DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
HANA 02


__ADS_3

"Kalian sarapan yang banyak. Jangan lupa berdoa" ucap Bu Ningsih. Ibunya Hana.


"Oke ibu..." jawab Hana dan Arik serempak.


"Kamu sudah mulai bekerja?" tanya Bu Ningsih.


"Sudah bu." jawan Hana dan Arik serempak. Keduanya lantas saling berpandangan dan tertawa. Karena memang keduanya hari ini sudah mulai bekerja.


Bu Ningsih hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. Melihat kedua anaknya yang selalu rukun dan saling menyayangi.


Hana, setelah mengajukan cuti beberapa hari pada pemilik salon. Karena saat itu dirinya masih terpukul atas kejadian yang menimpa Ella. Hari ini akan memulai melakukan aktifitasnya lagi. Bekerja di salon.


Dan Arik, ini adalah hari pertama dia bekerja di perusahaan mendiang Vano. Arik akan mendampingi Reza untuk mengelola perusahaan Vano.


Karena Reza yang ditunjuk oleh Tuan Danto untuk membantu mengelola perusahaan Vano. Karena tidak mungkin Tuan Danto bisa menghandle dua perusahaan besar sekaligus. Sampai Ella benar-benar siap kembali.


Dan Arik, adik dari Hana. Direkomendasikan oleh Tuan Haris. Untuk membantu Reza. Dengan masa percobaan satu bulan.


Sementara Rio, dia kembali ke luar negeri. Menjalankan perusahaan cabang milik Vano yang berada di sana.


"Kamu harus bekerja yang sungguh-sungguh. Jangan membuat Tuan Haris malu." ucap Bu Ningsih, mengingatkan putranya. Arik.


"Pasti bu." jawab Arik dengan sungguh-sungguh.


"Kamu juga Han, bekerja yang rajin dan jujur." ujar Bu Ningsih.


"Iya bu." sahut Hana.


"Jika kamu tidak tahu, jangan malu bertanya pada Reza." saran Hana pada sang adik.


"Iya kak. Emmm,,, pak Reza itu galak ya kak?" tanya Arik.


Hana mengingat wajah Reza. "Emmm,,, kadang galak. Kadang tidak." jawab Hana.


"Pak Reza pasti akan galak, jika karyawannya salah. Lagian, mana mungkin ada orang galak tiba-tiba. Tanpa ada penyebabnya." timpa bu Ningsih.


"Makanya kamu bekerja yang benar. Jangan main-main." imbuh Bu Ningsih.


Hana dan Arik segera berangkat bekerja. Sementara Bu Ningsih, beliau kembali berkutat di dapur. Menyelesaikan pesanan kue yang di terimanya.


Dengan santai, Hana melajukan mobilnya ke salon tempatnya bekerja. Meskipun gajinya tidak sebesar gaji yang di terima saat dia bekerja pada Ella. Tapi Hana tetap bersemangat. Setidaknya dirinya masih mempunyai pemasukan.


Lagi pula, mana ada artis atau pemain di dunia intertaimen yang akan mengaji Hana seperti gaji yang diberikan oleh Ella.


Tanpa Hana sadari, sebuah mobil membuntutinya dari belakang. Mobil tersebut sengaja menunggu dari pagi, tak jauh dari rumah Hana. Hanya untuk melihat pemilik mobil. Hana.


"Ternyata sekarang kamu bekerja di sini." gumam Denis. Menghentikan mobilnya tak jauh dari salon tempat Hana bekerja.


Tidak ingin Hana melihat dirinya. Denis segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


"Han,,,,!!!" seru Nora. Teman Hana yang merekomendasikan Hana bekerja di salon ini, karena kebetulan Nora juga bekerja di salon ini.


Nora dan Hana saling berpelukan. "Bagaimana dengan Nona Ella?" tanya Nora, sekedar bertanya. Padahal Nora dan Ella tidak saling kenal.


"Dia sudah tenang." ucap Hana tidak berbohong. Karena memang Ella sudah tenang, karena dia pergi ke suatu tempat. Dimana tidak ada yang mengetahuinya.


Hana dan Nora berjalan masuk ke dalam salon beriringan. Keduanya bekerja seperti biasa bersama karyawan yang lain. Melayani pengunjung dengan baik dan ramah.


