DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 22


__ADS_3

Pagi hari Ella di bangunkan oleh suara ponselnya yang berdering. Dilihatnya siapa yang sepagi ini yang menelpon dirinya.


"Vano. Ada apa. Nggak biasanya." gumam Ella.


LOVE calling.


Halo,,


^^^Sayang, kamu belum bangun.^^^


Hemm,,


^^^Pasti mata kamu masih terpejam kan.^^^


Apa,,


^^^Nanti aku jemput ya. Aku anter kerja.^^^


Nggak usah Van.


Aku kerjanya agak siang.


^^^Emm.. ya sudah kalau begitu.^^^


^^^Nanti ketemuan ya.^^^


^^^Aku kangen.^^^


Iya.


"Kangen. Kangen beneran apa kangen bohongan. Apa kangen sama tubuh gue doang." gumam Ella setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Vano.


Ella meletakkan kembali ponselnya dan memejamkan matanya lagi karena masih merasa ngantuk.


"Ella, aku harus bersabar menghadapi kamu." Vano memandang layar ponselnya yang sudah mati.


Entah apa sebenarnya yang ada di benak Vano. Dia seakan tidak begitu peduli dengan Ella selama ini. Tapi dia juga tidak mau melepaskan Ella. Mungkin Vano juga mencintai Ella. Tapi dengan sifatnya, seakan dia tidak ingin menunjukkan secara terang-terangan.


"Aku harus segera menyelesaikan masalah jual beli senjata. Kenapa mereka melakukan hal seperti itu. Sebelumnya tidak pernah terjadi hal seperti ini."


Vano segera menghubungi Reza. Untuk memberitahukan bahwa pagi ini dia ingin datang ke markas.


"Bagaimana?" tanya Vano pada anak buahnya setelah tiba di markas.


"Maaf Tuan, dia lebih memilih mati." ucap salah satu anak buah Vano yang menjaga tawanan.


Dalam baku tembak di hutan, anak buah Vano menangkap satu orang yang masih hidup untuk di interogasi. Tapi sayangnya, dia lebih memilih bunuh diri di dalam jeruji tempatnya di tawan.


"Apa ada jejak lain?"


"Ada Tuan." Vano dan yang lainnya segera ke ruang bawah tanah tempat tawanan tersebut mengakhiri hidupnya.


"Perlihatkan." ucap Reza.


"Ini Bos." ucapnya sembari memperlihatkan tanda di lengan kiri lelaki tersebut.


Tuan adalah panggilan anak buah Vano terhadap Vano sendiri. Sedangkan mereka memanggil Reza dengan panggilan bos.


"Tanda itu." Vano mengamati dengan cermat sebuah tanda kecil. Seperti ukiran di atas kulit hanya berupa coretan kecil.


Tapi jika di lihat secara jelas, coretan tersebut nampak seperti lambang sesuatu.


"Cari tahu."


"Baik Tuan."


"Setelah ini, kalian harus memperketat keamanan di markas. Dan juga mengubah sistem jual beli kita."


"Kalian urus mayat itu seperti biasa." kata Reza.


Vano pergi meninggalkan ruang bawah tanah dengan Reza berjalan di belakangnya.


"Kita harus segera bergerak. Jangan sampai mereka melakukan pergerakan terlebih dahulu." Vano duduk di kursinya dengan memainkan jari jemarinya.


"Maaf Tuan, kenapa tidak tanyakan saja pada Tuan Besar. Siapa tahu beliau mengetahui tentang lambang tersebut." usul Reza.

__ADS_1


"Mungkin." Vano menatap ke arah Reza.


Di kediaman rumah Tuan Haris, Nyonya Ane nampak sangat kesal pada putri semata wayangnya. Bagaimana tidak, sampai sekarang Ella masih setia berada di alam mimpinya.


Padahal Nyonya Ane sudah menyuruh pembantu di rumahnya untuk membangunkan Ella.


"Bangun." Nyonya Ane menarik selimut di badan Ella.


"Anak perempuan belum bangun juga dari tadi. Lihat pukul berapa sekarang." dengan mulut mengomel, Nyonya Ane membuka gorden di jendela Ella.


Ella menutup matanya menggunakan tangannya, karena sinar matahari menembus masuk ke kamar. Mengenai wajah dan badan Ella yang masih berbaring.


"Bagaimana jika kamu sudah menikah. Kamu juga akan bangun siang di rumah mertuamu. Apa nggak malu. Ella,,, ayo cepat. Buka matamu."


"Maaa." Ella meregangkan otot-ototnya dan memandang ke arah Nyonya Ane yang berjalan seperti setrika.


"Ayo cepat. Bangun." Nyonya Ane berdiri di depan Ella dengan mata melotot.


"Ma, Ella berangkat agak siang."


"Astaga. Bukan alasan jika kamu berangkat siang, terus enak-enakan tidur. Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk bangun pagi. Ingat Ell, sebentar lagi kamu akan menikah."


"Iya ma." Ella berjalan menuju kamar mandinya dengan menutup telinga.


Nyonya Ella hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putri kesayangannya. Ponsel Ella berdering saat Ella berada di kamar mandi.


HANA calling.


Halo Han.


^^^Mama Ane.^^^


^^^Ella mana ma?^^^


Masih di kamar mandi.


