DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 83


__ADS_3

"Van, turunkan aku di depan saja." pinta Ella.


"Kamu mau kemana?"


"Ada urusan."


"Biar aku antar. Tinggal sebut alamatnya saja."


"Tidak perlu, nanti kamu capek."


"Tidak."


"Lebih baik kamu pulang, istirahat saja."


"Kamu saja tidak capek. Mana mungkin aku capek."


Ella merasa berdebat dengan Vano hanya akan membuang-buang tenaga dan pikiran. Ella memutuskan untuk memberitahu alamat yang akan Ella tuju. Markas dimana Ella dan paman Haki beserta anak buah Tuan Haris biasanya bertemu.


Saat Ella menyebutkan alamatnya, Vano langsung memandang ke arah Ella. Dan yakinlah, Vano sangat tahu tempat apa itu.


"Terimakasih." Ella turun dari mobil. Begitu juga Vano, bukannya meninggalkan Ella, dia malah berjalan mengekor di belakang Ella. Membuat sang model menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Aku akan ikut." ucap Vano sebelum Ella membuka mulutnya.


Menghentikan atau mengusir Vano, tidak mungkin. Tadi saja Vano bersikekeh mengantar Ella. Apalagi sekarang Vano tahu tujuan Ella. Pasti akan lebih menempel lagi pada Ella. Seperti lintah yang menempel pada kulit. Sulit di lepas.


Ella hanya bisa membiarkan Vano mengikuti dirinya masuk. Karena yang akan Ella bahas mengenai Vera. Ella berpikir tidak masalah jika Vano mengetahuinya.


"Siang Non." kata mereka semua menyambut kedatangan Ella.


Mata mereka seketika melihat ke arah Vano dan menatap penuh tanda tanya dan waspada. Sementara Vano terlihat tenang. Karena dirinya tahu jika mereka tidak mungkin menyerangnya. Apalagi Tuan Haris adalah calon mertuanya.


"Nona Ella. Tuan Muda." Paman Haki sedikit menundukkan kepala menyambut keduanya.


Pandangan paman Haki menuju ke Ella. Seperti ingin menanyakan sesuatu. Mungkin, paman Haki bingung. Kenapa Vano juga datang. Ella mengerti arti pandangan dari Paman Haki, Ella hanya mencebik dan mengangkat bahunya ke atas. Membuat paman Haki mendengus.


Ella duduk di kursi, dengan Vano berada di sampingnya. Dan paman Haki duduk di depan Ella.


"Apa tidak berbahaya?" tanya paman Haki.


"Paman hanya takut jika media mengetahuinya. Semua akan berakibat fatal." imbuhnya.


Vano masih diam. Mencoba mendengar dan mencari tahu lewat telinganya.


"Paman tenang saja. Media, sudah ada yang mengurus. Tidak akan ada berita apapun." ucap Ella tenang.


Paman Haki bernafas lega. Dirinya tidak menyangka, gadis kecil yang dulu dia asuh yang mempunyai sifat manja, kini sudah berubah.


Ella menghubungi seseorang dari ponselnya.


"Gue serahin ke elo. Jangan sampai ada satu media pun yang mengetahuinya. Jika ada yang mengetahuinya, elo tahukan harus bersikap bagaimana. Ingat... Kalau sampai bocor, nyawa elo taruhannya." Ella mematikan sepihak penggilan teleponnya.


"Apa dia bisa di percaya Non?" tanya paman Haki.


"Bisa. Lagi pula paman tenang saja. Jika rencana ini gagal, Ella masih punya banyak rencana." ucap Ella menenangkan paman Haki.

__ADS_1


Bukannya tidak percaya dengan Ella. Selama ini beliau bekerja di bawah perintah Tuan Haris. Dan semua rencana ataupun perintah Tuan Haris selalu beliau jalankan tanpa bertanya. Dan pasti akan mendapatkan hasil sesuai keinginan.


Ella menggerakkan jarinya. Seorang lelaki bertubuh tegap berdiri di hadapan Ella. "Keluarkan dia, buat seoalah-olah dia bisa melarikan diri dengan kemampuannya sendiri. Jadi dia tidak akan curiga. Atur orangmu di setiap tempat. Kamu tahukan bagaimana caranya." jelas Ella.


"Baik Nona."


"Satu lagi. Jangan sampai kehilangan jejak. Paham." imbuh Ella.


"Paham."


Begitu beberapa orang meninggalkan ruangan untuk melakukan rencana, Ella kembali mengeluarkan ponselnya. "Di setiap jalan ada CCTV kota. Elo tahukan, apa yang harus elo lakuin. Gue nggak mau ada kata gagal. Paham." Ella kembali mematikan sambungan teleponnya.


"Bagaimana dengan adik Vera, paman?" tanya Ella.


"Masih diam. Dia sangat ulet."


"Cari kelemahannya."


"Sudah Non, tapi paman sedikit bingung. Apa Paman harus melakukannya." jelas Paman Haki.


Paman Haki mengatakan, jika ternyata dia bukan adik kandung Vera. Meskipun kedua orang tua Vera lebih menyayanginya dari pada Vera.