Hingga ada pengunjung yang membuat susana jadi kacau. "Kamu bisa kerja nggak sih??!!" teriaknya memekikan telinga siapa saja yang mendengar.


Membuat semua karyawan dan pengunjung melihat ke arahnya. Termasuk Hana yang sedang melayani pengunjung yang sedang keramas. "Kenapa kamu potong seperti ini??!" sungutnya.


"Maaf, Nona. Bukankah tadi Nona yang memberitahu saya. Jika saya harus memotong sampai pundak." jawab karyawan salon membela diri.


"Ada apa?" tanya seorang perempuan menghampiri mereka.


Hana menajamkan penglihatannya, memandang perempuan yang baru saja datang. "Itu, Lyra kan." ucap Hana dalam hati.


"Di ini tolol sekali." ucapnya dengan jari telunjuk menoyor ke arah dahi karyawan salon. "Udah gue bilang sepundak. Segini dong." ucapnya, dengan tangan menunjuk ke arah pundaknya.


"Ini malah segini." dengusnya.


"Astaga, padahal hanya kurang panjang satu centi saja. Kenapa heboh sekali." gumam seorang pengunjung yang sedang di layani oleh Hana.


"Elo maunya kayak gimana?" tanya Lyra pada temannya tersebut.


"Gue." ucapnya dengan nada sombong. "Pecat dia lah..!!" serunya dengan wajah angkuh.

__ADS_1


"Elo denger. Pergi gih. Elo di pecat." ucap Lyra dengan santai tanpa beban, tangan bersedekap dengan pandangan merendahkan karyawan.


"Maaf Nona, tapi anda bukan pemilik salon. Anda tidak mempunyai hak untuk memecat karyawan di salon ini." bela Nora.


"Astaga. Kenapa ada sampah seperti kalian." sungut Lyra. Memandang ke arah Nora dan rekan di sebelahnya bergantian.


Lyra mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. "Elo dimana? Gue ada di salon elo. Karyawan elo bikin masalah ma gue." ucap Lyra dengan menatap Nora beserta karyawan salon di hadapannya secara bergantian.


"Sombong sekali." gumam pengunjung salon lainnya.


"Elo denger." ucap Lyra dengan angkuh. Hana hanya diam, bukannya tidak mau membela rekannya. Namun dirinya masih karyawan dalam masa percobaan. Apalagi di dana sudah ada Nora.


"Lyra, ada apa?" tanya Virna, pemilik salon. Segera Virna turun dari lantai atas, tempatnya bekerja. Setelah mendapat telepon dan pengaduan dari Lyra. Sahabatnya.


"Dia temen gue. Dan karyawan kamu salah. Lihat." telunjuk Lyra mengarah ke rambut temannya. "Ini kependekan." imbuh Lyra.


Virna menatap ke arah karyawannya. Nora menyenggol lengan rekan kerjanya. Memintanya untuk membuka mulut, membela diri. "Maaf Nona. Tapi Nona ini bilang, dia menginginkan rambut pendek sepundak." ucap karyawan tersebut, membela diri.


Virna memegang rambut teman dari Lyra. "Bagus, kenapa? Kurang panjang." tanya Virna. Teman Lyra hanya diam dan memandang kesal ke arah karyawan yang sudah memotong rambutnya.


Pok,,pok,, "Oke." seru Virna menepuk telapak tangannya sendiri. "Nona ini menginginkan rambutnya panjang kembali." ucap Virna.


"Kira-kira apa yang harus kita lakukan." tegas Virna.


"Pecat saja karyawan kamu. Tidak bisa bekerja dengan baik." sarkas Lyra. Tapi Virna malah tersenyum menanggapi perkataan Lyra.


Sementara teman Lyra, tersenyum remeh memandang ke arah karyawan yang sudah memotong rambutnya. Karena merasa di bela oleh Lyra.


"Jika anda menginginkan rambut anda panjang lagi. Kita bisa menggunakan hair extension." ucap Hana, yang sedari tadi diam menyimak.


Dirinya tak lagi tahan, melihat sikap arogan kedua perempuan tersebut. "Bagus. Jawaban yang pintar." puji Virna.


"Bagaimana Nona. Di salon saya bisa melakukannya. Jika anda berkenan, saya akan memberi secara gratis hair extension untuk anda." ucap Virna menohok.


