DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
HANA 06


__ADS_3

"Tidak boleh. Tidak. Aku tidak boleh membiarkan ini semua. Tidak. Jangan sampai aku kehilangan Denis." gumam Lyra dengan menggelengkan kepalanya.


"Tante Monic. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa menolongku. Iya, aku harus segera menemui tante Monic." tanpa membuang-buang waktu, Lyra melajukan mobilnya untuk pulang.


"Tante....!!!" seru Lyra dengan air mata yang sudah menetes di pipi.


Nyonya Monic begitu terkejut saat melihat Lyra pulang dalam keadaan seperti ini. Padahal tadi, Lyra keluar dari rumah dengan suasana hati yang senang.


"Lyra, ada apa denganmu." Nyonya Monic menangkap tubuh Lyra yang masuk ke dalam pelukannya.


Nyonya Monic mengurai pelukannya. "Oke. Stop. Hapus air mata kamu. Sekarang kita duduk dulu." ajak Nyonya Monic.


"Ambilkan air minum." perintah Nyonya Monic pada pelayan di rumahnya.


Nyonya Monic menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Lyra. "Sudah jangan menangis. Minum dulu." pinta Nyonya Monic. Begitu pelayan datang membawa segelas air putih.


Nyonya Monic mengibaskan telapak tangannya. Dengan segera pelayan tersebut mengambil kembali gelas berisi sisa air putih yang di minum Lyra ke belakang.


"Katakan. Ada apa?" tanya Nyonya Monic, membawa rambut yang lengket di pipi Lyra ke belakang telinga Lyra.


"Denis." ucap Lyra dengan masih tersedu-sedu.


Nyonya Monic mengernyitkan keningnya. "Denis. Kenapa dengan Denis?" tanya Nyonya Monic merasa khawatir.


"Denis lebih membela Hana. Denis memilih Hana. Denis mengabaikan Lyra, tante." isak Lyra kembali.


"Denis, Hana." ucap Nyonya Monic, belum begitu paham dengan perkataan dari Lyra.


"Oke, kamu tenang dulu. Cerita dengan jelas. Tante malah bingung melihat kamu seperti ini." jelas Nyonya Monic.


Lyra mengambil nafas, mengeluarkan dengan pelan. "Tadi Lyra pergi ke salon tempat Hana bekerja. Bersama dengan Denis. Lalu......" Lyra menceritakan semua kejadian di salon.


Dan pastinya, Lyra menaburkan bumbu pada setiap ceritanya. Sehingga terlihat sangat mendramalisir. Terkesan Lyra menjadi sangat pantas untuk dikasihani. Aisssshhh,,,, kenapa tidak jadi artis saja.


Nyonya Monic mengelus rambut Lyra. "Berani sekali Hana. Benar-benar perempuan tidak tahu malu." kesal Nyonya Monic.


"Kamu tenang saja. Nanti, tante akan bicara dengan Denis. Kita tunggu Denis pulang. Oke." ucap Nyonya Monic.


Lyra mengangguk patuh. "Berhasil." ucap Lyra dalam hati.


Lyra tahu, jika Denis pasti akan menuruti perintah dan permintaan dari sang mama. "Tante, kenapa Lyra dan Denis tidak segera bertunangan saja. Biar tidak ada perempuan yang berani mendekati Denis." saran Lyra.


Tampak Nyonya Monic terdiam. Ada rasa sedikit khawatir di wajahnya, saat Lyra mengatakan pertunangan. Karena beliau tahu dengan pasti. Jika Denis belum bisa menerima Lyra.


Selama ini, Nyonya Monic sudah bersusah payah membuat Denis menuruti semua kemauannya. Apalagi setelah kepergian Ella, Denis lebih mudah untuk di kendalikan. Dan tidak mungkin, beliau akan bersikap gegabah.


"Kelihatannya tante Monic masih ragu." ucap Lyra dalam hati, melihat ekspresi dari Nyonya Monic dan diamnya Nyonya Monic.

__ADS_1


"Aku harus berbicara sesuatu." ucap Lyra dalam hati.


"Tapi Lyra sadar tante, pasti Denis akan menolak." ucap Lyra dengan tatapan sendu.


Nyonya Monic menggenggam telapak tangan Lyra. "Lyra...." ujar Nyonya Monic.


"Sudah tante. Tante tidak perlu memikirkan permintaan Lyra. Sekarang bukan saatnya memikirkan pertunangan. Denis saja belum bisa menerima Lyra." ucap Lyra memotong perkataan Nyonya Monic dengan sedih.


"Kamu tenang saja. Nanti tante akan berbicara dengan Denis. Semoga Denis setuju." ucap Nyonya Monic.


"Serius tante." seru Lyra dengan senang.


"Iya." sahut Nyonya Monic.


"Setelah ini, gue akan menjadi Nyonya Denis Subara. Dan semua, akan ada dalam genggaman gue. Harta dan kehormatan. Tenang saja ma. Putrimu ini akan menyelamatkan keluarga kita dari keterpurukan." ucap Lyra dalam hati.


Lyra dan Nyonya Monic saling berpelukan. Tanpa mereka sadari papa Denis melihat semuanya. Ada raut tidak suka dari wajah Tuan Bara.


