
"Hana.....!!!" seru Lyra di dalam mobil. Amarah Lyra membuncah tatkala Denis lebih memilih tinggal di salon. Dengan alasan menginginkan perawatan.
Ketimbang menuruti keinginannya untuk pergi bersama dengannya. Sungguh semua melenceng jauh dari apa yang sudah dia rencanakan.
Lyra menggenggam erat stir mobil. Tampak kedua matanya sudah penuh oleh amarah. Niat membuat Hana sakit hati, kini malah dirinya yang tersakiti.
Awalnya, Lyra ingin menegaskan pada Hana, jika Denis dan dirinya mempunyai kedekatan. Lyra ingin Hana meninggalkan Denis, karena merasa dirinya tidak cocok dengan Denis.
Lyra dengan percaya diri melakukan rencananya. Melihat beberapa minggu ini, hubungan Denis dan Hana tampak renggang. Dirinya mengira jika Denis sudah tidak memperdulikan Hana.
Lyra menduga, jika Denis menyerah akan hubungannya dengan Hana. Karena mama Denis menentang hubungan keduanya.
Tapi ternyata semua perkiraan Lyra salah. Terlihat jelas di kedua mata Denis, masih ada rasa cinta darinya untuk Hana. Bahkan rasa itu bertambah besar.
Lyra teringat saat Denis dengan tenang masuk ke dalam salon. "Denis sama sekali tidak menunjukkan raut terkejut. Melihat ada Hana di dalam. Melihat Hana bekerja di salon tersebut." ucap Lyra.
Kedua mata Lyra membulat sempurna. "Jangan bilang jika Denis sudah tahu. Kalau Hana bekerja di sana." tebak Lyra, lantaran raut wajah Denis yang biasa.
"Lyraaaaa....!!!! Kamu ceroboh." serunya masih di dalam mobil. Memukul stir mobil berkali-kali hingga telapak tangannya berwarna merah.
Lyra merasa sudah di atas angin, karena Denis dan Hana sudah tidak berhubungan. Tanpa tahu alasan mereka melakukan itu.
"Tidak boleh. Tidak. Aku tidak boleh membiarkan ini semua. Tidak. Jangan sampai aku kehilangan Denis." gumam Lyra dengan menggelengkan kepalanya.
"Tante Monic. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menolongku. Iya, aku harus segera menemui tante Monic." tanpa membuang-buang waktu, Lyra melajukan mobilnya untuk pulang.
Mengadu kepada Nyonya Monic. Jika papanya Denis seperti masa bodo dengan pilihan Denis. Berbeda dengan Nyonya Monic.
Papa Denis hanya mengaskan satu hal pada Denis. Pilihlah perempuan yang kamu suka dan akan kamu nikahi. Dengan catatan dia adalah perempuan baik-baik. Dan dari keluarga baik-baik.
Dan satu hal lagi, hubungan mereka tidak sampai berpengaruh pada perusahaan. Apalagi sang perempuan yang mendikte Denis.
Papa Denis hanya ingin satu hal. Perusahaan tetap dalam kondisi baik. Dan juga semakin mengaung namanya.
Berbeda dengan Nyonya Monic. Beliau menginginkan menantunya berasal dari kalangan atas. Layaknya keluarganya. Nyonya Monic menginginkan menantu yang setara dengannya.
__ADS_1
Masih di dalam salah satu ruangan di salon.
"Satu lagi. Kesabaran setiap orang ada batasnya. Begitu juga dengan kesabaranku." imbuh Hana.
"Apa artinya kamu sudah tidak mencintaiku?" tanya Denis dengan wajah sedih.
"Cinta. Hufftt,,, aku akui, sampai saat ini belum ada yang bisa menggeser namamu di dalam hatiku. Namun, aku takut jika nama tersebut bukan di geser oleh orang lain. Melainkan hilang dengan sendirinya." ucap Hana dengan tegas.
"Dan aku tidak akan membiarkan nama itu hilang. Sampai kapanpun." ucap Denis, dengan sorot mata tegas.
"Jangan cuma bicara omong kosong. Buktikan Tuan." ucap Hana, tersenyum masam.
