DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 102


__ADS_3

Tiga siswa berseragam SMA berjalan di trotoar. Padahal matahari belum terlalu terik. Yang artinya jam sekolah masih berlangsung.


"Kita kemana nih?" tanya Viki yang berjalan di belakang Ella dan Denis.


"Makan yuk. Laper. Santai saja, sudah jauh dari lingkungan sekolah." ucap Ella.


"Okey kuy..." sahut Denis merangkul pundak Ella.


Viki segera mensejajarkan diri di samping Ella. Tangannya juga merangkul pundak Ella.


Semua mata yang berpapasan dengan mereka selalu menatap pada mereka dengan tatapan tidak suka. Dengan sedikit kicauan dari mulut mereka. Karena ketiganya masih berseragam SMA.


Ada pula beberapa orang yang memandang mereka karena terpesona dengan wajah mereka. Tampan dan cantik.


Seolah tidak punya telinga, mereka bertiga melangkahkan kaki dengan santai. Tanpa peduli perkataan dan pandangan orang yang berpapasan dengan mereka.


Dengan santai, mereka masuk ke dalam warung pinggir jalan. Makan dengan lahap makanan yang tersaji di meja, yang telah mereka pesan sebelumnya.


"Siapa yang bayar nih." ucap Ella sembari masukkan makanan ke dalam mulutnya.


Denis mengeluarkan uang "Gue." ucapnya menaruh uang di atas meja.


"Gue nambah ya. Sumpah, gue laper banget." ucap Viki.


"Terserah." kata Ella dan Denis bersamaan.


Mereka bertiga memang terlahir dari keluarga kaya. Tapi mereka tidak pernah pilih-pilih untuk makanan dan tempatnya. Yang terpenting tempat makan tersebut terlihat bersih.


Selesai mengisi perut, mereka bergegas pergi tanpa tujuan. "Heh, masa kita pakai seragam terus. Lama-lama risih juga di lihatin banyak orang." ucap Denis.


"Kita cari tempat buat ganti. Gue bawa baju ganti. Kalian bagaimana" tanya Ella.


"Aman." jawab Viki dan Denis bersamaan.


"Begini kan enak. Keren." ujar Viki setelah mereka bertiga berganti pakaian.


"Gue udah bilang sama mama kalau pulang telat. Mau nginep di rumah Elo. Besok kan hari minggu." ucap Ella menyenggol bahu Denis.


"Sama. Gue juga sudah izin." ucap Denis.


"Izin tapi bohong." celetuk Viki.


Malam ini, mereka sepakat akan mengunjungi club malam. Karena club buka saat malam hari. Ketiganya menggunakan waktu siang sampai sore untuk bersantai dan bermain game di tepi danau.


"Elo yakin. Kita ke sini?" tanya Denis ragu. Pasalnya mereka belum pernah sekalipun masuk tempat ini.


Ketiganya masih berdiri di depan sebuah club malam sembari menatap bangunan tersebut. "Nggak tahu gue. Ngikut kalian saja lah." ucap Ella pasrah.


Ella merasa dirinya seorang perempuan satu-satunya. Pasti Denis dan Viki akan melindungi dirinya.


"Tanggung nih. Sudah di depan sini. Masuk saja." ucap Viki yang merasa penasaran.


"Lihat-lihat doang." imbuh Viki menyakinkan.


Ketiganya dengan santai dan tenang masuk ke dalam club. Padahal, jantung ketiganya berdebar. Antara rasa takut dan juga penasaran menjadi satu.


Dan yang lebih parah, mereka menyogok keamanan untuk bisa masuk ke tempat tersebut. Karena umur mereka masih 17 tahun. Itupun baru berjalan.


"Waowwww..." ucap Denis. Seketika matanya membesar melihat banyaknya perempuan dengan pakaian minim memperlihatkan beberapa bagian badan mereka sedang berjingkrak ria mengikuti dentuman musik.

