
"Kamu lihat Elll. Kamu lihat." ujar Hana sembari memperlihatkan layar ponselnya.
Ella masih dalam keadaan tengkurap dan mata terpejam. "Apa?"
"Astaga, buka mata kamu Elll." geram Hana melihat Ella masih tengkurap dengan mata terpejam.
"Iya iya." ucap Ella kesal saat tangan Hana terus menggoyang-goyangkan badannya.
Dengan wajah bantalnya, Ella duduk dengan tangan mengucek-ngucek kedua matanya. Kedua matanya masih sayu karena baru terbuka.
"Lihat." Hana menyerahkan ponselnya pada Ella.
"Model terkenal berselingkuh dari kekasihnya." Ella membaca dengan malas sebuah artikel yang tertulis di layar ponselnya.
"Baca sampai bawah Ell." seru Hana saat Ella mengembalikan ponselnya.
"Nasib tragis pengusaha muda sukses. Di khianati kekasihnya yang berkecimpung di dunia model."
"Apa sih ini." Ella meletakkan ponsel Hana.
"Elll. Ini berita tentang kamu." geram Hana melihat Ella bersikap santai.
"Elo cemburu." celetuk Ella.
"Cemburu." ujar Hana.
"Itu pasti berita gue sama Denis. Kita sudah tahu. Biarkan saja. Kenapa, elo cemburu." goda Ella mencoel dagu Hana.
"Nggak, ngapain cemburu." kilah Hana.
"Eh, tunggu. Kok elo sudah tahu. Jangan-jangan kalian..." Hana menatap Ella dengan tajam sambil mengerucutkan bibirnya.
"Benar. Kita se,,nga,,ja." Ella mencubit gemas pipi Hana.
"Kalian ini." Hana menghela nafas kasar.
"Terus, bagaimana?" tanya Hana.
"Santai saja. Gue cuma penasaran. Siapa dalang di balik semua ini." Ella turun dari ranjangnya dan melangkah menuju kamar mandi.
Setelah Ella mengetahui bahwa ada seseorang yang mengintai dan memotret dirinya dengan Denis, Ella segera menyuruh anak buah papanya untuk mengikuti dan menyelidiki semuanya.
Dan Ella yakin, sebentar lagi pasti dirinya akan mengetahui siapa yang sudah merencanakan semua ini.
"Mandi yuk." ucap Ella saat dirinya sudah berada di balik pintu kamar mandi dengan menyembulkan kepalanya keluar dan mengerlingkan matanya.
"Gila." ucap Hana melangkahkan kaki keluar dari kamar Ella. Membuat Ella tertawa.
"Han,,,." panggil Nyonya Risma saat beliau melihat Hana keluar dari kamar Ella. Sebenarnya Nyonya Risma berniat menemui Ella. Meminta penjelasan tentang berita yang baru saja dia baca di layar ponselnya.
"Mama."
"Sini. Ikut mama sebentar." Nyonya Ane menarik lengan Hana.
"Ada apa ma?" tanya Hana.
__ADS_1
"Berita Ella dan Denis." ucap Nyonya Ane khawatir.
"Ooo,,, mereka sengaja ma. Kelihatannya ada seseorang yang ingin menjatuhkan Ella. Hana sendiri juga tidak tahu rencana mereka. Tapi mama nggak perlu khawatir. Ella kan hebat. Lagi pula, ada Denis." jelas Hana.
"O iya ma, sekalian Hana mau pamit. Hana sudah sembuh. Hana kangen ibu sama Arik."
"Iya." ucap Nyonya Ane sembari mengusap pelan pundak Hana.
Hana kembali ke dalam kamarnya. Menyenderkan badannya di balik pintu. "Kenapa perasaan gue mendadak tenang." gumam Hana merasa aneh.
Benar. Setelah Hana membaca artikel mengenai Ella dan Denis, ada sesuatu yang mengganjal di hati Hana. Rasanya air matanya ingin keluar dari kelopak mata. Tapi dia sendiri juga tidak tahu kenapa.
"Mungkin karena gue khawatir sama Ella. Iya. Benar." ucapnya pada diri sendiri.
"Gue nggak mungkin cemburu. Gue khawatir sama Ella." imbuhnya.
Cinta. Mungkin tanpa Hana sadari, dalam hatinya sudah mulai timbul benih-benih cinta untuk Denis. Tapi Hana selalu menjauh dan berusaha cuek saat Denis mendekati dirinya.
Hana merasa minder, karena Denis termasuk golongan keluarga seperti Ella. Terpandang dan kaya. Sementara dirinya, termasuk keluarga menengah ke bawah.
Ketakutan terbesarnya, adalah keluarga Denis. Apakah dirinya bisa di terima oleh keluarga besar Denis atau tidak.
Selesai mandi. Dengan handuk masih melilit di tubuh, Ella menerima panggilan telepon dari seseorang. "Baiklah. Gue ke sana." ucapnya sembari memutuskan panggilan telepon.
"Gue pikir suhu. Ternyata cupu. Baru hitungan jam sudah ketahuan. Nggak asyik." ucap Ella mengetahui siapa sutradara di balik berita dirinya dan Denis.
