DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
SM eps 196


__ADS_3

Selesai dari panti asuhan, Ella mampir dulu ke rumah orang tuanya untuk beristirahat barang sejenak. Sebelum pergi untuk bertemu dengan mamanya Viki. "Ma, tadi pagi Ella masak nasi goreng buat Vano." ucap Ella antusias.


"Lalu?" tanya Nyonya Ane. Sungguh, mulut Nyonya Ane ingin bertanya tentang foto Vano bersama dengan perempuan yang sempat menjadi perbincangan semua orang.


Tapi Nyonya Ane sebisa mungkin menahannya. Apalagi terlihat sang putri sedang dalam keadaan baik-baik saja. Dan bahagia.


Dapat Nyonya Ane tangkap dari raut wajah sang putri, jika Ella benar-benar bahagia. Dirinya tidak ingin, pertanyaannya akan membuat Ella malah akan sedih.


"Vano bilang enak." ucap Ella dengan tersenyum senang.


"Ya iyalah enak. Anak mama." puji Nyonya Ane membelai rambut Ella dalam pelukannya.


"Tapi rasanya tidak seenak punya mama." keluh Ella dengan melihat wajah sang mama dari samping. Karena Ella meletakkan kepalanya di pundak Nyonya Ane dengan tangan melingkar di badan sang mama.


"Maklum lah sayang. Itu pertama kali kamu masak. Mama dulu saja, selalu gagal. Kamu, hebat. Baru pertama mencoba rasanya sudah lumayan." Nyonya Ane mencium berkali-kali pucuk kepala sang anak. Memberi semangat untuk Ella.


"Besok Ella sudah mulai masuk kursus masak." ucap Ella memberitahu Nyonya Ane.


"Maaf, mama nggak bisa ngajarin kamu." ucap Nyonya Ane sedih. Lantaran kegiatan sang mama sangat padat.


Sebagai ketua sebuah yayasan sosial, Nyonya Ane selalu aktif dalam kegiatan menyalurkan bantuan untuk keluarga atau orang yang kurang mampu, dan juga beberapa panti asuhan dan panti jompo.


Dan, akhir-akhir ini kegiatan beliau cukup padat. Tidak seperti bulan sebelumnya.


"Oke mama. Lagi pula Ella bangga punya mama seperti Nyonya Ane." Ella mencium pipi sang mama dan menekannya kuat-kuat.


"Jiwa sosial mama,,, the best." Ella melepaskan pelukannya. Mengangkat kedua tangannya, mengacungkan jari jempol pada sang mama.


"Mama juga sangat menyayangi kamu." Nyonya Ane menangkup wajah Ella.


"Putri kesayangan mama papa. Semoga selalu bahagia." ucap Nyonya Ane mendoakan.


"Amin."


"Oh iya Ma, Oma Yeti sudah di bawa pulang. Dan sementara waktu tinggal di rumah mama sama papa." ucap Ella.


"Iya. Mama juga sudah tahu. Mama akan menjenguk bareng papa kamu."


"Sudah sana, istirahat dulu. Sebelum ketemu sama mamanya Viki. Masih jam segini juga. Mama juga mau istirahat, capek." suruh sang mama.


Ella mencium pipi Nyonya Ane singkat dan berjalan menaiki tangga. Sampai di dalam kamar, Ella membasuh wajahnya dan segera mengistirahatkan badannya barang sejenak.


Ella menyalakan alarm. Takut jika sampai dirinya ketiduran. Dan pastinya tidak tahu waktu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Siang." sapa Vano pada Jo yang baru membuka mata, duduk di kursi dengan kaki menyilang.


"Kamu." kata Jo sedikit terkejut.


"Rezaaaa...." panggil Vano dengan nada pelan. "Nyalakan." perintah Vano.


Layar di depan Jo menyala. Menampilkan seorang perempuan paruh baya, seumuran Nyonya Risma sedang menyiram tanaman.


"Berani menyentuhnya, ku patahkan tanganmu!!" seru Jo mengepalkan tangannya.


"Ha,,,ha,,,ha,,,," Vano tertawa dengan pandangan mengejek. "Mematahkan tanganku." ucap Vano remeh.


"Menyentuhku saja kamu tidak akan bisa." desis Vano menaikkan kakinya ke atas ranjang tempat Jo berbaring.


"Aaaaaa...!! jerit Jo saat kakinya yang terbalut perban di injak menggunakan kaki Vano.


