
"Halo, ada apa?" tanya Ella melalui sambungan teleponnya.
"Oke. Nanti kita bicarakan. Sekarang aku sedang sibuk." Ella memutuskan sepihak panggilan telepon dari Reza.
"Pasti mau minta gue gantiin Vera." gumam Ella tersenyum miring.
Paman Haki hanya diam, beliau tidak ingin bertanya meskipun dia sangat penasaran. Kenapa Ella menyebut nama Vera. Perempuan yang diceritakan oleh bawahannya pada dirinya. Yang sekarang mendiami salah satu kamar di RSJ, karena keinginan dari Ella.
"Apa yang harus Ella lakukan paman. Menerima, atau menolak." ucap Ella memandang lurus ke depan dengan jari jemari bermain di sekitar dagunya.
Seketika kedua sudut bibir Ella terangkat sempurna. "Kurasa akan lebih menarik jika aku menerimanya." ucapnya.
Entah apa yang akan di lakukan Ella. Apa benar dia akan menerima tawaran untuk menjadi pengganti Vera dalam pemotretan untuk sebuah brand kecantikan dari kerja sama perusahaan Vano dan Egi.
Yang artinya. Jika Ella menerima, maka dia akan semakin sering bertemu dengan Vano dan juga Egi.
Ella berdiri dan pamit pada Paman Haki. "Paman, Ella mau membersihkan badan dulu. Setelah itu, mau pulang. Capek." Ella merentangkan kedua tangannya, meregangkan otot setelah beberapa jam latihan fisik supaya lebih menguasai ilmu bela diri.
"Paman juga Non. Nanti Non Ella langsung pulang saja. Karena paman mau keluar. Ada urusan di luar. Jika perlu sesuatu, panggil saja pembantu. Di depan juga ada anak buah paman."
"Oce." ujar Ella dengan menyatukan jempol dan jari tengahnya sembari meninggalkan paman Haki yang masih duduk berselanjar di lantai.
*
*
"Bagaimana?" tanya Egi dan Vano bersamaan pada Reza, setelah Reza memasukkan ponselnya ke dalam saku. Lantas keduanya saling memandang. Dan secepatnya memutuskan pandangannya.
"Kompak banget." batin Reza.
"Maaf, Nona Ella belum bisa memutuskan. Dia bilang akan menghubungi nanti."
"Nanti?" tanya Vano.
"Sekarang Nona Ella sedang sibuk." jawab Reza.
"Sibuk?" gumam Vano.
"Katanya kekasih. Kenapa tidak tahu." sindir Egi.
"Ingat satu hal. Dia wanita milik Vano Reyandli." ucap Vano dengan senyum mengejek.
"Kepemilikan. Tapi bukan istri. Belum ada ikatan." celetuk Egi.
Reza hanya diam menyimak obrolan dari dua pengusaha muda yang sama-sama tangguh dan sukses di bidangnya. Dan juga dua lelaki yang menyukai satu wanita.
"Elo bagaikan debu antara mereka Za. Ditiup, hilang." batin Reza mengingat dia juga mempunyai rasa untuk Ella.
"Saya tidak perlu menjelaskan arti kata wanita. Pasti pengusaha sekelas anda paham artinya." ucap Vano mencoba memprovokasi Egi.
__ADS_1
"Bagi saya. Perawan atau tidak, bukan masalah." Egi lantas berdiri dan merapikan jas yang melekat pada tubuhnya.
"Dia bukan wanita yang memberikan tubuhnya pada sembarang laki-laki. Saya tidak perlu menjelaskan maksud perkataan saya bukan, pengusaha sekelas anda pasti paham artinya. Permisi."
"Oh iya asisten Reza. Jika anda kesulitan membujuk Nona Ella. Serahkan saja pada saya." ucap Egi dengan senyum mengejek.
Vano menatap tajam ke arah Egi, tapi Egi malah tersenyum pada Vano dan berlalu meninggalkan ruangan Vano.
Vano melonggarkan ikatan dasi di lehernya. "Sepertinya aku harus bergerak cepat." gumam Vano.
"Sepertinya Tuan Egi juga menyukai Nona Ella." ucap Reza lirih tanpa menghadap ke arah Vano.
"Wajar saja. Lelaki mana yang tidak tertarik dengannya." imbuh Reza, tanpa sadar bahwa manik mata Vano sedang menatap ke arahnya.
Lelaki berperawakan tinggi dan berbadan kekar dengan bulu halus di rahangnya tersebut berdiri.
"Apa lagi yang ingin kamu sampaikan." ucapnya lirih tepat di samping telinga Reza.
Seketika leher Reza meremang. Terasa hembusan nafas dan aura membunuh di sekitarnya. Sontak Reza melangkahkan kakinya ke samping, tapi di hentikan oleh cekalan tangan Vano yang sudah berada di kerah belakang bajunya.
"Jika sudah bosan, kau bisa mengikutinya." ujar Vano kesal dan melepaskan tangannya dari kerah baju Reza.
"Khem, khem, khem. Maaf Tuan." Reza sedikit menundukkan kepalanya.
