DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 34


__ADS_3

Vano melepas jas yang melekat pada tubuhnya dan melemparnya ke sembarang arah. Dia mendudukkan bokongnya di sofa dengan mengangkat satu kakinya. Tatapan matanya tajam memandang ke arah Ella.


Ella dengan anggun duduk di sofa, tepat di hadapan Vano. Ella duduk tenang dengan menampilkan senyum manisnya. "Ada apa, hemm." tanya Ella.


"Sudah ku peringatkan. Aku tidak suka milikku di sentuh oleh orang lain." bentak Vano.


"Lalu." ucap Ella dengan tenang.


"Jangan menguji kesabaran ku Ell." geram Vano.


Ella berdiri dan berjalan ke arah tempat penyimpanan wine milik Vano. Di tuangkan wine ke dalam dua gelas dan di bawanya ke tempat semula.


Ella meletakkan satu gelas berisi wine di meja depan Vano. Dan satu gelas masih berada di tangannya.


"Jadi kamu tidak suka, jika milikmu di sentuh oleh orang lain." Ella menggoyangkan wine di dalam gelas dengan pelan sembari memandangnya.


Ella meminum sampai tandas wine di dalam gelas yang berada di tangannya. "Sama. Aku pun juga. Aku tidak suka jika milikku di sentuh oleh orang lain." Ella meletakkan gelas kosong di meja depannya.


"Aku bisa dengan mudah membuang atau menggantinya jika aku mau." Ella mendaratkan pantatnya di sofa.


Vano merasa geram. Ella yang biasanya selalu berada di bawah kendalinya dan menuruti setiap perkataannya. Sekarang menjadi pembangkang dan tidak lagi menjadi bayinya yang lucu.


Ella yang biasanya takut jika dibentak olehnya, sekarang dengan terang-terangan menatap tajam ke arahnya.


Vano mengeratkan rahangnya. "Aku akan membuatmu menyesal jika kau terlalu semaumu." ucapnya.


Ella tersenyum miring mendengar perkataan dari Vano. "Siapa kamu?" tanya Ella dengan mengejek.


"Kamu hanya seseorang yang telah berhasil mengambil keperawanan ku. Itupun atas kebodohan ku." Ella berdiri dan mengambil tasnya.


"Ellaaaa." teriak Vano mengikuti Ella berdiri dan mencengkeram erat lengan Ella.


"Lalu apa?" tanya Ella sinis.


"Penghangat ranjang. Ups,,, kata-kata itu terlalu berlebihan. Bukankah masih banyak penghangat ranjang mu yang lain. Tuan Vano." Ella menyentak tangan Vano yang mencengkeram lengannya.


"Jaga bicaramu. Kesabaran ku ada batasnya." seru Vano.


"Kesabaran. Kesabaran yang mana. Kesabaran menunggu seseorang untuk memuaskan mu di atas ranjang." teriak Ella.


"Aku yang terlalu bodoh. Aku bodoh. B-O-D-O-H. Selalu menuruti setiap, setiap kemauan mu Tuan Vano. Aku. Aku buta. Buta dengan kata cinta. Sementara orang yang ku cintai tidak pernah sekalipun, sekalipun menghargai cinta yang ku berikan."


Ella mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan foto pada Vano. "Selesai." Ella pergi meninggalkan apartemen milik Vano.


"Ella,,,, kembali. Elllaaaaa." teriak Vano.


Vano terdiam saat manik matanya melihat ke layar ponsel miliknya. Tangannya menggenggam erat saat melihat foto yang baru saja di kirimkan oleh Ella melalui ponselnya.

__ADS_1


*****


"Cari tahu." ucap Ella di ujung ponselnya.


Seseorang menelpon Ella saat tengah malam. Dia memberitahu jika melihat Vano bersama dengan seorang perempuan di dalam bar.


Pagi hari Ella mendapat beberapa informasi mengenai Vano dan wanita di bar oleh orang suruhannya.


"Selidiki lebih detail." perintahnya.


Tidak membutuhkan waktu lama. Orang suruhan Ella memperoleh beberapa foto Vera dengan Vano. Bahkan saat mereka dalam keadaan telanjang di atas ranjang.


Ella melemparkan ponsel ke ranjang miliknya. Dia merasa sangat amat bodoh. Karena terlalu mencintai Vano. Segala umpatan keluar dari dalam mulutnya untuk kebodohan yang selama ini dia lakukan.


Ella masuk ke dalam kamar mandi. Masuk ke dalam bak mandi yang telah terisi penuh oleh air dan sabun cair ke dalamnya.


Ella memejamkan mata dan menyenderkan kepalanya di dalam bak mandi. Memberikan kesempatan pada dirinya untuk mencari kenyamanan dan ketenangan.


Berharap semua masalah yang akan ia hadapi dapat di lewati dan terselesaikan dengan baik.


*****


"Masuk." seseorang menodongkan senjata ke arah pinggang Ella saat Ella sudah berada di parkiran apartemen Vano.


"Ikat tangan dan tutup matanya."