Tapi sayangnya, Lyra seakan tidak mendengar perkataan Virna. Matanya memandang ke arah Hana dengan seksama. "Dia, seperti Hana. Tapi kenapa dia berada di sini?" tanya Lyra dalam hati.


Lyra melihat penampilan Hana, yang memakai seragam untuk karyawan salon. "Karyawan salon." gumam Lyra tersenyum sinis dengan memandang remeh ke arah Hana.


Hana dan Lyra saling berpandangan. "Sebaiknya kita pergi dari sini." ajak Lyra pada temannya.


"Tapi,,,," ucapnya.


"Maaf, atas ketidaknyamanan semuanya." ucap Virna setengah membungkuk. Meminta maaf pada pengunjung salonnya.


"Nona..." ucap karyawan yang bermasalah tadi.


"Kamu juga, kembali bekerja." ucap Virna memotong perkataannya.


Virna memandang ke arah Hana dan tersenyum. Demikian juga dengan Hana, dia membalas senyum dari pemilik salon tempatnya bekerja.


"Pasti setelah ini, perempuan itu akan datang lagi." batin Hana. Karena pasti Lyra tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat malu Hana.


"Elo kenapa kenapa ngajak gue pergi sih?" tanyanya.


Bukannya menjawab pertanyaan temannya, Lyra malah tersenyum-senyum sendiri. "Lyraaa!!" serunya, memanggil Lyra dengan kencang. Karena tak ada sahutan dari Lyra.


"Ckk,,, elo pikir gue budek." omel Lyra. "Ya, gue pengen pergi saja. Memang perlu alasan." imbuh Lyra.


"Cuti gue membuahkan keberuntungan." batin Lyra. Lyra memang sengaja mengajukan cuti sehari pada Denis. Dia ingin pergi ke salon untuk perawatan. Tapi siapa sangka dia malah bertemu dengan Hana.


"Setelah ini kita mau kemana?" tanyanya sambil menyetir mobil.


"Antar gue pulang." pinta Lyra.


"What. Pulang!!"


"Jangan berteriak, dan jangan banyak tanya." ujar Lyra kesal.


Padahal dia sudah sangat senang saat dihubungi oleh Lyra. Diajak Lyra untuk pergi ke salon dan berbelanja. Secara gratis. Tapi semuanya tidak seperti yang di bayangkan.


"Tahu begini gue nggak bikin ulah di salon." gumamnya, menyesal.


Sampai di rumah segera Lyra mencari Nyonya Monic. Mamanya Denis. "Tante." teriak Lyra.


"Di mana Tante Monic?" tanya Lyra pada pembantu. Lantaran dirinya tidak menemukan Nyonya Monic.


"Nyonya Monic ada di belakang Nona." ucapnya. Segera Monic mencari kebelakang. "Tidak sabar rasanya, pengen ngasih tahu Tante." gumam Lyra dengan senyum senang.

__ADS_1


Lyra melihat jika Nyonya Monic sedang melakukan yoga. Akhirnya Lyra duduk di kursi samping Nyonya Monic, menunggu Nyonya Monic menyelesaikan yoganya.


"Ada apa sayang?" tanya Nyonya Monic, dengan mata masih terpejam.


"Tante sudah selesai?" Lyra malah bertanya balik pada Nyonya Monic.


Nyonya Monic membuka mata. "Sebenarnya belum, tapi melihat kamu menunggu, tante nggak tega." ucap Nyonya Monic, duduk di samping Lyra.


"Makasih tante." ucap Lyra senang, merasa jika Nyonya Monic sangat menyayanginya.


"Tante tahu nggak, apa yang Lyra lihat barusan." ucap Lyra dengan mata berbinar seperti memenangkan sebuah undian. Bahkan lebih.


"Apa?" tanya Nyonya Monic.


"Hana." kata Lyra dengan tegas.


"Ckkk,,, jangan sebut nama perempuan itu di sini. Tante nggak mau dengar." ujar Nyonya Monic marah.


"Please Tan, dengar dulu." ucap Lyra menenangkan Nyonya Monic.


"Lyra, melihat Hana. Bekerja di salon." imbuh Lyra.


"Kamu yakin. Nggak salah orang?" tanya Nyonya Monic memastikan.


"Iya tan. Lyra melihat dengan mata Lyra sendiri. Di salon milik teman Lyra. Virna." jelas Lyra dengan antusias.