"Saya hanya berspekulasi saja. Melihat cara Tuan Egi memperlakukan Nona Ella." bela Reza.
"Reza." geram Vano dengan menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari jemarinya dengan kasar.
Vano melirik ke arah Reza. Dalam keadaan seperti ini, Reza masih sempat membuat Vano menjadi semakin geram. Apalagi tanpa mendengar persetujuan dari Vano, Reza keluar ruangan dan membawa seorang wanita dengan pakaian kurang bahan masuk ke dalam ruangan Vano.
"Perkenalkan, saya Imey." ujar seorang perempuan yang sedang berdiri di depan Vano.
Reza tersenyum, dia memang sengaja mencarikan sekertaris seksi untuk Vano. Karena Reza tahu, bahwa atasannya tersebut sangat menyukai wanita seksi dan juga cantik. Tapi juga harus mempunyai kecerdasan.
"Tuan, selain cantik. Nona Imey juga sudah pernah bekerja di perusahaan luar negeri. Dia termasuk pegawai yang cekatan dan dapat di andalkan." tutur Reza.
"Saya baru saja pulang dari luar negeri. Dan memutuskan untuk tinggal di negara ini. Dan perusahaan anda, menjadi perusahaan pertama yang saya tuju." kata Imey.
"Saya tidak akan mengecewakan Tuan. Saya mohon, beri saya kesempatan untuk menunjukkan kinerja saya." imbuhnya.
Vano memandang Imey dari ujung sepatu sampai ujung bandana yang di kenakan di kepala Imey. Merasa di perhatikan, Imey segera merapikan pakaiannya. Sedikit menarik pakaiannya ke bawah.
"Pasti Tuan menyukainya." batin Reza tersenyum.
Vano memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya. "Keluar." ucap Vano dengan nada datar.
"Maaf. Maksud Tuan?" tanya Imey bingung.
"Reza, urus dia. Tinggalkan ruangan ini." ucap Vano.
__ADS_1
Reza membawa Imey keluar dari ruangan Vano. "Maaf, lantas saya di terima atau tidak?" tanya Imey merasa bingung
"Ini meja kerja kamu. Kamu bisa bekerja mulai hari ini." jelas Reza.
"Terimakasih." ucap Imey.
Imey segera merapikan meja kerjanya dan menata beberapa alat kerja di atas mejanya.
"Kelihatannya Tuan sudah taubat. Tapi, apa iya. Beneran apa cuma sesaat." batin Reza dengan pandangan mata mengarah ke Imey.
Merasa di perhatikan oleh Reza, Imey segera bertanya. "Maaf Tuan, ada apa?" tanya Imey.
Bukannya menjawab, Reza malah membalikkan badannya dan meninggalkan tempat Imey. "Kenapa?" tanya Imey sembari memperhatikan penampilannya.
Imey segera berdiri saat Vano keluar dan melewati meja tempatnya bekerja.
"Tuan." sapa Imey dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Tanpa memandang ke arah sekertaris barunya, Vano melangkahkan kaki meninggalkan perusahaan.
Imey merasa aneh melihat Vano. Bukankah temannya bilang bahwa Vano menyukai wanita yang cantik dan seksi. Tapi kenapa Vano seperti tidak menganggap dirinya. "Sial, apa gue yang mesti agresif." gumamnya sambil memainkan pena di tangannya.
"Lebih baik gue kerja dulu saja. Urusan Vano, belakangan. Cari waktu yang pas. Siapa tahu dia jodoh gue. Lumayan, nggak perlu repot-repot kerja." batin Imey.
"Maaf, Tuan. Tuan Vano baru saja keluar." ucap Imey saat Reza hendak masuk ke dalam ruangan Vano.
"Kemana?"
"Saya tidak tahu. Beliau hanya diam, tidak berbicara atau memberitahu sesuatu ke saya."
"Seharusnya kamu tanya. Kamu tahukan pekerjaan kamu disini."
"Maaf."
"Ckk. Kemana lagi perginya." batin Reza.
Vano mengendarai mobil sendirian tanpa Reza. Vano hanya merasa stres memikirkan Ella yang semakin menjauhi dirinya. Tanpa memikirkan pekerjaannya, dia dengan seenaknya meninggalkan perusahan.
"Mobil itu." pandangan mata Vano mengarah ke sebuah mobil yang sedang berhenti di parkiran minimarket.
*****
Reza, Reza. Bukannya membuat Vano menjauh dari perempuan seksi. Ini malah di sodorin lagi. Maunya Reza apaan sih. Heran author. 😏😏
Dan kamu Vano. Iya kamu. Vano. 👆👆
Yakin, nggak mau sama sekertaris yang di carikan asisten kamu itu. Yakiiinnn...
Author sih nggak yakin. Pling bentar lagi juga di icipi. Kayak yang dulu-dulu. 😤😤
__ADS_1
And,,, mobil siapa yang di lihat Vano. Jadi penisirin author. Apa author telepon Vano saja ya. Buat tanya. Dari pada penisirin. 🤭🤭