Ella hanya di ikat kedua tangannya menjadi satu tanpa ada penutup mata. "Begini saja bos. Lagi pula bisa apa perempuan seperti dia. Selain.." ucapnya dengan tersenyum menjijikkan ke arah Ella.


"Tahan dulu. Kita bawa ke tempat yang sudah kita tentukan."


"Ella." gumam Reza dan segera memutar mobilnya untuk mengikuti ke mana arah mobil tersebut membawa Ella.


Reza datang ke apartemen Vano untuk memberikan beberapa berkas yang membutuhkan tanda tangan Vano. Tapi sesampainya di parkiran, dia malah melihat Ella masuk kedalam sebuah mobil bersama dengan tiga orang lelaki.


Merasa ada yang janggal, Reza mengikuti ke mana mereka pergi. Di tengah jalan, Reza menghubungi Vano dan menceritakan kejadian yang ia lihat.


"Baik Tuan." Reza mematikan panggilan telepon Vano dan fokus mengikuti mobil di depannya.


Seorang lelaki di dekat Ella dengan berani mengelus pipi mulus Ella dengan pandangan mata yang menjijikkan. Ella hanya terdiam menahan emosinya.


"Jangan buat ulah. Kita masih di jalan." tegurnya pada rekan kerjanya.


"Gue cuma ingin membelai dan menciumnya." dia malah dengan sengaja mendekatkan wajahnya pada pipi Ella.


Ella tersenyum samar dan …awww…


Lehernya sudah berada dalam lengan Ella. Dengan tangan Ella sebelah kanan mengacungkan senjata api tepat di dahinya. Ternyata Ella diam saja karena sedang fokus melepas tali pada kedua tangannya.

__ADS_1


Mobil yang mereka naiki berhenti mendadak. Reza pun menghentikan mobilnya tidak jauh dari mereka berada.


"Kenapa mereka berhenti." gumam Reza.


Dia khawatir jika mereka melakukan hal yang akan menyakiti Ella di dalam mobil.


"Letakkan." bentak pria di kursi depan dengan menodongkan senjata ke arah Ella.


"Jangan macam-macam. Sebaiknya jadilah kucing yang manis." ucap seseorang di balik kemudi.


"Kucing manis." ucap Ella menancapkan kuku panjangnya di leher sebelah kanan lelaki yang berada di dalam genggamannya, hingga orang tersebut sedikit mengeram kesakitan.


"Diam jika tidak ingin kepalamu berlubang." ujar Ella pada lelaki di tangannya karena berusaha melepaskan diri dari tangan Ella.


"Turunkan senjata kamu." Ella menekan ujung pistolnya pada kening lelaki di sampingnya.


"Turunkan. Gue nggak mau mati." ujarnya pada rekan kerjanya untuk menurunkan pistolnya.


"Good job. Turun." perintah Ella, melepaskan jepitan tangannya pada leher penculik.


"Oke." ucapnya dengan kedua tangan memegangi lehernya yang luka karena kuku Ella.


Kedua rekan kerjanya mengikuti Ella dan temannya turun dari dalam mobil.


"Mereka." Reza mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam mobil untuk melihat keadaan Ella.


Door… door…


Aaaa…… Ella menembak kedua orang tersebut tepat di telapak kakinya. "Bukannya elo ingin men-ci-um gue. Lakukan." Ella melihat ke arah seorang lelaki di sampingnya dengan senyum mengejek.


Saat seorang dari mereka mencoba mengarahkan senjata ke arah Ella, Ella dengan sigap menendang tangannya. Hingga senjata apinya jatuh di atas aspal.


Ella menginjak telapak kaki lelaki tersebut tepat di luka tembaknya. "Uuuu,,,, sakit." ucap Ella mendengar jeritan dari lelaki tersebut.


Sedangkan yang satunya merangkak ingin mengambil senjata api milik temannya yang terlempar. Tetapi Ella memperingatkannya dengan menembak tepat di depannya. "Diam. Jika tidak ingin ada mesiu yang bersarang di tubuh kamu lagi."


Lelaki di belakang Ella ingin menyerangnya, tapi di hentikan oleh Reza. "Ell, elo nggak apa-apa."


Bukannya menjawab pertanyaan Reza, Ella mendekat ke arah mobil. "Kalian masuk." Ella membuka bagasi mobil.


"Masuk atau mati." ucap Ella dengan tatapan membunuh saat mereka masih diam di tempat.


"Bawa gue ke gudang kosong deket sini. Elo pasti tahu tempatnya kan?" Ella menatap ke arah Reza.


Reza masuk ke dalam mobil dan Ella mengikutinya. Di dalam mobil. Sementara ketiga orang tadi bersumpek ria di dalam bagasi mobil yang sempit.


Di tempat lain. Setelah Vano mendapat telepon dari Reza tentang Ella, Vano menyuruh Reza untuk mengikuti dan menyelamatkan Ella jika itu berbahaya untuk Ella.

__ADS_1


Vano percaya, Reza dapat di andalkan. Sementara Vano sendiri, akan menyelesaikan masalah lain.


__ADS_2