DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 190


__ADS_3

"Apa peralatannya sudah kamu siapkan?" tanya Ditya sembari membersihkan pistol miliknya.


"Sudah Tuan." jawab Doris, asisten Ditya.


"Maaf, apa tidak sebaiknya Tuan beristirahat?" saran Doris. Mengingat jika Ditya baru saja melakukan perjalanan jauh.


"Lakukan saja tugasmu." ucap Ditya, dirinya tidak menyukai jika ada seseorang yang memperhatikan dirinya.


Seolah bukan perhatian yang akan di dapat oleh Ditya. Dirinya malah akan merasa terkekang. Oleh karenanya, dia tidak menyukai siapapun memberi saran padanya.


"Maaf." ucap Doris.


Doris memasukkan semua peralatan yang di butuhkan Tuannya ke dalam ransel. "Keluarkan yang tidak perlu." ucap Ditya tanpa melihat ke arah Doris.


"Aku hanya ingin berburu. Bukan pindahan rumah." celetuk Ditya.


"Baik." Doris mengikuti perintah majikannya.


"Apa Tuan yakin, akan pergi sendirian?" tanya Doris, karena ini pertama kalinya Ditya pergi ke hutan itu sendirian, untuk berburu. Apalagi sebelumnya Ditya belum pernah mendatangi hutan tersebut.


"Kau pikir aku anak berusia lima tahun." ucap Ditya dengan nada tidak suka. Dirinya menganggap perkataan Doris seperti meremehkan dirinya.


"Maaf." lagi-lagi Doris mengulang kata tersebut.


Doris menghela nafas panjang. Sebenarnya Doris hanya takut terjadi sesuatu pada majikannya. Apalagi Ditya masih pertama kali menginjakkan kakinya di hutan tersebut.


Baru juga sampai, Ditya langsung menyuruh Doris untuk menemukan hutan. Di mana dia akan melakukan perburuan. Sebagai salah satu hobinya.


"Jangan berani menyuruh orang untuk mengikutiku. Kau akan tahu sendiri akibat dari mengabaikan perkataanku." ucap Ditya membenahi jaketnya yang melekat di tubuhnya.


Ditya tidak tinggal di apartemen selama berada di negara ini. Dirinya membeli rumah di kawasan elit. Rumah berukuran besar dan tentunya mewah.


Semua pembantu rumah berhenti mengerjakan pekerjaan melihat Ditya berjalan menuruni anak tangga. Mereka sedikit membungkukkan badan.


"Jaga matamu, jika masih ingin bekerja di sini." seru Ditya terus melangkahkan kaki, saat ada seorang pembantu perempuan yang masih muda mencuri pandang ke arahnya.


Doris hanya mendengus dan memandang tajam ke arah pembantu tersebut. Membuat pembantu tersebut langsung menundukkan kepala.


"Disiplinkan bawahanmu." ucap Doris pada pelayan utama. Di mana dirinya bertanggung jawab pada semua pembantu di rumah Ditya.


"Maaf." ucapnya.


"Hati-hati Tuan." ucap Doris menyerahkan ransel pada atasannya tersebut.


Tanpa berkata sepatah katapun, Ditya meninggalkan kediamannya. Menaiki motor sport yang baru di beli oleh Doris beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Bagaimana Boss. Kita bergerak sekarang?" tanya anak buah Doris.


"Misi di batalkan." ucap Doris melenggang pergi meninggalkan kediaman dari Tuannya tersebut.


Anak buah Doris tercengang mendengar perkataan dari bossnya tersebut. Tidak biasanya Doris menarik kembali perintah padanya atau pada rekannya yang lain.


"Bagaimana?" tanya rekannya. Dan dia hanya mengangkat kedua bahunya untuk menjawab pertanyaan dari rekan kerjanya.


Padahal Doris sudah memberikan perintah jika mereka akan mengintai kepergian Tuan mereka. Ditya. Untuk memastikan keamanannya.


Ditya menaiki motornya. Melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke tempat dimana dia akan melepaskan penat.


Ditya menghentikan motornya. Matanya memandang di mana juga ada sebuah motor sport tak jauh dari tempatnya berhenti.


"Asisten bodoh." geram Ditya, turun dari motor. Melangkahkan kaki mendekati motor yang terparkir sendirian, tidak jauh dari tempatnya.


"Dia bilang sudah memastikannya. Ternyata." geram Ditya, dengan pandangan mata menyapu sekeliling. Mengawasi sekitar hutan.


Ditya meminta Doris untuk mencarikan hutan yang tidak pernah di jamah oleh manusia. Dirinya benar-benar ingin sendiri, menikmati acara berburu hewan tanpa ada gangguan.


"Brengsek. Sudah sejauh ini aku pergi." kesal Ditya. Dengan mata menatap ke arah motor tersebut.


