DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
HANA 13


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Hana?" tanya Nyonya Ane, begitu sampai di depan ruang operasi Hana.


Denis mengangkat wajahnya, begitu mendengar suara dari Nyonya Ane. Begitupun dengan Tuan Bara dan Nyonya Monic.


Tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya, membuat Nyonya Ane bisa menyimpulkan apa yang sudah terjadi dan bagaimana kondisi dari Hana.


Terlebih ketiganya tampak kacau dan duduk di depan ruang operasi. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nyonya Ane tenang, bergantian memandang Denis dan kedua orang tuanya.


Denis dan Tuan Bara berdiri. Membiarkan Nyonya Monic untuk tetap duduk. "Hana kecelakaan tante." jelas Denis.


"Bukan itu jawaban yang aku inginkan." ujar Nyonya Ane dengan tatapan yang mampu membuat lawan merasa terintimidasi.


"Satu keluarga yang benar-benar berbahaya." ucap Tuan Bara dalam hati.


"Saya datang menemui Hana. Dan....." Nyonya Monic menceritakan semua kejadian yang dia lihat dengan kedua matanya. Termasuk bagaimana Hana mendorong tubuhnya. Untuk menyelamatkan dirinya.


Meskipun Nyonya Monic masih merasakan rasa syok. Namun beliau tahu, sedang berhadapan dengan siapa. Membuat Nyonya Monic seolah segera mendapatkan kesadarannya kembali. Membuatnya mengeluarkan suara yang sedari tadi tertahan.


Belum sempat Nyonya Ane berkata, dari arah yang sama dengan kedatangan Nyonya Ane. Tampak Bu Ningsih berlari dengan air mata sudah membasahi pipinya.


"Hana, putriku." jerit Bu Ningsih. Sebagai seorang ibu, Nyonya Monic juga merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Bu Ningsih.


Meskipun selama ini dirinya tidak merestui hubungan Hana dengan sang putra, tidak lantas membuat Nyonya Monic kehilangan rasanya sebagai seorang perempuan.


Segera Nyonya Ane memeluk Bu Ningsih. Mencoba menenangkan. "Tenang, semua akan baik-baik saja." Nyonya Ane menepuk pelan pundak Bu Ningsih.


"Nyonya,,,,," isak Bu Ningsih. Nyonya Ane membawa Bu Ningsih duduk. Menenangkan beliau.


Denis hanya bisa diam dan melihat, dia menatap nanar ke arah Bu Ningsih. Begitu juga Nyonya Monic, dia memeluk lengan sang suami.


"Tante, bisa saya pergi sebentar. Saya titip ibu dan Hana." pinta Denis dengan kedua mata sembab.


"Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Bawa beberapa bawahan Papa Ella. Mungkin mereka bisa membantu kamu." ujar Nyonya Ane.


"Pa, ma, Denis pergi dulu." pamit Denis pada kedua orang tuanya. Denis tidak berpamitan pada Bu Ningsih, lantaran beliau terlihat lemas dengan menyenderkan kepalanya di pundak Nyonya Ane.


Nyonya Ane tahu apa yang ada dalam benak Denis. "Pergilah, saya yang akan berjaga di sini. Kamu tidak perlu khawatir." Nyonya Ane tersenyum penuh arti, membuat Denis melangkah meninggalkan rumah sakit dengan perasaan tenang.


Sepeninggal Denis, Tuan Bara juga mengikuti sang anak pergi. Beliau beralasan ada pekerjaan di perusahaan. Padahal, beliau ingin membantu Denis mencari tahu siapa tersangka yang membuat calon menantunya berbaring di ruang operasi menjadi tak berdaya.


"Maaf, jika Hana tidak menyelamatkanku. Dan dia memilih menyelamatkan dirinya, mungkin sekarang Hana tidak akan berbaring di dalam." Nyonya Monic bersimpuh di hadapan Nyonya Ane dan Bu Ningsih.


"Mungkin sekarang saya yang berada di dalam. Bukan putri anda." imbuh Nyonya Monic lirih, menangis.

__ADS_1


Bu Ningsih hanya diam. Pandangan beliau kosong. Hanya air mata yang keluar dari dalam kelopak matanya. Entahlah, hanya bu Ningsih yang tahu. Apa sekarang yang ada dalam benaknya.


"Bangunlah. Tidak ada yang bersalah." ujar Nyonya Ane. "Monic." panggil Nyonya Ane, saat Nyonya Monic masih duduk di depannya.


Dengan perlahan, Nyonya Monic berdiri. Duduk di samping Bu Ningsih. "Kita hanya bisa berdo'a. Semoga Hana baik-baik saja." ucap Nyonya Ane.


Sementara Reza sudah mendapatkan kabar dari Nyonya Ane. Namun karena di sana Reza dan Arik masih mempunyai pekerjaan penting, membuat keduanya belum bisa kembali ke negara mereka.


Reza tahu, jika saat ini sudah bisa di pastikan. Jika pikiran Arik pasti tertuju pada sang kakak yang tengah berbaring di meja operasi karena kecelakaan tersebut.


Reza sudah menyuruh Arik untuk kembali terlebih dulu. Namun dengan tegas Arik menolak. Arik tahu jika saat ini cabang perusahaan yang berada di sini sedang mengalami masalah serius.


Dan Arik harus bekerja secara profesional. Sebab, jika dia meninggalkan Reza sendiri. Arik takut jika Reza kelelahan.


