
HANA SARASWATI.
Aku, seorang perempuan yang terlahir dari keluarga biasa. Kemampuan otak ku pun juga biasa. Tidak ada yang spesial dalam diriku.
Bapakku meninggal sewaktu aku masih SMP. Untuk melanjutkan hidup, ibuku bekerja serabutan. Dari mulai menjual kue di pasar. Hingga menjadi buruh panggilan dari beberapa tetangga.
Aku, sebagai anak pertama. Juga sering membantu ibu. Membantu membuat kue. Hingga menjual kue di warung-warung. Hingga membawanya ke sekolah, untuk aku titipkan di kantin. Kami hidup bertiga dengan adikku yang bernama Arik.
Semua berubah saat aku berkeinginan meraih beasiswa di universitas. Dengan otakku yang pas-pasan. Aku mengikuti program beasiswa. Dan dapat di tebak hasilnya. Aku gagal.
Dengan langkah gontai, ku tinggalkan universitas tersebut. Hingga tubuh ini tak sengaja menabrak seseorang.
Seorang perempuan yang berbadan proporsional dan cantik. Tak hanya itu, kulitnya sangat putih, seperti porselen. Berbeda jauh dengan diriku.
Dari situlah, awal perkenalanku dengan dia. Seseorang yang menjadi sahabatku, sekaligus menjadi tempatku mendapatkan uang. Untuk membantu ibu memenuhi kebutuhan hidup kami.
Ella. Dia bernama MELLANIE. Model pendatang baru. Dengan sifat dan sikap yang baik. Meskipun terlahir dari keluarga kaya raya.
Dia menawariku sebuah pekerjaan. Yang saat itu, aku sendiri belum bisa melakukannya. Yaitu sebagai make up untuk dirinya.
Awalnya aku menolak. Karena aku memang tidak bisa. Tapi dia kekeh. Hingga akhirnya, aku menyetujuinya. Disini, aku mulai belajar untuk merias wajah Ella. Dan itupun, Ella sendiri yang mengajariku.
Semakin lama jari-jariku semakin mahir untuk membuat wajah Ella yang sudah cantik dari lahir, semakin mempesona. Hingga Ella menawariku untuk menjadi asistennya.
Dan lagi-lagi, aku menolak. Tapi Ella tetap kekeh, dia menjadikanku sebagai asistennya. Sehingga aku harus bekerja rangkap.
Setiap hari aku harus menyiapkan semua keperluan untuk Ella pemotretan. Hingga mengatur jadwal kegiatannya. Juga untuk menentukan, dengan siapa Ella akan bekerja sama.
Semua bisa aku jalani dengan lancar. Meskipun sangat capek, karena nama Ella semakin bersinar. Yang artinya pekerjaanku semakin bertambah berat.
Tapi aku sama sekali tidak mengeluh. Karena Ella memberi gaji dengan nominal yang luar biasa. Bahkan, keluarga Ella juga sangat menyayangiku.
Hingga aku, memanggil kedua orang tua Ella seperti Ella. Mama dan papa. Alih-alih cemburu, Ella malah sangat bahagia.
Keberuntungan bertemu dengan keluarga Ella tidak hanya sampai di sini. Arik, adikku. Dia sekolah di biayai oleh keluarga Ella. Hingga bangku kuliah.
Ibuku, masih menjadi penjual kue di pasar. Meski sudah tidak menjadi buruh panggilan. Awalnya aku tidak setuju. Karena dengan penghasilanku yang sekarang, aku bisa memberikan apapun yang ibu minta.
Dengan alasan dia akan bosan jika menganggur di rumah. Ibu kekeh membuat kue dan menjual di pasar. Tapi ibu berjanji, hanya akan membuat kue dengan jumlah sedikit. Dan akupun menyetujuinya.
Dari penghasilanku, aku bisa membangun rumah. Tempat tinggal kami yang dulu hanya sepetak, kini sudah menjadi luas dan besar.
Aku membeli tanah-tanah kosong yang berada di samping rumah. Untuk memperbesar dan memperluas rumah kami. Hingga seperti sekarang.
Aku juga bisa membelikan adikku motor dengan harga lumayan mahal. Untuk Arik berangkat sekolah dan bepergian. Awalnya aku ingin membelikannya mobil. Tapi Arik menolak, dia lebih memilih sebuah motor ketimbang mobil.
