DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 148


__ADS_3

Betapa terkejutnya mereka mendapati Ella yang dengan santai menyahut percakapan mereka. Dan duduk tersenyum di atas ranjang.


"Nona Kayla,,,, apa kabar?" tanya Ella dengan nada lirih dan mendayu-dayu seraya tersenyum miring.


Tubuh Kayla mundur beberapa langkah ke belakang. Entah mengapa dirinya merasa takut melihat senyum dari istri Vano. Lelaki yang dia sukai. Padahal mereka hanya bertemu sekali. Dan pertemuan keduanya dengan Vano adalah di pesta Tuan Mark.


"Takut ya,,,,?" Ella dengan perlahan menggeser duduknya di atas ranjang. Sekarang dia duduk di tepi ranjang, dengan kaki menyilang. Dan kedua tangan di taruh di belakang tubuh sebagai tumpuan tubuhnya.


Memang sudah seharusnya kalian takut. Mencari masalah dengan orang yang salah. Apalagi sampai mengundang malaikat pencabut nyawa datang ke tempat kalian.


"Padahal baru saja kita bertemu. Apa Nona Kayla sudah kangen." ucap Ella, yang beberapa jam yang lalu sempat berbicara dengan perempuan di depannya.


Kayla memberi isyarat pada kedua bawahannya untuk maju. "Cih,,, sebentar lagi aku pastikan jika suamimu akan membuangmu seperti sampah." ucap Kayla penuh amarah.


"Astaga Nona, apa kamu sakit hati. Karena suami ku yang tampan dan kaya tidak mengenali dirimu." cemooh Ella, segera dia. berdiri saat kedua bawahan Kayla berada semakin dekat dengannya.


Dorrr.... dorr.....


Dengan gerakan cepat, Ella mengambil pistolnya dan melesatkan tepat di kepala bawahan Kayla. Membuat keduanya terkapar bersimbah darah.


Kayla mundur beberapa langkah, dirinya tidak percaya. Jika perempuan di depannya yang terlihat lemah lembut bisa memegang sebuah pistol. Bahkan membunuh orang dengan mudah.


Ella mengambil ponsel di saku celananya. Dan menghubungi Vano. "Sayang,,, jangan lupa ajak Tuan Moreno datang bersamamu." ucap Ella pada Vano di ujung ponselnya.


Ella mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku celananya. Ella tahu jika Vano menaruh cip di dalam ponselnya. Tapi dirinya berpura-pura pada suaminya jika dirinya tidak mengatahuinya.


Toh, Ella berpikir positif. Mengapa Vano sampai menaruh alat kecil di dalam ponselnya untuk mengetahui keberadaannya. Pasti karena sang suami menyayanginya. Dan ingin menjaganya.


Vano yang sedang menyetir mobil, menghentikan laju mobilnya saat ponselnya berdering. Belum sempat dirinya bertanya, sang istri menyuruhnya membawa Tuan Moreno. Lalu dengan cepat, Ella mematikan ponselnya.


"Ada apa ini sebenarnya. Kenapa,,,, Tuan Moreno." gumam Vano, mendengar Ella menyebut nama dari seseorang yang pernah menjadi rekan kerjanya.


Tidak ingin terjadi apa-apa dengan Ella, Vano menghubungi papanya dan meminta bantuan. Untuk membawa Tuan Moreno ke tempat yang Vano kirimkan.


Menjemput Tuan Moreno, pasti Vano akan kehilangan banyak waktu untuk cepat sampai di tempat Ella sekarang berada. Segera Vano melajukan kendaraannya dengan kencang ke tujuan awal. Ke tempat Ella berada.


Di rumah sakit, Tuan Danto menautkan alisnya mendengar perkataan Vano dari ujung ponselnya. "Dasar, tidak sopan" gumam Tuan Danto saat Vano menelpon, menyuruh, dan mematikan penggilan teleponnya.


