DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 62


__ADS_3

"Jadi Ella menerima tawarannya." tanya Vano dengan menghisap cerutu di mulutnya.


"Iya Tuan, Beni baru saja memberi tahu pada saya." jelas Reza.


"Beni." gumam Vano.


"Dia asisten Tuan Egi."


"Egi. Cari kelemahannya. Kita harus menjatuhkannya."


Reza menatap Tuannya. Dirinya merasa jika Vano sedang dalam dilema. Reza mengatur nafasnya. Memberanikan diri untuk membuka mulutnya.


"Maaf Tuan, apa ada sesuatu?" tanya Reza dengan pelan dan hati-hati.


"Mungkin saya bisa membantu." imbuhnya.


Vano memasukkan cerutunya yang masih separuh ke dalam asbak. "Ambilkan minum." pintanya.


Reza segara menuju ke tempat Vano meletakkan beberapa bir. Membawanya sebotol bir dan gelas kosong ke hadapan Vano.


"Silahkan Tuan." Reza memberikan gelas yang sudah dia isi dengan bir.


"Duduklah. Temani aku minum." ajak Vano.


Reza hanya duduk. Tapi dia tidak minum bir di hadapannya. Dirinya takut hilang kendali jika mabuk. Keadaan akan tambah kacau jika dirinya juga mabuk. Di tambah lagi Vano juga kehilangan kesadarannya.


Vano meneguk hingga tandas bir yang ada di dalam gelas. "Dia menantang ku." ucap Vano.


Reza hanya diam. Mendengarkan Tuannya berbicara.


"Kamu tahu. Jika Ella sudah menjadi wanitaku selama bertahun-tahun. Mana mungkin dengan mudah aku melepaskan burung yang sudah aku kurung dalam sangkar, yang aku jaga selama ini."


"Ella ingin aku menjauhinya. Memutuskan hubungan denganku. Dia pikir dia siapa. Berani memerintahku." Vano kembali menuangkan bir ke dalam gelasnya. Meneguknya kembali hingga tandas.


Sementara Reza, dirinya masih duduk di depan Vano. Tanpa menimpali perkataan dari Tuannya. Dirinya hanya menjadi pendengar yang setia.


"Dia pikir mudah lepas dari cengkeraman tangan Vano Reyandli. Tidak semudah itu. Meskipun dia adalah putri Haris Subagyo. Aku tidak peduli." Vano mengambil botol bir dan meminum bir langsung dari botolnya.


"Egi. Jangan menyalahkan ku jika aku bertindak. Kamu sendiri yang sudah masuk ke dalam hubungan kami. Kamu sendiri yang menantang ku." Vano kembali meneguk bir hingga bir di dalam botol tersebut habis tak tersisa. Menaruh kembali botol kosong di atas meja.


Vano. Padahal semua ini di karenakan dirinya sendiri. Di karenakan ulahnya sendiri. Dan kesenangannya, yang membuat Ella ingin menjauh dari dirinya.


"Tuan, bolehkan saya memberi saran." tanya Reza dengan hati-hati. Dirinya khawatir jika Vano menganggapnya lancang.


Vano memandang Reza. Tak ada ekspresi di wajahnya. Raut wajahnya terkesan biasa. Membuat Reza memberanikan diri mengeluarkan suara dari dalam mulutnya.


"Dapatkan kembali hati Nona Ella."


Vano masih menatap Reza, mendengarkan perkataan asistennya tersebut.


"Jangan sampai Nona Ella membenci Tuan. Sekarang kita lihat dan ingat kembali ke belakang. Bagaimana Nona Ella sangat mencintai Tuan. Apa mungkin seseorang bisa langsung menghilangkan rasa cintanya begitu saja. Saya rasa itu mustahil. Pasti masih ada cinta di hati Nona Ella untuk Tuan." ucap Reza panjang lebar.


"Meskipun kadarnya berkurang." imbuh Reza lirih.


"Kamu tahu sendiri. Aku tidak pernah mengejar perempuan seperti itu. Terlalu ribet dan lama." timpal Vano.

__ADS_1


Vano, lelaki dengan sejuta pesona. Itulah sebutan untuk dirinya di kalangan para kaum hawa. Selama ini dirinya tidak pernah melakukan hal seperti yang di ucapkan Reza. Pasti Vano akan berpikir berjuta-juta kali untuk menerima saran dari asistennya tersebut.


"Lantas apa rencana Tuan?"


"Melenyapkan Egi. Bereskan. Dengan begitu Ella akan menjadi milikku lagi." tukas Vano tersenyum sombong.


"Bagaimana jika Nona Ella malah membenci Tuan?" tanya Reza.


"Aissshhh, kenapa kau ini repot sekali." ketus Reza.


Keduanya saling memandang. Dua lelaki yang tidak tahu cara mendapatkan perempuan. Tetapi dengan keadaan yang berbeda.


Vano, dengan segala pesona dan kekayaan, serta kekuasaan. Tidak perlu mengejar perempuan. Mereka sendiri yang akan mendatanginya dengan suka rela.


Reza, dari dulu di benaknya hanya ada perempuan yang menolongnya. Tetapi sangat di sayangkan, perempuan itu ternyata wanita dari Tuannya. Dan dia sudah mengubur dalam-dalam perasaan tersebut. Dan sampai saat ini, dirinya tidak pernah dekat dengan perempuan.


Lantas, bagaiman keduanya bisa berbicara. Mencoba memecahkan masalah tentang Ella. Cara mendapatkan hati sang model tersebut.


"Tuan, bagaimana jika kita bertanya pada seseorang saja." saran Reza.


