DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 214


__ADS_3

"Bagaimana?" tanya Vano.


"Sudah Tuan." ucap Reza, mengembalikan laptopnya pada atasannya tersebut.


"CCTV nya pulih dengan sendirinya." jelas Reza dengan jujur, saat Vano menatap tajam ke arahnya.


"Benar dugaanku. Ella memang cerdik dan pintar." gumam Vano mendesah. Melihat ke layar laptopnya yang sudah menyala beberapa detik yang lalu.


"Semoga Ella tidak menemukan sesuatu tentang malam itu." batin Vano. Merasakan resah.


Kecerdikan dan rasa peka Ella terhadap masalah tidak bisa diragukan lagi. Apalagi jika Ella sudah merasa penasaran. Dia akan mencari tahu sampai akarnya, dan mencabutnya.


Ingin sekali Vano menghubungi Hana dan bertanya. Tapi dia tidak ingin memperkeruh keadaan. Dan pertemuan mereka akan sangat berbahaya, jika Ella sampai mengetahuinya. Karena Ella pasti akan curiga.


Sementara sampai di rumah, Ella segera mengisi perutnya. "Bik...!!!" panggil Ella saat selesai makan.


"Iya Nyonya, maaf, Bibik sedang berada di belakang." ucap pembantu yang lain yang menghampiri Ella dan memberitahu Ella keberadaan bibik.


Ella hanya mengangguk pelan. "Nanti tolong belikan aku bakso. Yang ada diseberang sana. Itu lo, pentolnya yang besar." ucap Ella memberitahu.


"Baik Nyonya." Ella memberikan uang pada pembantu tersebut.


"Maaf Nya, kira-kira kapan Nyonya akan memakannya?" tanyanya, untuk memastikan. Supaya bakso masih dalam keadaan panas saat Ella hendak memakannya.


"Emmm,,,," Ella tampak masih berpikir.


"Setelah ini saya mau tidur dulu. Terus, mau melukis. Emm,, sore deh." ucap Ella tersenyum.


"Baik Nyonya."


Ella segera bergegas pergi ke kamar. Merebahkan badannya. Sudah sekitar lima belas menit lebih, tapi mata Ella tidak terpejam. Dia masih memandang langit-langit kamar.


Segera dia bangun. Melihat ke arah tas yang baru saja dia pakai dan dia letakkan di sana. Entah kenapa Ella merasa sangat penasaran pada Hana.


Ekspresi Hana, benar-benar membuatnya merasa terganggu. Apalagi selama ini Hana sangat terbuka padanya. Hana selalu bercerita padanya. Tentang apapun itu.


Tidak pernah Hana menutupi sesuatu dari Ella. Dan mungkin itulah yang membuat Ella menjadi penasaran dengan apa yang terjadi pada Hana.


Ella membuka laptop. Mencolokkan benda kecil di lubang laptop yang berada di samping. Mata Ella, dengan teliti melihat ke arah layar.


Tangannya berada di atas keyboard. Sesekali mempercepat laju video. "Tidak ada yang aneh." ucap Ella setelah setengah jam lebih melihat ke layar laptop.


"Eh,, tunggu." ucap Ella. Ella kembali mengulang video rekaman CCTV di layar laptopnya. "Ada yang aneh." gumam Ella, melihatnya dengan lebih jeli.


Ella merasa ada video yang terpotong. Tapi saat melihat detikan menit di pojok atas, semua normal. Tidak ada yang terlewatkan. Bahkan videonya tampak rapi. Seperti bukan video sambungan dari potongan video lain.


Jika tidak di cermati dengan teliti. Dan orang tersebut memang tidak ahlinya, maka tidak akan pernah tahu, jika bagian dalam video tersebut ada beberapa bagian yang telah hilang dengan sengaja.


Mata Ella dengan jeli memperhatikan video tersebut. "Sangat janggal." ucap Ella setelah menemukan sedikit kejanggalan pada video tersebut.


Beberapa kali Ella mengulang dimana dirinya merasa ada kejanggalan di video tersebut. Mata Ella tidak bisa dibohongi.


Meskipun Vano sudah sangat baik melakukan pemotongan di beberapa bagian, dan juga penyamaan waktu, Ella masih bisa menemukannya.


"Benar. Ada beberapa jam yang hilang di video ini." gumam Ella. "Meskipun waktu dalam video tidka ada yang terbuang." imbuh Ella.


