
Vano menatap tajam ke arah sekertaris Egi. Diapun langsung menundukkan kepalanya merasa takut dengan tatapan intimidasi dari Vano.
"Apa kekasih anda seorang model." tanya Egi.
"Maaf, saya tidak pernah melihat infotainment. Jadi saya tidak tahu." Egi merasa tidak enak hati.
Vano hanya tersenyum menanggapi perkataan Egi.
"Jadi, bagaimana? Bukankah akan lebih memudahkan pekerjaan kita. Kita tidak perlu repot mencari model untuk produk kita ini." ujar Egi lagi.
"Maaf sebelumnya. Nona Ella sedang sibuk akhir-akhir ini. Mungkin beliau tidak bisa." Reza yang menjawab.
Karena dia tahu, Tuannya tidak akan setuju. Tapi Vano juga tidak enak untuk menolak. Karena dia tahu jika harus bekerja secara profesional. Dan tidak mencampurkan masalah pribadi.
"Ella. Namanya Ella." gumam Egi masih bisa terdengar Vano.
"Ekhem. Kalau begitu saya permisi dulu. Jika masih ada yang ingin di sampaikan bisa langsung menghubungi asisten ku. Reza." ucap Vano.
"Baiklah. Terimakasih." kata Egi.
"Ella. Apa kamu mengenalnya?" tanya Egi pada sekretarisnya setelah Vino dan Reza meninggalkan ruangannya.
"Iya Tuan. Dia seorang model kelas atas yang terkenal, cantik, dan juga berbakat."
"Baiklah kamu boleh keluar." ucap Egi pada sekretarisnya.
"Cari segera beberapa model. Kita akan seleksi. Beritahu juga pada Egi." Vano memandang ke layar ponselnya.
"Baik Tuan." jawab Reza di balik kemudi.
*****
"Kamu yakin, tanpa make up." Hana melihat ke arah Ella yang sudah menggunakan pakaian untuk pemotretan.
"Han,, ini sudah memakai make up." Ella merapikan kembali pakaiannya.
Ella pemotretan dengan tema casual. T-shirt lengan pendek dengan bawahan celana 3/4 dipadukan sepatu sneaker. Tidak lupa, ia menguncir rambutnya menjadi satu.
"Biasanya sedikit lebih tebal Ell." ujar Hana dengan alat make up masih di tangannya.
"Tapi kamu lihat, bukankah lebih bagus seperti ini." Ella melihat penampilannya di depan cermin.
"Tenang saja. Kita lihat dulu di hasil pemotretan pertama. Jika oke, kita teruskan. Tapi kalau jelek, kita tambah lagi dempul nya." ucap Ella dengan tenang.
"Oke. Hana ngikut saja deh." pasrah Hana.
Mereka berdua keluar dari ruang make up menuju tempat pemotretan. Beberapa orang melihat ke arah Ella.
"Ell, mereka melihat ke arah kita semua. Kamu sih. Make up kamu kurang." Hana menjawil bahu Ella.
"Mereka melihat karena kita cantik Hana sayang." ucap Ella dengan percaya diri.
"Siang pak." sapa Ella pada fotographer.
"Sudah siap?" fotographer mengangkat kepalanya menatap ke arah Ella.
"Bisa kita mulai." Ella melihat ke arah depan, tempatnya akan beraksi.
"Oke. Silahkan." fotographer tersebut mempersilahkan Ella.
Ella maju dan mulai memulai pekerjaannya sebagai model.
__ADS_1
"Oke. Kita mulai." teriak fotographer.
"Oke. Ganti gaya."
"Satu dua tiga. oke." fotographer melihat hasil jepretannya dengan tersenyum.
Hingga Ella beristirahat sebentar dan mengganti pakaiannya. Saat Ella meninggalkan lokasi pemotretan menuju ruang ganti, fotographer tersebut masih melihat hasil jepretannya dengan tersenyum.
"Sempurna. Natural, tapi tetap menarik, cantik, dan seksi."
"Berapa kali ganti pakaian Han?" Ella bertanya sambil memainkan ponselnya.
"Tiga." Hana mengangkat ke tiga jarinya ke arah Hana.
"Oke. Kita ke pakaian berikutnya." kata Ella.
Hana beranjak mengambil pakaian ganti untuk Ella.
"Ini, kamu pakai." Hana menyerahkan pakaian yang dia bawa pada Ella.
"Seragam SMA." Ella melihat pakaian di tangannya.
"Yups." jawab Hana.
"Hai adik. Kamu kok ada di sini. Pasti bolos ya." ucap Hana bercanda saat Ella sudah berganti pakaian SMA.
"Iya kakak. Aku kan nakal. Jadi suka bolos sekolah." Ella berucap sambil memainkan kedua rambutnya yang di kuncir kanan dan kiri.
"Hahahahaha." sontak Ella dan Hana tertawa lepas.
"Kita foto dulu yuk Han. Aku mau upload di sosmed. Kelihatannya lucu. Pakai seragam SMA."
"Selesai." Ella membagikannya ke sosmed.
Ella dan Hana berjalan kembali ke ruang pemotretan dan melakukan sesi demi sesi pemotretan dengan lancar.
Hingga Ella berganti pakaian untuk yang ketiga kalinya. Ella menyelesaikannya dengan hasil yang sempurna seperti biasanya.
