DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 124


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Acara pernikahan Vano dan Ella di laksanakan di hotel milik Tuan Haris. Acara dilaksanakan sangat meriah dan megah. Dengan bunga mawar putih bertebaran menghiasi segala penjuru hotel. Sesuai keinginan Ella.


Kedua belah pihak mengundang seluruh kenalan mereka. Mulai dari rekan bisnis dan kerabat juga sahabat. Tidak lupa para wartawan dari berbagai media juga hadir meliput acara sakral tersebut.


Di dalam kamar seorang perempuan berdandan bak seorang putri. Dengan gaun mewah berwarna putih menjuntai ke bawah, memperlihatkan pundak mulus dan leher jenjang miliknya.


Di lehernya nampak sebuah perhiasan yang melingkar. Berbentuk sederhana tapi elegan dan rambut tertata rapi dan indah dengan sedikit assesoris menambah kecantikan calon pengantin.


"Kenapa Ell?" tanya Hana melihat Ella terus mengembangkan kedua pipinya saat dirinya sedang meneliti semua yang menempel di badan Ella supaya terlihat cetar dan sempurna saat keluar dari kamar. Sehingga semua mata tidak akan berpaling memandangnya.


Ya iyalah,,, secara pengantinnyakan Ella masa yang akan tampil cetar Hana.


Ella menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan milik Hana. "Kenapa gue grogi ya." telapak tangan Ella terasa dingin. Seperti baru saja menggenggam bongkahan es.


"Kan sebentar lagi elo tidur ada yang nemenin." celetuk Hana.


"Elo lupa, gue bukan seperti elo. Kita sering melakukannya." ujar Ella membuat hati Hana mencelos.


Kata-kata Ella mengingatkan Hana di mana dirinya pernah menghabiskan semalam bersama Vano. Meskipun dirinya


"Sok tahu." Hana menggosok-gosok telapak tangan Ella. "Pejamkan mata. Ambil nafas. Rileks. Pikirkan sesuatu yang membuat elo happy. Buang nafas pelan-pelan." ujar Hana mencoba menenangkan Ella. Dan Ella melakukan apa yang di sarankan oleh sahabatnya.


Meskipun Ella seorang model yang sudah terbiasa berlenggak-lenggok dan di tatap banyak mata, namun dirinya tetap merasa grogi saat ini. "Semoga semuanya berjalan dengan lancar tanpa halangan." batinnya.


"Elo tahu dari mana cara seperti ini. Elo kan belum pernah dalam situasi seperti gue. Belum menikah." Ella memicingkan matanya penasaran dengan telapak tangan masih menggenggam telapak tangan milik Hana.


Hana tersenyum canggung. Memamerkan deretan gigi yang putih dan tertata rapi. "Dari sinetron yang gue tonton." ucap Hana.


"Aawwww. Sakit." Ella memukul Hana dengan kipas lipat yang ada di atas meja depan Ella.


"Yang terpenting sekarang gimana. Elo udah mendingankan?" tanya Hana di jawab anggukan kecil dari Ella.


"Hehhh,,, benarkan. Mantulll." ucap Hana mengangkat kedua jempol tangannya ke atas. Membuat Ella tertawa.


Ella memeluk Hana. "Makasih bestie. Emang top deh elo."


Hana segera mengurai pelukan Ella. "Jangan peluk sembarangan. Nanti baju kamu kusut. Make-up kamu berkurang." heboh Hana.


"Kusut, disetrika lagi aja. Berkurang, di tambahin lagi. Beres." ucap Ella enteng, ingin sekali rasanya Hana menarik bibir Ella.


"Kalian, malah bercanda. Sudah selesai belum." Nyonya Ane berjalan menuju Ella duduk. "Sayang, kamu yang tercantik dan terseksi." ucapnya dengan centil.


"Makasih ma." Ella memeluk Nyonya Ane. "Sini." Nyonya Ane menyuruh Hana mendekat dan berpelukan bersama.

__ADS_1


Nyonya Ane mengurai pelukan mereka. "Apa Vano dan yang lain sudah dalam perjalanan?" tanya Nyonya Ane karena acara akan segera di mulai.


"Vano bilang tadi sudah mau berangkat ma."


"Syukurlah."


******


"Hufffttt...." Vano menarik nafas. Selesai sudah styles rambut yang di sewa sang mama untuk menata rambutnya.


Nampak seorang lelaki memakai setelan jas berwarna putih. Berdiri di depan cermin. Seolah memindai diri sendiri dari pantulan cermin.


Bukan hanya wajahnya yang tampan terukir dengan teliti. Tubuh besar, tinggi, dan kekar. Bahu lebar dengan dada yang bidang. Rahang tegas dengan otot-otot yang begitu menonjol, nampak jelas. Meskipun sudah tertutup lapisan kemeja dan jas di tubuhnya.


Membuat kaum hawa pasti akan menjerit saat melihatnya. Menginginkan sentuhan tangan dari pengusaha tampan tersebut.


"Sudah siap sayang?" tanya sang Nyonya Risma. "Papa sudah menunggu di bawah." imbuhnya.


Vano membalikkan badan. Menghadap ke arah sang mama. "Bagaimana ma?" tanya Vano ambigu.


"Bagaimana apanya?" tanya sang mama.


"Penampilan Vano?" jawabnya dengan nada kesal.


Vano kembali membalikkan badan, tersenyum pongah ke arah cermin. "Vano Reyandli. Tampan dan kaya. Perempuan mana yang sanggup menolak pesonanya." ucapnya memuji diri sendiri. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Styles yang di sewa oleh Nyonya Risma hanya bisa berdiri dan memandang drama yang terjadi di depannya. "Sungguh indah ciptaanmu Tuhan." batinnya mencuri pandang ke arah Vano.


