
Semuanya masih terdiam. Tidak ada yang membuka suara. Ke empat lelaki yang biasanya akan berdiri dengan tegap dan memiliki wajah mengintimidasi bagi lawannya.
Saat ini tengah duduk terdiam. Tidak tahu apa yang sekarang tengah ada di dalam benak mereka. Seolah tidak ada tempat di dunia ini yang bisa membuat mereka tersenyum bahagia, dengan alasan apapun.
Sementara di dalam ruang rawat. Tengah terbaring tiga perempuan yang tak sadarkan diri. Dengan tangan terhubung cairan infus.
"Tuan, Nyonya Ella sudah dipindahkan ke ruang rawat." ucap salah satu bawahan Vano. Membuat keempat lelaki tersebut mengangkat kepala dan memandangnya.
"Dimana cucuku?" teriak Oma Yeti dari arah lain.
Tampak Oma Yeti datang dengan asistennya. Menghampiri Tuan Danto dan yang lainnya. "Dimana cucuku?" tanya Oma Yeti.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku, jika Vano mengalami kecelakaan. Vano itu cucuku." ucap Oma Yeti.
Belum sempat ada yang menjawab, Oma Yeti kembali membuka suara. "Risma." gumam Oma Yeti, saat beliau tidak menemukan anak perempuannya.
"Dimana Risma menunggu Vano. Antarkan aku ke ruangan Vano." pinta Oma Yeti.
Oma Yeti berpikir jika Nyonya Risma tidak terlihat, lantaran tengah menunggu sang cucu di ruang rawat Vano.
"Kenapa kalian diam saja!!" bentak Oma Yeti, saat semua orang malah terdiam dan memandang ke arahnya.
"Ma, sebaiknya mama pulang ke rumah." ucap Tuan Danto.
Sebenarnya, Tuan Danto sengaja tidak memberitahu Oma Yeti. Mengingat kondisi kesehatan sang mertua. Tuan Danto khawatir jika sang mertua tidak akan bisa menerima berita yang akan dia dengar.
Apalagi beliau mempunyai penyakit jantung. Tuan Danto hanya tidak ingin Oma Yeti malah akan anfal lagi. Dan memperburuk keadaan.
"Omong kosong macam apa kamu Danto!!" hardik Oma Yeti pada menantunya.
"Antarkan aku. Cepat!!" teriak Oma Yeti terkesan tidak sabar.
"Kamu menyuruhku duduk santai di rumah. Padahal cucuku sedang sakit. Apa kamu sama sekali tidak memandangku!!" bentak Oma Yeti, menatap tajam ke arah sang menantu.
Sejak dulu, Oma Yeti memang sangat menyayangi Vano. Bahkan di antara semua cucunya, hanya Vano yang paling di sayang.
Rasa sayang Oma Yeti ke Vano, bahkan melebihi rasa sayang Oma Yeti ke anaknya sendiri. Nyonya Risma.
Belum sempat Tuan Danto memberi pengertian pada Oma Yeti tentang alasannya, bawahan Vano datang dan memberitahu sesuatu pada Tuan Danto.
"Tuan, jenazah Tuan Vano sudah siap di bawa pulang ke rumah." ucapnya sedikit membungkukkan badan.
Tuan Danto melihat ke arah mertuanya. Spontan Oma Yeti membalikkan badan. Menatap ke arah bawahan Vano yang baru saja mengeluarkan perkataan jika jenazah Vano sudah siap di bawa pulang.
Plakkk..... Tangan Oma Yeti melayang. Menampar pipi bawahan Vano dengan tatapan menyalang.
"Dantoo!!!" teriak Oma Yeti.
Menunjukkan jarinya tepat ke arah bawahan Vano. "Siapa dia. Lancang sekali mulutnya." seru Oma Yeti, tidak terima.
Sementara bawahan Vano hanya diam. Dan menundukkan kepala. "Apa perlu kutunjukkan. Bagaimana cara merobek mulutmu. Hahhh!!" teriak Oma Yeti.
Oma Yeti merasa kesal dengan amarah yang membuncah. Mendengar seseorang menyebut kata jenazah. Dan itu ditujukan pada Vano. Cucu kesayangannya.
"Biar aku yang mengurusnya." ucap Tuan Haris. Dan Tuan Danto hanya mengangguk pelan. Denis dan Viki mengikuti langkah Tuan Haris. Meninggalkan Tuan Danto bersama mertuanya.
