
"Bagaimana?" tanya Ella di seberang telepon.
"Tenang,, aman. Sebentar lagi akan aku kirim."
"Secepat itu?" tanya Ella di ujung telepon.
"Pagi ini mereka berangkat sekolah. Jadi, kita gunakan kesempatan itu untuk mencegatnya."
"Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya." ucap Ella.
"Tenang saja, kali ini Dian pasti akan membuka mulutnya."
"Bukan itu. Aku ingin melihat hasil video kalian. Apakah hasilnya bagus, atau,,,,," goda Ella.
Belum sempat mendengar suara teriakan tidak terima dari Hana, Ella segera mematikan panggilan teleponnya sepihak.
"Ha ha ha ha... Pasti Hana sedang memaki gue." ucap Ella tertawa lepas sambil melihat ke layar ponselnya.
Belum genap satu menit, sebuah video masuk ke dalam ponsel Ella. Lagi-lagi Ella tertawa melihat kalimat yang dikirim Hana untuk melengkapi videonya.
PASTI VIDEONYA AKAN LEBIH MENARIK JIKA KAMU YANG TERGELETAK DI ATAS RUMPUT 😠ðŸ˜
"Astaga,,, dasar, Hana." gumam Ella.
Segera Ella membuka video tersebut. "Ooohhh, amazing." ucap Ella.
Tampak dua bocah perempuan berumur sekitar 9 tahun tergeletak di atas rumput dengan keadaan mengenaskan.
Kedua muka lebam. Bekas darah di ujung bibir. Tanda menghitam di leher. Yang berarti mereka berdua di cekik oleh tangan seseorang.
Kaki dan tangan terikat. Ada darah yang mengalir di sekitar paha mereka. Yang menandakan kedua bocah tersebut baru saja di perkosa.
"Elo memang hebat Han. Lihat, tampak seperti nyata. Kalian juga hebat. Bisa menyesuaikan ekspresi kalian." ucap Ella mengapresiasi kerjaan Hana dan juga kedua bocah tersebut.
Nampak jelas. Meskipun hanya berpura-pura, kedua bocah tersebut menampilkan ekspresi takut di wajahnya. Padahal mereka dalam keadaan mata terpejam. Tapi tetap bisa di lihat, bagaimana ketakutannya terbawa sampai mereka tiada.
Ella memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ingin rasanya Ella segera memberitahu dan memperlihatkan video rekayasanya itu pada adik tiri Vera.
Sebelum meninggalkan perusahaan Vano, Ella memutuskan untuk menemui Vano terlebih dahulu untuk memberitahunya jika dia akan meninggalkan kantornya.
Dengan langkah yang anggun, Ella berjalan menuju ruang pertemuan Vano dengan kliennya.
Pembicaraan Vano dengan rekan kerjanya terhenti saat ada ketukan pintu dari luar. "Cckkk." decak Vano saat ada yang mengganggu mereka.
"Maaf Tuan, biar saya lihat terlebih dahulu." ucap Imey.
Belum sempat Imey membuka pintu, Ella terlebih dahulu masuk dengan senyum manis yang menawan. "Maaf, mengganggu." ucapnya dengan sopan.
Imey melirik ke arah Vano. Dan pastinya tersenyum jahat. "Pasti akan kena marah." batin Imey.
__ADS_1
Karena Vano paling tidak suka ada yang mengganggunya saat dirinya sedang ada pertemuan.
Dua lelaki tak kalah tampan di samping Vano juga memandang Ella dengan tatapan kagum. Pastinya mereka tahu siapa perempuan cantik yang berani mengganggu pekerjaan mereka.
"Nona Ella, silahkan masuk." ucapnya dan langsung berdiri.
"Terimakasih." kata Ella dengan sedikit menundukkan badannya.
Vano melirik ke arah rekan kerjanya. Pastinya Vano tidak menyukai tatapan yang mereka berikan pada kekasihnya. Segera Vano berdiri dari duduknya dan menghampiri Ella. "Ada apa sayang. Bukankan aku menyuruhmu menunggu di ruangan ku. Disana ada kamar. Kamu bisa memakainya." tangan Vano terulur menyentuh pipi Ella dengan lembut.
"What." Imey melongo melihat perlakuan Vano pada Ella. Apa yang di inginkan dan di bayangkan dalam benaknya tidak terjadi sama sekali.
"Sial." batin Imey kesal. Belum pernah Imey melihat Vano bersikap lembut dengan ekspresi penuh sayang. Dan ini pertama kalinya Imey menyaksikan sendiri. Membuat sang sekertaris kesal.
"Aku mau pergi sama Hana." ucap Ella dengan raut wajah manis. Berharap mendapat izin dari Vano.
"Aku masih kerja. Sebentar lagi ya." bujuk Vano.
"Please... ya. Bolehkan."