"Kenapa, ada apa. Siapa orang itu?" gumam Ella Mencoba berpikir, siapa orang yang sudah berani melakukan semua ini.


Ella terdiam sejenak. "CCTV luar." Segera jari jemari lincah milik Ella membobol CCTV apartemen miliknya di lorong luar.


Dan hasilnya sama. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada sosok Hana dalam rekaman tersebut. "Bersih." gumam Ella.


Ella memejamkan mata. Instingnya tidak bisa dibohongi. Ada sesuatu yang besar. Dan Ella masih ingin mencari tahunya.


Di tambah lagi, ada orang yang dengan sengaja dan berani masuk dan mangobrak-abrik video CCTV.


"Parkir." Segera jari jemari Ella melesat untuk melihat CCTV area parkir apartemen.


Dan lagi, hasilnya nihil. Tidak ada apa-apa. Bersih.


Selama satu jam lebih Ella berkutat dengan laptopnya. Tidak ada yang dia dapat. "Satu-satunya cara, mengembalikan video seperti semula." ucap Ella.


"Tapi semua itu membutuhkan waktu." imbuhnya.


"Brengsek. Siapa orang yang berani masuk ke apartemen gue. Kenapa bersih sekali." ucapnya.


"Apa dia nggak masuk ke apartemen, tapi langsung masuk ke jaringan CCTV gue. Untuk apa." gumam Ella.


Karena sebagai seorang yang bekerja di bawah tanah, Ella sudah hapal betul bagaimana cara lawan masuk ke dalam rekaman CCTV.


Ella merasa kesal. Seseorang berani masuk ke apartemen. "Dia sangat hebat." gumam Ella. Memuji kehebatan seseorang yang membuatnya merasa kesal.


Ella mengambil ponselnya. Menghubungi orang yang di tugaskan membersihkan apartemennya selama ini. Menanyakan sesuatu. Yang mungkin dapat Ella jadikan jalan pembuka dari penyelidikan yang sedang dia lakukan.


Lagi-lagi. Ella mengalami jalan buntu. Orang tersebut mengatakan jika tidak pernah menemukan atau mencurigai sesuatu.

__ADS_1


Ella meregangkan badannya. Memijat keningnya yang terasa pusing. Perutnya juga terasa mual. Pandangannya juga agak sedikit kabur. "Maaf kak, mama sampai lupa. Jika ada kakak di dalam sana." gumam Ella memandang ke arah perutnya yang masih rata.


"Sebaiknya gue menyuruh seseorang. Tubuh gue nggak kuat." desah Ella.


Dirinya menyadari jika sudah ada makhluk hidup lain di dalam tubuhnya. Dan Ella tidak boleh mengabaikannya. Ella berjalan ke ranjang besar miliknya.


Lagi-lagi, Ella tidak bisa memejamkan mata. Kepalanya menoleh ke samping. Ella kembali duduk dan mengambil ponselnya.


"Aku punya pekerjaan. Datang ke rumah sekarang. Secara diam-diam. Aku berada di dalam kamar. Jendela kamar tidak aku kunci." ucap Ella.


Menyuruh bawahannya untuk menyelinap ke dalam rumahnya. Di saat matahari masih bersinar terang.


Di tempat lain, seseorang yang di telepon Ella menggelengkan kepala.


"Ada apa?" tanya rekan kerjanya.


"Boss nyuruh gue ke rumahnya. Sekarang. Menyelinap diam-diam." ucapnya.


"Ckkk,, emang ada-ada saja. Selamat berjuang brow." timpal yang lain, karena hari masih terang benderang.


"Semalem gue juga di suruh membelikan lalapan lele. Gue pikir ada pekerjaan serius, tak tahunya." ucapnya tertawa bersama ketiga rekan kerjanya.


"Mungkin karena bawaan bayi."


"Pastilah."


"Gue berangkat." ucap yang lain.


"Good luck."


Ella berdiri di samping jendela. Memandang keluar jendela. "Ckk,, lama sekali." geramnya. Padahal dirinya baru saja mematikan sambungan teleponnya.


Ella memutuskan untuk membaringkan badannya ke tempat tidur. Seraya menunggu kedatangan bawahannya.


Menunggu. Memang hal yang paling membosankan di dunia ini. Mungkin karena kelelahan, Ella tertidur.


Krekkk.... Ella membuka matanya dengan perlahan tanpa melakukan pergerakan. Menatap ke arah jendela kamar.


