DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM 225


__ADS_3

Paman Haki sedari tadi hanya terdiam. Mengamati sesuatu sejak tadi. Hana, dia asisten sekaligus sahabat dari Ella. Bahkan sudah di anggap putri sendiri oleh kedua orang tua Ella.


Tapi sejak tadi, Hana dilarang keras oleh Viki maupun Reza untuk masuk ke dalam ruang rawat Ella. Bukankah, hal baik jika mengizinkan Hana masuk dan menemani Ella. Karena kedekatan keduanya.


"Ada apa ini. Ada sesuatu yang tidak benar di sini." batin Paman Haki.


Sekitar sepuluh menit, Rio datang membawa ponsel milik Ella dan juga mendiang Vano. "Tenang saja. Saya tidak selancang itu." ucap Rio sinis, manakala Reza menatapnya dengan tatapan curiga, saat Rio memberikan ponsel Ella dan Vano pada Reza.


Rio seolah tahu arti tatapan yang di berikan Reza pada dirinya. Yakni mencurigai Rio, seandainya Rio dengan lancang membuka ponsel pribadi milik Tuan mereka serta sang istri.


"Heh, meskipun kamu ingin melakukannya. Kamu tidak akan mampu." cibir Reza. Karena Reza tahu jika ponsel keduanya di lengkapi keamanan yang canggih. Tidak sembarangan orang bisa membukanya.


Rio hanya memutar jengah kedua bola matanya. Memang apa yang di pikirkan Reza tepat. Jika Rio hendak membuka ponsel milik Tuannya. Bukan ponsel milik Vano. Melainkan ponsel milik Ella.


Sejak pertama kali bertemu, Rio memang sudah tertarik pada sosok Ella. Tapi dia menekan rasa tersebut. Lantaran tidak ingin mati secara tragis dan sia-sia.


Karena pasti, jika Vano mengetahuinya. Rio tidak akan bisa bernafas lagi. Tapi entah kenapa sisi liar Rio tumbuh saat menggenggam ponsel milik Ella.


Bukan karena alasan Vano sudah tidak ada. Melainkan karena rasa penasaran. Rio merasa ingin tahu, apa saja yang ada di dalam ponsel milik Ella. Hanya itu. Tidak lebih.


Meskipun pada akhirnya Rio tidak bisa membuka ponsel milik Ella. Karena terdapat kata sandi, yang tidak bisa di bobol oleh sembarang orang. Mengingat siapa Ella, pasti dia sudah mempersiapkan sesuatu yang dia pegang terjamin keamanannya.


Reza masuk dengan perasaan cemas bercampur khawatir, serta takut. Reza menyimpan ponsel Vano dalam sakunya.


"Ini, Nyonya." Reza hanya memberikan ponsel milik Ella, dan terap menyimpan ponsel milik Tuannya, Vano.


Ella mengambil ponselnya dari tangan Vano. "Katakan. Dimana Vano?" tanya Ella sekali lagi. Dengan memandang ke semua orang di ruangan secara bergantian.


"Sayang..." ucap Nyonya Ane, mendekati sang putri.


"Ma, pa. Katakan. Jangan sampai Ella mencari tahu sendiri." pinta Ella memohon.


"Baiklah." putus Tuan Haris.


"Pa..." seru Nyonya Ane, menggelengkan kepalanya dengan tatapan memohon.


"Vano mengalami kecelakaan. Bersama dengan kamu." ucap Tuan Hendra. Dan Ell, masih bersikap tenang, melihat ke arah sang papa. Dan menunggu sang papa membuka mulutnya kembali.


"Nyawa Vano tidak bisa di selamatkan." imbuh Tuan Haris dengan nada lirih, memandang sendu ke arah sang putri.


Ella tertawa pelan. "Jangan bercanda pa. Katakan yang sebenarnya." ucap Ella.


Karena yang Ella tahu, dia menyetir seorang diri. Tanpa Vano di dalamnya. Bagaimana bisa, Vano mengalami kecelakaan bersama dengannya.


Sementara Nyonya Ane sudah mulai waspada dan terlihat takut. Apalagi Ella seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang papa.