"Tapi Elll.."
"Kamu nggak kasihan sama rekan kerja kamu." ekor mata Ella melihat ke arah dua lelaki yang sedang duduk dan tetap memandang ke arah Ella dengan senyum di bibir.
"Setelah selesai, kamu boleh menyusul. Oke." bujuk Ella.
"Vannn,,,," rayu Ella dengan memainkan matanya gemas.
Spontan, Vano memegang bibirnya. Rasa senang seketika membuncah. Padahal sebelum-sebelumnya Ella juga sering melakukan hal seperti ini. Tapi Vano acuh.
Entah kenapa kali ini Vano merasakan hal yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Katakan saja, seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.
Sepeninggal Ella, Vano melanjutkan perbincangan dengan rekan kerjanya. Ekspresi wajah Vano berubah seperti sebelumnya. Tidak ada lagi raut wajah lembut seperti yang di perlihatkan saat ada sang model.
Ella segera menaiki taksi online yang sudah di pesan sebelumnya. Pikirannya hanya tertuju pada Dian. Ella rasa kali ini akan berhasil membuka gembok mulut Dian.
Didalam taksi, Ella memberitahu bawahannya akan kedatangannya. Sesuai perintah Ella, mereka membawa Dian keluar dari penjara dan membawanya ke ruangan lain untuk menginterogasi Dian.
"Di mana dia." tanya Ella begitu sampai di markas mereka yang baru.
"Ada di sana Non." tunjuknya dengan mengantar Ella ke sebuah ruangan.
Ella menyipitkan matanya setelah melihat keadaan Dian. "Maaf Nona, dia tidak mau makan dan minum setelah kejadian itu." jelasnya.
"Ingin bunuh diri." ejek Ella memandang sinis ke arah Dian.
Ella memegang rambut Dian dan menjambaknya. Membuat kepala Dian mendongak ke atas. Mata Ella bertatapan dengan manik mata Dian.
"Jika kamu mati, akan aku pastikan seluruh penghuni panti akan menyusulmu." desis Ella di samping telinga Dian.
__ADS_1
Ella melepaskan tangannya pada rambut Dian. Sedikit mendorong tubuhnya ke belakang. Dengan kondisi yang seperti itu, membuat Dian langsung tersungkur ke lantai.
Ella mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan pada Dian. "Aku penuhi janji ku waktu itu. Lihat, aku bukan perempuan yang suka mengingkari janji."
Ella memegang dagu Dian. Sementara, video yang sudah di kirim Hana ia putar tepat di depan Dian.
Dengan keadaan yang sudah memprihatinkan dan badan yang sangat lemas tidak bertenaga, air mata Dian menetes di pipi.
"Lihat, pemandangan yang sangat menyenangkan. Bawahanku bekerja dengan sangat baik." Ella mengelus pelan rambut Dian yang tampak kumal dan kusam.
"Mana suaramu. Aku kangen dengan umpatan yang kamu ucapkan. Terdengar merdu di telingaku."
Ella menggerakkan jarinya, menyuruh bawahannya membawa Dian kembali ke tempatnya.
"Tunggu." ucap Dian lirih.
Ella tersenyum. "Ambilkan air minum." pinta Ella pada bawahannya.
Dian menolak meminum air yang di berikan bawahan Ella. "Aku memberikan minum bukan karena kasihan. Aku hanya tidak ingin kamu mati sebelum membuka mulutmu."
Meskipun dengan mata sayu, tatapannya terhadap Ella tetap penuh amarah. Dian meminum airnya hingga tandas.
"Katakan." ucap Ella dingin.
"Dia bilang, kak Vera kamu jebak. Sehingga Tuan Vano tidak mencintai kak Vera lagi."
"Aku tidak tertarik dengan cerita kakak tirimu." sergah Ella.
"Aku juga tidak begitu mengenalnya. Tapi, bawahannya selalu memanggilnya bos."
"Dimana kamu bertemu dengannya."
"Aku tidak tahu di mana. Mataku selalu di tutup saat di ajak ke sana. Penutupnya akan di buka setelah aku berada di dalam ruangan."
"Ruangannya."
"Hanya sebuah ruangan dengan satu meja dan kursi." ucap Dian.
"Apa ada yang ingin kamu katakan lagi."
"Dia selalu memakai jas rapi. Badannya besar dan tinggi. Dia tidak pernah menanggalkan kaca matanya."
"Apa lagi."
"Ada sebuah bekas sayatan di telapak tangan kanannya."
Ella menggerakkan tangannya. Memberi isyarat pada bawahannya untuk membawa Dian ke tempatnya.
"Jangan sakiti anak panti." ucap Dian.
__ADS_1
"Makan dan minumlah. Kamu harus tetap hidup jika menginginkan mereka hidup. Jika kamu mati, mereka akan menyusulmu." ancam Ella.