangan Vano. "Makan." Ella masukkan sendok berisi nasi penuh tanpa sayur ataupun lauk ke dalam mulut Jo yang terbuka lebar.
"Peyit." dengan wajah masam dia meninggalkan tenda Ella dan mulut penuh dengan makanan.
Karena mereka akan melakukan pemotretan di perbukitan. Tidak ada ruang ganti seperti di gedung. Hanya ada beberapa tenda yang di didirikan. Digunakan untuk model dan istirahat kru.
"Kalian sudah kenal lama?" tanya Vano membersihkan tangannya menggunakan tisu.
Belum sempat Ella menjawab, Hana lebih dulu datang. "Maaf." ucapnya cengengesan.
"Semalem siapa yang ngingetin siapa. Siapa juga yang datang ngaret." sindir Ella.
"Sama siapa ke sini?" selidik Ella. Padahal Ella sudah bisa menebak jika Hana pasti datang bersama dengan Denis.
"Ayang." jawab Hana lirih dengan raut wajah malu-malu. Ella mencebik mendengar dan melihat wajah memerah Hana.
"Semoga kalian bisa bersama." batin Ella mendo'akan Hana dan Denis.
"Permisi Tuan." ujar Hana.
Vano mengalihkan pantatnya. Memberi ruang pada Hana untuk mulai merias wajah Ella. "Masih lapar?" tanya Hana melihat Ella masih menikmati makanannya.
"Sudah kenyang. Tapi tinggal dikit. Masa di buang. Mubadzir."
Vano mengambil piring pada tangan Ella. "Biar aku yang makan." ucap Vano membuat Hana melongo.
"Minum dulu." Vano menyerahkan sebotol air minum yang sudah di buka tutupnya pada Ella.
Ella hanya mengangguk. Hana melirik ke arah Vano yang berada tepat di sebelah Ella. "Apa mereka sudah baikan." batin Hana.
Terdengar suara kegaduhan dari luar. Membuat Ella dan Hana penasaran. Begitu juga dengan Vano. "Ada apa sih?" tanya Ella.
Hana mengangkat kedua bahunya, tanda dia juga tidak tahu.
"Kalian teruskan saja. Biar aku lihat." Vano meletakkan piring di tangannya dan melangkahkan kakinya keluar tenda.
"Ell,, elo udah baikan?" tanya Hana saat Vano sudah meninggalkan tenda.
"Belum juga sih. Tapi Vano ngintilin terus."
"Elo mau baikan ama dia apa nggak?"
"Biarkan saja berjalan seperti ini. Sambil lihat keseriusan Vano. Bagaimana?" tanya Ella meminta pendapat.
"Ya,,, terserah elo sih."
"Ada apa?" tanya Ella saat Vano kembali ke tenda.
Ternyata, kegaduhan di sebabkan oleh Jo yang terluka karena terpeleset dari bukit. Badannya sempat terguling beberapa kali. Hingga membentur batu. Membuat lelaki tersebut tak sadarkan diri dengan beberapa memar di lengan dan wajah. (karena yang lain tertutup pakaian)
"Astaga!?" seru Ella dan Hana bersamaan mendengar cerita Vano.
Ella langsung keluar dari tenda. Menuju tempat Jo. Membuat Vano cemburu. "Sebegitu khawatirnya." gumam Vano masih bisa terdengar oleh Hana.
Tidak ingin terlihat masalah, Hana segera menyusul Ella dan meninggalkan Vano sendirian di dalam tenda.
__ADS_1
Mau tak mau, Vano pun ikut melangkahkan kakinya untuk menyusul Ella. Meskipun dengan berat hati.
"Kenapa tidak segera di bawa ke rumah sakit?!" teriak Ella melihat Jo yang terbaring tak sadarkan diri.
"Ada dokter di sekitar sini. Dia sedang dalam perjalanan. Elo nggak usah khawatir." Denis memegang pundak Ella. Mengurangi rasa khawatir di hati Ella.
Vano menatap dengan tatapan tidak suka. Apalagi melihat kecemasan di mata Ella untuk Jo, yang menurutnya berlebihan. Tapi saat ini, dia harus menahan amarah dan emosinya.
"Apa perlu gue beritahu Viki?" bisik Denis.
"Elo gila. Semua orang bisa tahu. Makanya gue khawatir. Jika terjadi apa-apa sama Jo gimana." bisik Ella.
"Benar juga. Lalu bagaimana?" bisik Denis.
"Kita lihat saja. Jika belum siuman, segera bawa ke kota. Jangan sampai Viki tahu. Gue takut dia nggak bisa mengendalikan diri." bisik Ella.
"Ya sudah, gue ngikut elo." bisik Denis.
Interaksi keduanya tak luput dari semua orang di sekitar mereka. Termasuk Hana dan Vano. Hana merasa penasaran dengan percakapan mereka. Apalagi sekarang dirinya berstatus kekasih Denis. Dia juga ingin mengetahui apa yang di bicarakan Ella dan Denis hingga harus berbisik-bisik.
Sementara Vano juga merasa ada yang di sembunyikan oleh Ella dan Denis dari semua orang. Hal tersebut sangat mengganggu pikirannya.
Cemburu. Sebenarnya Hana dan Vano merasa cemburu pada kedekatan Ella dan Denis. Meskipun keduanya berteman sejak SMA, tapi mereka adalah lawan jenis. Tidak mustahil jika ada salah satu di antara mereka ada rasa suka. Atau bahkan keduanya memiliki rasa yang sama.
Begitulah kesimpulan dari apa yang dipikirkan Hana dan Vano pada mereka berdua.
Ella berjongkok. Mensejajarkan dengan tempat dimana Jo di baringkan. "Bangun Jo. Jangan buat kita khawatir." Ella mengelus pelan lengan Jo.
Ella mendekatkan bibirnya ke telinga Jo dan membisikkan sesuatu. "Jo, elo harus bangun. Kasihan Viki." bisik Ella.
Seperti sebuah motivasi, mendengar nama Viki membuat Jo menggerakkan kepalanya, meski sangat pelan.
"Den,, elo lihat." seru Ella.
"Iya. Elo bisikkan apa tadi." tanya Denis penasaran.
Ella malah melotot mendengar pertanyaan dari Denis.
Seorang dokter tiba dan segera memeriksa keadaan Jo. "Bagaiman Dok?" tanya Ella tidak sabar.
Terlihat jelas Ella sangat mengkhawatirkan Jo. Dan itu semua karena Jo adalah kekasih dari sahabatnya. Viki. Tidak lebih.
Tapi tidak untuk Vano. Dirinya merasa rasa khawatir Ella pada Jo karena keduanya mempunyai hubungan. Atau lebih tepatnya, Ella menyukai Jo.
"Tidak perlu khawatir. Sebentar lagi akan sadar. Tapi setelah ini, tolong di istirahatkan dulu. Karena beberapa bagian badannya akan terasa sedikit sakit. Akibat benturan." jelas Dokter membuat Ella merasa lega.
Terdengar beberapa kru pemotretan saling memberikan saran.
"Bagaimana ini. Pemotretan di undur saja dulu."
"Apa kita cari model lain saja."
"Elo pikir cari model pengganti gampang."
"Mau bagaimana lagi, kita undur pemotretan."
"Kasihan juga kalau dipaksakan."
__ADS_1