DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 86


__ADS_3

"Tuan Vano." gumam mereka.


Seketika semua wartawan tampak menyingkir mengerubungi Ella saat melihat siapa yang telah datang. Apalagi tatapan Vano pada mereka. Membuat buku kuduk mereka seakan berdiri semua, merasakan rasa takut. Seakan ada bahaya yang mendekati mereka.


Vano tidak datang sendiri. Di belakangnya ada beberapa orang dengan pakaian rapi memakai setelan jas. Juga ada Reza di antara mereka. Sudah dapat dipastikan, mereka adalah bawahan Vano.


Hana segera melangkahkan kaki ke belakang. Berdiri di samping Reza. Sementara Vano, berdiri di samping sang model dengan gagahnya.


"Kenapa kalian ada disini?" bisik Hana pada Reza.


"Karena kalian."


"Maksudmu."


"Husstt, diamlah." bisik Reza. Membuat Hana mengerucutkan bibirnya. Merasa sebal karena tidak mendapatkan jawaban yang jelas dari Reza.


"Tuan Vano." sapa seorang wartawan.


Vano sepertinya sengaja menghiraukan kerumunan wartawan di depannya. Tangannya dengan posesif melingkar di pinggang ramping sang model.


Menegaskan jika Ella hanyalah miliknya. Dan hubungan mereka dalam keadaan baik-baik saja.


"Honey, maaf terlambat." Vano mencium mesra dahi Ella.


"Apa kamu baik-baik saja." Vano memegang dagu Ella dan membawanya menghadap pada dirinya.


"Iya. Aku baik-baik saja." ucap Ella tersenyum manis.


"Lebih baik kamu segera masuk. Pasti beliau sedang menunggumu." Vano mengelus pelan rambut panjang dan indah milik sang model.


Perlakuan Vano pada Ella di depan semua awak media secara langsung menepis gosip jika Ella memiliki hubungan dengan Jo. Juga kandasnya hubungan keduanya.


Semua wartawan tidak menyia-nyiakan momen tersebut. Jepretan demi jepretan dan juga alat perekam mulai mengarah pada Ella dan Vano yang terlihat romantis.


Bahkan ada yang secara langsung menyiarkan momen tersebut. Mereka tampak terpana dengan sikap lembut yang di tujukan Vano pada Ella.


Karena selama Vano menjalin hubungan dengan Ella, ini pertama kalinya mereka melihat sikap lembut yang Vano berikan pada Ella di depan umum.


Dahulu, mereka mengira jika Vano sangat menjaga privasi. Sehingga Vano tidak mau menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. Tapi semua yang mereka duga hanyalah pemikiran mereka saja.


Hingga Ella pun di buat tercengang dengan kedatangan Vano. Dirinya tidak mengira jika Vanolah yang datang. Karena selama ini, Ella selalu menghadapi awak media hanya berdua. Bersama Hana.


Ella seperti orang bodoh dengan keterkejutannya. Apalagi dengan sikap lembut dan penuh cinta yang di tunjukkan Vano. "Han, ajak Ella masuk." pinta Vano.


Hana segera mendekat ke arah mereka. "Baik Tuan."


"Nanti aku jemput. Kamu masuk dulu. Biar di sini aku yang menyelesaikannya." ujar Vano dengan kembali mengecup dahi Ella.


"Ayo Ell." Hana memegang lengan Ella dan membawanya masuk ke dalam.


Setelah melihat Ella dan Hana masuk tanpa ada yang menghalangi, Vano menatap semua awak media di depannya.


"Seperti yang kalian lihat. Sepertinya saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar." ucap Vano sembari membalikkan badan.


"Tuan, apa artinya kalian berdua masih menjalin hubungan." tanya salah satu wartawan dengan beraninya.

__ADS_1


"Apa kamu begitu bodoh. Atau buta. Tidak bisa menyimpulkan sendiri." ucap Vano dingin, tanpa membalikkan badannya. Dan meneruskan langkahnya menuju tempat di mana mobilnya berada.


Sekumpulan wartawan, tampak membubarkan diri tanpa mengatakan apapun. Kini suasana di depan butik tampak lenggang.


"Han,,, ini bukan mimpikan." gumam Ella.


"Iya Ell, gue juga syok. Kulkas tiba-tiba datang." ujar Hana.


Keduanya saling berpandangan. Dan memegang pipi lawannya. "Nyata." ucap Ella dengan kedua tangan masih berada di pipi Hana.


"Benar." kata Hana yang di mana kedua tangannya juga masih berada di pipi Ella.


"Bagaimana dia bisa ada di sini?"


"Gue juga nggak tahu Ell. Reza malah nyuruh gue diam saat gue bertanya." ucap Hana.


"Apa benar, Vano telah berubah. Atau hanya sedikit trik saja." ucap Ella lirih.