"Lama sekali." ucap Ella dengan nada kesal.


"Siang boss." ucapnya memberi alasan.


"Alasan saja. Aku bahkan sampai tertidur." oceh Ella.


"Ha.." ucapnya membelalakan kedua bola matanya.


Memperbaiki video. Astaga, dirinya tidak mengira sama sekali. Dia mengira ada hal penting yang akan dibicarakan oleh Bosnya. Ternyata memperbaiki video.


Tapi jangan salah, video inilah yang akan membawa perubahan besar pada kehidupan Bosnya.


"Lakukan." ucap Ella dengan nada malas. Karena dirinya masih sangat mengantuk.


Ella dan keempat orang kepercayaannya juga terbilang menjalin hubungan dekat. Bahkan, tak jarang mereka berbicara layaknya sahabat saat melakukan pekerjaan. Tapi tetap, Ella yang memimpin.


Tanpa banyak berkata dan bertanya, dia segera duduk di hadapan laptop. Mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Bosnya.


"Ini." ucapnya lirih menyeringai. Meski dirinya belum berhasil menemukan potongan video yang hilang, tapi dirinya merasa tertantang untuk menemukannya.


Dia menoleh ke arah dimana Ella sedang duduk menatap dirinya. Kenapa Ella harus memanggil dirinya. Padahal pasti Ella bisa menyelesaikannya.


"Aku pusing jika terus menatap layar laptop. Lama-lama terasa mual." cicit Ella, memijat pangkal hidungnya.


Bawahan Ella mulai mengerti kenapa Ella memanggil dirinya. "Mungkin bayinya sedang ingin beristirahat." ucapnya, dijawab anggukan oleh Ella.


"Aku akan tidur lagi. Bangunkan aku jika sudah selesai."


"Tapi jangan terlalu lama." imbuh Ella. Tanpa menggunakan selimut, Ella membaringkan badannya. Dan mulai memejamkan mata. Memeluk guling di depannya.


Bawahan Ella hanya mendengus melihat kelakuan bosnya tersebut. Dia berdiri, memakaikan selimut ke tubuh Ella.


Membuat Ella membuka matanya. Karena sebenarnya Ella belum tertidur. "Aku lelaki normal. Siapa tahu kerasukan setan. Membuat pikiranku menjadi liar." ucapnya dengan santai.


"Lakukan jika berani. Apalagi buaya peliharaanku sudah lama tidak memakan daging manusia." ucap Ella, terdengar seperti gurauan. Tapi memang benar adanya.


"Pastinya aku akan keluar dari sini tanpa nyawa. Dan buayamu hanya akan memakan jasadku." ucapnya tenang, karena pasti Ella sudah membunuhnya terlebih dahulu jika dia berani macam-macam.


Ella bangun dari tidurnya. "Astaga, kenapa aku memiliki bawahan yang bodoh." sindir Ella.


Karena bawahannya masih duduk di depan laptop. "Sebentar lagi." ucapnya, dengan meregangkan badannya yang terasa kaku.


Ella turun dari tempat tidurnya. Menggelung asal rambut panjangnya. Berjalan menghampiri bawahannya.


Tampak mata Ella memandang ke arah layar laptop. Terlihat jika pekerjaan dari bawahannya membuahkan hasil.


"Hebat juga." puji Ella.

__ADS_1


"Terimakasih." sahutnya dengan bangga.


"Tapi tidak masuk kriteria. Terlalu lama." cibir Ella.


"Ckkk..." decaknya. Setelah memuji, Ella malah mengoloknya.


"Kamu bisa pergi." usir Ella.


Dia memandang ke arah Ella. Tidak ada air minum ataupun sesuatu yang dapat mengganjal perutnya. "Memangnya apa yang kamu inginkan?" tanya Ella.


"Ckk,,,, Vano bisa mengendus baumu, jika kamu terlalu lama disini." kilah Ella.


"Iya. Paham." ucapnya dengan nada jutek. Memasukkan alatnya beberapa alatnya ke dalam tas kecil. Sementara matanya sesekali melirik ke arah Ella.


"Perempuan cantik, manis, dengan badan seksi. Seperti pahatan sempurna jika dilihat dari berbagai sisi. Tidak ada yang akan mengira, jika dia adalah seorang yang kejam. Dan tanpa ampun pada musuhnya." batinnya.


"Jangan terlalu lama memandang. Ntar naksir." ucap Ella narsis.


