
"Apa nggak capek tu bibir?" tanya Vano melihat Ella memainkan bibirnya.
Ella menghembuskan nafas kasar. "Sumpah. Menjengkelkan. Bisa-bisanya." ucap Ella terdengar masih kesal dari suaranya.
"Sudahkah sayang, dua hari lagi kita akan menikah. Jangan sampai wajahmu terlihat kusut." Vano mencubit gemas bibir Ella.
"Iya benar. Dan dua hari lagi, gue akan sering berhadapan dengan nenek kamu dan asistennya. Lampir." batin Ella.
Ingin sekali Ella menggunakan tenaganya saat melawan mereka, tapi pasti mereka akan kalah. Dan Ella pasti akan di cap sebagai perempuan yang jahat di tambah lagi... ke-jam.
Susah bukan,, menghadapi manusia seperti mereka. Jika dibiarkan akan merusak gendang telinga. Jika di lawan, pasti percuma. Membuang waktu, tenaga, dan pikiran. Lantas, bagaimana cara menghadapi manusia model mereka.
Aiiissshhhh,,, menambah pekerjaan saja.
"Jika dia bukan Oma kamu, pasti sekarang sudah berada di dalam karung." batin Ella. Beras kalee pake dikarungin segala.
"Setelah ini kita ke mana?"
"Pulang saja, kasihan Hana. Dia sendirian di apartemen. jawab Ella. "Van.." panggil Ella dengan lembut, karena Vano hanya diam.
"Iya, tapi aku nggak mampir ya sayang. Ada pekerjaan." ujar Vano di jawab anggukan oleh Ella.
*****
"Kamu sudah sembuh. Nggak lagi bohongkan?" tanya Ella.
"Nggak, pokoknya aku nggak mau posisiku di ganti. Titik." ujar Hana lantang, saat mendengar jika Ella akan menyuruh orang lain yang akan merias dirinya saat acara pernikahan.
"Gue udah benar-benar sehat." Hana menyakinkan Ella yang masih terlihat ragu.
"Makasih sayang.." Hana memeluk Ella saat sang model mengangguk pasrah.
"Masa, gue sehari-hari make-upin elo, pas di hari pernikahan di ganti orang lain. Nggak banget." Hana menarik gemas pipi Ella.
"Malam ini elo nginep di sinikan?"
Hana melepaskan rangkulannya pada Ella. Dia mengangkat tangan dan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri. "Kenapa?" tanya Ella.
"Karena, kalau Hana tidur di sini. Kamu nggak akan tidur-tidur." ucap Nyonya Ane yang sudah berdiri di ambang pintu kamar Ella.
Karena seperti hari-hari sebelumnya. Jika mereka tidur bersama, pasti mereka akan menggosip terlebih dulu. Dan pastinya keduanya akan tidur larut malam.
"Sudah sana pulang. Suruh sopir yang antar. Keburu malam." ucap mama Ella pada Hana. "Sopir sudah siap di depan. Tadi mama sudah bilang untuk mengantar kamu." imbuhnya. Karena beliau tahu, pasti Hana akan menolak si antar oleh sopir dan lebih memilih naik taksi, jika tidak membawa mobil sendiri.
Bahkan Ella dan juga kedua orang tua Ella menyuruh Hana untuk memakai salah satu mobil mereka. Tapi Han selalu menolak dengan berbagai alasan.
Hana mencium pipi Ella. "Gue pulang." bisiknya dengan tangan menyambar tas selempang miliknya yang tergeletak di atas ranjang Ella.
"Hati-hati." Nyonya Ane memukul pelan pantat Hana.
__ADS_1
"Besok pagi dijemput sopir." teriak Nyonya Ane, di balas cengiran dan dua jempol tangan oleh Hana sambil memonyongkan bibirnya seperti ingin mencium.
Membuat Nyonya Ane menggeleng melihat kelakuan anak angkatnya tersebut.
Nyonya Ane masuk ke dalam kamar sang anak. "Putri kesayangan mama. Besok sudah jadi milik orang." ucapnya dengan mata berkaca-kaca memandang Ella.
"Jangan nangis dong mamanya Ellaaa,,,, emang mama mau, Ella nggak nikah-nikah."
"Husss... kamu itu. Kalau ngomong asal aja." tegur mama Ella.
"Sebentar lagi status kamu berubah sayang. Jadi seorang istri." Nyonya Ane mengelus pelan lengan Ella. "Seorang istri harus berbakti pada suaminya. Nggak boleh seenaknya sendiri."
"Jika dulu kamu selalu minta izin papa mama saat mau melakukan sesuatu, kedepannya kamu harus meminta izin pada suami kamu." Ella menatap sang mama dengan rasa haru.
"Mulai sekarang, kehormatan yang kamu jaga bertambah. Jika dulu setiap bertindak kamu selalu memikirkan mama dan papa, sekarang kamu juga harus memikirkan kehormatan suami kamu." Ella memajukan duduknya dan memeluk tubuh sang mama.
"Dan jaga bicara kamu. Jangan asal jeplak." ujar Nyonya Ane yang tahu betul sifat putrinya.
"Ma, apa menjadi seorang istri harus bisa memasak?" tanya Ella teringat Vano menanyakan siapa yang masak saat dirinya mengantarkan makan siang ke perusahaannya.
"Lihat mama." Nyonya Ane mengurai pelukannya. Memegang kedua pundak Ella. "Sebenarnya tidak masalah, jika seorang istri tidak bisa memasak. Tapi, ada sesuatu yang harus kamu ketahui sayang."
"Apa ma?"