Hana menggelengkan kepala dengan pelan. "Gue juga nggak tahu. Otak gue seakan berhenti berfikir." ucap Hana.


"Sama. Benar-benar suatu keajaiban."


"Apa dunia akan runtuh ya Ell."


Ella menoyor pelan kepala Hana. "Bukan dunia yang runtuh. Hati gue yang runtuh."


Keduanya di sadarkan dengan datangnya seorang perempuan di samping mereka. Dia memberitahu jika mereka telah di tunggu di ruangan untuk membicarakan tentang peragaan busana yang akan Ella jalani bersama model yang lain.


*****


"Vano, kelihatannya kamu sangat mencintai putri dari Tuan Haris. Bagaimana jika suatu saat kamu kehilangan dia." ucap seseorang menatap layar televisi yang menyiarkan berita Vano dan Ella.


Terlihat sangat jelas raut kebencian di wajahnya. Seakan-akan dirinya sudah bersiap untuk mencabik-cabik mangsa yang sedari dulu dia incar.


"Apapun akan aku lakukan. Untuk membalas perbuatan kalian berdua."


******


Setelah menyelesaikan pertemuannya, Ella dan Hana menuju ke panti asuhan. "Elo yakin, pergi sama gue?" tanya Hana di balik kemudi.


"Memang kenapa. Elo ada acara?"


"Iiisshhh. Bukan itu. Tadi bukankah Vano bilang, dia akan menjemput kamu."


"Benarkah. Kok gue nggak dengar ya." ucap Ella sambil mengingat kembali.


Karena kedatangan Vano yang mengejutkan Ella, ditambah sikap Vano yang tidak seperti biasanya. Membuat Ella menjadi tidak fokus.


"Sumpah,, elo Elll, gue aja denger." ucap Hana.


"Lebih baik elo kasih tahu Vano jika elo sama gue." saran Hana.


"Memang perlu?"


"Terserah." ujar Hana.

__ADS_1


Ella mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Vano. Jika dirinya sudah meninggalkan butik dan pergi bersama dengan Hana.


Keduanya tiba di depan panti asuhan. Ella mengeluarkan ponsel dan memfoto panti tersebut tampak dari depan. Kemudian mereka turun dan bertemu dengan ibu pengurus panti.


"Terimakasih banyak nak, semoga rezeki nya semakin bertambah dan lancar." ucap ibu pengurus panti.


"Terimakasih bu, kami pamit dulu." pamit Ella.


Ella dan Hana. Mereka datang dan menyumbang sejumlah uang kepada panti tersebut. Tidak lupa, Ella meminta foto beberapa anak panti bersama ibu panti.


"Elo yakin, mau menggunakan mereka untuk membuka mulut adiknya Vera." tanya Hana.


"Bila tetap tidak berhasil, bagaimana?" tanya Hana setelah Ella menganggukkan kepalanya.


"Gue punya banyak cara, supaya dia berbicara." ucap Ella dengan menampilkan senyum menakutkan di bibirnya.


"Senyum elo Ell,, seandainya gue jadi musuh elo. Gue pasti akan mati di tempat." batin Hana.


"Ell, elo buka ponsel gih." suruh Hana.


"Kenapa?" tanya Ella bingung.


"Penasaran saja. Berita elo sama Vano kayak gimana." ucap Hana sembari terkekeh pelan.


"Sudah lah. Malas." jawab Ella seenaknya.


"Kamu itu. Sekarang kita mau kemana?" tanya Hana.


"Turunkan gue di depan saja. Elo pulang. Sudah sore juga."


"Nggak. Elo mau ke mana, biar gue antar." kekeh Hana.


Sebuah mobil tampak menyalip mobil yang di kendarai Hana. Dan melaju tepat di depan mereka dengan pelan.


"Itu bukannya mobil Vano." tanya Hana.


"Berhenti Han." ucap Ella.


"Elo terus terus saja." pinta Ella dengan tangan sudah membuka pintu mobil.


"Serius."


"Iya."


"Hati-hati Elll."


Ella hanya menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya untuk membalas perkataan Hana.


Setelah Ella benar-benar turun dari mobil, Hana melajukan kembali mobilnya sesuai permintaan Ell. Dan dirinya melanjutkan permintaan Ella.


*****


Uluh-uluhhh Vano, ternyata bisa terlihat manis juga. Selamat Nona Ella. Akhirnya anda merasakan bagaimana rasanya diperlakukan seperti Tuan Putri. 🥰🥰🥰


Tapi,,, siapa sebenarnya musuh mereka. Kenapa sepertinya rasa bencinya sudah mendarah daging.

__ADS_1


🤔🤔


Permintaan Ella. Memang Ella meminta apa pada Hana. Kok othor nggak tahu. 🙄🙄


__ADS_2