"Viki. Kamu tetap di sini. Jaga Ella dengan baik. Siapa tahu, dia akan sadar dengan cepat." ucap Tuan Haris.
"Pastikan keamanannya. Segera hubungi om, jika terjadi sesuatu." imbuh Tuan Haris. Karena dirinya tidak ingin ada musuh yang mengambil keuntungan dari keadaan Ella.
"Baik Om." sahut Viki. Segera bergegas pergi ke ruangan dimana Ella sedang di rawat.
"Denis. Ajak bawahan Vano. Amankan jalan yang akan dilalui mobil pembawa jenazah Vano." pinta Tuan Haris.
"Baik Om." ucap Denis. Segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuan Haris.
Sebelum menuju ke tempat jenazah menantunya, Tuan Haris menemui Paman Haki.
"Jaga mereka bertiga. Aku serahkan keselamatan mereka padamu." ucap Tuan Haris.
"Baik Tuan." ucap Paman Haki, yang di beri perintah untuk menjaga Nyonya Risma, Hana, dan juga istrinya.
Saat dalam perjalanan menuju ke tempat jenazah Vano berada, Tuan Haris menelpon bawahannya. "Amankan rumah duka. Jangan sampai ada musuh yang menyusup." perintahnya pada bawahannya melalui sambungan telepon.
"Tuan." sapa Reza, saat berpapasan dengan Tuan Haris.
"Semua sudah saya selesaikan." ucap Reza. Yang mendapat perintah, supaya pihak polisi tidak ikut campur dalam masalah ini.
"Sebaiknya kamu segera menemui Danto. Sepertinya dia akan membutuhkan bantuan tenagamu." ucap Tuan Haris.
"Baik Tuan." ucap Reza.
Dari kejauhan, Reza dapat melihat jika Oma Yeti berdiri di dekat Tuan Danto. "Kenapa Oma Yeti berada di sini?" gumam Reza merasa heran.
__ADS_1
Padahal Reza sudah menghubungi asisten Oma Yeti. Mengatakan padanya, jangan sampai Oma Yeti mengetahui kecelakaan yang di alami oleh Tuannya. Vano.
Asisten Oma Yeti mendekat ke arah Reza. "Maaf. Ada seseorang yang memberitahu Oma Yeti melalui ponsel beliau." ucap asisten Oma Yeti.
Dia menjelaskan pada Reza. Dirinya juga merasa bersalah, karena memperbolehkan Oma Yeti memegang ponsel. Dan dirinya juga khawatir. Mengingat kesehatan Oma Yeti.
Apalagi belakangan ini, Oma Yeti terlalu sibuk dengan Lena. Membuat kondisi kesehatannya semakin menurun.
Tuan Danto berjalan, mendekat ke arah mertuanya. "Ma, Vano telah tiada. Tuhan menyayangi Vano, Dia mengambilnya terlebih dahulu." ucap Tuan Danto dengan lembut.
Tuan Danto tidak ingin menyembunyikan apapun dari Oma Yeti. Kapalang tanggung. Karena sekarang beliau sudah berada di rumah sakit. Bukan hal sulit untuk Oma Yeti mencaritahu sendiri.
Lagi pula, sudah semestinya Oma Yeti mengetahui keadaan cucunya. Vano.
"Danto..." ucap Oma Yeti lirih. Badannya terhuyung ke belakang. Beruntung Reza dengan cekatan memegang tubuh Oma Yeti, agar tidak sampai terjatuh.
"Iya, ma. Vano telah tiada." ucap Tuan Danto dengan mata berkaca-kaca.
Oma Yeti menggelengkan kepala. Beliau merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh sang menantu.
"Tidak mungkin." ucap Oma Yeti, menitikkan air mata.
Tangan Oma Yeti terulur memegang dadanya. Wajahnya seketika pucat dengan nafas tersengal. "Cepat, panggilkan dokter!!" teriak Tuan Danto.
"Ma...." seru Tuan Danto.
Mata Oma Yeti semakin menyipit. Dia tetap memandang ke arah Tuan Danto, dengan raut wajah sedih bercampur rasa sakit. Air mata Oma Yeti mengalir di sudut matanya. Hingga beliau menutup mata. Tak sadarkan diri.
Segera Reza mengangkat badan Oma Yeti. Dan menaruhnya di atas ranjang pasien yang baru saja di bawa oleh perawat. Oma Yeti segera di bawa masuk ke ruang penanganan.