"Wow lihat." Hana menunjukkan foto yang di unggah Ella di sosmed miliknya.
Baru sebentar Ella mengunggahnya, tapi kolom komentar sudah penuh. Bahkan yang memberi tanda suka juga sudah amat banyak.
"Apa sih?".Ella mendekatkan badannya pada Hana.
"Sudah, biarkan saja." Ella duduk di depan cermin dan menghapus make-up nya. Meskipun make-up yang ia pakai tipis.
"Nggak elo jawab. Ntar elo di kira sombong." ujar Hana.
"Ya gimana dong. Segitu banyaknya. Masa gue bales satu persatu. Bisa copot jari gue." celetuk Ella.
"Bener juga sih." Hana masih membaca beberapa komentar di foto mereka.
*****
"Sayang, mama akan melakukan peragaan busana. Kamu datang ya." Nyonya Tiwi sedang berada di kantor milik putranya.
"Mama atau model mama yang akan melakukannya." canda Egi. Ternyata Egi adalah anak dari Nyonya Tiwi.
"Kamu tuh. Ada model mama yang cantik low. Kamu pasti akan suka." ucap Nyonya Tiwi merayu anak semata wayangnya tersebut.
"Ma, mama tahukan. Apa yang terjadi jika Egi datang. Egi nggak suka."
__ADS_1
"Sayang, kamu kan memang anak mama yang tampan. Pantaslah jika semua perempuan memandang kamu." ucap Nyonya Tiwi bangga.
Egi pernah datang pada acara peragaan busana yang di adakan oleh mamanya. Di acara tersebut dia seperti barang berhadiah yang banyak peminatnya.
Apalagi sang mama malah mengajaknya berputar dan berkenalan dengan para kolega dan modelnya. Dan yang pasti mencarikan pasangan untuk dirinya.
"Egi malas ma." ucap Egi.
"Bukannya kamu sedang mencari model untuk produk kamu. Sekalian di sana kamu bisa mencarinya. Siapa tahu ada model yang kamu suka."
Egi menatap tajam pada sang mama dengan wajah di tekuk.
"Maksud mama model untuk produk kamu. Bukan model untuk jadi pasangan kamu." imbuh Nyonya Tiwi.
"Nanti Egi bicarakan dulu sama Vano ma." kata Egi.
"Makasih sayang. Mama pergi dulu. Mama mau ketemu model cantik yang mama suka. Namanya Ella. Mama berharap, dia berjodoh sama kamu." Nyonya Tiwi mencium pipi anaknya dan meninggalkan ruangan Egi.
"Ella. Seperti pernah dengar. Sudahlah." Egi kembali berjibaku dengan berkas yang ada di hadapannya.
"Han, jam berapa kita akan bertemu Nyonya Tiwi?" tanya Ella di dalam mobil.
"Masih sekitar satu jam lagi."
"Kita beli makan. Gue mau bawa ke kantor Vano." ucap Ella dengan antusias.
"Baiklah." kata Hana.
Hana dan Ella mencari makan terlebih dahulu sebelum ke kantor Vano.
"Ayo." Ella mengajak Hana turun dari mobil saat mereka berada di parkiran perusahaan Vano.
"Elo sendiri saja deh. Gue ada perlu bentar."
"La terus gimana dong."
"Ya nggak gimana-gimana. Nanti gue jemput elo lagi di sini. Terus kita ketemu Nyonya Tiwi. Oke." Hana mengangkat tangannya dan menyatukan jari telunjuknya dengan jempol miliknya.
"Terserah." Ella keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya ke perusahaan Vano.
"Maaf Tuan, ada berkas yang harus anda tanda tangani." ucap Santi pada Vano.
"Ini." Santi mendekat pada Vano dan menunjukkan berkas tersebut pada dirinya.
Hari ini Santi memakai dress yang cukup kecil di badannya. Dress mini dengan pundak terbuka, yang tidak mampu menampung kedua buah bukit kembar miliknya. Sehingga kedua bukit kembar tersebut seakan hendak keluar dari sarangnya.
Dengan bagian bawah sejengkal di atas dengkulnya jika berdiri. Dan jika duduk maka akan terlihat paha mulusnya secara sempurna.
"Aww. Maaf." ucap Santi secara sengaja duduk di pangkuan Vano dan segera berdiri.
Vano melihat Santi dari atas hingga bawah. Vano berdiri, tangannya di angkat ke atas dengan jari jemari menari di bukit kembar milik Santi yang terlihat.
Santi merangsek ke badan Vano. Dengan tatapan sensual ia memandang ke arah Vano. Dengan berani di kalung kan tangannya di leher Vano. Dan mendekatkan dadanya ke badan Vano sambil di goyangkan badannya ke kiri dan kanan.
Dadanya menempel sempurna di badan Vano. Tangan Vano meremas bokong Sinta hingga dress nya tersingkap ke atas.
"Kali ini gue harus bisa dapetin dia. Harus." batin Santi.
Tangan Santi melepas kancing jas milik Vano. Tangannya mulai bermain di dada Vano. Sementara tangan Vano masih berada di belakang tubuh Santi.
"Vano." ucap seseorang di depan pintu menyaksikan adegan tersebut.
__ADS_1