"Papa tidak berbohong sayang." ucap Tuan Haris dengan nada lembut dan pelan.


"Oke,,, Katakan jika Ella percaya. Dan untuk itu, Ella butuh bukti." ucap Ella.


"Sayang..."


"Ma, Ella hanya ingin bukti. Jika memang suami Ella meninggal. Pasti ada jasadnya. Dan Ella, ingin melihatnya." ucap Ella dengan tenang.


Padahal hati Ella terasa sakit dan sangat sakit. Saat sang papa mengatakan jika suaminya telah tiada. Meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Tapi Ella tidak percaya. Tidak akan percaya, sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri, jasad sang suami. Apalagi sang papa bilang jika Vano mengalami kecelakaan bersama dengannya. Mustahil.


"Nyonya, anda bisa melihat berita yang memuat tentang kematian Tuan." saran Reza.


"Kamu pikir saya bodoh. Percaya dengan berita." ejek Ella pada Reza. Membuat Reza seketika menundukkan kepala.


"Sebelum ada bukti jika suami Ella telah tiada, Ella tidak akan percaya." kekeh Ella.


Tampak pandangan Ella sangat tenang. Tapi semua orang di ruangan tahu, jika sebenarnya hati Ella sedang gusar. Ella hanya menyembunyikan rasa sakit tersebut.


Dirinya belum bisa menerima kenyataan. Itulah sebenarnya yang terjadi. "Ell, jasad Vano sudah di kebumikan. Kami tidak bisa menunggu kamu. Karena saat itu, kamu sedang koma. Tidak ada yang tahu, kapan kamu akan membuka mata." ucap Tuan Haris.


"Oleh karena itu, kami memutuskan untuk memakamkan jasad Vano, tanpa menunggu kamu." imbuh Tuan Haris, mencoba memberitahu Ella.

__ADS_1


Ella menatap ke arah sang papa. "Ella butuh bukti." ucap Ella pelan, namun penuh penekanan.


Reza segera keluar dari ruangan Ella. "Bagaimana?" tanya Viki, dan Reza hanya menggeleng pelan.


"Nyonya berkata, dia ingin melihat jasad Tuan, jika memang dia sudah memang meninggal." ucap Reza lirih.


"Ella pasti akan sulit menerima kenyataan ini." ucap Hana lirih, tetap di tempat duduknya.


"Melihat jazad Vano. Mana bisa." ucap Viki.


"Sekarang, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Paman Haki.


Reza hanya diam, dan memandang ke arah pama Haki. Seolah dirinya juga sedang berpikir. Tiba-tiba, Reza menggeluarkan ponsel. Dan menghubungi seseorang. Dan ternyata, Reza menghubungi Tuan Danto.


"Maaf Tuan, mengganggu waktu anda." ucap Reza.


……………


"Nyonya Ella sudah di beritahu oleh Tuan Haris. Perihal kepergian Tuan Vano."


………………


"Tapi, Nyonya Ella tidak percaya. Beliau berkata butuh bukti."


………………


"Nyonya Ella menginginkan jasad dari Tuan Vano."


………………


"Baik Tuan." ucap Reza, menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana miliknya. Setelah Tuan Danto mengakhiri percakapan mereka.


"Apa kamu yakin?" tanya Viki, seolah dirinya tahu, apa yang sedang di pikirkan oleh Reza.


"Tuan Haris dan Tuan Danto memang melihat jenazah dari Tuan Vano. Saat jasad beliau masih di kediaman. Tapi, saat hendak di masukkan dalam liang lahat. Hanya Nyonya Risma dan Tuan Danto yang melihat jasad dari Tuan Vano." jelas Reza.


Memang, paman Haki masih menyebut Ella dengan panggilan Nona. Karena menurutnya, panggilan itu tidak akan pernah dia ubah, sampai kapan pun.


Viki memegang pundak Reza. "Aku akan masuk." pinta Viki, dan Reza hanya mengangguk.


Tatapan mata Reza beralih ke arah Hana. Segera Reza membuang muka, menyadari Hana juga menatapnya.


Dan Reza, sangat tahu. Arti tatapan Hana pada dirinya. Tatapan meminta dan memohon. Supaya dirinya juga di izinkan masuk ke dalam. Untuk melihat keadaan Ella.