"Katanya tidak butuh bantuan." imbuhnya.


Tuan Danto keluar dengan pelan, tidak ingin membangunkan yang lain yang sedang tertidur pulas. Segera beliau menghubungi asistennya. Beliau sendiri yang akan menjemput Tuan Moreno dan membawanya ke alamat yang Vano kirimkan.


"Kenapa Tuan Moreno. Ada masalah apa ini." batin Tuan Danto yang sudah berada di dalam mobil menuju kediaman Tuan Moreno.


Kembali lagi ke Ella dan Kayla.


"Kami pikir saya takut." sinis Kayla saat Ella memasukkan kembali pistolnya ke dalam baju.


Sementara di luar kamar, bawahan Kayla menggedor-gedor pintu. Mendengar suara letusan pistol.

__ADS_1


"Kamu berani melukaiku, papaku tidak akan tinggal diam. Pasti kamu tahukan, siapa papaku." ucapnya sombong.


Papa Kayla termasuk ketua mafia di negara ini. Beliau amat di segani dan pastinya di takuti. Karena itulah putrinya, Kayla selalu menyombongkan diri dengan membawa nama besar papanya. Dan bertindak semaunya.


Brakkk.... pintu kamar terbuka sempurna karena di buka paksa dari luar.


Semua mata bawahan Kayla memandang ke arah dua rekannya yang tergeletak tak bernyawa dengan bersimbah darah.


Pandangan mereka beralih ke Ella, lalu ke Kayla. Segera mereka berdiri di depan Kayla. Membuat formasi perlindungan untuk Kayla.


"Kayla,, Kayla. Kamu sama sekali tidak pantas menjadi putri Tuan Moreno." cibir Ella dengan berjalan mendekat.


"Sial, kita tidak membawa senjata." ucap salah satu bawahan Kayla lirih, tapi masih bisa di dengar oleh Ella.


"Hanya cantik dan seksi. Tapi tidak punya otak untuk berpikir. Menjaga diri sendiri saja tidak becus." hina Ella.


"Diam." bentak Kayla.


"Kalian,,, habisi ****** ini!!!" seru Kayla.


"Bisa apa mereka dengan tangan kosong. Menari." ledek Ella tertawa.


Beberapa bawahan Kayla menyerang Ella. Dengan gesit Ella menghindar. Dirinya tidak berminat untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat.


Dasar Ella, mana ada perempuan seperti istri Vano ini. Gemar sekali berkelahi.


"Aduh,,, payah sekali kalian." ejek Ella saat serangan mereka tak ada satupun yang mengena pada bagian tubuh Ella.


"Woww,,, wowww.." seru Ella dengan gesit menghindar lagi dari serangan mereka.


"Kalian beruntung, Tuan Moreno menerima kalian. Andai saya. Jangan harap. Berada di samping saya saja, kalian tidak layak." hina Ella lagi.


"Banyak bicara." serunya marah dengan tangan terkepal dan kembali menyerang Ella.


"Sebenarnya kalian laki-laki apa bukan sih. Letoy banget." ucap Ella saat nafas mereka mulai terlihat memburu.


Ella melepas jaket yang ia kenakan. Membuangnya dengan sembarang di lantai. Terlihat pistol yang terselip di pinggang Ella. Dan juga pisau lipat yang bertenger di tempatnya, di pinggang Ella.


Tangan Ella terangkat mengikat dan merapikan rambutnya. "Kalian sungguh mengecewakan." Ella menatap tajam semua lawannya.


Entah bagaimana pergerakan Ella yang begitu cepat. Dalam hitungan detik, semua orang di depannya sudah terkapar di lantai. Kecuali boss mereka. Kayla.


Semua merintih kesakitan. Memegang anggota badan mereka yang sempat di tendang dan di pukul oleh perempuan seksi dan cantik tersebut.


Kayla kembali memundurkan langkah kakinya. Hingga badannya menyentuh tembok di belakangnya.