Baru bangun Han. Ada apa?


^^^Nggak ma, Hana cuma mau ngingetin.^^^


Nyonya Tiwi?


^^^Orang yang akan menggunakan jasanya Ella ma.^^^


Kalau nggak salah pemilik butik kan.


^^^Iya ma.^^^


Oalah, ya sudah. Nanti mama sampaikan


ke Ella. Ada lagi?


^^^Nggak ada ma.^^^


Han, nanti kamu nggak usah ke sini.


Biar Ella yang jemput kamu.


^^^Tapi ma.^^^


Sudah nurut saja sama mama.


^^^Iya ma. Terimakasih.^^^


Salam buat ibu dan adik kamu Han.


^^^Iya ma, nanti Hana sampaikan.^^^


Nyonya Ane meletakkan kembali ponsel Ella dan berteriak di balik pintu kamar mandi untuk memberitahu Ella.


"Ell, Hana baru saja telepon. Katanya kamu ada janji sama Nyonya Tiwi."


"Iya ma." sahut Ella dari dalam.


"Cepat mandinya sayang. Jangan lama-lama."

__ADS_1


"Iya ma."


"Iya ma, iya ma. Iya iya doang. Tapi nggak pernah kamu lakukan." omel Nyonya Ane keluar dari kamar Ella.


"Mama sayang." Ella turun dari tangga dengan penampilan yang sudah cantik.


Terlihat Nyonya Ane sibuk merangkai bunga di dalam vas.


"Gini kan enak di lihat. Cantik." Ella memeluk mamanya dari belakang dan mencium pipinya.


"Papa mana?"


"Ngantor lah. Ini hampir siang. Memang seperti kamu. Sama ayam saja kamu kalah. Apalagi sama papa."


"Apaan. Anaknya di samakan sama hewan. Lagian papa yang sama kayak ayam. Bangunnya sama-sama pagi." Ella tertawa saat cubitan Nyonya Ane bersarang di pinggulnya.


"Sudah sana berangkat."


"Nunggu Hana mama sayang." Ella menguyel-uyel pipi Nyonya Ane dengan gemas.


"Ell, lepas tangan kamu. Hana nggak akan ke sini. Tadi mama bilang kamu yang akan jemput dia di rumahnya." Nyonya Ane menepis tangan Ella di pipinya.


"Ooo, ya sudah kalau begitu. Ella berangkat ma." Ella mencium pipi mamanya dan menjemput Hana di rumahnya sebelum berangkat pergi untuk bertemu Nyonya Tiwi.


Di tengah jalan, ponsel Ella berbunyi. Terdapat pesan masuk dari Hana.


GUE UDAH DAPET ALAMAT RUMAH SANTI.


"Cepet juga ni anak kerjanya." gumam Ella setelah membaca pesan dari Hana.


"Arik." gumam Ella saat dirinya melihat adik Hana berada dipinggir jalan bersama tiga orang pemuda seumurannya.


Hana keluar dari mobil dan mendekat ke arah mereka.


"Ayolah Rik, gue pinjam bentar. Pelit banget sih elo." ucap teman Arik.


"Bukannya gue pelit. Ini mobil milik kakak gue. Bukan milik gue." ucap Arik.


"Alah, alasan. Bilang aja elo nggak mau pinjemin ke kita." katanya memegang kerah kemeja yang Arik pakai.


"Apaan sih elo." Arik mendorongnya ke belakang.


"Rik." panggil Ella setelah dekat dengan mereka.


"Non Ella." gumam Arik.


"Busyet. Siapa Rik. Kenalin dong. Punya kenalan semlohay kayak gini elo diam saja."


"Kalian pergi." Arik mendekat ke arah Ella.


"Widih, santai Rik. Gini aja deh. Kita nggak jadi pinjam mobil elo. Tapi bolehlah kenalan sama dia."


"Pergi kalian." bentak Arik.


Mereka adalah teman kuliah Arik. Namun beda jurusan. Tapi Arik hanya kenal dengan mereka. Dan sama sekali tidak akrab.


Arik juga tahu sifat dan kelakuan mereka dari teman kuliah lainnya. Karena mereka terkenal dengan sifat berandal dan kejam. Mereka mengandalkan nama besar orang tua mereka untuk melakukan hal yang mereka sukai. Dan menindas orang yang mereka tidak suka.


"Non, sebaiknya Non masuk ke mobil." kata Arik.


"Tunggu dong Rik, jangan terburu-buru. Kita belum kenalan." ucapnya dengan tangan hendak menyentuh pundak Ella.


"Nggak perlu kenalan." Arik memegang tangannya sebelum sampai di pundak Ella.


"Elo tahu kita kan Rik. Seharusnya elo tahu kita anak siapa. Jangan cari masalah lah sama kita Rik." ucapnya sombong. Ella hanya tersenyum mendengar perkataannya.


"Awww." satu tendangan mengenai perut pemuda tersebut hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.


****


Teman-teman, makasih sudah mendukung sejauh ini. Jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab.


Eitzz,,, jangan keluar dulu. Author cuma mau mengingatkan. Masukkan novel ini ke dalam novel favorit kalian.


Makasih... 😘

__ADS_1


__ADS_2