__ADS_1


"Busyet. Bisa-bisa gue budek." teriak Viki menutup telinganya.


"Kok gue puyeng ya lihat lampu kelap kelip." Ella sedikit menyipitkan kedua matanya.


"Gue juga Ell." imbuh Viki.


Denis menggandeng kedua tangan sahabatnya. "Kita ke sana." ajak Denis.


"Nggak apa-apa nih, kita duduk di sini." ucap Ella saat mereka mendaratkan pantat mereka di sebuah sofa.


"Kalau lihat di sinetron sih seharusnya nggak boleh. Karena biasanya tempat seperti ini sudah ada yang memiliki." ucap Viki.


Ella dan Denis memandang ke arah Viki. Lantas mereka berdua saling memandang. "Kita pindah saja jika nanti ada yang datang. Bereskan." kata Ella dengan polos.


Tak lama, seorang perempuan datang menawarkan minum. Dengan penuh percaya diri, Viki mengambilnya lalu meminumnya sampai tandas. "Wlueekkk. Minuman apa ini." ucap Viki menjulurkan lidah.


Membuat perempuan yang memberinya minum tertawa. "Tenang, itu gue yang traktir." ucapnya dan berlalu meninggalkan tempat mereka.


"Vik, elo kenapa?" tanya Ella saat Viki memegang kepalanya sambil menunduk.


"Kepala gue pusing. Perut gue mual. Kayak mau muntah." ucap Viki mengeluh.


"Lagian elo sih, main minum saja. Mana nggak tahu minuman apa tadi. Jangan bilang elo mabuk. Kita baru saja sampai. Sumpah,,, elo Vikkk." sungut Denis merasa kesal.


"Sudah Den." tegur Ella pada Denis. "Elo nggak apa-apa kan Vik?" tanya Ella merangkul Viki. Dirinya khawatir jika terjadi apa-apa sama Viki.


"Biarin saja." ucap Denis kesal.


"Kalau Viki kenapa-napa kita juga yang kena bego." sarkas Ella.


Viko sudah mulai berulah. Berucap nglantur. Dan selalu menyingkirkan tangan Ella yang berada di pundaknya. "Kita pulang yuk." ajak Ella.


"Denissss." geram Ella melihat kelakuan Denis.


"Makanya, jangan sok-sokan." dengus Denis.


Sekelompok lelaki berdiri di depan mereka. Entah sejak kapan mereka berada di sana. Ella dan Denis baru menyadari kehadiran mereka, karena terlalu sibuk mengurusi Viki.


Mereka memandang ke arah ketiganya. "Mungkin mereka yang punya tempat duduk ini. Seperti yang di katakan Viki." bisik Ella pada Denis.


"Mungkin." ucap Denis lirih sambil mengamati beberapa lelaki yang berdiri di depan mereka.


"Ampunnn,,,, ganteng banget." batin Ella melihat salah satu dari mereka.


Ehhh.. Ella dan Denis terkejut saat Viki melepaskan cekalan tangan mereka. Viki berjalan maju ke arah beberapa lelaki di depannya.


"Hai,,, kalian ganteng banget sih. Kenalan dong." ucap Viki dengan badan sempoyongan. Membuat mereka mengerutkan dahi.


Ella segera menarik kembali badan Viki. "Maaf, teman kami mabuk." ujar Ella.


Lagi-lagi Ella seperti terhipnotis dengan salah satu lelaki di depannya. "Suatu saat, aku akan mendapatkannya." batin Ella.


"Ell.." Denis menyenggol badan Ella.


"Kita bawa Viki pergi." Ella dan Denis dengan susah payah membawa Viki pergi. Apalagi Viki selalu meneriakkan sesuatu yang memalukan untuk di dengar. Membuat pengunjung club yang mendengarnya spontan memandang ke arah mereka.


"Hai tampan, sini aku temani."


"Hei,,, kau,,, tampan sekali. Pengen gigit deh."

__ADS_1


"Kamu kesepian ya,, sini sama aku. Nanti aku pijitin."


