
"Ellllaaaaa...!!!" teriak Vano yang baru saja keluar dari kamar, dan melihat bagaimana intimnya kedekatan Ella dan Jo dari layar.
Denis, Hana, dan juga Reza langsung berdiri dari duduknya. Mereka bertiga saling pandangan. Seolah mengisyaratkan sesuatu. Bagaimana cara menenangkan Vano saat ini.
"Tuan, adegan itu hanya rencana. Bukan sungguhan." ucap Reza mencoba menenangkan Vano.
"Bukan sungguhan. Itu bukan sungguhan." jari Vano mengarah ke layar. "Perlihatkan padaku. Bagaimana adegan yang sesungguhnya." geram Vano menatap tajam Reza.
"Van,,, ini bagian rencana Ella. Ayoalah,, kamu harus mengerti." ucap Denis juga berusaha untuk membuat Vano tidak marah.
"Mengerti. Baiklah." Vano menatap ke arah Hana dan tersenyum licik.
"Jangan macam-macam." ucap Denis seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Vano.
"Baru di lihat saja kamu sudah kebakaran jenggot. Bagaimana jika sampai dia tersentuh." cibir Vano tersenyum sinis membuat Denis bungkam seketika.
"Tuan." Reza berdiri di depan Vano. Menghadang Vano yang hendak melangkah meninggalkan apartemen.
Vano menatap tajam ke arah Reza. Arah pandangan mata Vano seketika beralih kepada Viki.
"Dia sahabat Ella." kata Denis segera berdiri di samping Viki. Dirinya takut jika Vano melakukan sesuatu pada Viki. Apalagi sekarang Viki dalam keadaan terikat.
"Jika sampai Ella kenapa-napa, kamu orang pertama yang akan kehilangan nyawa." ancam Vano dengan tatapan mata seperti elang.
"Dan Jo, kekasihmu. Lelaki brengsek itu juga akan menyusul dirimu. Tapi tenang saja, dia akan aku jadikan santapan hewan." seringai Vano.
Membuat Denis dan Viki berkedip tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan Vano. Apalagi Viki, dirinya benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa Vano busa tahu, apa mungkin Ella,,, tapi tidak mungkin Ella yang memberitahu. Jika benar, pasti sudah dari dulu Vano mengetahui tentang diriku." batin Viki merasa kaget karena Vano mengetahui rahasianya.
"Emmhhh emmhhhh...." Viki memberi isyarat pada Denis untuk membuka sumpalan yang berada di dalam mulutnya.
"Gue akan buka. Tapi elo tenang. Bisa?" ucap Denis yang di jawab anggukan oleh Viki.
Denis melepas penutup mulut Viki. "Lepasin gue!!" teriak Viki.
"Oke, oke. Gue akan tenang." ujar Viki saat tangan Denis terulur kembali ingin menutup mulutnya.
"Ceritakan. Jangan buat gue bingung."
"Yakin."
"Cepat. Jangan banyak omong." geram Viki.
Denis pun menceritakan semua pada Viki. Tentang siapa Jo. Semua kebohongan Jo, dan tentang rencana Ella.
"Elo pasti bohong." ucap Viki seakan tidak percaya.
"Terserah. Yang tahu itu sebetulnya cuma elo. Selama ini elo berhubungan dengan dia sudah lama. Pasti ada sesuatu yang janggal. Apa segitu bodohnya, sehingga seorang Viki tidak bisa merasakannya." ujar Denis.
__ADS_1
"Atau elo memang sengaja menutup mata dan telinga. Karena takut akan terluka dan merasakan sakit hati." tebak Denis.
Denis duduk jongkok di depan Viki. Menaruh tangannya di paha Viki. "Elo mau tahu apa yang terjadi saat Ella tahu jika Jo adalah orang yang selalu menerornya. Dia masih sangat santai. Tidak ada rasa marah. Bahkan dia begitu tenang." ucapnya.
"Tapi saat dia menyadari jika Jo hanya mempermainkan kamu. Memanfaatkan cinta kamu. Apalagi Jo juga membohongi kamu. Ella begitu berambisi untuk memberikan Jo pelajaran. Dia sangat ingin membungkam mulut Jo selamanya." imbuh Denis.
Viki kembali terdiam. Pandangan matanya mengarah pada layar di depannya. Pikirannya tertuju saat di mana dia mengajak Jo untuk berhubungan intim layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai. Tapi Jo selalu menolak dengan berbagai alasan. Dan Viki selalu mengerti dan tidak pernah marah sekalipun.
Tapi sekarang, meski dari layar yang terhubung dengan CCTV di kamar Ella, Viki melihat dengan jelas bagaimana cara Jo memandang Ella. Terlihat begitu jelas jika Jo mengagumi seorang Mellanie. Bahkan terlihat mata Jo sangat mendamba seorang Ella.
Setiap Viki ingin bermesraan, Jo seperti menjauh. Dan seakan acuh. Saat Viki bertanya tentang keluarganya, Jo selalu mengelak. Padahal Viki sudah menceritakan semuanya pada Jo. Semuanya. Bahkan tentang apapun yang ingin Jo ketahui.
Jo sering menanyakan tentang Ella. Jo beralasan jika suatu saat dirinya akan bekerja sama dengan Ella. Maka dari itu, Jo harus mengetahui tentang Ella. Dengan senang jati Viki menceritakan semua yang ingin dia ketahui.
Pernah Viki merasa curiga. Tapi segera dia menepis pikiran itu. Dia tidak ingin berpikir negatif. Yang akan menjadikannya bertengkar dengan Jo.