Dan yang paling penting, keamanan Reza di sini juga menjadi prioritasnya. Arik akan menjaga dan memastikan keamanan Reza. Membuat Reza bisa berkonsentrasi menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi.


"Baiklah, lebih baik kita segera menyelesaikan pekerjaan kita." pinta Reza, setelah mendapatkan penolakan dari Arik, aat Reza menyuruh Arik kembali pulang terlebih dahulu.


"Baik." kata Arik dengan tegas.


Segera menyelesaikan pekerjaan. Dan segera pulang.


...***************...


"Ha,,, ha,,,,!!!!" Lyra tertawa dengan puas. Dirinya mendapat kabar jika orang suruhannya berhasil membuat Hana celaka.


Lyra memegang gelas berisi air yang berwarna merah. Menggoyangkannya dengan perlahan. "Jangan salahkan aku. Jika sekarang kamu dalam keadaan sekarat. Salahkan saja dirimu. Padahal sudah berulang kali aku memperingatkan kamu." ucap Lyra, meneguk habis air berwarna merah tersebut.


Dengan percaya diri, Lyra merasa jika saat ini dirinya sudah menang. Dengan membuat celaka Hana, Lyra menganggap Denis seutuhnya akan menjadi miliknya. "Pergi saja kamu ke neraka." umpat Lyra menyumpahi Hana.


Tanpa Lyra ketahui, sekarang Denis dan sang papa sudah bergerak menyelidiki siapa yang menjadi penyebab kecelakaan tersebut.


"Aku harus menyuruhnya segera pergi meninggalkan kota ini. Jangan sampai Denis mengetahuinya." ucap Lyra, dengan segera menghubungi orang suruhannya.


"Cepat tinggalkan kota ini." perintah Lyra pada orang suruhannya.


Tanpa Lyra ketahui. Jika ada Nyonya Monic di samping Hana saat kejadian tersebut terjadi. Beliau melihat semua kejadian tersebut.


Karena memang, orang suruhan Lyra tidak menceritakan jika ada orang lain di sana. Dia menganggap tugasnya sudah selesai.


Yakni membuat Hana celaka. Lagi pula, dia juga tidak mengetahui siapa wanita yang berada di samping Hana, saat dirinya menabrak Hana.


Naas baginya. Baru saja dia melangkahkan kaki untuk meninggalkan rumahnya, bawahan Denis sudah menangkapnya.

__ADS_1


Dan pastinya dia di bawa ke markas. Di mana dia akan mendapatkan hadiah dari Denis. "Bangunkan dia." perintah Denis berdiri di depannya.


Byurrr..... Guyuran air tanpa permisi membuatnya terbangun dari pingsannya.


"Hah,,, hah,,,, khemmm,,, khem." terdengar deru nafas dan suara batuk darinya, saat dia tersadar karena guyuran air.


Seketika wajahnya bingung, melihat badannya terikat menjadi satu dengan kursi. "Lepaskan dia." ucap Denis dengan sorot mata tajam seperti elang, yang siap mengoyak mangsanya.


"Iiissshhhh..." desisnya, karena bawahan Denis melepas talinya dengan kasar. Membuat kulitnya terasa sedikit sakit.


Dia menatap ke sekeliling. Dimana ada beberapa orang di dalam ruangan tersebut. "Dimana ini? Siapa kalian?" tanyanya dengan tangan mengelus satu pergelangannya yang terasa sakit.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Denis langsung.


Bukannya menjawab pertanyaan Denis, dia malah berniat pergi meninggalkan tempat tersebut. "Aku tidak mempunyai urusan denganmu." ucapnya dengan nada santai.


"Benarkah?" tanya Denis menyeringai. Langkah kakinya terhenti, saat tangan Denis menyeret badannya dan membantingnya ke bawah.


"Aaaa....!!!" teriaknya kesakitan.


"Katakan." ucap Denis.


"Apa maumu?" tanyanya dengan memegang lengannya.


"Aaaaa....!!" jeritnya, saat Denis menginjak dadanya dengan kuat. "Siapa yang menyuruhmu?!" bentak Denis.


Dirinya sadar, jika sekarang dia sedang dalam keadaan bahaya. "Lebih baik jujur." ucapnya dalam hati. Sebab dia merasa sudah mendapat upah dari Lyra. Tidak masalah jika dia berkata jujur.


"Ba-baik. Ak-akan aku kata-kan." ucapnya terbata karena kaki dari Denis masih di atas dadanya.


"Huhh,,, huhh..." dia menetralkan irama nafasnya. "Saya juga tidak tahu namanya. Tapi dia seorang perempuan." jelasnya.


Denis memberi isyarat pada bawahannya. "Apa dia orangnya?!" tanyanya dengan menunjukkan sebuah foto pada lelaki yang sudah menabrak Hana.


"Iya. Benar dia." ucapnya dengan tegas.


"Tunggu. Apakah aku sudah bebas?!" tanyanya dengan nada berteriak, karena Denis tiba-tiba meninggalkannya.


"Kalian urus dia." perintah Denis tanpa membalikkan badannya.


"Heyyyy,,,,,, sialan. Pembohong..!!!" teriaknya.


Bawahan Denis mendekatinya. "Apa kamu pikir akan bisa keluar dengan selamat. Kamu tahu, calon Nyonya kami sedang terbaring tidak berdaya saat ini." ucapnya.

__ADS_1


"Dan kamu, sepertinya harus merasakan apa yang sudah Nyonya kami rasakan." seringai muncul di wajah bawahan Denis.


"Jangannnn... Lepaskan aku...!!!" teriaknya.


__ADS_2