Tak hanya itu, aku juga sudah bisa membeli mobil untuk diriku sendiri. Dan juga bisa mempercantik diri. Meski tak bisa mengalahkan kecantikan Ella. Setidaknya aku tidak terlalu insecure saat berada di dekat Ella.
Ibuku selalu mengingatkanku untuk menyimpan sebagian uang penghasilanku. Roda berputar. Itulah yang selalu ibuku katakan.
Sehingga, aku selalu menyimpan separuh lebih dari uang hasil kerjaku. Karena memang, Ella selalu memberikan bonus setiap bulan.
__ADS_1
Ella beralasan karena pekerjaanku yang bagus. Tapi aku tahu, kenapa Ella beralasan seperti itu. Dia akan sungkan jika langsung memberikanku uang. Karena pasti Ella berpikir, aku akan tersinggung.
Semua berubah. Semua berubah dalam satu malam. Dari situlah awal petaka kehidupanku. Dan juga kehidupan Ella.
Dengan tidak sadar karena pengaruh obat yang diberikan rivalnya. Vano memaksaku untuk berhubungan intim. Dia mengira diriku adalah Ella. Dia selalu meracau dengan menyebut nama Ella saat memperkosaku.
Kenapa aku tidak lari? Bagaimana bisa diriku terlepas dari Vano. Seorang lelaki dengan kekuatan jauh di atasku.
Aku menyalahkan diriku sendiri, kenapa malam itu aku harus tidur dan tinggal di apartemen milik Ella.
Kami berdua. Aku dan Vano sepakat untuk menyembunyikan hal tersebut dari Ella. Mengingat sekitar seminggu lagi Ella dan Vano akan menikah.
Lagi pula aku tidak perlu khawatir jika aku hamil. Karena Vano telah membersihkan cairannya di dalam rahimku. Tentunya dengan bantuan dokter.
Aku merasa trauma. Aku memendam kesedihan ini seorang diri. Bagaimana tidak. Satu-satunya hal yang aku jaga selam berpuluh-puluh tahun, lenyap dalam sekejap.
Perawan. Iya, aku masih perawan saat Vano melakukan semua itu padaku.
Aku tidak berani mengatakannya pada siapapun. Bahkan pada ibuku sendiri. Aku lebih memilih memendam semua kepedihan seorang diri.
Bukan tanpa alasan aku tidak menceritakan semuanya. Aku hanya takut, jika Ella mengetahuinya. Aku tidak ingin Ella terluka dan kecewa padaku.
Apalagi selama ini, keluarga Ella begitu peduli dan juga menyayangi aku. Bahkan juga dengan ibuku dan Arik.
Tapi akhirnya aku memutuskan untuk berterus terang pada Denis. Sahabat Ella, sekaligus kekasihku. Tapi tidak seperti yang aku harapkan.
Aku menginginkan Denis dapat mendukung ku. Tapi ternyata tidak. Denis hanya diam dan memandangku dengan intens. Kemudian menyuruhku untuk meninggalkan ruangannya.
Bahkan, Denis tidak lagi menghubungiku. Dari situlah aku menyimpulkan sendiri. Jika Denis tidak bisa menerima diriku. Akupun sadar, dan juga mulai menjauh darinya.
Kejadian yang kupendam selama ini akhirnya mulai terendus oleh Ella. Bahkan hanya dalam beberapa bulan. Semua terjadi saat Ella menyadari ada sesuatu yang aku sembunyikan darinya.
Dan di sinilah semua meledak. Seperti bom waktu yang siap melenyapkan siapa saja yang mendekat.
Ella dengan kemampuannya, dapat mengetahui secara keseluruhan kejadian malam itu. Antara aku dan Vano.
Dan semua berimbas pada kehidupan semua orang. Bahkan, karena itu. Ella mengalami kecelakaan. Dan janin dalam kandungannya juga tidak bisa di selamatkan.
Yang lebih parah, meninggalnya suami Ella. Vano.
Rasa bersalah semakin besar menggerogoti diriku. Aku memberanikan diri utuk mendatangi rumah Ella. Dan meminta maaf. Aku ikhlas, jika Ella membenci ku. Aku rela.
Tapi semua tidka seperti dugaanku. Ella, tetaplah Ella. Perempuan cantik dengan hati seperti malaikat. Dia memaafkan aku.
Aku pun merasa lega. Ku kira semua akan berjalan seperti sebelumnya. Tapi semua tidak seperti prediksiku, setelah aku menerima kata maaf dari Ella.