Dia di ambil dari panti asuhan. Karena merasa berhutang budi, dia selalu menuruti semua perkataan kedua orang tua angkatnya. Berbeda dengan Vera yang selalu semaunya sendiri. Mungkin itulah kenapa dirinya lebih di sayang dari pada Vera. Meskipun hanya anak angkat.


"Apa kedua orang tuanya mencari keberadaannya?" tanya Ella.


"Pasti Nona, tapi Nona tenang saja. Semua sudah paman atur." jelas Paman Haki.


"Panti asuhan." Ella memejamkan mata dan tertawa mengerikan.


"Berikan alamatnya. Ella akan selesaikan."


"Maaf, Non.."


"Paman fokus saja pada Vera. Untuk adiknya, dan panti asuhan. Serahkan pada Ella." ucap Ella memotong perkataan Paman Haki.


Sampai di sini, Vano paham apa rencana yang di buat Ella. Vano tersenyum samar. Dirinya semakin berniat menjadikan Ella sebagai istrinya.


"Aku akan menyuruh anak buahku untuk bergabung sayang." kata Vano.


"Jangan. Mereka belum pernah bertemu dan bekerja sama sebelumnya. Malah akan membuat semua berantakan." jelas Ella.


"Kalau begitu, apa yang bisa aku bantu. Katakan sayang." Vano mendekat dan meraih telapak tangan Ella.


"Apa kamu punya kenalan seorang peretas. Hacker." tanya Ella.


"Punya." Vano mencium telapak tangan Ella yang berada dalam genggamannya. Membuat paman Haki yang masih berada di sana menjadi sedikit canggung.


"Biarkan dia bekerjasama dengan orangku. Akan aku kirim alamat mereka."


"Baiklah. Dengan senang hati." Vano mengecup singkat kening Ella. Vano meras senang, Ella tidak menolak ciuman dari dirinya.


"Paman, Ella pamit. Mau pergi ke panti asuhan." ucap Ella.


"Non, mereka anak yatim piatu." ucap Paman Haki merasa cemas. Beliau takut jika Ella akan melakukan hal yang menyakiti mereka.

__ADS_1


Ella tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Paman Haki dan melihat ekspresi wajahnya. "Paman pikir Ella sejahat itu. Ella tidak segila itu paman." ucap Ella, membuat hati paman Haki lega.


"Sudah ah. Ella pergi dulu." ujar Ella.


*****


"Kenapa?" tanya Vano, karena Ella terus memandang ke arahnya.


"Kamu nggak capek?" tanya Ella. Karena sejak pagi, Vano menjadi sopir pribadi untuk Ella.


"Kerjaan bagaimana?" tanya Ella lagi setelah melihat Vano menggelengkan kepala.


"Tidak ada pertemuan penting. Lagi pula ada Reza."


"Reza. Dia memang sangat bisa di andalkan." gumam Ella memuji Reza.


"Di sini ada aku sayang, kenapa kamu memuji lelaki lain?" sungut Vano.


"Bicara fakta." ucap Ella.


"Reza menjadi seperti itu juga karena aku." ujar Vano masih tidak terima.


Terdengar bunyi ponsel dari dalam tas milik Ella.


"Viki." gumam Ella setelah melihat layar pada ponselnya.


"Ada apa Vik?" tanya Ella setelah menggeser layar ponsel.


"Kenapa kalian berbohong!!!" seru Viki dengan marah di ujung ponsel.


"Pasti dia sudah tahu tentang Jo." batin Ella. Tapi Ella tidak bisa berbicara panjang lebar dan menjelaskan padanya kenapa mereka berbohong pada Viki. Karena di samping Ella ada Vano.


"Nanti aku telpon lagi. Sekarang aku sedang sibuk." Ella segera mematikan ponselnya secara sepihak. Dan Ella yakin, sekarang Viki sedang uring-uringan dan melampiaskan kemarahannya.


Tapi itu lebih baik, dari pada Vano mendengar percakapan mereka berdua. Malah akan semakin berbahaya.


Ponsel Ella kembali berbunyi. "Denis." gumam Ella.


Kali ini Denis yang menelpon dirinya. Dan Ella yakin jika Denis juga akan berbicara masalah Viki.


"Ada apa Den?"


………


"Baiklah, gue segera ke sana." Ella mematikan panggilan teleponnya. Dan kembali menyimpan ponsel ke dalam tas.


"Hah,,,, dasar." desah Ella.


"Ada apa Ell?" tanya Vano.


"Van, lebih baik kita pulang saja. Kapan-kapan saja kita ke panti. Aku capek." ucap Ella mencari alasan.


"Baiklah." Vano melajukan mobilnya ke kediaman Tuan Haris.


Vano semakin penasaran. Instingnya yang tajam mencium rahasia besar di antara persahabatan mereka. Dan dirinya berniat untuk mencari tahu.

__ADS_1


"Jika ada masalah, kamu bisa ceritakan ke aku. Mungkin kita bisa berbagi beban." ucap Vano, mengelus rambut panjang Ella dengan lembut.


__ADS_2