Apalagi sekarang, Lyra menunjukkan ekspresi yang menurutnya sangat mencurigakan. Tuan Bara segera meninggalkan tempatnya berdiri.


"Awasi setiap gerak-gerik Lyra." perintahnya pada kepala pelayan di rumahnya.


"Laporkan semua padaku. Jangan sampai istriku curiga." imbuh Tuan Bara


"Baik Tuan." ucapnya dengan sopan.


"Lyra. Medusa." ucapnya dalam hati.


Hana duduk di depan salon dengan tidak tenang. "Ckkk,,, mana sih Denis." sungut Hana.


Sebab mobilnya dipakai oleh Denis. Sementara Denis berpesan jika dirinya akan menjemput Hana. Tapi Hana sudah menunggu sekitar lima belas menit lamanya. Dan Denis belum muncul.


Tampak wajah Hana sangat kesal. "Tahu gitu tadi gue bareng Nora." keluh Hana.


Hana menolak tawaran Nora, saat teman kerjanya tersebut memberi tawaran untuk mengantarnya pulang. Hana beralasan jika sudah memesan taksi online. Dan tidak enak hati membatalkannya.


Hana berdiri dan menghentakkan kakinya ke lantai berkali-kali. "Denissss!!!!" geram Hana, meremas sendiri telapak tangannya, menyalurkan rasa kesalnya.


Dengan wajah cemberut, Hana mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Nihil. Tidak ada pesan ataupun panggilan dari Denis.


"Setidaknya bilang atau memberi kabar jika tidak bisa menjemput." omel Hana sendiri.


Sementara di perusahaan, Denis masih memimpin jalannya rapat. Karena rapat diadakan secara mendadak.


Lantaran ada laporan dari keuangan serta laporan dari sekertaris Denis yang berbeda. Membuat Denis memutuskan untuk segera membahasnya dan menyelidikinya.


Hingga rapat berakhir. Dan di ketahui jika ada sejumlah uang yang keluar dari perusahaan. Tapi tidak diketahui kemana uang tersebut bermuara.

__ADS_1


Dan yang lebih aneh, ada tanda tangan Denis di kertas tersebut. Sehingga pihak keuangan mengizinkannya.


Denis memegang lembaran kertas tersebut. "Tidak mungkin pihak keuangan berani melakukan ini." gumam Denis.


"Tuan, saya rasa ada yang mengambil keuntungan dari semua ini." jelas Miko.


Miko berasumsi jika memang ada yang sengaja menggunakan tanda tangan Denis untuk mencairkan sejumlah uang dari perusahaan.


Denis meletakkan kedua tangannya di atas meja, dan menggunakannya untuk menahan dagunya. Kedua mata Denis terpejam.


"Astaga!!" teriak Denis. Membuat Miko terjingkat kaget dan memegang dadanya.


"Hana." gumam Denis teringat sang kekasih.


"Segera selidiki. Aku harus pergi." ucap Denis terburu-buru.


"Biar saya antar Tuan." tawar Miko.


Denis menghentikan langkahnya. "Saya mau kencan. Apa kamu mau ikut." sarkas Denis.


"Maaf." ucap Miko.


"Cckk,,,, mana tahu kalau mau kencan." ucap Miko setelah Denis keluar dari ruangannya.


Miko mengambil lembaran kertas di atas meja kerja Denis. "Sepertinya gue sudah bisa menebak. Siapa orang yang berani melakukan ini." ucap Miko tersenyum sinis.


Dengan segera Denis melajukan mobilnya menuju ke salon. Tempat Hana bekerja.


"Maaf." itulah kata pertama yang terlontar dari bibir Denis, saat sampai di depan hadapan Hana.


Tampak ekspresi kesal dan cemberut di wajah Hana. Tanpa menyahuti perkataan Denis, Hana berjalan melenggang masuk ke dalam mobilnya.


"Denis..." geram Denis pada dirinya sendiri. "Kenapa bisa lupa." imbuh Denis, segera mengikuti Hana. Masuk ke dalam mobil, dan duduk di kursi pengemudi.


Hana masih dengan raut wajah kesal. Pandangan matanya menatap keluar lewat jendela. "Maaf, aku tadi ada rapat mendadak. Sumpah. Aku tidak berbohong." bujuk Denis dengan nada lembut. Membuat Hana meu melihat ke arahnya.


Tapi tetap saja sia-sia. Bahkan Hana masih membungkam mulutnya. Denis merasa bingung sendiri. "Sayang, maaf." Denis memegang telapak tangan Hana, dan menggenggamnya.


Dengan pelan, Denis melajukan mobilnya. Sesekali ekor matanya melirik ke arah Hana. "Sayang, kita cari makan ya. Sejak siang aku belum makam." ucap Denis, menggunakan cara lain.


Sepertinya Hana masih tidak menanggapinya. Sebenarnya, ada rasa khawatir dari Hana, saat Denis mengatakan jika dirinya belum makan siang. Padahal hari ini hampir gelap.


Denis menghentikan mobilnya di sebuah warung makan. Dimana, warung makan ini adalah tempat Denis dan Hana pertama kali makan bersama.


Dan saat itu, mereka belum menjadi pasangan kekasih. "Kita makan di sini ya." ajak Denis, membuka sabuk pengamannya.


Denis segera turun, dan membuka pintu mobil samping. Membantu Hana untuk keluar dari dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2