"Tuan, saya akan menjaga di sini." ucap Reza. Tuan Danto mengangguk pelan, menepuk pundak Reza.
"Hubungi aku, jika terjadi sesuatu. Apapun itu." imbuh Tuan Danto, pergi melangkahkan kaki meninggalkan tempat tersebut.
"Elll..." ucap Viki lirih. Melihat ke arah ranjang. Dimana Ella berbaring, dengan banyak selang menempel di badannya.
Viki mengambil kursi. Menempatkannya di samping ranjang Ella. Mendudukkan pantatnya di sana. "Kamu perempuan hebat. Aku yakin, kamu dapat melewati semua ini." ucap Viki menatap sahabatnya yang terbaring tak berdaya.
"Kamu tahu, sekarang semua orang sedang berdo'a untuk kesembuhan kamu." ucap Viki. "Kecuali Vano." batin Viki.
"Jadi, kamu harus segera membuka mata." ucap Viki.
"Elll..." ucap Viki, saat dia melihat jari Ella bergerak pelan.
"Dokter, saya melihat Ella menggerakkan jarinya." ucap Viki saat beberapa dokter masuk ke ruangan Ella.
"Membaik." ucap salah satu dokter yang memeriksa keadaan Ella.
"Syukurlah." timpal yang lain.
Sontak, pemandangan tersebut membuat Viki heran. Biasanya hanya akan ada satu dokter yang akan menghampiri ruang rawat pasien, saat keluarga pasien memanggil tim medis.
Tapi sekarang, bahkan ada lebih dari tiga orang dokter yang memeriksa Ella.
Bahkan, setelah salah satu dokter bilang jika keadaan Ella membaik. Beberapa dokter mendekat. Dan mulai memeriksa badan Ella secara keseluruhan.
"Syukurlah. Pasien sudah melewati masa kritis." ucap seorang dokter. Terlihat wajahnya tampak senang.
"Terimakasih Tuhan. Sekarang kami dapat bernafas dengan lega."
Viki mengernyitkan dahinya, dan tersenyum samar. Kini dia tahu, kenapa dokter-dokter itu masuk keruangan Ella dengan wajah tegang.
Dan setelah memeriksa dan memastikan keadaan Ella sudah membaik, mereka memasang wajah senang. Viki hanya menggelengkan kepala dengan pelan.
Viki dapat menebak apa yang terjadi pada mereka. Pasti para dokter tersebut bekerja dengan penuh tekanan dan ancaman dari keluarga Ella dan Vano.
Apalagi sekarang Vano telah meninggal. Di dalam ruang operasi. Meski kematian Vano bukanlah salah dari mereka. Tapi Viki tidak menyalahkan keluarga Ella ataupun Vano, saat mereka sedikit mengancam para dokter tersebut.
"Jika kalian sudah selesai memeriksa Ella, lebih baik kalian keluar." usir Viki.
"Pasien butuh ketenangan." imbuh Viki, menatap tajam pada semua dokter di depannya.
Apa... Bukankah seharusnya dokter yang berbicara seperti itu. Dan ini. Astaga. Viki malah berbicara seperti itu pada dokter. Padahal mereka baru saja memeriksa keadaan Ella.
Mereka tidak ingin berdebat dengan Viki. Karena mereka juga tahu siapa lelaki yang berdiri di depan mereka.
"Permisi. Kami keluar dulu."
"Jika Nyonya Ella sudah sadar, tolong segera panggil kami kembali." ucapnya.
"Pasti." jawab Viki dengan santai.
"Ckkk,,, mereka pasti sekarang dapat duduk dengan tenang. Setelah menyingkirkan duri di tempat duduk mereka." gumam Viki setelah dirinya hanya berdua dengan Ella di ruangan.
__ADS_1
Viki kembali duduk di kursi dekat ranjang Ella. "Kamu tahu Ell. Aku ingin, ketika kamu membuka mata. Aku ada di samping kamu." Viki menggenggam tangan Ella.
"Sekarang aku bisa bernafas lega. Pasti sebentar lagi kamu akan siuman. Sungguh Ell, aku tidak mau kehilangan sahabat seperti kamu."
"Ell,, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa mengalami kecelakaan begitu parah."
"Hingga Vano. Vano meninggal." ucap Viki lirih.
Di ruangan lain, Nyonya Ane tersadar lebih dulu. "Nyonya." ucap Paman Haki lirih. Beliau segera berdiri di samping ranjang Nyonya Ane.