"Tidak akan. Otakku masih waras. Untuk tidak menyukai perempuan berwajah cantik. TAPI BERHATI IBLIS." ucapnya tersenyum mengejek.


Segera dia bergegas meninggalkan kamar Ella. Sebelum mulut pedas Ella mengatakan sesuatu padanya.


Bukan tanpa alasan Ella menyuruhnya untuk meninggalkan kamarnya dengan segera. Dia tidak ingin bawahannya melihat sesuatu di dalam layar laptopnya.


Karena Ella yakin, jika ada sesuatu yang besar. Sehingga ada seseorang yang menghapus beberapa bagian video di kamera CCTV apartemennya.


"Mungkin Denis." gumam Ella. Menebak jika Denislah yang melakukan semua ini.


Karena hanya dengan Denis, Hana berhubungan. "Jadi tidak sabar pengen melihatnya. Apa yang dilakukan Denis dan Hana. Di apartemen gue." ucap Ella tersenyum sendiri.


Segera Ella berdiri. Membuka pintu kaca yang terhubung dengan balkon kamarnya. Membiarkan udara masuk sebanyak mungkin ke dalam kamarnya. Menghilangkan jejak bau dari bawahannya.


Ella menatap halaman rumahnya dari balkon. Tangannya menggenggam besi yang menjadi pengaman dipinggir balkon kamarnya.


"Bagaimana dia bisa masuk." gumam Ella. Melihat bagaimana Vano meletakkan beberapa penjaga di halaman rumahnya tanpa celah.


Ella mendongakkan kepala. Ella tersenyum melihat sesuatu di tembok samping atas. "Vano, keamananmu masih bisa di tembus bawahanku." Ella tersenyum puas.


Ella kembali ke dalam. Membiarkan pintu kaca tetap terbuka lebar. Mata Ella mengarah ke layar laptop. "Belum selesai juga." gumamnya.


Segera Ella memindahkan laptopnya yang masih menyala ke tempat yang dikiranya aman. Sehingga Vano tidak akan menemukannya.


Ella keluar dari kamar. Langsung menuju ke dapur. "Bik, baksonya sudah di belikan?" tanya Ella.


"Belum Nyonya. Tapi sudah sudah keluar untuk memberikannya." jelas Bibik.


"Nanti jika sudah sampai, panggil aku. Di ruang lukis." ucap Ella.


"Baik Nyonya."


Ella masuk ke dalam ruang lukis. Memakai celemek di badannya. "Eh,, ngapain pakai celemek. Kan masih mau melukis. Belum mau menggunakan pewarna." ucap Ella melepas kembali celemek di badannya.


Ella mulai menyiapkan semua alat untuk melukis. Mengambil ponselnya. "Kamu yang pertama, yang akan aku lukis. My Love." ucap Ella melihat ke layar ponselnya.


Dimana ada gambar sang suami di layar tersebut. Ella mencari-cari, kiranya foto Vano yang mana yang akan di jadikan bahan lukisannya.


"Ini saja. Terlihat sangat tampan." gumam Ella.


"Eeehhh,,, suamiku kan memang tampan." imbuh Ella. Meletakkan ponsel di sampingnya.


"Mulai." ucap Ella mengambil pensil. Dan mulai mencoretkannya di atas kertas.


"Nyonya, baksonya sudah datang." ucap Bibik. Karena memang Ella tidak menutup pintunya.


Tidak mendengar suara sahutan dari majikannya, Bibik memutuskan untuk masuk ke dalam. "Wahhh, ternyata Nyonya multi talenta ya." puji Bibik.


Saat melihat Ella melukis wajah dari majikannya. Meski masih tahap awal, tapi sudah terlihat bagus.


"Bagaimana Bik?" ucap Ella.


"Bagus Nyonya."


"Aduh bibik. Ini belum selesai. Masih tahap awal." jelas Ella.


"Masa sih Nyonya. Tapi menurut Bibik sudah terlihat bagus." ucap Bibik dnegan mata memandang ke arah lukisan Ella.


"Mana baksonya?" tanya Ella, meletakkan pensil yang dia pegang.


"Eh,, masih di ruang makan. Sebentar, bibik ambilkan."


"Tidak perlu, Ella akan ke sana saja." ucap Ella berdiri dari duduknya.


"Bik, buatkan Ella air perasan jeruk. Tapi yang hangat ya." pinta Ella.


"Baik Nyonya."

__ADS_1


__ADS_2