"Dulu, mama juga tidak bisa memasak. Papa mu juga tidak pernah protes jika setiap hari yang menyediakan makanan adalah pembantu."
"Seingat Ella, dari dulu mama pandai memasak."
"Suatu hari, ada pertemuan keluarga. Semua orang saling berbincang. Termasuk mama. Tapi, saat mereka membicarakan tentang masakan mereka. Tentang suami mereka yang senang dan memuji masakan mereka. Mama hanya diam. Mama hanya tersenyum."
"Mungkin mereka menyindir mama. Siapa mereka ma. Katakan pada Ella." ucap Ella dengan emosi.
"Kamu itu, jangan berpikir negatif dong. Lagian mungkin mereka nggak tahu jika mama nggak bisa masak."
"Mama,,,,, pasti mereka sengaja." ucap Ella lantang.
"Dengerin mama dulu." Nyonya Ane mencoba menenangkan putrinya. "Lalu ada seseorang di antara mereka yang berkata seperti ini."
"Apa ma?" tanya Ella tidak sabar.
"Seorang perempuan, jangan hanya ahli dalam urusan ranjang. Tapi juga harus ahli urusan perut. Biar suami juga kenyang."
Ella memandang sang mama, membuat Nyonya Ane tersenyum lucu. "Jika sekarang Vano mencintai kamu, buat Vano lebih mencintai kamu setelah menikah."
"Dan mulai sekarang, kamu harus bisa membagi waktu. Untuk diri kamu, dan suami kamu." Ella berhambur memeluk sang mama.
"Ajari Ella masak ma." ucap Ella.
"Pasti sayang. Apapun buat kamu."
__ADS_1
*****
"Akhirnya, kamu menikah juga." ucap Nyonya Risma saat beliau berada di ruang tengah bersama Tuan Danto dan Vano.
"Aduhhh,,, mama sudah nggak sabar. Pengen ajak Ella jalan-jalan, nyalon, shoping." ucap sang mama tersenyum-senyum.
"Ma, Ella itu istriku." ujar Vano.
"Van, Ella itu menantuku." ucap sang mama tak mau kalah.
"Dia harus lebih banyak meluangkan waktu untuk suaminya."
"Mama yakin dia akan bosan sama kamu, jika kalian terus-menerus bersama. Kamu kan orangnya kayak gitu."
"Kayak gitu gimana?" tanya Vano tidak terima.
"Ya ngeboseninlah. Pasti Ella akan mencari mama. Kita akan healing berdua. Uluh-uluhhhh,,,, senangnya."
Tuan Danto hanya menggelengkan kepala dan tersenyum samar melihat Vano berdebat dengan istrinya.
Vano yang dulu lebih memilih diam dan jarang sekali berbincang, malam ini dia bahkan berdebat hal kecil dengan sang mama. Dan itu semua karena sosok Ella yang akan masuk ke dalam keluarga mereka.
"Vano akan membuat Ella betah berada di sisi Vano." ucap Vano percaya diri.
"Dan selamanya Ella akan menjadi milik Vano. Nyonya Muda keluarga Reyandli." batin Vano.
Seketika, Vano teringat dengan Hana. "Pasti sudah aman. Maaf sayang, aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi." batin Vano merasa takut jika Ella mengetahuinya. Dan pasti Ella akan meninggalkan dirinya.
Sekarang Vano benar-benar tidak ingin kehilangan Ella dalam hidupnya. Hanya beberapa bulan Ella bersikap cuek padanya saat dirinya ketahuan bermain perempuan, membuat Vano merasa ada yang salah dan aneh.
Bagaimana jika Ella benar-benar meninggalkannya. Pasti hidupnya akan kacau. Vano benar-benar tidak ingin Ella pergi dan menjauh dari dirinya.
"Tidak boleh. Selamanya akan menjadi milikku." Vano beranjak meninggalkan kedua orang tuanya yang memandang bingung padanya.
"Kenapa pa. Apa maksud anakmu itu." tanya Nyonya Risma karena Vano tiba-tiba berbicara sendiri dan pergi begitu saja.
"Mana papa tahu. Lagi pula dia juga anak mama. Papa hanya titip benih di rahim mama." ucap Tuan Danto nyleneh.
*****
Pagi hari setelah bangun tidur, Hana kembali memakai tespek. Meskipun rahimnya sudah di bersihkan dari ****** milik Vano, tapi Hana masih was-was. Dia tidak ingin kecolongan.
"Huhhh." Hana bernafas lega saat terdapat garis satu di alat tersebut.
"Jangan sampai gue hamil. Hidup gue sudah hancur. Jika gue hamil, hidup gue tambah hancur. Bahkan hidup orang lain juga akan hancur." batinnya kembali masukkan tespek ke dalam wadahnya.
Hana tidak membuang bekas tespeknya ke keranjang sampah. Dirinya takut jika sang ibu menemukannya. Pasti masalah akan datang. Hana memilih membuang sendiri saat dirinya keluar dari rumah.
Tentang Denis, Hana sudah siap jika dia menolak Hana karena dirinya tidak lagi perawan. Dan Hana akan berbohong jika dirinya melakukan pertama kali dengan mantan pacarnya sewaktu SMA
__ADS_1
Dimana Hana dan Ella belum saling kenal. Jika Denis bertanya pada Ella, maka Ella tidak bisa menjawab. Karena keduanya belum saling mengenal.
Hana,, Hana,,, kamu pikir Denis masih perjaka. Dia lelaki yang pernah tinggal di luar negeri. Dimana dirinya pernah menjalin cinta dengan perempuan di sana. Yakin, jika mereka berpacaran sehat.