"Kamu." bibir Kayla bergetar melihat Ella dengan mudah mengalahkan bawahannya.


"Aaaa....." teriak Kayla saat tangan Ella mencengkeram kuat lengannya dan menyeretnya keluar kamar. Tak lupa kakinya menendang anak buah Kayla yang mengerang kesakitan di lantai. Sementara tangannya yang bebas memegang pistol.

__ADS_1


Beberapa anak buah Kayla dari luar berlari masuk. Mereka segera menodongkan pistol melihat anak dari Tuannya dalam bahaya.


"Lepaskan." Kayla berontak. Tapi sayangnya, kekuatannya terlalu kecil untuk Ella.


"Kamu akan mati jika tidak melepaskanku." ancam Kayla.


"Aku takut." Ella tersenyum mengejek. Ella mengangkat pistolnya dan menembakkan ke atas dengan senyum menyeringai.


"Ambilkan tali." perintahnya.


"Aiiissshhh." melihat semuanya masih diam tidak bergerak dari tempatnya, Ella menaruh pelatuknya tepat di samping kening Kayla.


Segera salah satu dari mereka berlari dan membawa tali ke hadapan Ella.


"Taruh pistolmu." Ella mengangkat pistolnya pada seorang lelaki. Dengan patuh, dia menaruh pistolnya.


"Ikat dia." suruh Ella.


"Apa...!!!" teriak Kayla.


"Jangan berteriak. Gemar sekali kamu berteriak." Ella menembakkan pistolnya lagi. Dan kali ini bukan ke sembarang arah. Melainkan ke depan. Kaki salah satu anak buah Kayla menjadi sasarannya.


Seketika dia tumbang dan terjatuh ke lantai saat peluru mengenai kakinya. "Aaa,,," serunya dengan tangan memegang kakinya.


"Itu hadiah dari saya." Ella tersenyum. Ternyata yang di tembak Ella adalah salah satu yang menculik Ella di kamar hotel.


"Ikat..!!!" bentak Ella melihat lelaki di hadapannya masih diam dan belum mengikat tangan Kayla.


"Jangan sentuh saya. Atau aku akan menyuruh papa memotong tanganmu." ancam Kayla saat lelaki tersebut sudah memegang tali dan bersiap mengikat tangan Kayla.


Lelaki tersebut beralih memandang Ella. Ella tersenyum dan mengangkat senjatanya. Tanpa berpikir panjang segara di ikatnya tangan Kayla.


Ella mengibaskan tangannya, menyuruhnya mundur lagi saat dia selesai mengikat tangan Kayla.


Dorrr... Ella denan cepat mengarahkan pistolnya ke belakang dan menembak seorang lelaki yang diam-diam hendak menyerangnya dari belakang.


Ella memegang tangan Kayla yang sudah di ikat. Dibawanya duduk di kursi. "Apa mau mu?" tanya Kayla dengan nada tinggi setelah duduk di samping Ella dengan keadaan tangan terikat.


"Astaga, kecilkan suaramu Nona. Gendang telingaku bisa pecah." geram Ella.


"Kamu, akan menerima balasannya." ancamnya pada Ella.


"Bodo." Ella berbicara tepat di wajah Kayla.


"Siapa yang mengundang siapa. Kamu pikir saya dengan senang hati datang ke sini." Ella mengalihkan pandangannya pada anak buah Kayla yang bersiap dan berdiri di depannya.


"Pengganggu. Kalian mengganggu waktu istirahat." ucap Ella dengan tangan masih memegang pistol yang di arahkan ke dahi Kayla.


Beberapa lelaki yang sempat tergeletak di dalam kamar, kini sudah berjalan menuju ke ruangan di mana Ella dan Kayla berada.

__ADS_1


"Tenang saja, Tuan Moreno sedang dalam perjalanan." ucap Ella membuat semua orang di dalam bingung.


__ADS_2