"Asisten tidak berguna. Lihat saja nanti. Bulan ini, gajimu aku potong." omel Ditya.


Dengan menahan rasa kesal, Ditya berniat meninggalkan hutan. Tapi langkahnya terhenti saat indera pendengarannya menangkap ada suara tembakan.


"Ckk,, dari pada mati penasaran." Ditya memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke dalam hutan. Tak lupa menyiapkan pistol di tangannya.


Niat hati ingin berburu, malah teralihkan untuk mencari tahu suara tembakan tersebut. Apalagi dia hanya menemukan sebuah motor di sisi hutan.


Berarti hanya ada satu atau dua orang di dalam hutan. "Apa yang ada di dalam sana?" batin Ditya penasaran.


"Kenapa asisten bodoh itu tidak menyelidiki hutan ini lebih dalam. Brengsek." umpat Ditya. Lagi-lagi menyalahkan Doris.


Sudah lebih dari satu jam Ditya mencari sesuatu di dalam hutan. Dan dirinya juga tidak tahu apa yang sedang dia cari.


Apalagi suara tembakan itu hanya terdengar satu kali. Dan kini sudah tidak terdengar lagi. "Brengsek. Padahal mau berburu." ucap Ditya kesal.


"Malah melakukan hal yang tidak berguna." imbuhnya.


Mata Ditya tidak sengaja menangkap adanya asap yang mengepul. Meski tidak banyak, tapi dia memastikan jika itu adalah asap.


Langkah kakinya dengan tergesa menuju ke arah tersebut. Hingga dirinya melihat seorang wanita sedang duduk sendiri. Membelakangi dirinya.


"Manusiakan. Pasti manusia." batin Ditya, menyadari jika sosok yang di pandanganya tersebut sedang waspada.

__ADS_1


Mungkin dia tahu akan kedatangan Ditya. Begitupun dengan Ditya, dia sudah siap jika sosok tersebut menyerangnya. "Bedebah. Bahkan jika memang bukan manusia, dia tidak akan lepas dari genggamanku." batinnya dengan sikap waspada.


Dan ternyata tebakan Ditya benar. Sebuah pisau melayang ke arahnya. Dengan sigap Ditya menghindar.


Betapa terkejutnya Ditya saat perempuan tersebut berdiri menatap dirinya dengan mata menyalang.


"Ella." gumamnya dengan mata berkedip lucu. Dirinya sungguh tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan yang membuatnya tidak bisa tidur akhir-akhir ini.


Tanpa berkata apapun, Ella melangkahkan kakinya mendekati Ditya yang masih terdiam tidak percaya akan bertemu dengan sang model di sini.


Ella melewati Ditya yang masih berdiri dan diam begitu saja. Tangan Ella mencabut pisau yang menancap di pohon. Lalu kembali melangkah ke tempat semula.


Hidung Ditya menghirup dalam-dalam hembusan angin yang bercampur dengan wangi tubuh Ella.


Ella memasukkan beberapa barang yang sempat dia keluarkan kedalam tas.


"Tunggu." seru Ditya menghentikan Ella yang melangkah meninggalkannya. Namun, Ella malah acuh, dan terus melangkahkan kakinya.


"Ell, kamu sama siapa di sini?" tanya Ditya berjalan di samping Ella. Dengan mata terus memandang wajah perempuan yang di pujanya. Sementara kakinya terus melangkah.


"Kamu sendirian?" tanya Ditya lagi. Namun Ella tetap diam.


"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Ditya bertubi-tubi.


Dengan reflek, Ella menghalau badan Ditya hingga keduanya seperti berpelukan. Padahal Ella sedang menancapkan pisaunya pada ular yang hendak mematuk Ditya.


"Mau mati!" ketus Ella.


"Tidak masalah, asal mati di tangan kamu." jawab Ditya aneh.


Dorr... Tanpa melihat, Ditya menembak ular yang masih menggeliat. Padahal sudah tertusuk pisau Ella.


Posisi keduanya membuat mereka sangat dekat, hingga Ditya dapat merasakan hembusan nafas Ella. Segera Ella memundurkan badannya, tapi.


"Kenapa harum badanmu begitu memabukkan." racau Ditya menarik pinggang Ella, hingga tubuh keduanya tertempel sempurna.


"Jangan lancang." Ella mendorong tubuh Ditya.


"Jaga batasanmu." desis Ella. Tapi Ditya malah merasa semakin tertarik dengan Ella.


"Doris, bulan ini kamu akan mendapatkan banyak bonus." gumam Ditya melihat Ella melangkah meninggalkannya.


Segera Ditya mengejar Ella. Dirinya benar-benar tidak ingin kehilangan Ella.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Vano seperti orang kesetanan mengemudikan mobil ke tempat yang sudah Rio katakan. Dirinya benar-benar tidak bisa menahan emosinya.


__ADS_2