DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 143


__ADS_3

"Kenapa kamu sangat cantik sayang." Vano memandang kagum wajah cantik sang istri yang sedang berada tepat di depannya.


"Jangan macam-macam Van. Kita akan segera berangkat" ucap Ella menghentikan gerakan Vano saat dia hendak mencium bibirnya.


Vano terkekeh mendengar perkataan Ella. "Sedikit saja." rengek Vano seperti seorang anak kecil yang sedang meminta permen pada ibunya.


Ella tak menghiraukan rengekan manja dari mulut suaminya. Dia lebih fokus merapikan pakaian yang di pakai oleh Vano.


"Selesai. Ayo tampan, kita berangkat." ucap Ella lembut diiringi kerlingan sebelah mata dari Ella.


"Meleleh hati abang..." ucap Vano dengan kedua telapak tangan memegang dadanya.


Ella terkekeh mendengar perkataan Vano. Semakin ke sini Vano semakin menunjukkan sisi lembutnya pada Ella. Lebih banyak membuat Ella tersenyum.


"Kamu tidak lupa kadonya kan sayang." tanya Vano bertanya pada Ella.


Ella menunjukkan paper bag di tangannya. "Semoga suka." Ella berharap putra dari Tuan Mark yang berusia 17 tahun menyukai kado yang di berikan oleh mereka.


Sampai di tempat acara, Vano dan Ella berjalan beriringan. Dengan tangan Ella memegang lengan kokoh milik sang suami.


Keduanya langsung menjadi pusat perhatian begitu menginjakkan kaki ke dalam tempat acara.


Ella, memakai dress warna navy menjuntai ke bawah dengan belahan samping memperlihatkan paha mulus dan kaki jenjang yang di pemanis dengan high hell berwarna senada. Membuatnya terlihat seksi.


Leher jenjang Ella terlihat nampak menggoda lawan jenis yang melihat, dengan rambut diangkat semua ke atas dan di cepol rapi. Dengan sedikit hiasan di atas rambut. Membuat Ella sangat cantik.


Apalagi kedua pundak Ella yang terekspos sempurna. Dan kalung sederhana yang elegan tergantung di leher. Menambah kesan anggun bagi sang model.


Dan Vano, memakai kemeja dengan warna senada dengan Ella. Di balut jas di luarnya nampak menambah kegagahan seorang Vano.


Apalagi Vano membuka satu kancing bajunya bagian atas. Membuat kaum hawa seakan merasa penasaran dengan apa yang ada di dalam kemeja yang sedang dipakainya.


"Sayang, mana pemilik acaranya." bisik Ella, karena dia belum pernah bertemu dengan Tuan Mark sebelumnya.


Mungkin Ella pernah bertemu dengan beliau, tapi mungkin Ella sudah lupa dengan wajah Tuan Mark.


"Dia ada di sana." Vano menunjukkan pada Ella dengan tatapannya mengarah ke satu tempat.


Vano mengajak Ella menghampiri Tuan Mark. "Tuan Mark." sapa Vano.


Seketika semua yang berada di sekitar Tuan Mark menoleh ke arah Vano dan Ella. "Anda." ucap Tuan Mark tersenyum melihat kedatangan Vano dan Ella.


"Maaf Tuan, Papa saya tidak bisa datang. Saya bersama istri saya mewakili beliau." ucap Vano dengan sopan.


Tuan Mark menepuk pelan lengan Vano. "Tadi papa kamu sudah menghubungiku. Selamat datang." ucap Tuan Mark.


"Ternyata benar perkataan kamu Danto. Putramu sedikit berubah." batin Tuan Mark melihat ke arah Ella.


Dan Ella sedikit menundukkan kepala dan tersenyum. "Putri Haris, pawang dari sang macan." batin Tuan Mark.


"Nona Ella." panggil seorang perempuan dengan lembut.

__ADS_1


Ella tersenyum pada wanita seumuran mamanya yang telah memanggil namanya. "Nyonya." Ella melepaskan tangannya di lengan Vano dan memeluk seorang wanita yang telah memanggilnya.


"Sayang, kamu kenal?" tanya Tuan Mark pada sang istri.


"Anda?" tanya Ella setelah mendengar Tuan Mark memanggilnya dengan sebutan kata yang indah.


"Dia istri saya." jelas Tuan Mark.


"Maaf, saya tidak tahu Nyonya." ucap Ella dengan sopan.


"Tidak apa-apa Nona Ella." ucap Nyonya Mark dengan lembut.


"Kami bertemu saat papa sedang mengadakan pertemuan dengan Tuan Haris dan Tuan Danto. Papa ingatkan?" ujar Nyonya Mark, yang di sambut anggukan kepala oleh Tuan Mark.


"Sebentar. Tolong panggilkan putra kami." pinta Nyonya Mark pada seorang lelaki di samping Tuan Mark.


Ella memandang ke arah Vano. Tampak wajah Vano mulai datar. "Jangan sampai juteknya kumat lagi." batin Ella.


Ella tersenyum pada Tuan Mark dan istrinya, sembari mendekatkan badannya pada Vano. Kembali mengaitkan tangannya di lengan suami. "Sayang." bisik Ella.