Setelah Ella menyerahkan Jo pada Vano. Segera Vano menyuruh bawahannya untuk mencari informasi sedetail mungkin tentang Jo.


Terkuak jika selama ini mama dari Jo belum meninggal. Entah bagaimana caranya, Jo dapat memanipulasi kematian sang mama.


Sementara mama Jo sekarang hidup di sebuah kota terpencil di luar negeri. Pastinya dengan identitas baru. Tapi sayangnya, mereka tidak akan mudah mengelabuhi Vano.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan." ucap Vano memandang Jo yang masih menampilkan ekspresi kesakitan karena dirinya.


"Apa maksud kamu!!" bentak Jo.


"Baiklah, kamu akan tetap berada di sini. Reza, perintahkan pada anak buahmu untuk melakukan pekerjaannya. Se-ka-rang." perintah Vano.


Tanpa banyak bertanya dan berkata, Reza mengirimkan pesan tertulis pada anak buahnya yang sedang berada tidak jauh dari rumah mama Jo.


Mata Jo membulat saat melihat di layar depannya, menampilkan seekor anjing yang tengah mengendap tak jauh dari tubuh sang mama.


"Iblis kalian....!!!! Suruh anjing itu menjauh dari sana!!!" teriak Jo di atas ranjang. Karena dirinya tidak bisa berdiri. Lantaran kedua kakinya di tembak oleh bawahan Ella.


"Tidakkkk!!!!" teriak Jo, melihat seekor anjing di lepaskan.


Dan menggigit kaki mamanya. Tapi itu hanya terjadi sebentar. Setelah itu, ada seorang lelaki yang menolong mama Jo dan mengusir anjing tersebut. Dia adalah anak buah Reza.


Meski anjing tersebut mengigit sebentar, terlihat betis mama Jo terluka. "Apa yang kalian lakukan. Mamaku tidak tahu apa-apa." ucap Jo penuh amarah.


"Kamu pikir saya peduli. Tidak." ujar Vano dengan santai.


"Apa yang kalian inginkan!!!"


"Apa yang aku inginkan. Masih bertanya. Padahal kamu sendiri tahu apa yang aku inginkan."


"Jangan harap aku dan Ella seperti Papa Haris. Yang akan menuruti semua permintaan tolol kamu."


"Baiklah. Aku akan menceritakan semuanya. Jangan menyentuh orang yang aku sayangi." tawarnya.


"Kamu pikir kami sedang jual beli. Tidak ada tawar menawar. Katakan atau tidak. Terserah kamu."

__ADS_1


"Ha,,, ha,,, haaaaa..." Jo tertawa sumbang.


"Semua bukti sudah aku berikan pada seseorang. Jika aku mati, bukit itu pasti akan tersebar." ujar Jo dengan bodohnya.


Jo sendiri seperti memberitahu pada Vano. Padahal Vano tidak tahu menahu tentang apapun. Ralat, Vano belum mencari tahu tentang apapun. Kecuali keluarga Jo.


Vano dan Reza tersenyum miring. "Dari dulu kamu memang bodoh." gumam Reza terdengar Vano. Membuat Vano semakin tersenyum lebar.


"Baiklah, jika itu kemauan kamu." Vano meninggalkan Jo bersama dengan Reza.


"Jaga dia. Sampai kabur, nyawa kalian taruhannya." pinta Reza pada beberapa anak buahnya yang berjaga di sekitar tempat Jo di sekap.


"Celakai mamanya, jangan buat dia meninggal. Supaya dia tahu. Kita tidak main-main." ucap Vano.


"Baik Tuan."


"Geledah semua sudut rumah mama Jo. Jangan sampai ada yang terlewatkan."pinta Vano. Dirinya merasa jika mama Jo ikut terlibat dan tahu jika Jo membalas dendam.


Jika memang beliau tidak tahu apa-apa, kenapa dia sampai harus mengganti identitasnya. Dan tinggal di kota terpencil yang sulit di jangkau.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ella mengerjapkan kedua matanya mendengar suara alarm dari ponselnya berbunyi. Dengan malas, Ella bangun dari tempat tidurnya. Bejalan sempoyongan ke dalam kamar mandi.


Ella mandi tidak terlalu lama. Dirinya takut akan terlambat menemui mamanya Viki.


"Mbok, bilang sama mama jika saya sudah keluar rumah." ucap Ella, karena sang mama kelihatannya masih terlelap dalam tidur siangnya.


"Baik Non."


Di luar rumah, Rio sedang duduk bersama sopir milik Tuan Haris. Melihat Ella keluar rumah, segera Rio beranjak dari tempat duduknya.