Denis kembali memeluk tubuh Hana dari belakang. Memeluknya dengan erat. "Ikut aku, akan aku perkenalkan secara resmi siapa dirimu. Pada kedua orang tuaku." bujuk Denis.
Ada desiran halus di hati Hana, saat Denis ingin memperkenalkan Hana pada kedua orang tuanya. Kedua bibir Hana terangkat. "Masih terlalu dini Han." ucap Hana dalam hati, membuat senyumnya seketika lenyap.
"Untuk apa. Untuk di hina." tegas Hana.
Denis membalikkan tubuh Hana. Menangkup kedua pipi Hana menggunakan telapak tangannya. "Tidak akan pernah. Sekarang aku akan selalu bersamamu. Dan aku berjanji. Tidak akan meninggalkanmu. Dengan alasan apapun." Denis dengan lembut mencium kening Hana.
"Tapi aku,,," ucap Hana lirih, dengan kedua mata berkabut menahan rasa sedih.
Denis membawa Hana ke dalam pelukannya. "Apapun yang terjadi denganmu sebelumnya, tidak akan mempengaruhi kadar rasa cintaku padamu. Tapi malah menambah rasa cintaku."
Denis melepas pelukannya. Memandang lekat-lekat ke arah wajah Hana. "Kamu melewati semua sendiri. Menanggung beban sendiri. Perempuan hebat. Dan aku tidak akan melepaskan perempuan seperti itu."
Denis memegang kedua pundak Hana. "Setelah ini kamu hanya perlu diam. Biar aku yang menyelesaikannya."
"Tapi mama kamu." cicit Hana.
"Aawww....!!" seru Hana saat keningnya mendapat sentilan cinta dari Denis.
"Kamu hanya perlu diam. Soal mama. Aku yang akan berbicara." ucap Denis.
"Pulang kerja, kamu hubungi aku. Nanti aku jemput. Sekalian, ada yang ingin aku bicarakan dengan ibu kamu." jelas Denis.
__ADS_1
Denis menengadahkan kedua telapak tangannya di depan Hana. "Mana kunci mobil kamu?" tanya Denis, lebih kepada meminta.
"Di belakang." sahut Hana.
Denis membuka kunci pintu. "Ayo ke belakang. Ambil kunci mobil kamu."
Hana menatap ke arah Denis dengan tatapan penasaran. "Untuk apa?" tanya Hana.
Denis membalikkan tubuh Hana. Menjadi membelakanginya, menaruh kedua tangannya di pundak Hana. "Sudah, jangan banyak bicara. Ambil kunci mobil kamu." perintah Denis.
Denis berjalan mengekor di belakang Hana. Menatap Hana membuka sebuah loker, dan mengambil ras miliknya dari dalam.
"Mana, ambil." ucap Denis, karena Hana malah melihat ke arah dirinya kembali.
Segera Denis mengambil kunci mobil milik Hana. "Nanti aku jemput sayang, sekarang mobilmu aku pakai." jelas Denis, menampilkan deretan giginya yang putih.
"Loh,,,,," ucap Hana.
Denis tertawa melihat ekspresi dari sang kekasih. "Loh kenapa. Mobil aku sudah dipakai Lyra. Kamu tega lihat aku naik taksi." rajuk Denis.
"Pasti tidakkan??" ucap Denis, mendahului Hana yang akan membuka mulutnya.
Segera Denis mencium pipi Hana dengan singkat, dan berjalan keluar menuju area parkir.
"Khemmm,,, kheemmm." Hana terkejut, saat mendekat suara deheman dari belakangnya.
Hana memicingkan sebelah matanya. "Nora." kata Hana, karena Nora dengan tiba-tiba ada di belakangnya.
"Sejak kapan?" tanya Hana, merasa sedikit malu.
Nora bersedekap dada. "Sejak elo belum kerja di sini." canda Nora dengan wajah ingin menggoda Hana.
Nora mencekal lengan Hana yang hendak pergi begitu saja. "Eeeitt, mau kemana?" tanya Nora.
"Kembali bekerja." tukas Hana.
__ADS_1
"Baiklah, kamu hutang penjelasan padaku."Nora melepaskan cekalan tangannya.
"Nanti aku ceritakan. Tidak sekarang." ujar Hana, karena sekarang mereka harus bekerja kembali.