Ella meninggalkan kami. Dia pergi bagai lenyap hilang tak tersisa. Mungkin hanya kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya yang tahu keberadaan Ella.
Tapi mereka memilih menyembunyikan keberadaan Ella. Dari siapapun. Termasuk dari ku.
Aku pun sadar. Dan aku ikhlas, meski tidak bisa melihat Ella, setidaknya aku bisa mendengar kabar dari Nyonya Ane. Jika Ella dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
DENIS SUBARA
Hubunganku dengan Hana, kekasihku tampak adem ayem. Kami selalu berkomunikasi dengan lancar. Meskipun akhir-akhir ini, komunikasi kita berdua sedikit renggang.
Dikarenakan adanya Lyra. Saudara jauh dari mama. Dia datang dan tinggal di rumah kami. Tak hanya itu, mama juga memintanya untuk belajar bisnis. Dengan aku sebagai pembimbingnya.
Akupun tidak menolak. Karena menurutku, tidak ada yang salah. Lantaran kami bersaudara.
Hingga Hana dan Ella datang ke perusahaanku. Awalnya kami bertiga berbincang santai di dalam ruanganku. Hingga Ella pergi, meninggalkan kami berdua.
"Aku mau berbicara sesuatu." ucap Hana.
Hana menyerahkan ponselnya. Dimana semuanya adalah percakapan Hana bersama mamaku. Aku baca semua setiap pesan yang dikirim mama pada Hana. Bahkan, mama juga mengirimi Hana foto perempuan cantik, yang sedang bersamaku. Lyra.
"Maaf, awalnya aku tidak ingin memperlihatkan semua ini padamu. Tapi Ella yang memberi saran. Jika suatu hubungan, harus dilandasi dengan sebuah kejujuran. Dan juga perjuangan bersama." ucap Hana.
Aku benar-benar tidak menyangka, jika mamaku telah melakukan semua ini. Lantaran, di setiap aku menceritakan tentang Hana, mama selalu menanggapinya dengan senyum dan sikap positif.
Bahkan, mama pernah bilang. Jika dirinya tidka sabar ingin bertemu dan berbincang banyak dengan Hana. Perempuan yang sudah mengambil hati putra tunggalnya.
Aku hanya bisa diam. Aku bingung harus bertindak dan bersikap bagaimana. Hingga Hana memberikan ku sebuah kejutan lagi. Yang membuatku semakin bingung.
"Den, bukankah aku pernah bilang. Jika aku sudah tidak perawan. Dan pacarku yang mengambil keperawananku." ucap Hana.
"Maaf, aku berbohong." imbuh Hana. Aku hanya bisa diam dan mendengar semua perkataan Hana.
"Sebenarnya, Vano yang sudah mengambilnya secara paksa." ucap Hana dengan air mata mulai menetes di pipi.
Blammm..... Seketika pikiranku kacau. Bahkan di mulutku seakan ada sebuah kunci yang menutup rapat, supaya tidak ada suara yang keluar dari sana.
Dengan air mata terjatuh di pipi, Hana menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya dan Vano.
"Den,,," panggil Hana dengan nada lirih, menatap padaku.
"Bisa kamu meninggalkanku. Aku perlu waktu." itulah perkataan yang keluar dari dalam mulutku, tanpa memandang ke arah Hana.
Tanpa berbicara, Hana melenggang pergi. Meninggalkan ruanganku. Dan aku yakin, jika Hana pasti kecewa dengan tindakanku.
Setelah Hana menceritakan semuanya padaku, aku dan Hana tidak pernah lagi berkomunikasi. Kami seperti orang asing.
Hingga berita menggemparkan datang ke telingaku. Kematian Vano. Karena kecelakaan, bersama dnegan istrinya. Ella.
Di situlah aku melihat Hana. Tengah duduk bersandar di kursi dengan mata sembab. Aku segera berlari menghampirinya, saat tubuhnya hendak jatuh.
Tapi Hana tidak pernah tahu jika aku berada di dekatnya. Sampai sekarang.
Bahkan setelah kepergian Ella, yang tiba-tiba hilang bagai lenyap di telan bumi. Kami juga tidka pernah bertemu.
Entahlah, sepertinya aku sendiri mulai bingung dengan diriku sendiri. Dan Hana, sepertinya dia juga mulai menjauh dariku.
__ADS_1
Di sinilah aku mulai berpikir dan berpikir. Apa yang harus aku lakukan, akan hubunganku bersama dengan Hana.