Sebenarnya sejak tadi dirinya merasakan nerves saat tangannya mulai memegang rambut Vano. Melihat bagaimana dinginnya ekspresi wajah Vano. Ketakutannya lebih kepada jika dia melakukan kesalahan. Oleh karena itu, dengan cermat dan teliti dia mengerjakan pekerjaannya.


Seorang pelayan di rumah Tuan Danto datang tergopoh-gopoh. "Maaf Nyonya, Tuan Danto menunggu di bawah." ucapnya di ambang pintu. Karena pintu kamar Vano tidak tertutup.


"Hampir lupa." ucap Nyonya Risma menepuk jidatnya sendiri. "Ayo, cepat Van." ajak sang mama di ikuti langkah kaki Vano di belakangnya.


Di bawah, Tuan Danto menatap tajam ke arah tangga. Sementara yang di tatap hanya tersenyum tanpa rasa bersalah. "Papa, yuk berangkat. Pasti mereka sudah menunggu kita." ucapnya mencium pipi sang suami dan bergelayut manja di lengannya.


Vano tersenyum samar melihat tingkah sang mama untuk meredam emosi Tuan Danto. Sekelebat bayangan manja dari Ella terlintas di pikirannya.


"Sebaiknya kamu berpikir ulang untuk menikahi perempuan seperti dia." suara Oma Yeti bergema memenuhi ruangan. Membuat pemilik rumah menatap kedatangannya.


Reza menggeleng pelan saat manik mata Vano memandang tajam ke arahnya. Sebelumnya Vano sudah berpesan jika Oma datang, Reza harus mengatakan jika mereka sudah berangkat.


Vano, Vano. Mana mungkin Oma Yeti percaya apa yang di katakan oleh Reza. Jika Reza saja masih di depan rumah kamu. Berarti semuanya masih berada di dalam. Diakan tangan kanan kamu.

__ADS_1


Nyonya Risma menghembuskan nafas memandang sang mama dan mengelus pelan lengan Tuan Danto. "Sebaiknya kita segera berangkat." ucap Nyonya Risma.


"Perempuan seperti dia pasti sudah tidak perawan lagi. Oma yakin. Kamu cuma akan dapat barang bekas." ucap Oma Yeti dengan nada mengejek.


Oma,, oma. Yang beruntung itu cucumu. Mendapat perempuan seperti Ella. Sementara Ella, dia nggak ada untung-untungnya mendapat lelaki seperti cucumu.


Beruntung Ella masih memberikan kesempatan pada Vano. Jika tidak, pasti sekarang cucumu sedang bersujud memohon pada perempuan yang kamu benci.


Rahang Vano mengeras mendengar perkataan sang Oma. "Ella memang sudah tidak perawan." jawab Vano membuat Oma Yeti tersenyum senang. Sementara Tuan Danto dan Nyonya Risma memandang ke arah Vano.


"Benar dugaan Oma." cibir Oma Yeti.


"Cucumulah yang telah melakukannya." ucapnya dengan santai. Membuat bibir Nyonya Risma mengembang.


"Sebaiknya kita segera berangkat." ucap Tuan Danto. "Jangan sampai kita malu pada keluarga besan." imbuhnya.


"Oh iya, papa lupa." ujar Tuan Danto menghentikan langkah Vano.


"Papa tidak akan menerima perempuan lain sebagai menantu keluarga Reyandli. Kecuali Mellanie Putri Subagyo." ucapnya tepat mengena kepada Oma Yeti dan Lena.


"Tenang saja pa, tidak akan ada yang pantas menempati tempat tersebut. Melainkan putri tunggal dari Tuan Haris." imbuh Vano.


Tanpa mengajak mertuanya, Tuan Danto berjalan menuju mobil didampingi istri tercinta. Sementara Vano akan satu mobil dengan Reza.


"Mereka benar-benar. Lihat saja, pasti ucapan ku benar semua. Perempuan itu tidak lebih dari perempuan ular." ucap Oma Yeti manakala dirinya dan Lena masih di tempat.


Entahlah, bahkan sampai sekarang tidak ada yang tahu apa penyebab Oma Yeti sangat membenci Ella.


"Oma, kenapa Nyonya Risma hanya diam saja." tanya Lena.


"Dari dulu dia memang seperti itu. Tidak punya keberanian untuk melawan suaminya. Terlalu penurut." omel Oma Yeti.


"Pupus sudah harapan gue untuk masuk keluarga ini. Padahal gue sudah melakukan semuanya." batin Lena.


"Tunggu, Marcell. Tapi dia masih anak-anak. Ckkk,, Lena, seorang lelaki tidak hanya mempunyai satu istri. Apalagi Vano sangat kaya." batinnya ingin tetap menjadi istri dari Vano. Meskipun istri kedua.


Healaaahhh Lena. Sadar diri. Vano bahkan tidak pernah melirikmu. Meski seujung kuku.


"Oma, mereka meninggalkan kita." ujar Lena saat keduanya sudah berada di teras rumah. Melihat mobil mereka sudah tidak ada di halaman rumah.


Tanpa berucap, Oma Yeti masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Lena, mengikuti mobil Tuan Danto untuk menuju ke tempat acara pernikahan Vano dan Ella.


Sampai di sini dulu ya kak,,, soalnya othor mau pergi ke pernikahan Ella dan Vano. Meski bersiap-siap lebih dulu. Malu nanti sama tamu yang lain. 🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2