"Kenapa masalah seperti ini malah membuatku pusing." Vano memijat pangkal hidungnya.


Bagi Vano, masalah cinta dan hati malah membuat pikirannya tidak bisa berpikir jernih. Dia lebih memilih berurusan dengan setumpuk berkas di mejanya. Atau bermain senjata api untuk melawan musuhnya.


Aissshhh,,,, Vano. Sebenarnya dia hanya membutuhkan kepekaan. Karena sebenarnya, seorang perempuan, selain memerlukan uang, mereka juga perlu perhatian.


*


*


"Kamu yakin, mau menerima tawaran ini?" tanya Hana.


"Ya sudah, gue berangkat. Elo jaga rumah." ujar Ella tertawa sembari berjalan dengan di buat-buat.


"Astaga." Hana mengikuti Ella keluar dari kamar Ella.


Ella mengendarai dan menyetir mobilnya sendiri menuju tempat pemotretan. Dengan langkah pasti dan senyum di bibir, dia melangkahkan kaki meninggalkan pelataran parkir.


Sesekali Ella menyapa orang yang berpapasan dengan dirinya.


"Maaf, terlambat." ujarnya setelah sampai di sebuah studio pemotretan.


Mendengar suara yang familiar, membuat sang fotographer membalikan badannya. Ella berjalan ke arahnya sembari merentangkan tangannya.


"Hana baik-baik saja." bisik Ella sambil memeluk Denis.


Denis melepaskan pelukannya dan menyisihkan anak rambut Ella. "Gue angkat tangan. Susah sekali di dekati." ucap Denis lirih.


Ella melingkar tangannya di leher Denis. "Menyerah nih ceritanya. Putus asa ya." ujar Ella sembari memonyongkan bibirnya.


"Nggak tahu lah Ell. Sudah sana, siap-siap."


Interaksi keduanya tak lepas dari pandangan semua mata di sekitar mereka. Bagaimana tidak, Ella yang biasanya bersikap biasa kepada lelaki di sekitarnya, kini berpelukan. Bahkan terkesan bermesraan dengan sang fotographer.


Di balik kaca, sepasang mata juga memandang mereka dengan tatapan cemburu. Meskipun dirinya tahu jika Ella dan saudaranya tersebut teman sedari SMA. Tetapi tak dapat di pungkiri, Denis tetaplah seorang lelaki.

__ADS_1


"Tuan." panggil Beni lirih di belakang Egi.


Egi meneruskan langkahnya menuju tempat dirinya akan bertemu dengan kolega bisnisnya. Dengan Beni berjalan di sampingnya.


"Apa menurutmu, mereka punya hubungan?" tanya Egi sambil berjalan.


"Bukankah mereka teman dari SMA." jawab Beni.


Egi menghentikan langkahnya. Menoleh ke belakang. "Sudahlah, lebih baik kita segera ke tempat mereka." putus Egi.


Egi sebenarnya ingin sekali menemui Ella, tetapi dirinya juga tidak bisa mengabaikan pekerjaannya. Apalagi sekarang ada seseorang yang sedang menunggu kedatangannya.


Pemotretan Ella berjalan dengan lancar seperti biasanya. "Nona Ella, di mana Hana?" tanya seseorang.


"Dia sedang ada urusan pribadi." bohong Ella.


"Pantas dia tidak menemani anda."


Ella hanya tersenyum menanggapi perkataannya.


Denis dengan kamera masih bergelantung di lehernya menemui Ella yang tengah berada di ruang ganti. "Sendirian?" Denis mendudukkan pantatnya di kursi dekat Ella menghapus riasan wajahnya.


"Sama elo." ketus Ella seenaknya.


"Nyonya. Apakah nanti Nyonya akan pulang sendirian?" tanya Denis dengan nada sangat lembut.


"Begitulah."


"Nebeng Ell."


Ella melirik ke arah Denis. "Gue jadi sipir elo." sinis Ella.


"Ayolah Ell. Memang setelah ini elo mau ke mana?"


"Elo kenapa sih. Aneh tahu nggak." Ella memalingkan wajahnya, supaya lebih mudah menatap sahabatnya tersebut.


Denis beranjak dari duduknya. Berjalan ke arah pintu, dan melihat keluar ruangan. Kemudian kembali lagi duduk di samping Ella. "Hana sudah sembuh?" tanya Denis lirih.


Kini Ella paham. Kenapa Denis ingin bareng semobil dirinya. Ternyata alasannya adalah Hana. Denis ingin menemui Hana di rumah Ella.


"Gue nggak langsung pulang. Gue mau ke rumah paman Haki."


"Ya ela Elll. Sumpah. Gue nggak bawa mobil." Denis mengangkat jari tengah dan telunjuknya.


"Masa iya gue muter-muter. Naik taksi aja kenapa."


Denis berdiri di belakang Ella. Kedua tangannya di letakkan di pundak Ella. Di pijit pelan pundak Ella. "Elllllll...." seru Denis manja.


"Katanya tadi mau nyerah. Nggak komitmen itu mulut."


"Elo gimana sih. Bukannya dukung gue. Malah jatuhin mental gue." Denis masih dengan pelan memijat pundak Ella dengan menaruh dagunya di atas kepala Ella.


Ceprettt....


Seseorang di balik tembok memotret keduanya saat berada di ruang ganti. Keduanya terlihat sangat intim.

__ADS_1


Beberapa kali dia memotret Ella dan Denis. Hingga terlihat senyum jahat dari bibirnya.


"Selesai." ucapnya meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2