"Kenapa elo diam?" tanya Denis melihat Viki terdiam dan memandang lurus dengan tatapan mata sedih.
Saat semua tertuju pada Viki, Vano memegang bahu Reza dan mendorongnya ke samping. Membuat tubuh Reza terhuyung.
"Van.." seru Hana. Tapi tidak di anggap oleh Vano.
"Bagaimana ini?" Hana semakin cemas. Apalagi Vano pasti akan menuju apartemen Ella. "Dennn..." Hana memegang lengan Denis.
"Segera hubungi Ella." ucap Denis. Hana segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ella.
Reza menyambar kunci mobilnya di atas meja. "Kalian tetap di sini. Gue akan mengikuti Tuan Vano." seru Reza sembari berlari keluar. Reza juga khawatir jika Tuannya melakukan hal yang busa membahayakan Ella.
Hana semakin gusar saat Ella tidak mengangkat panggilan telepon darinya. "Den, nggak di angkat." ucap Hana.
"Ckk,,, bagaimana Ella mau mengangkat panggilan telepon dari elo. Lihat." ucap Viki dengan mata mengarah ke layar di depannya. Dimana Ella masih berusaha membuat Jo berbicara dengan cara seksi sang model.
"Kenapa gue jadi bodoh." geram Hana pada dirinya sendiri. Sebenarnya Hana tidak peduli jika Vano pergi ke sana dan menghabisi Jo. Tapi Hana takut jika Vano juga menyakiti Ella. Hana tahu betul bagaimana kelakuan Vano saat dia cemburu.
"Denn,,, gue takut Ella kenapa-napa?" Hana menangis dan memeluk Denis.
Denis menepuk pelan bahu Hana. "Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja."
Tiba-tiba Hana melepaskan pelukannya. Menatap tajam ke arah Viki. "Jika sampai terjadi sesuatu dengan Ella. Elo akan terima akibatnya." ancam Hana dengan tangan mengusap air mata di pipinya.
Segera di genggam tangan Hana oleh Denis. "Sudah sayang, ini juga bukan salah Viki." ucap Denis mencoba menenangkan Hana.
Saat ketiganya berdebat, spontan mereka berhenti saat mendengar Jo mengatakan sesuatu pada Ella. Memfokuskan kembali pandangan mereka ke arah layar.
"Gue normal Ell." ucap Jo lirih penuh penekanan.
"Kena kau." batin Ella.
Ella berpura-pura tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan dari Jo. "Ya iyalah elo normal. Memang elo gila. Aneh." ucap Ella.
__ADS_1
Jo meremas rambutnya. "Bukan itu Ell. Gue,, gue,, gue bukan gay." ucap Jo lirih.
Ella menutup mulut menggunakan telapak tangannya. "Serius." Ella berpura-pura takut dan kaget, serta menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Viki.."
"Gue,, gue,, gue kasihan sama Viki. Iya, kasihan." bohong Jo.
Jo mengarang cerita jika dirinya merasa kasihan dengan Viki. Dan akhirnya dirinya mau menjadi teman Viki. Tapi Viki ternyata memendam rasa pada dirinya. Karena rasa kemanusiaan dan rasa kasihan, Jo menerima Viki.
"Pintar sekali kamu mengarang cerita. Kenapa tidak menjadi penulis novel saja. Seperti author." batin Ella.
"Jadi elo nggak ada rasa sama Viki?" tanya Ella untuk memastikannya lagi.
"Ya nggak lah Ell, gue lelaki tulen. Gue suka dengan perempuan seperti elo." Jo tersenyum manis kepada Ella. Tapi menurut Ella, senyum Jo sangat menjijikkan.
Ella duduk di samping Jo. Berpura-pura sedih. "Bagaimana jika Viki tahu Jo." ucap Ella dengan nada sedih. Ekor mata Ella melirik ke arah Jo. Memastikan bagaimana ekspresi dari Jo.
"Kita akan rahasiakan ini dari Viki." Jo menggeser duduknya. Tangannya terulur memegang pundak Ella.
"Dan mulai sekarang gue akan mendekati elo." batin Jo.
Ella menggeser duduknya. Membuat tangan Jo terlepas dari pundak Ella. "Tunggu, jika elo normal. Bagaimana kalian?" tanya Ella penasaran.
Pertanyaan Ella membuat Jo mengerti kenapa Ella bertanya seperti itu. "Gue selalu menolak Ell." tangan Jo menyingkirkan helaian rambut Ella yang menutupi wajah cantiknya.
"Maksud kamu?"
"Elo pikir gue gila, gue normal Ell." ucap Jo tersenyum penuh makna.
Di apartemen Vano, Viki menahan amarahnya yang sudah berada di ubun-ubun. "Jo...!!!" seru Viki dengan rahang mengeras.
"Ellll.....!!" teriak seseorang dari luar kamar apartemen Ella. Membuat Ella dan Jo saling pandang.
"Siapa, perasaan pintu sudah gue kunci." gumam Ella masih terdengar Jo.
Jo kembali menyentuh pundak Ella. "Biar gue saja yang lihat." ucap Jo.
"Nggak. Gue juga ikut keluar. Gue juga penasaran."
*****
Viki,,,,, apa yang akan di lakukan Viki.
Upsss,,,, siapa yang mengganggu Ella dan Jo...
Dan buat teman-teman, terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.
Terimakasih sudah mampir dan meninggalkan jejak.
__ADS_1
Jangan lupa, like, komentar, dan share ya....bila perlu.
Satu lagi,, sajen sajen.. jangan sampai lupa. 😊😊