Tapi Reza tidak mau mengambil resiko. Biarlah dulu, Ella mempercayai keadaan yang saat ini sedang dia alami. Percaya jika Vano telah tiada. Dan menerima dengan ikhlas.


Setelah itu, biarlah Ella menata hati. Menata hati karena telah di tinggalkan oleh orang yang di cintanya untuk selama-lamanya.


Reza tidak ingin, kehadiran Hana di dalam malah membuat emosi Ella tidak bisa terkendali. Karena dirinya juga tidak tahu, apa yang di rasakan Ella saat melihat Hana, berada di depannya.


"Aku hanya ingin melihat Nyonya Ella." ucap Rio, saat dirinya di hadang tubuh Reza.


"Hanya orang yang berkepentingan yang di izinkan masuk." tegas Reza dengan sorot mata tajam.


Rio mengepalkan tangannya dengan kuat. Memandang penuh amarah pada Reza. "Sebaiknya kalian jangan buat keributan." ucap Paman Haki.


Membuat Rio memundurkan langkahnya. Dan lebih memilih pergi meninggalkan rumah sakit. "Awasi terus Rio, seperti perintah mendiang Tuan." ucap Reza di balik ponselnya.


Paman Haki semakin penasaran dengan semuanya. Tadi Hana. Dan sekarang Rio. Padahal menurut jabatan dan posisi. Reza dan Rio adalah setara. Mereka sama-sama menjadi asisten dari Vano.


Tapi semuanya tidak sesempurna yang paman Haki lihat. Apalagi, bawahan Vano terlihat lebih mengikuti semua perintah dan intruksi dari Reza. Ketimbang Rio.


Di dalam ruangan, nampak Viki mengajak Ella berbicara ringan. Sambil menunggu kedatangan Tuan Danto dan Nyonya Risma.


"Tuan. Nyonya." sapa Reza dan Paman Haki, saat Tuan Danto dan Nyonya Risma tiba di depan ruangan Ella.


Dengan sopan dan hormat, Reza membukakan pintu kamar untuk kedatangan beliau berdua. "Paman, jangan izinkan siapapun masuk ke dalam ruangan." ucap Reza.


"Pasti."

__ADS_1


"Saya harus melihat kondisi Oma Yeti." ucap Reza, segera bergegas pergi ke ruang rawat Oma Yeti.


Nyonya Risma dan Tuan Danto melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidung mereka. Segera Nyonya Ane menghampiri Nyonya Risma. Mereka saling berpelukan. Saling menguatkan satu sama lain.


Viki segera menggeser tubuhnya, sedikit menjauh dari ranjang milik Ella. Membiarkan Nyonya Risma dengan leluasa mendekati Ella.


Tampak wajah sembab di wajah Nyonya Risma. Dirinya harus kuat. Karena disini, Ella lah yang sedang butuh dukungan.


Ella, dirinya kehilangan dua orang yang sangat berati dalam hidupnya. Sekaligus. Meski, janin yang di kandung Ella masih kecil, tapi Nyonya Risma yakin. Jika Ella juga terpukul.


Bukannya mereka tidak kehilangan Vano dan calon cucu mereka. Tapi setidaknya, mereka melihat langsung jasad dari Vano. Tidak seperti Ella.


"Ma, maaf. Ella tidak bisa menjaga calon cucu kalian." ucap Ella berada di dalam pelukan Nyonya Risma. Sementara Nyonya Ane. Menangis sambil memegang erat lengan sang suami.


"Husss,,, bukan salah kamu. Semuanya sudah takdir sayang. Semuanya sudah di atur oleh Tuhan. Kita hanya bisa mengikhlaskan." ucap Nyonya Risma, membelai rambut Ella dnegan penuh kasih sayang.


"Kenapa?" tanya Nyonya Risma, saat Ella semakin menangis, dan meremas baju Nyonya Risma dengan kencang.


"Pasti Vano sangat kecewa. Sehingga dia tidak mau menemui Ella." ucap Ella dalam tangisnya.


"Tuhan.." Nyonya Risma tidak dapat membendung tangisnya. Bahkan Tuan Danto segera berdiri di belakang Nyonya Risma. Mengelus dengan lembut punggung sang istri.