Lyra melihat ke arah Nyonya Monic. "Besok kamu kesana. Ajak Denis. Terserah, apapun alasan yang kamu pakai." saran Nyonya Monic.


"Pasti tante." ucap Lyra dengan senang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di perusahaan, Denis tidak bisa konsentrasi bekerja. Pikirannya terpenuhi dengan nama Hana dan Hana. "Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya, memegang kepalanya dan menarik rambutnya ke belakang dengan kasar.


"Viki. Apa aku bertanya saja pada Viki?" tanya Denis pada dirinya sendiri. Karena sekarang dirinya maupun Viki tidak tahu keberadaan Ella. Jadi tidak mungkin dia tanya kepada Ella.


"Tapi, jika aku bertanya pada Viki. Itu artinya Viki akan mengetahui masalah Hana." gumam Denis.


Karena Denis sendiri tidak tahu, jika Viki sebenarnya sudah mengetahui tentang kejadian yang melibatkan Hana dan Vano.


"Hahh,,,, Dari pada gue pusing. Lebih baik gue cerita pada Viki. Hanya dia satu-satunya orang yang gue bisa percaya sekarang ini."


"Saya ada keperluan di luar. Kamu handle semua pekerjaan saya. Sebelum saya kembali." ucap Denis pada Miko. Asistennya.


"Baik Tuan." ucap Miko.


"Mau kemana Tuan, bukankah hari ini tidak ada jadwal di luar kantor." gumam Miko, melihat Denis dengan langkah terburu meninggalkan perusahaan.


"Ada apa, tumben ke sini nggak bilang dulu. Untung gue lagi nggak di luar." oceh Viki, setelah Denis duduk di kursi empuk di dalam ruangan Viki.


"Ni.... Segarin duku muka elo." ejek Viki melemparkan sebotol air dingin pada Denis. Nampak wajah Denis yang kusut seperti baju tidak di setrika.


Denis meminumnya hingga separuh. "Gue lagi bingung." ujar Denis.


"Kenapa?" tanya Viki, duduk di samping Denis.


"Jangan bilang elo suka sama gue." goda Viki, lantaran Denis menatapnya dengan tatapan mata yang aneh.


"Aaa....!!!" seru Denis. Memukul lengan Viki. Segera Viki berdiri dan menjauh dari Denis.


"Sorry brow. Meskipun gue belok kanan, belok kiri. Gue sama sekali nggak kepikiran main sama elo. Sumpah." ucap Viki berdiri di samping meja, mengangkat jarinya membentuk huruf V.


Denis mengambil bantal kursi dan melemparkan ke arah Viki. Dengan sigap, Viki menangkapnya. Dan memegangnya di depan dada. Seolah menjadikan bantal sebagai pelindungnya.


"Siapa juga yang suka sama elo. Gue normal. Lagi pula penyakit elo nggak menular. Bego." sarkas Denis dengan wajah semakin kesal karena tingkah sahabatnya.


"Oke. Lalu?" tanya Viki.


"Ini soal Hana." ucap Denis lirih. Seketika Viki teringat jika Hana pernah bilang pada dia. Jika Hana sudah menceritakan tentang kejadian di apartemen pada Denis.


Viki kembali duduk di samping Denis. "Elo mau jauhin Hana?!" tanya Viki dengan nada datar, menatap ke arah Denis. Karena Hana juga pernah bilang, jika dirinya dan Denis tidak pernah berkomunikasi sejak saat itu.


Denis mengangkat kepalanya. Menoleh ke samping dan menatap Viki dengan penuh penasaran. "Gue sudah tahu, tentang Hana dan Vano." ucap Viki santai.


Denis menyatukan kedua alisnya. "Bukan hanya gue. Tante Ane, Reza, dan Ella. Kita tahu." imbuh Viki.


Denis mengepalkan tangannya, meninju ke bawah. Ke arah kursi empuk yang di dudukinya. "Dan seharusnya elo juga tahu, penyebab awal Ella mengalami kecelakaan." imbuh Viki.

__ADS_1


Denis menggelengkan kepalanya pelan. "Karena Ella tahu tentang hal tersebut. Dia kecewa sama Vano dan Hana. Karena mereka membohongi dirinya." ucap Viki.


Denis mengusap wajahnya kasar. Di sini, dia merasa menjadi orang paking tolol dan bodoh. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa.


__ADS_2