Vano menoleh pada Ella. Dan Ella tersenyum sambil mengelus pelan lengan Vano. Mencoba membuat mood Vano tetap dalam keadaan baik.


Tuan Mark tersenyum melihat keduanya, dan sepertinya beliau tahu maksud dari Ella. "Putrimu sungguh hebat Haris. Dia bisa menjadi lembut dan bisa menjadi buas." batin Tuan Mark.


"Ada apa ma, pa?" tanya seorang lelaki remaja dengan wajah tampan menghampiri Nyonya Mark.


"Kenalkan, dia adalah putra dari Tuan Danto. Kamu ingatkan. Rekan kerja papa." ucap Tuan Mark.


Dia menatap Ella tanpa berkedip. Tampak terpesona dengan kecantikan Ella. Apalagi senyum Ella yang menambah wajah Ella tampak menawan. Dan tak bosan untuk di pandang.


Bahkan tangannya tetap berada di samping tubuhnya. Dan membiarkan tangan Ella terangkat, memberikan bingkisan padanya.


"Khem.. Silahkan ambil." Vano mengambil paper bag dari tangan Ella dan menyodorkannya pada lelaki yang sempat temangu karena sosok Ella.


"Terimakasih." ucapnya dengan tatapan mata masih terfokus pada Ella.


"Istri saya memang sangat baik. Tidak perlu sungkan." ucap Vano mencium pipi Ella dan mengusap pipi Ella.


Ella menahan nafas atas kelakuan sang suami. Dan putra dari Tuan Mark tampaknya mengerti alarm yang di berikan oleh Vano. Apalagi Vano menatapnya dengan tatapan menyalang.


"Terimakasih. Saya akan kembali bersama teman-teman saya dulu. Nikmati pestanya." ucapnya dengan senyum di paksakan. Dan melirik ke arah Ella.


"Pasti." ucap Vano dengan tatapan dingin.


"Maaf, kami tinggal sebentar. Silahkan menikmati pestanya." pamit Tuan Mark pada Vano dan Ella. Nampaknya beliau masih ingin menyapa tamu yang hadir malam ini.


"Silahkan." ucap Vano datar.


"Lapar?" tanya Vano lembut. Dia ingat jika istrinya belum makan apapun.


"Sedikit." ucap Ella tersenyum manis.

__ADS_1


"Tuan Muda Vano." seseorang perempuan cantik dan seksi menghampiri mereka.


Ella memindai penampilan perempuan yang berada di depan mereka. Yang baru saja memanggil nama suaminya. Tampak cantik dan seksi.


Vano mengangkat alisnya. Seolah dia tidak kenal dengan perempuan tersebut. Atau masih mengingat tentang perempuan tersebut.


"Saya Kayla. Anak dari rekan kerja anda. Tuan Moreno." ucapnya mengingatkan Vano.


"Tuan Moreno." gumam Vano dengan kepala manggut-manggut.


"Iya, masih ingatkan?" tanyanya dengan antusias.


"Tidak." jawab Vano singkat. Ella menahan senyumnya melihat ekspresi dari perempuan di depannya.


Peeenggg,,,,,, wajah Kayla bagai di hantam sebongkah batu besar.


"Ayo, katanya lapar." Vano mengajak Ella meninggalkan tempat tersebut dan mencari makan. Menghiraukan Kayla yang sedang menahan amarah. Bahkan menghiraukan keberadaan Kayla.


"Jahat sekali." sindir Ella.


"Apa aku perlu kembali ke sana?" tanya Vano. "Dan menghibur Kayla." imbuh Vano menggoda Ella.


"Silahkan. Bahkan aku bisa mendapatkan yang lebih fresss... 17 tahun misalnya." balas Ella.


"Asal kamu tidak keberatan. Jika lelaki itu tidak punya tangan dan kaki." ancam Vano, mendapat cubitan mesra dari Ella.


Vano semakin mengeratkan tangannya di pinggang sang istri. Untuk menuju meja makan membutuhkan waktu yang lama bagi Ella dan Vano.


Lantaran mereka pasti akan berhenti saat para pebisnis yang mengenal Vano menyapa dan sekedar berbincang ringan.


Karena kebanyakan dari tamu undangan malam ini adalah rekan bisnis Tuan Mark. Sementara besok malam pesta khusus diadakan untuk teman-teman dari putra Tuan Mark.


Empat pasang mata memandang ke arah Ella berada. Keduanya tersenyum melihat keberadaan Ella di pesta malam ini.


Tanpa sengaja Ella juga memandang keduanya. Senyum mengembang di bibir Ella melihat keduanya.


"Sayang, lihat." Ella menggoyang pelan lengan Vano.


"Hemmm." Vano melihat ke arah Ella, lantas mengarahkan pandangannya menuju arah pandangan mata sang istri. Memandang dua orang yang sedang menatap ke arahnya dengan senyum mengembang di bibir.


"Mereka." batin Vano menatap dengan raut wajah yang tidak bersahabat.


*


*


*


Siapa kira-kira mereka. Kenapa raut wajah suami istri itu tampak berbeda. Ella tersenyum bahagia. Sementara Vano, menatap dengan ketidak sukaannya.


Kepoooooo........ siapa sihhhh...... 🤔🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2