"Ke cafe N&O" ucap Ella. Tampak Ella lebih segar. Memakai kaos berlengan pendek berwarna putih dengan celana jeans panjang.


Ella segera menghampiri mamanya Viki setelah sampai di tempat janjian. "Maaf Tante, Ella terlambat." ucap Ella merasa tidak enak. Lantaran mama Viki sudah datang terlebih dahulu.


"Bukan kamu yang terlambat. Tante yang memang sengaja datang lebih awal." ucap Nyonya Rahma, mamanya Viki.


Keduanya memesan minuman dan makanan ringan terlebih dahulu. Sebelum melanjutkan pembicaraan mereka.


"Ell, maaf. Tante mengganggu waktu kamu."


"Tidak apa-apa tante, Ella sama sekali tidak sibuk." jelas Ella.


Terlihat raut wajah mama Viki yang sedikit sendu. "Tante mau berbicara mengenai Viki." ucapnya lirih.


"Apa ada masalah tante. Katakan saja, Ella akan membantu sebisa mungkin." ucap Ella.


"Apa perusahaan Viki bermasalah. Tante tenang saja, Ella akan meminta suami Ella untuk membantu Viki. Jangan khawatir tante." Ella menggenggam telapak tangan mama Viki di atas meja.


"Bukan sayang, Viki baik-baik saja." ucap mama Viki.


"Lantas?" tanya Ella dengan raut wajah penasaran.


"Tante menjodohkan Viki dengan seorang perempuan. Tapi sepertinya Viki tidak menyukainya." ucap Nyonya Rahma denan lesu.


"Jadi karena ini, gue disuruh kemari. Ella, elo sekarang ada di tepi jurang." batin Ella.


"Tante hanya menginginkan putra tante bahagia. Sebagai orang tua, tante juga ingin melihat Viki mempunyai pasangan. Seperti kamu." jelas Nyonya Rahma.


"Sulit." batin Ella.


"Tante, Ella akan mencoba berbicara dengan Viki. Satu hal yang Ella minta. Jangan terlalu menuntut Viki. Ella hanya tidak ingin dia pergi lagi dari kita tan." ucap Ella dengan hati-hati.


Karena di hadapan Ella sekarang adalah mama dari Viki. Ella tidak ingin jika perkataannya di salah artikan oleh beliau.


"Tante hanya mencarikan pendamping yang baik untuk Viki." timpa Nyonya Rahma.


"Baik di mata tante, belum tentu baik di mata Viki." ucap Ella dengan penuh kelembutan.


"Selama ini, Viki selalu tertutup untuk masalah perempuan. Tapi Ella janji, Ella akan mencoba berbicara dengan Viki." imbuh Ella.


"Tapi Ella minta maaf sebelumnya, jika Ella akhir-akhir ini tidak bisa bertemu dengan Viki seperti dulu. Suami Ella sedikit pencemburu tan." jelas Ella.


"Iya Ell, tante mengerti." ucap Nyonya Rahma.


Selepas bertemu dengan Nyonya Rahma, Ella menuju ke perusahaan sahabatnya. Viki.


"Viki ada?" tanya Ella pada resepsionis.


"Nona Ella." sapanya begitu tahu bahwa Ella yang menanyakan pemilik perusahaan.


"Ada Non, Tuan Denis juga datang. Baru saja keluar, meninggalkan perusahaan. Tadi juga ada kekasih Tuan Viki juga. Tapi sudah pergi." jelas resepsionis tersebut.


"Kekasih." batin Ella, terkejut. Tapi Ella menutupi keterkejutannya dengan senyum di bibirnya.


"Sibuk banget." celetuk Ella nylonong masuk ke dalam ruangan Viki tanpa permisi.


Segera Viki berdiri, melepas kacamata bacanya dan menghampiri Ella. "Gue khawatir bangat sama elo." ucap Viki memeluk erat Ella.


"Gue baik. Ngapain elo khawatir." cerocos Ella. Viki melihat jika sahabatnya benar-benar baik-baik saja. Diapun bisa bernafas lega.


"Gue habis ketemu sama nyokab elo." Ella mendaratkan pantatnya di kursi empuk di pojok ruangan Viki.


"Pasti soal Giska." Viki melempar minuman kaleng ke arah Ella yang baru saja di ambilnya dari dalam kulkas. Karena Viki sengaja meletakkan pendingin minuman di ruangannya.


"Giska." tanya Ella.