Dan Nyonya Ane, menangis di pelukan sang suami. Dengan mata menatap nanar ke arah sang putri. Dan Viki, menatap nanar pada sahabatnya.


Nyonya Risma segera mengusap air matanya. Mengatur kembali nafasnya. "Vano sangat mencintaimu. Dia pasti juga paham. Jika semuanya adalah takdir Tuhan. Mama yakin, Vano tidak pernah kecewa sama kamu. Tidak pernah sayang." ucap Nyonya Risma.


"Kamu istri dan menantu terbaik untuk keluarga Reyandli. Kamu wanita sempurna untuk Vano. Kamu sangat berharga untuk kami." imbuh Nyonya Risma.


"Tapi kenapa Ella sama sekali tidak melihat Vano. Bahkan, Ella tidak mencium wangi tubuhnya di ruangan Ella." ucap Ella di sela tangisannya.


Nyonya Risma memejamkan mata sebentar. Membuka kedua matanya, melihat ke arah besannya, yang nampak sedih. Beralih mendongakkan kepala. Menatap ke arah sang suami.


Tuan Danto tersenyum getir. Dan mengangguk pada sang istri. Memberi kekuatan pada sang istri, untuk mengatakan yang sebenarnya pada menantu kesayangannya.


"Ell, pasti papa kamu sudah menjelaskan pada kamu. Kenapa Vano sama sekali tidak menjenguk kamu. Ikhlaskan sayang. Ikhlaskan mereka berdua." ucap Nyonya Risma dengan nada lirih.


Ella melepaskan pelukannya pada Nyonya Risma. Membuat Nyonya Risma berdiri dan menatap ke arah Ella. "Ikhlaskan. Apa yang harus aku ikhlaskan lagi." ucap Ella, dengan raut wajah marah bercampur kesal.


"Aku sudah ikhlas, jika Tuhan mengambil calon anak kita. Aku ikhlas. Karena janin ini masih sangat kecil, dan rentan." ucap Ella dengan sorot mata tajam.


"Tapi Vano. Mana buktinya. Mana. Orang akan di katakan meninggal, jika ada jasadnya. Dan aku butuh bukti tersebut." kekeh Ella.


Tidak ada lagi air mata yang jatuh ke pipi karena tangisnya. Yang ada ekspresi wajah dingin yang Ella tunjukkan.


"Elll..." Nyonya Risma dan Nyonya Ane menangis dan memandang sendi serta iba pada Ella. Begitu juga Tuan Danto dan juga Tuan Haris.


Tuan Haris mengusap wajahnya dengan kasar. Matanya sudah memerah, melihat keadaan Ella.


"Ella mau bukti?" tanya Nyonya Risma dengan suara sedikit serak.


"Mama Risma. Mama buktinya sayang." ucap Nyonya Risma menunjuk pada dirinya sendiri.


"Mama melihat dengan mata kepala mama sendiri. Vano. Anak mama. Suami kamu. Tubuh Vano, di masukkan ke dalam liang lahat." ucap Nyonya Risma.


"Mama tidak berbohong Ell. Mama buktinya." ucap Nyonya Risma menangis, segera Tuan Danto memeluk sang istri yang menangis.


"Tidak ma. Ella tidak percaya." ucap Ella, dengan air mata meluncur bebas di pipinya.


"Aaahhjj...." desah Ella kesakitan, dengan tangan memegang perut bagian bawah. Dengan wajah tampak pucat.


"Ellll..." seru semuanya.


"Dokter...." segera Tuan Danto memencet tombol untuk memanggil dokter. "Elll..." segera Viki berlari ke sisi ranjang Ella.


"Tenang Ell, tenang." ucap Viki.


Beberapa dokter masuk ke dalam ruangan Ella. Mereka segera memeriksa kondisi Ella. Bahkan, untuk ketenangan Ella, sang dokter menyuntikkan obat bius pada Ella.


"Saya sudah memberi obat bius pada Nyonya Ella. Mungkin untuk beberapa jam ke depan, beliau akan beristirahat dengan tenang."

__ADS_1


__ADS_2