Ella langsung membungkam mulut Viki. Sampai di depan mereka menaiki taksi yang telah mereka pesan. Di dalam taksipun, Viki berulah kembali. Tangannya selalu meraba wajah Denis.


"Kalau kau bukan sahabatku. Sudah aku gebet kamu. Ganteng banget sih." Viki mencubit pipi Denis.


Denis merinding mendengar ocehan Viki. "Berhenti pak." ucap Denis. "Gue duduk di depan saja Ell." imbuhnya.


"Vik, elo kerasukan setan apasih. Sampai mabuk kayak gini." Ella dengan susah payah memegang badan Viki yang selalu ingin bergerak.


"Lepas. Kamu." Viki mengarahkan jari telunjuknya pada Ella. "Aku tidak akan pernah suka sama kamu. Jadi, kamu jangan dekat-dekat aku." Viki memukul-mukul badan Ella.


Ella memegang tangan Viki dengan erat. "Vik, stop...!!!" teriak Ella.


"Jahat..." Viki menyenderkan badannya dengan bibir mengerucut.


"Temannya mabuk mas." tanya sopir taksi.


"Iya pak."


"Biasanya, orang mabuk itu bicaranya memang nglantur mas. Tapi terkadang apa yang mereka katakan benar." imbuh sopir taksi.


Denis memandang Ella dan Viki dari kaca spion yang terpasang di atasnya.


Mereka membawa Viki ke apartemen Denis. Karena selama Ella masih bersekolah SMA, dirinya tidak mempunyai apartemen.


"Huhhh,,, gue nggak akan pernah ngajak Viki ke tempat seperti itu lagi." ucap Denis dengan nafas tersengal, terlihat kelelahan setelah membaringkan Viki di sofa.


Ella menyodorkan botol berisi air mineral pada Denis. "Ada apa?" tanya Denis setelah meneguk habis air di dalam botol tersebut.


Ella memandang ke arah Viki yang tertidur pulas. "Bagaimana jika yang di katakan sopir taksi itu benar." gumam Ella masih terdengar Denis.


"Jangan gila Ell. Mana mungkin." Denis melempar botol kosong bekas minumnya ke badan Ella.


"Ponsel." ucap keduanya bersama.


Mereka segera mengambil ponsel Viki di saku celananya. "Beruntung tidak menggunakan nomor pin." ucap Denis.


Mata Denis dan Ella menelusuri galeri foto dan video di dalam ponsel milik Viki. Ini pertama kalinya mereka melakukan hal seperti ini. Meskipun mereka bertiga berteman, tapi mereka tidak pernah menyentuh ponsel yang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Ella dan Denis saling pandang saat mereka telah melihat secara keseluruhan isi foto dan video yang terdapat di ponsel Viki.


Ella dan Denis melihat galeri foto dan video di ponsel Viki penuh dengan gambar lelaki tampan berbadan kekar dan macho dari berbagai negara.


"Tidak mungkin Ell. Tidak mungkin." Denis memegang kepalanya dam memejamkan mata.


"Astaga. Ini hanya mimpi. Sebentar lagi gue akan bangun." ucap Ella menyandarkan tubuhnya di kursi.


Beberapa menit mereka saling diam. Keduanya seolah membuang jauh-jauh pikiran negatif mereka tentang Viki.


"Elll." panggil Denis.


"Ini bukan mimpi Den." air mata Ella luruh.


Mereka berdua saling memeluk, saling menguatkan. "Astaga Ell." ucap Denis menatap Viki yang tengah berbaring tak sadar karena alkohol.


"Den,,," Ella melepas pelukannya pada Denis. "Semoga apa yang kita pikirkan tidak benar. Lagi pula Viki belum berkata apapun. Benarkan." Ella mencoba berpikir positif.


"Iya Ell. Benar." ucap Denis dengan mantap dan memegang pundak Ella.

__ADS_1


__ADS_2