*
*
Begitu mendengar berita mengenai Denis dan Ella, Viki bergegas menghampiri Denis di apartemennya. Itupun dirinya masih dalam keadaan baru bangun tidur.
"Apa-apaan sih elo." Denis menggelengkan kepala melihat pakaian Viki.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Kalian berdua yang apa-apaan." bentak Viki.
Belum sempat Denis membuka mulut, bel apartemennya berbunyi kembali.
Bughhh....
Satu pukulan bersarang di wajah Denis saat dirinya membuka pintu. Karena tidak siap, tubuh Denis terhuyung ke belakang.
"Hoee." teriak Viki melihat Denis dipukul oleh Egi.
"Apa-apaan elo." seru Denis memegang pipinya yang sakit karena ulah Egi.
Viki segera mendorong tubuh Egi untuk menjauh dari Denis. Tampak jelas raut wajah Egi yang terbakar emosi. Belum reda, seseorang kembali menerobos masuk dan mendorong tubuh Viki yang tepat berada di depan Denis.
Bughhhh....
Dan lagi. Wajah tampan Denis kembali mendapat hantaman dari seseorang.
"Kalian ini. Ada apa ini." teriak Denis.
"Berhenti." teriak Viki juga.
__ADS_1
Vano dan Egi, mereka langsung menyatroni apartemen Denis begitu mendapat kabar tentang artikel Ella dan Denis.
"Kalian pikir nggak sakit." Denis memegang pipinya karena mendapat pukulan dari dua orang yang berbeda di tempat yang sama.
"Elo saudara gue. Seharusnya elo tahu. Gue tertarik sama Ella. Kalau elo juga suka sama Ella. Jangan main belakang." seru Egi dengan nada tinggi.
"Ella. Jadi ini semua karena berita itu. Kalian semua datang ke sini." Denis menatap ketiga lelaki di depannya bergantian.
Seketika Denis tertawa terbahak-bahak melihat penampilan ketiganya. Bahkan dia seakan lupa dengan rasa sakit di wajahnya.
Viki dengan setelan piyama tidur lengan panjang dan celana panjang berwarna biru muda. Membuatnya jadi lebih imut.
Egi dengan kaos oblong warna putih dengan celana pendek di atas lutut. Seperti bapak-bapak habis ngeronda. Tetapi bapak yang tampan.
Vano dengan boxer dan jaket melekat di tubuhnya tanpa menarik resletingnya. Sehingga memperlihatkan perut kotak-kotak yang menggoda. Yang ini tidak bisa di jelaskan. Bagaiman seksinya seorang Vano.
"Apa ada yang lucu." suara bariton Vano yang tegas dengan raut wajah dingin membuat Denis diam seketika.
"Khemm. Kalian bertiga yang lucu. Lihat." jari telunjuk Denis menunjuk bergantian ke arah ke tiganya.
Keadaan hening beberapa saat. Ketiganya saling memandang dan memperhatikan penampilan yang lainnya. Denis menaruh telapak tangannya di depan mulut. Dia tidak ingin suara tawanya kembali keluar dari dalam mulut.
"Oke. Gue akan jelasin semua. Lebih baik kalian duduk." ucap Denis mencoba menguasai keadaan.
"Duduk. Ya terserah kalian sih, jika ingin berdiri terus." seru Denis, karena ketiganya masih setia berdiri.
Ketiganya lantas mendaratkan pantatnya di kursi empuk milik Denis.
"Biar gue ambilkan minum."
"Tidak perlu bertele-tele. Langsung saja." ucap Vano saat Denis hendak beranjak.
"Oke." ucap Denis.
"Gue sama Ella sengaja melakukannya. Ada seseorang yang membuntuti dan sepertinya selalu mengawasi Ella. Dan,,, kalian tahulah maksud gue." jelas Denis.
"Astaga. Serius." ucap Denis karena sepertinya mereka bertiga tidak percaya dengan ucapan Denis.
"Bentar." Denis beranjak dari duduknya mendengar ponselnya berbunyi.
"Gue masih di apartemen. Kenapa?" tanya Denis dengan seseorang di ujung ponselnya.
"Serius elo. Oke." ucapnya sembari mematikan sambungan teleponnya.
"Gila, gercep juga anak buah Ella." ucap Denis.
Ternyata Ella menghubungi Denis dan memberitahu jika anak buahnya sudah memperoleh informasi di balik foto mereka.
"Ella sebentar lagi ke sini. Lebih baik kalian tunggu sebentar lagi." ucap Denis pada Vano, Egi, dan Viki.
*****
Siapa kira-kira orang di balik beredarnya foto Denis dan Ella. Kenapa Ella bilang jika penjahat tersebut masih CUPU. Jadi penasaran othor... 🙄🙄
Aduhhhhhh duhhh duhhhh.....
__ADS_1
Bagaimana ekspresi Ella saat dirinya menemukan ketiga lelaki di apartemen Denis dengan gaya mereka. Nggak sabar nichhhh 😅😅😅