Sementara di luar ruangan, tengah berjaga beberapa anak buah paman Haki.
Segera paman Haki berlari keluar dan memerintahkan anak buahnya untuk memanggil dokter. Dan beliau segera kembali menghampiri keranjang pasien milik Nyonya Ane.
Nyonya Ane memiringkan kepalanya. Dilihatnya Hana dan Nyonya Risma juga berada di satu ruangan bersama dengan dirinya.
"Ella.." gumam Nyonya Ane lirih.
Seorang dokter datang dan memeriksa Nyonya Ane. "Bagaimana?" tanya Paman Haki.
"Beliau baik-baik saja."
"Dok,, Ella." tanya Nyonya Ane.
Sang dokter tersenyum. "Nyonya tenang saja. Sekarang putri Nyonya sudah melewati masa kritis." jelas sang dokter.
"Syukurlah." ucap Nyonya Ane merasa lega. Begitu juga dengan paman Haki. Seperti ada beban berat yang sudah di angkat dari tubuhnya.
"Sekarang Tuan Viki sedang berada di ruangan Nyonya Ella." imbuh sang dokter.
"Vano." kata Nyonya Ane kembali.
"Jenazah Tuan Vano sudah di bawa pulang oleh Tuan Haris, Nyonya."
"Terimakasih. Bisa aku pergi ke ruangan putriku." pinta Nyonya Ane.
"Tapi Nyonya." ucap Paman Haki dan Dokter bersamaan.
"Aku jauh akan lebih baik. Jika sudah melihat wajah putriku." ucap Nyonya Ane.
"Lepaskan selang infusnya.Aku tidak membutuhkannya." imbuh Nyonya Ane.
"Baik Nyonya." ucap sang dokter. Karena memang keadaan Nyonya Ane baik-baik saja. Dan beliau tidak memerlukan cairan infus di tubuhnya.
"Paman Haki di sini saja. Jaga mereka. Biar saya di antar anak buah paman di depan." ucap Nyonya Ane.
"Baik Nyonya." Tuan Haki mengantar Nyonya Ane sampai di depan pintu.
"Jaga Nyonya dengan baik." ucap Paman Haki.
"Baik Boss." sahut anak buahnya. Paman Haki kembali masuk ke dalam dan menjaga dua perempuan yang belum sadarkan diri.
Beberapa menit setelah kepergian Nyonya Ane, Nyonya Risma juga mulai sadar.
"Vano..." gumam Nyonya Risma mulai membuka matanya secara perlahan. Segera Paman Haki menyuruh bawahannya untuk memanggil dokter.
Padahal di ruangan tersebut sudah dilengkapi tombol. Dimana pihak medis akan datang jika tombol tersebut di pencet.
"Vano...!!!" teriak Nyonya Risma.
"Tenang Nyonya." ucap Paman Haki.
"Aku ingin melihat anakku. Vano...!!!" teriak Nyonya Risma. Beliau mulai bangun dari tidurnya dan mengamuk ingin melepaskan selang infus.
"Nyonya!! Tenang!!" bentak Paman Haki.
"Jangan sampai Nyonya terluka dan kembali pingsan." imbuh Paman Haki, mengingatkan Nyonya Risma.
Nyonya Risma mulai tenang, tapi air matanya masih mengalir. "Antarkan aku menemui Vano." pinta Nyonya Risma.
"Pasti. Setelah selang infus ini dilepas oleh dokter."
ucap Paman Haki. Begitu dokter datang, Nyonya Risma meminta untuk melepaskan selang infus dari tangannya. Dan dokter menyetujuinya.
"Antarkan aku. Sekarang." ucap Nyonya Risma dengan lirih.
"Kalian jaga Nona Hana. Aku akan mengantar Nyonya Risma." ucap Paman Haki.
Paman Haki tidak bisa mempercayakan penjagaan Nyonya Risma pada anak buahnya. Karena sekarang keadaan sedang genting.
Apalagi mereka harus menempuh perjalanan beberapa menit untuk sampai di kediaman Vano. Dimana jenazah Vano masih berada di dalam rumah tersebut.
Paman Haki khawatir jika terjadi sesuatu pada Nyonya Risma saat perjalanan mereka menuju kediaman Vano, jika dirinya tidak menjaga Nyonya Risma.
__ADS_1
Hana mendengar suara berisik. Membuat matanya juga ikut terbuka. Hana tidak mengeluarkan sepatah katapun. Pandangannya lurus ke atas.