__ADS_1


"Perempuan yang di jodohkan sama gue." ucap Viki meneguk minuman kaleng.


"Tadi Denis kesini?" Viki hanya mengangguk menjawab pertanyaan Ella.


"Lalu Giska?" tanya Ella. Viki yakin jika resepsionis rempong yang mengatakannya pada Ella.


"Ckk..." decak Ella melihat Viki menggeddikkan kedua bahunya. Dan Ella tidak perlu bertanya terlalu jauh.


"Ya sudah, gue pulang." ucap Ella.


Viki melongo tak percaya dengan sahabatnya tersebut. "Elo kesini cuma numpang minum." seloroh Viki.


"Katakanlah begitu." Ella meninggalkan ruangan Viki.


"Ngapain elo ngikutin gue?" tanya Ella, lantaran Viki berjalan di sampingnya.


Sontak keduanya mencuri perhatian para karyawan di perusahaan Viki. Padahal tadi sempat berhembus kabar jika kekasih Viki datang ke perusahaan. Tapi kenapa malah Viki keluar bersama dengan Ella.


"Elo bolos." tanya Ella setelah keduanya berada di parkiran.


"Gue ada keperluan. Lagipula sudah ada Rey." jawab Viki.


"Keperluan?" Ella melihat pergelangan tangannya. Waktu masih menunjukkan pukul empat sore kurang.


"Mau ikut?" ajak Viki.


"Oke." Ella memberitahu Rio jika dirinya akan berada satu mobil dengan Viki. Membuat Rio mengikuti mobil Viki dari belakang.


Keduanya saling bercanda di dalam mobil yang sedang menuju apartemen Viki.


"Gue belum pernah elo ajak ke sini." ucap Ella


"Belum genap satu bulan gue beli."


"Perlu gue coba." kekeh Ella.


"Jangan macam-macam." dengus Viki. Mengingat jika Ella dan Vano pernah bercinta di dalam apartemen miliknya yang sudah dia jual.


Ella mendadak bingung saat mereka berdua sudah berada di depan pintu apartemen Viki. Bukannya langsung masuk, Viki malah membunyikan bel apartemen. Seperti tamu.


Ella melongo saat melihat siapa yang membuka pintu apartemen milik Viki. Gadis cantik.


"Bang Viki." ucap Nara dengan senyum.


"Masuk Ell." ajak Viki.


"Nona.." sapa Nara, teringat jika Ella pernah memberinya uang.


"Hai." sapa Ella kembali.


"Sebentar Bang, Nara buatkan minum." ucap Nara melangkah pergi ke dapur.


"Gue akan cerita." ucap Viki melepas jas yang melekat di tubuh kekarnya.


"Tubuh elo nggak jauh beda sama milik suami gue. Tapi sayang..." ucap Ella dengan perkataan yang tak di teruskan.


"Nggak usah di terusin." ucap Viki kesal.


"Bang Viki...!!" teriak Rini dari dalam, dengan menggandeng Bima.


Ella dibuat terkejut kembali dan menatap tajam ke arah Viki. "Iya, gue jelasin." ucap Viki.


"Sini sayang." Viki membawa Bima ke pangkuannya.


"Bima sudah minum susu?" tanya Viki.


"Udah." jawab Bima.


"Ini Bang, Non minumnya." Nara menaruh dua gelas berisi minuman di meja.


"Terimakasih."


"Nara." ucap Nara, karena Ella belum mengetahui namanya.


"Ella." sahut Ella memperkenalkan diri.


"Baik Non."


"Panggil saja,,," Elle sepertinya tengah berpikir.


"Kak." imbuh Ella memutuskan.


"Kak, kenalkan ini Rini dan Bima. Adik Nara." jelas Nara.


"Kenapa elo?" tanya Nara melihat ekspresi wajah Viki yang masam.


"Elo di panggil kak. Lah gue,, abang." omel Viki tidak terima.


"Ya iyalah,, tampang gue emang masih kakak-kakak. Elo,,," Ella menggelengkan kepala.


"Ckkk. Suka-suka elo." pasrah Viki.


"Ada yang mau menjelaskan." ucap Ella.


"Bang Viki nolongin adik Nara. Bima. Dia sedang sakit. Dan karena Bima sudah sembuh, Nara mau pamit pulang." ucap Nara dengan sopan.


Ella tidak bertanya jauh tentang mereka pada Nara. Tapi Ella akan bertanya padan Viki. Pasti.

__ADS_1


__ADS_2